
"Mungkin sudah saatnya, Dek Rafka mempertimbangkan permintaan pak Dahlan. Bagaimana pun itu amanah dari mendiang orang tuamu, Dek" nasihat ustad Fadil.
"Iya, Mas. Saya pasti akan menjalankan semua amanah itu semampu saya, apalagi beliau sekarang sudah tiada, tapi untuk saat ini saya masih belum mampu." Pemuda tampan itu menghela napas, degan tatapan lurus. Terlihat kalau ia jujur dengan semua yang dikatakan, bahwa memang seperti itulah yang dirasakan.
"mungkin kalau hanya untuk menjalankan bisnis, saya bisa. Di samping saya akan dibantu oleh semua jajaran divisi di sana. Tapi untuk menjalankan amanah sebagai pimpinan, apa saya akan bisa? apa saya akan mampu bertanggung jawab pada semua bawahan saya ... syaikhona mengajarkan pada saya, bahwa seseorang itu tidak akan pernah sukses memimpin orang lain sebelum bisa memimpin dirinya sendiri. ini, saya yang belum mampu. Saya masih harus banyak belajar." Pemuda tampan itu menghela napasnya sekali lagi, terlihat betapa cukup berat beban yang harus ia tanggung saat ini.
"Saya tak hanya ingin menjalankan amanah itu dengan baik, Mas. tapi, saya juga ingin menjadikan harta peninggalan mereka sebagai ladang pahala yang terus mengalir, untuk ayah dan bunda saya di sana," ujarnya lagi dengan nada pasti.
Ustadz Fadil dan ustadz widad sama-sama menghela napas, saling pandang dengan melempar senyuman. mereka sama-sama merasa kagum akan cara pikir pemuda tampan di hadapannya itu, yang ternyata sudah punya pikiran matang dan hati-hati. Bagi orang biasa, dengan pemikiran yang sama, hal itu mungkin biasa saja, tapi bagi orang kaya raya, pewaris harta dan tahta yang tak main-main jumlahnya, punya pemikiran demikian adalah sangat luar biasa.
Ternyata Arafka di balik sikap diamnya selama ini ia terus menempa diri, terus belajar dan berusaha mawas diri. Semua ini pasti karena didikan dari syaikhona juga yang mendidiknya secara langsung, serta pribadi pemuda tampan itu sendiri yang gigih ingin menjadi pribadi yang beriman dan bertakwa.
Sedangkan Nabila Alia yang mendengarkan perbincangan tiga orang pemuda di depannya itu, ia justru berharap kalau Meidina belum tidur dan mendengarkan semua pembicaraan mereka. Agar ia tau, kalau calon suaminya itu, bukan hanya sekedar pemuda biasa yang tidak tahu apa-apa, tapi ia juga punya kelebihan dan keistimewaan , meskipun mungkin tidak akan sama seperti kelebihan dan keistimewaan yang dimiliki oleh Ra Fattan.
Nabila menatap pada hospital bed itu, di mana Meidina terbaring tenang di atasnya, ia berharap kalau temannya itu masih terjaga, dan mendengar semuanya. Dan Nabila tersenyum tatkala dilihatnya ada air mata menggelinding di wajah ayu yang terpejam itu, namun Meidina segera membalikan badannya, membuat posisi tidur memunggungi mereka yang sedang duduk di seat sofa.
__ADS_1
Kau pasti sudah mendengar semuanya, Meidina. Dan kau pasti sudah punya kesan tersendiri dengan semuanya. Batin nabila.
"Dek Rafka jangan terlalu merendah. Bagi kami, kau itu bukan hanya seorang pemuda yang baik, tapi juga memiliki kepribadian yang sangat matang dan dewasa. Dek Rafka tidak pernah berbesar diri, meskipun segalanya sudah kau miliki ..."
"Tidak, Mas." Rafka dengan cepat menyanggah ucapan ustadz Widad itu. "Saya ibarat kata, hanya seorang yang baru terbangun dari tidur panjang. Masih sangat jauh perjalanan saya untuk bisa disebut sebagai orang yang baik. Saya hanya mohon dukungan dan doanya, untuk saya terus menata diri. Karena saya tidak ingin menyia-nyiakan waktu saya lagi," katanya lagi dengan kepala sedikit menunduk.
Ada maksud yang terpendam di balik semua perkataannya ini. Dan meski belum sepenuhnya tahu apa maksud terdalam dari ucapan Arafka itu, namun Fadil Dan Widad, mengiyakan dan memberikan dukungan atas niat pemuda itu untuk terus memperbaiki diri. Karena bagi mereka, setiap pribadi itu harus terus belajar dan belajar untuk semakin baik. Sebab mencari ilmu itu wajib dari sejak ayunan ibu sampai masuk liang lahad, demikian menurut sebuah hadist yang masyhur.
