Bertaruh Cinta Di Atas Takdir

Bertaruh Cinta Di Atas Takdir
75 Saatnya Menikah


__ADS_3

Seperti yang dikatakan oleh syaikhona tadi, bahwa beliau tahu, ada banyak sekali wanita yang mengejar-ngejar putranya, pasca ketenarannya bersama dengan Albadar. Apalagi sampai terjadi tragedi fitnah yang luar biasa, yang dilancarkan oleh Masayu demi ambisinya untuk bisa mendapatkan Irfan Arafka Wafdan. maka demi untuk menghindarkan putranya dari fitnah yang berkelanjutan, syaikhona pun bermunajah, memohon petunjuk dari Allah, hingga beliau tiba pada satu keputusan berdasarkan dari petunjuk tersebut.


Di sisi lain saat itu terjadi perselisihan antara ning Zaskia dan Farah, perihal rekaman Arafka yang tidak bersalah, di hadapan pemuda tampan itu sendiri. Saat itu lah kemudian tiba-tiba datang ustadz Rahman yang menyampaikan pesan syaikhona pada Arafka untuk menghadap, dan ternyata beliau sedang menunggu di luar gerbang. Bisa dipastikan kalau beliau mengetahui perselisihan dua orang gadis yang sama-sama menginginkan Arafka itu.


Apalagi Zaskia, dia sampai pada dugaan kalau syaikhona akan menegur abanya terkait peristiwa tersebut, dan selanjutnya kyai Fadholi pun akan memberinya hukuman. Dan tentunya, Arafka juga pasti tak akan luput dari sanksi yayasan, kendati bukan dia yang melakukan kesalahan.


Ternyata, segala bentuk sangkaan itu tak terjadi. Tak pernah ada apa-apa setelah peristiwa itu, semuanya berjalan seperti biasa. Setidaknya, ini menurut penilaian mereka semua. Tapi, beda kalau dari sisi Arafka.


Kyai Abdullah Umar Hasyim memang tak memberinya sanksi, atau pun memarahinya. Beliau justru memberi wejangan pada putranya itu untuk senantiasa melazimkan syukur, serta memperbanyak membaca hamdalah. Saat Arafka pamit hendak kembali ke wisma, syaikhona bertanya kepadanya.


"Berapa usiamu sekarang, Nak?"


Rafka sedikit terhenyak dengan pertanyaan itu. Karena sang aba pasti bukan tidak tahu berapa umurnya. Jika beliau masih bertanya, pasti ada maksud tersendiri di balik pertanyaan, yang mungkin hal tersebut berkaitan dengan umurnya.


"Dua puluh empat tahun," jawa Rafka.


"Sudah saatnya kau menikah," putus Sayikhona.


Arafka kaget, ia bahkan sampai berani mendongakkan wajah menatap pada syaikhona. Yang biasanya pemuda itu selalu menunduk setiap kali berada di hadapan beliau.


"Iya, Nak. Sudah saatnya kau menikah," tegas Syaikhona, demi dilihatnya tatap penuh tanya dari sang putra.


Arafka langsung menunduk, sedangkan dalam benaknya selaksa pertanyaan menerjang masuk. Kenapa, mengapa, dan karena apa?

__ADS_1


Kenapa sudah waktunya menikah? Bukankah usianya masih 24 tahun, masih terlalu muda untuk menikah. Pengetahuannya pun di bidang agama juga belum seberapa. Masih sangat banyak yang belum ia ketahui, dan masih banyak hal yang harus dipelajari.


Mengapa sudah waktunya menikah?


Bukankah dalam negara kecil yang disebut rumah tangga, seorang suami adalah imam, adalah pemimpin yang kepemimpinan itu baru akan sukses bila didasari dengan kemampuan yang cukup. Sedangkan Arafka merasa masih sangat awam dalam hal ini. Bahkan ia merasa masih belum bisa jadi pemimpin yang baik untuk dirinya sendiri. Lalu bagaimana mungkin akan bisa memimpin istri dan anak-anaknya nanti.


Lalu, karena apa syaikhona memutuskan dirinya untuk menikah, jika dalam segala hal yang ada padanya itu serba minim dan terbatas. Apa karena kessndiriannya membahayakan?


Bukankah identitas play boy nya itu sudah ia tanggalkan dan ia tinggalkan di Bali. Arafka menjejak tanah Alhasyimi dengan sosok baru, jiwa baru dan semangat baru untuk belajar dan menjalankan kehidupan yang islami secara kaffah.


