
Ada satu fakta yang diungkap oleh Nabila saat keduanya dalam perjalanan pulang dari perpustakaan Al-Hasyimi pusat ke wisma--sementara--mereka di studio alam Al-Badar.
"Kapan Ra Fattan diwisuda?" tanya Nabila saat itu.
"Belum tahu ya," sahut Meidina sambil menggeleng. Sedangkan pikirannya masih senantiasa bertanya-tanya perihal Davina yang tiba-tiba memilih pulang lebih dulu dari perpustakaan itu, padahal mereka tadi berangkat bersama-sama.
"Kata Davina, ujiannya sudah lulus. Davina sampai melakukan riyadhoh dulu, saat tahu Ra Fattan sedang ujian di Al-Azhar," kata Nabila lagi.
"Riyadhoh?" Meidina yang semula setia dengan langkah tertunduknya, kini jadi mendongak menatap Nabila.
"Iya, dia baca surat yasin 41 kali setiap hari selama tuju hari. Katanya itu, atas permintaan uminya Ra Fattan," terang Nabila.
"Nyai Fitrotin?" gumam Meidina. Sementata hatinya langsung bertanya-tanya kenapa uminya Ra Fattan itu meminta Davina ikut mendokan ujiannya sang putra.
"Kata Davina, uminya Ra Fattan sama uminya Davina masih ada hubungan kekerabatan ya?"
"Iya, katanya," sahut Medina pelan. Dan setelah semua itu, hati gadis ayu tersebut tidaklah baik-baik saja. Ia merasa ada benang merah yang perlu diungkap. Tapi, ia juga tak buru-buru mengambil keputusan sepihak tentang sahabatnya itu. Karena semuanya masih belum jelas. Bagaimana pun berburuk sangka kepada sahabat yang melebihi saudara, sangat tidak etis untuk dilakukan, apa pun alasannya.
Meidina merasa masih perlu bertanya lebih dulu pada Davina, mungkin mengajaknya bicara dari hati ke hati, untuk tahu pada apa yang sebenarnya terjadi. Namun saat ini gadis manis itu sedang dirawat, Meidina tentu tidak sampai hati untuk mengusik Davina dengan permasalahan ini.
"Madina Shafa," terdengar suara Ra Fattan memanggil lengkap namanya.
"Eeh i-iya, dhalem, Ra." Meidina gugup menjawab. Pasalnya ia sedang terbang dengan lamunannya sendiri, mengingat perbincangan dengan Nabila beberapa hari sebelumnya.
"Sedang melamun?"
__ADS_1
"Mohon maaf, Ra," sahut Meidina santun.
"Kamu jadi ikut lomba prestasi di pusat?"
Sebentar lagi, Alhasyimi akan mengadakan lomba prestasi antar instansi. Kegiatan yang rutin diadakan tiap tahun ini, biasanya berlangsung selama tiga hari. Namun, tidak kali ini. Menurut jadwal kegiatan lomba hanya berlangsung selama dua hari saja, karena terbentur dengan jadwal kuliah umum yang akan dihadiri oleh seorang guru besar dari Al-Azhar-Kairo.
Setiap instansi mengirim perwakilan terbaiknya untuk mengikuti lomba. Dan kulliyatul Muallimin menunjuk Meidina Shafa sebagai perwakilan.
"Iya, Ra. Saya sudah dua kali ikut pelatihan. Mohon doanya ya Ra," pinta Meidina lembut.
"Iya, semoga berhasil. Usahakan dalam melakukan apa pun, lakukan dengan sepenuh hati. Jangan dulu memikirkan hasilnya, yang penting totalitas dalam mengerjakannya. Semuanya pasti tidak akan sia-sia."
Madina meresapi kata demi kata penuh makna yang diucap oleh Ra Fattan itu. Bahkan ia sampai menganggukkan kepalanya. "Terima kasih, Ra," katanya. Terlihat ada air yang mengambang di pelupuk matanya.
"Buat kehadiran jennengan dalam hidup saya," sahut Meidina.
"Semoga Allah selalu menjagamu buat saya, Meidina," ucap Ra Fattan dengan suara lembutnya.
"Amiin," jawab Meidina dengan berusaha menegarkan suara. Karena air matanya sudah jatuh seiring kata amin yang diucapkannya.
"Jangan menangis," kata Ra Fattan tiba-tiba.
"Ee." Meidina jadi kaget mendengarnya. Dan itu malah kian membuat titik air matanya semakin bercucuran. Gadis itu bahkan sampai menutup mulut agar tak memperdengarkan isakan.
"Meidina," panggil Ra Fattan lembut.
__ADS_1
"Sa-saya gak nangis, Ra. Siapa yang nangis." Gadis ayu itu malah berkilah.
"Jangan bohongin saya! Saya dapat merasakannya."
"Maaf Ra, saya hanya merasa terharu."
"Saya hapus air matanya dari sini ya," bujuk Ra Fattan dengan lembut.
"Jennengan bisa saja." Dan Meidina bisa tersenyum juga karena mendengar ucapan itu. "Oya, Ra. Davina mengalami kecelakaan. Dia sedang dirawat di rumah sakit Bunda Fatimah."
"Semoga dia lekas sembuh," kata Ra Fattan cukup singkat. Dan dia tidak bertanya lebih lanjut perihal kondisi Davina dan kronologi kecelakaan yang dialaminya. Malah pemuda tampan itu bertanya tentang Meidina lagi. "Kamu yang menjaganya di rumah sakit?"
"Iya, Ra."
"Jaga kesehatan ya, jangan sampai kamu ikut sakit." Demikian ucapan Fattan sebelum kemudian dia mengakhiri teleponnya dengan salam. Salam terindah seperti yang selama ini sering ia ucapkan.
****
Masayu benar-benar datang ke rumah sakit itu. Dan dia tak sendiri, melainkan ditemani oleh seorang laki-laki yang mengaku sebagai kakaknya. Entah bagaimana caranya Masayu mendapat ijin dari Alhasyimi cabang untuk bisa datang ke rumah sakit itu. Dan bersama seorang lekaki pula, meski katanya adalah kakak, yang entah benar atau tidak. Apa mungkin ia datang ke sana dengan cara yang ilegal. Seperti cara-cara yang sering ia pakai selama ini untuk bisa bertemu dengan Irfan Arafka Wafdan.
Lelaki yang memiliki tatap mata bringas itu langsung mengarahkan telunjuk jarinya yang kokoh pada Arafka, setelah diberitahukan oleh Masayu siapa pemuda paling tampan di antara rekan-rekannya itu.
"Ohh jadi ini yang bernama Arafka." Ia menuding dengan tatapan kasar seakan penuh kemarahan. "Kau harus segera menikah dengan adikku. Jika tidak, kau akan tahu sendiri akibatnya," ancamnya, dengan suara yang keras dan kasar. Hal mana membuat yang lain menjadi gusar. Tapi, Arafka nampak biasa saja. Ia juga tak menjawab apa-apa. Hanya menatap pria itu dengan diamnya.
"Mas Rafka jangan hanya diam," kata Masayu dengan wajah memerah. Entah karena menahan amarah, atau akibat sengatan panas matahari siang itu yang memang sangat terik. "Mas Rafka jangan lari dari tanggung jawab. Gara-gara semua ini, ibuku jadi masuk rumah sakit. Dan seluruh keluargaku menanggung malu," ujarnya lagi seraya berusaha menggapai tangan Arafka. Tapi tentu pemuda tampan tersebut segera menghindarinya. Ia mengibaskan tangan Masayu, tidak terlihat kasar, tapi juga tak terkesan lembut.
__ADS_1