Sudah masuk waktu ashar.
Bahkan kemudian, hadir juga kyai Sholih bersama bu nyai Wardah, yang kemarin punya hajatan, dan Meidina hadir kesana bersama rekan-rekan.
Benar kata Zaskia beberapa saat lalu, kalau seluruh keluarga Masayikh Alhasyimi, itu memanggil Rafka dengan sebutan "Nak" tak ada yang menyebut namanya secara langsung. Sikap mereka juga telihat sangat menghargai pemuda tampan tersebut, dan demikian juga terhadap Meidina Shafa.
Bagi mereka yang lain, yang ada di sana, melihat itu semua sebagai sebuah kelebihan yang dimiliki oleh Arafka, dimana dia tidak hanya dekat dengan syaikhona, tapi juga dengan keluarga masyayikh yang lain.
__ADS_1
Lain halnya dengan Meidina, meski dalam hatinya banyak timbul tanda tanya, akan kehadiran para masyayikh yang datang menjenguk dirinya. Padahal Meidina di Alhasyimi hanya seorang santri biasa. Dan ia bertunangan dengan Arafka yang menurutnya juga hanya santri biasa seperti dirinya, hanya saja pertunangan itu diprakarsai langsung oleh syaikhona. Tapi, terlepas dari semua tanda tanya, dalam hati ia sangat senang dan bersyukur dengan hadirnya para Beliau yang datang menjenguk. Ia merasa mendapatkan kebahagiaan dengan hal itu. Rasa bahagia itu tampak di wajahnya yang terlihat berseri, meskipun masih terlihat pucat pasi.
Begitu para masyayikh itu pamit, setelah sejenak berbasa-basi, ustad Widad dan ustad Fadil pamit hendak melaksanakan sholat Ashar. Nabila mengikut pula. Maka kini dalam ruangan itu hanya tinggal Arafka dan Meidina saja.
Meidina Shafa yang duduk menyandar di kepala ranjang yang ditinggikan itu, nampak sedang memakan buah yang sempat disajikan oleh Nyai Wardah. Istri kyai Sholih itu, sebelum pamit sempat mengupas buah dan disajikan di atas piring, lalu meminta Meidina untuk memakannya. Supaya cepat sehat, demikian kata beliau.
Sedangkan Arafka sendiri, nampak sedang berdiri di depan jendela, sedangkan tatap matanya terarah pada layar ponsel canggih bergambar buah apel tidak utuh di tangannya. Barusan memang sempat terdengar ada irama HP, pasti ada yang sedang menghubunginya, tapi bukan lewat telepon.
Dan hal yang sama juga terjadi pada Meidina Shafa, saat ia sedang sibuk makan buah dengan garpu di tangannya, terdengar nada dering dari ponselnya yang berada di atas meja, samping ranjang. Karena begitu sigapnya ia mengambil ponsel itu sampai garpu di tangannya juga ikut jatuh ke lantai dan menimbulkan bunyi. Gadis ayu itu kaget. Terlihat Arafka menghampiri, dan tanpa kata ia meraih garpu di lantai itu, dan lalu mencucinya di wastafel. Setelah dikeringkan dengan tissu ia membawa garpu itu lagi ke hadapan Meidina.
Meidina sendiri sedang melihat layar ponselnya yang terdapat sebuah chat masuk di sana. Namun, belum juga chat itu dibuka, ponsel yang memang sejak kemarin tidak diisi daya itu low baterai dan non aktif dengan sendirinya. Gadis ayu itu menghela napasnya, bersamaan dengan Arafka yang meletakkan garpu itu lagi di atas piring yang dipangku oleh Meidina.
"Terima kasih," ucap gadis ayu itu lirih, sembari meletakkan kembali ponselnya di atas meja, dengan menggunakan tangan kirinya yang diinfus. Karena posisi meja dan tempat duduknya saat ini cukup berjarak, maka ia harus mengulurkan tangannya itu cukup panjang. Walhasil ia merasa nyeri pada bagian pergelangan tangan yang dipasang slang infus itu. Akibatnya, Meidina segera menarik cepat tangannya, padahal ponsel belum sepenuhnya diletakkan di atas meja. Benda pipih itu pun jatuh ke lantai berkeramik licin, membuat Arafka yang hendak kembali duduk di posis semula, jadi menghentikan langkahnya.
"Astaghfirloh."
__ADS_1