Di Alhasyimi, ia terus menjaga diri dalam hal perasaan terhadap lawan jenis. Dia sudah bertekad untuk tidak mau mengenal cinta yang ilegal, yang tak dilandasi dengan pernikahan. Meskipun pujian dan sanjungan sering sekali dialamatkan kepadanya, dengan segepok isyarat dan tanda cinta.


Lalu mengapa, kenapa, dan karena apa?


"Bagaimana menurut pendapatmu, Nak?"


"Saya patuh pada keputusan, Aba," jawab Arafka dengan pasti, meski ia belum paham sama sekali apa maksud dari keputusan untuk segera menikah itu.


"Alhamdulillah." Syaikhona melafadzkan hamdalah sambil tersenyum sumringah.


"Apa kau sudah menyukai seseorang, Nak?" Tanya Syaikhona lagi.


Subhanallah. Arafka menerima pertanyaan itu dengan senang hati. Bukan karena ia merasa diberi kebebasan untuk memilih. Tapi, karena ia merasa kalau dari pertanyaan itu menandakan jika syaikhona memutuskannya untuk segera menikah, bukan karena menilai putranya itu tak bisa menjaga diri dari hubungan yang tak resmi dalam tanda kutip, hubungan di luar kehalalan.

__ADS_1


"Tidak ada, Aba," jawab Rafka jujur. Karena memang sampai detik ini belum ada wanita yang disukainya secara penuh. Sebab ia memang belum ada keinginan untuk menikah.


"Boleh, Nak jika aku yang memilihkannya untukmu?" Demikian pertanyaan bijak dari syaikhona.


"Tentu saja, Aba," jawa Rafka segera.


"Siapa pun nanti yang aku tunjuk dan yang aku pilihkan untukmu, apa kamu ikhlas?" Syaikhona seperti masih ingin menjajal kesungguhan hati putranya itu dengan pertanyaannya.


"Saya ikhlas, dan saya terima siapa pun yang dipilihkan oleh, Aba untuk saya," jawab Arafka lebih tegas.


Syaikhona segera memeluk putranya itu dengan rasa bangga. Atas kepatuhannya yang luar biasa terhadap sang aba. Dan memang apa yang diputuskan oleh kyai Abdullah umar untuk Arafka, bukanlah keputusan yang hanya asal saja, melainkan sebuah petunjuk yang ia dapat lewat jalan istikharah.


Dua hari kemudian setelah perbincangan siang itu. Arafka yang hendak mengikuti perkuliahan di gedung STAI, dikejutkan oleh kedatangan syaikhona yang menghampiri. Sontak saja kehadiran kyai pengasuh itu di area gedung sekolah tinggi Alhasyimi, cukup menciptakan keheningan yang melanda. Pasalnya, semua masih berdiam untuk menghormati kehadiran gurunya.


"Nak, hari ini aku bersama paman-pamanmu, kyai Mushtofa Tamimi dan Kyai Fadholi, akan mengkhitbah seorang gadis untukmu. Doakan ya semoga lancar."


Arafka sempat terhenyak dengan pemberitahuan itu, namun segera ia mengangguk. Pemuda itu tak menyangka kalau secepat itu abanya menjatuhkan pilihan, hingga ia lupa bertanya ke daerah manakah abanya akan pergi.


Dan pada siang harinya, saat ustadz Fadil menanyakan kyai Fadholi pada Ning Zaskia, gadis cantik itu mengatakan kalau abahnya pergi diajak syaikhona ke yayasan Darul Ulum di jember. Dari sana barulah ia tahu kalau abanya pergi ke yayasan Darul Ulum. Tapi pada saat itu Rafka belum tahu kalau Meidina dan Davina yang sedang belajar di KM itu berasal dari yayasan tersebut.


Pada sore harinya menjelang Maghrib, Arafka dipanggil ke kediaman kyai Fadholi di Alhasyimi cabang. Pemuda itu dipanggil ke ruangan dalam, di mana di sana ada syaikhona bersama kyai Fadholi sendiri.


Kyai pengasuh memberitahukan kalau mereka semua itu baru saja datang meminang seorang gadis untuk Arafka. Dan mereka semua sedang bersuka cita karena pinangan tersebut sudah diterima dengan sangat baik oleh keluarga si wanita.

__ADS_1


Arafka diam dan menunduk. Ia tidak tahu pada saat itu apakah ia merasa senang atau tidak. Yang ia pahami dalam dirinya kini berkecamuk rasa penasaran yang sangat dalam tentang siapa dan bagaimana wanita yang telah dililih oleh abahnya itu.


__ADS_2