
"Harlah Al-Hasyimi, kurang berapa hari lagi ya?" Nabila memecah keheningan dengan pertanyaannya. Di saat semua sibuk dengan tugas masing-masing. Dan sama-sama fokus mengerjakannya, hingga hening saja yang ada. Padahal ada empat orang hawa di aula itu.
"Dari hari ini, kurang empat hari lagi, Mbak. Kalau dari besok, kurang tiga hari lagi," sahut Zaskia dengan mode bercanda. Tapi memang benar kalau harlah Al-Hasyimi yang ke 74 akan digelar. Menurut rencana, acara akan diadakan di kawasan studio alam Al-Badar. Dan pada acara itu, akan dihadiri oleh H. Rhoma Irama, seorang raja dangdut Indonesia, yang dulu juga pernah ikut menggembleng grup shalawat Al-Badar di awal berdirinya. Dikabarkan pula, kalau sang pesohor itu punya kedekatan dengan kyai pengasuh Al-Hasyimi, dan sering sowan pada beliau.
Penjelasan: Al-Badar adalah grup sholawat pesantren Al-Hasyimi. Pusat kegiatan grup sholawat yang sudah menelorkan beberapa album rekaman itu, berada di studio alam milik Al-Hasyimi. Studio alam yang memiliki luas 2,3 hektar itu berlokasi di titik tengah antara Al-Hasyimi pusat dan Al-Hasyimi cabang yang hanya berjarak 2 kilo meter. Di area studio alam Al-Badar inilah, sementara wisma siswi KM tingkat 3 ditempatkan. Karena bangunan wisma yang berada di Al-Hasyimi cabang itu, sedang direnovasi.
Terdengar Nabila menghela napasnya. "Waktu kayak berjalan sangat lambat ya," ujarnya pelan.
"Kayak gitu mang, kalau lagi nunggu sesuatu. Sehari berasa sebulan," sahut Davina.
"Iya, seminggu kayak setahun," timpal Nabila setuju.
"Memang lagi nunggu apa, Mbak?" tanya Zaskia pada Nabila.
"Di waktu yang tepat, aku akan memberitahu. Untuk saat ini, biar saja kulalui penantianku ini sendiri, biar lebih khidmat," jawab Nabila sembari menyisipkan senyum di sela ucapannya.
"Wah, bakal ada kejutan nih," seloroh Madina. Kelihatannya ia sudah lebih dulu menyelesaikan tugasnya, terlihat dari gadis itu yang mulai menutup buku-bukunya, dan meletakkan pulpen di atas meja.
"Insyaallah, doakan ya, ukhti," pinta Nabila sampai menyatukan tangan di depan dada.
"Pasti didoakan," sahut mereka serempak.
"Setuju dengan Nabila. Menanti dalam diam, dan menanti dalam doa, itu lebih sesuatu. Walaupun pada akhirnya tak sesuai dengan apa yang diharapkan. Tapi, melalui penantian dengan cara seperti itu, terasa sangat indah," ujar Davina. Setiap kata yang ia ucapkan, terlihat dengan sepenuh penjiwaan.
"Mbak Davina seperti menyelam banget ya dengan ucapannya. Apa memang lagi menunggu sesuatu, Mbak?" tanya Zaskia.
"Iya. Menunggu jawaban Allah, atas semua doa-doaku, Ning," jawab Davina.
"Selama menanti, sibukkan diri dengan hal-hal yang baik," kata Madina.
__ADS_1
"Alhamdulillah, seperti itu, Din. Dan Alhamdulillah lagi, karena penantian itu sudah terjawab."
"Alhamdulillah." Tiga orang temannya itu secara serempak berucap syukur, dan antusias bertanya, meski pun mereka tidak tau, hal apa sebenarnya yang sedang ditunggu oleh Davina. Semua itu berdasar rasa ukhuwah yang dalam. Bahwa setiap pribadi berhak punya privasi, yang tak harus diceritakan, meskipun atas nama persahabatan. Yang terpenting adalah saling mendoakan dan saling suport untuk sebuah kebaikan.
"Bagaimana jawaban dari penantian itu?"
"Iya, Subhanallah, Allah Maha Tau apa yang terbaik buatku." Davina memberikan jawaban puitis. Dan tak ada satu pun dari mereka yang mengajukan bantahan, atau pun mengulik terlalu dalam. Semua saling menghargai, jika memang tidak bercerita itu adalah sebuah keputusan.
Tiba-tiba saja.
Brakkk.
Terdengar suara benda besar jatuh, yang sepertinya berasal dari depan Aula. Dan suara jerit cukup keras yang menyertainya. Mereka sesaat saling pandang, lalu tanpa dikomando sama-sama bangkit keluar aula, untuk melihat apa yang terjadi sebenarnya.
Terlihat tembok pagar aula roboh sepanjang dua meter. Apa yang terjadi, mengapa tembok pagar itu roboh begitu saja.
Jawabannya, Tidak roboh begitu saja. Tapi, karena ada penyebabnya.
__________________________
Duduk sebentar dan kemudian berdiri, sudah dilakoninya sejak sepuluh menit lalu. Sekarang ia mondar mandir kesana kemari, dengan arah yang tak tentu. Tatapan matanya yang terlihat cemas, mencerminkan kegelisahan dalam kalbu Jemari tangannya yang saling bertaut, sesekali saling meremas diserta ******* pilu.
Sesaat kemudian terdengar deru motor yang sedang melaju. Dari kejauhan terlihat motor CBR hitam sedang berpacu, dan seorang pemuda gagah duduk di atas motor besar itu. Si gadis segera melompat menyongsong laju motor besar tersebut dan menabrakkan tubuh.
Awww...
Segera jerit histeris membahana, dari beberapa siswi kulliyatul muallimin yang baru keluar dari wisma. Pemandangan mengerikan kini terpampang di depan mata. Tubuh gadis berjilbab hitam itu pasti terlindas roda, dan kemudian darah pun tercecer di mana-mana.
Tapi tidak. Tidak seperti itu kejadiannya. Karena sang pengendara segera melakukan tindakan cepat di saat yang tepat. Terdengar derit rem yang memekakkan telinga. Di susul suara benda jatuh dengan cukup kerasnya.
__ADS_1
Brakk
Pengendara motor itu membanting stir ke kiri, sehingga yang menjadi korban roda motornya, bukan lagi gadis berjilbab hitam di depan mata, tapi tembok pembatas pagar Aula. Tembok tak berdosa itu roboh sekitar dua meter panjangnya.
"Masayu, kamu apa-apan sih? Mau bunuh diri kamu!" Terdengar suara laki-laki mendamprat.
"Dik Rafka, gak papa?" Lelaki itu segera membantu menegakkan motor yang hampir rubuh.
"Gak papa, Mas," sahut Arafka sambil melepas helm yang menutup wajah rupawannya. Pandangannya tertuju pada pagar tembok yang rubuh, sembari menarik napas pelan.
"Ada hal apa kamu berada di sini, Masayu? Kamu itu santri Alhasyimi cabang. Gak boleh ada di area sini, kecuali berkepentingan."
"Ee, maaf Ustadz Widad." Masayu terlihat menarik napasnya sekejap, mengumpulkan segala keberaniannya untuk berucap. "Saya ada kepentingan dengan mas Rafka." Gadis berjilbab hitam itu menatap Arafka yang masih berdiri di samping motor besarnya, dan menatap Masayu dengan ekspresi yang tak terbaca.
"Ada perlu dengan dik Rafka, sampai mau menabrakkan diri begitu?" Ustadz Widad memang melihat dengan jelas semua kejadiannya. Karena ia baru saja melintas hendak ke aula dua studio alam Al-Badar itu.
"Karena mas Rafka, gak pernah memberikan saya waktu untuk berbicara," sahut Masayu dengan menatap dalam pada Irfan Arafka Wafdan, yang sampai saat ini masih terdiam.
Ustadz Widad, menoleh pada pemuda tampan tersebut. "Gimana, dik?"
Arafka mengangguk dan segera beringsut mendekati Masayu. "Apa yang ingin kamu bicarakan pada saya?"
"Ee saya--saya ..." Masayu jadi gugup, segenap tatanan bahasa yang sudah berbaris rapi dalam benak, kini hilang entah kemana. Tatap mata tajam Arafka, pesona ketampanannya, dan suara indahnya, telah merampas semua fokus Masayu dengan tanpa tersisa. Hingga kini, ia hanya bisa memilin-milin ujung hijabnya.
"Baiklah, berarti sebenarnya, tidak ada hal yang ingin kamu bicarakan dengan saya," putus Arafka, pemuda tampan itu segera memutar tumit hendak menuju motor besarnya.
"Tunggu, Mas Rafka!" Cegah Masayu. "Saya hanya ingin mengatakan, kalau ... walaupun Mas Rafka gak pernah menghargai perasaan saya, tapi perasaan saya tidak akan pernah berubah," tandas Masayu. Kalimat itu meluncur deras kendati Arafka belum sempurna berbalik badan menatapnya. "Selamanya tidak akan pernah berubah," imbuhnya lagi.
Terlihat Arafka dengan samar menghela napas. 'Kalimat ini lagi' resahnya dalam hati. Memang, ini bukan ungkapan perasaan dari Masayu yang pertama kali, bahkan sudah berkali-kali, tapi Arafka tak pernah menanggapi.
__ADS_1
Seperti pula kali ini, pemuda itu menjadikan diam sebagai jawaban. Lagi-lagi ia mewakili kalimatnya dengan diam, tiap kali Masayu--atau Masayu-Masayu yang lain menyatakan perasaan--Arafka hanya diam.