Bertaruh Cinta Di Atas Takdir

Bertaruh Cinta Di Atas Takdir
66 Permintaan Syaikhona


__ADS_3

"Setiap manusia itu memang tak serta merta dapat langsung paham pada maksud pemberian Allah, Nak. semua masih butuh proses, butuh belajar untuk memahami bahwa setiap pemberian Allah itu yang terbaik baginya." Nyai syarifah mengucapkan ha itu dengan lembut, selembut usapan tangan beliau di pundak Meidina. Sepertinya bu Nyai tahu kalau gadis ayu itu mulai memahami kelalaiannya tentang hal ini.


"Sudah, Nak jangan nagis lagi." Dan kembali Nyai Syarifah mengusap air mata di wajah Meidina dengan tangan beliau. Meidina meraih tangan itu dan menciiumnya berkali-kali seiring rasa terima kasih yanng memuncak di dalam dada.


"ini, Nak minum dulu!" Kyai memberikan segelas air yanng diambilnya sendiri dari atas meja di samping ranjang yang ditiduri oleh Meidina Shafa.


Tangan Meidina sedikit gemetar saat menerima gelas itu. Dan kemudian setelah cairan bening tersebut luruh dalam kerongkongannya, rasa sejuk lah yang kemudian di rasakan oleh Meidina shafa, rasa tenang, rasa damai yang terasa memeluk jiwa. Ia meyakini kalau dalam air itu ada doa dari syaikhona yang membuatnya merasa lebih tenang sekarang dari pergolakan jiwa yang sesaat lalu begitu kuat membelit dan menciptakan lara.


"Banyak bersyukur pada Alalh ya, perbanyak syukur." tuntunan dari kyai untuk selalu melazimkan syukur itu memang adalah petuah yag sering disampaikan oleh beliau pada Arafka. Juga sering diucapkan dalam beberapa kajian umum di Alhasyimi. Yang di mana dalam sebulan dua kali, beliau memberikan kajian pada seluruh santri alhasyimi, putra atau putri, pusat atau pun cabang, di gedung auditorium Alhasyimi pusat, dan dibawa oleh pengeras suara ke wilayah putri yang juga berkumpul di aula besar pesantren.


Dalam tuntunan yang beliau ajarkan, bahwa bersyukur itu memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia di setiap waktunya. Dengan rasa syukur, akan mengubah rasa sulit jadi gampang, rasa susah menjadi senang, dan rasa sempit menjadi lapang. Dan yang terpenting, dengan melazimkan syukur, manusia dengan sendirinya akan memiliki kesadaran, bahwa hidup yang kita punya sekarang adalah pemberian, bahwa setiap tarikan napas, dalam setiap hitungan detiknya, adalah pemberian. Maka apa pun yang terjadi dalam hidup, tentu juga merupakan pemberian. Dan kepada Yang telah Memberi, wajib hukumnya untuk menyampaikan rasa tereima kasih dari hati yang paling dalam, dengan bersyukur, serta mematuhinya dalam ketaatan dan ketakwaan.


"Kau sudah merasa tenang sekarang, Nak?" tanya kyai setelah melihat tangis Meidina berhenti dan terlihat gadis itu mulai mengatur napasnya sesekali, seperti ia mulai mengembalikan perasaannya pada kondisi baik-baik saja, setelah sempat terguncang dengan tangis tanpa suara.


"Inggih," jawabnya santun.

__ADS_1


"Tubuhmu sudah merasa nyaman?" lanjut kyai lagi.


"Perasaanmu juga sudah merasa nyaman?"


Dua pertanyaan berturut-turut dari kyai itu dijawab dengan anggukan pasti oleh Meidina Shafa. Syaikhona lalu mengusap pelan pundak gadis itu. "Sekarang aba mau tanya satu hal kepadamu, Nak. Dan aku harap, kau menjawab dengan jujur. Kejujuran yang datang dari dalam hatimu sendiri, secara hak. Bukan karena aku dan umimu di sini, bukan karena kedua orang tuamu sendiri, bukan karena Arafka. Dan bukan karena siapa pun yang ada di selain dirimu sendiri. tapi, hanya karena dirimu sendiri, yang bersumber dari dalam hatimu."


Tak hanya Meidina Shafa yang merasa berdesir dengan syarat kejujuran yang diiucapkan oleh syaikhona itu, bahkan semuanya juga merasakan denyut jantung teras berdebar, lebih dari ukuran normal. Sangat jujur, itu jawaban yang dipinta oleh syaikhona. maka kiranya hal apa yamg akan beliau tanyakan pada gadis itu. Bahkan tak hanya itu, syaikhona juga menanyakan kesanggupan Meidina shafa untuk memberikan jawaban yang sejujur-jujurnya itu. "Apa kau bisa, Nak?"


"iya," sahut Meidina dengan suara bergetar. Bukan karena rasa was-was ataupun kawatir, tapi karena memantapkan diri untuk memberikan jawaban se-jujur yang sudah diarahkan, atas apapun pertanyaan yang diajukan, kendati pun, kejujurannya nanti akan merupakan hal yang menyakitkan.


"Apa kau benar-benar bersedia untuk menikah, untuk menjadi istri, dan menjadi bagian dari hidup anakkku, Irfan Arafka Wafdan?"


Dan keterkejutan itu tak hanya tampak di wajah Meidina, bahkan di wajah yang lain juga. Ning Zaskia bahkan memegang erat tangan Davina yang terlihat tegang dengan berkali-kali menghela napas, di samping Nabila yang juga terheyak. Ustadz Fadil dan ustad Widad bahkan terlihat saling pandang, Azmi dan Nizam juga memerlihatkan keterkejutan yang sepadan.


Hanya IRfan Araka Wafdan yang tak menampakkan kekagetan atas pertanyaan syaikhona pada Meidina. Ia hanya terlihat menghela napas singkat, sebuah helaan napas lega. Karena sejak dpertunangkan dengan gadis ayu itu, telah timbul niat dalam dirinya untuk menanyakan hal tersebut, namun kesempatan dan waktu yang masih belum berpihak kepadanya. Dan ketika kesempatan untuk bicara itu ada, Meidina Shafa justru tengah terbaring sakit, yang membuat Arafka harus menangguhkan apa yang menjadi niatnya untuk bertanya.

__ADS_1


Ternyata kini, syaikhona lah yang mewakili dirinya untuk menanyakan semua itu langsung kepada Meidina SHafa. karenanya, Arafka terlihat menarik napas lega. Selanjutnya ia pun meyiapkan diri akan hal apa yang bakal menjadi jawaban dari Meidina Shafa nanti. Karena hal itu yag ada dalam pikirannya, maka terlihat kalau wajahnya tenang-tenang saja. Tak terlihat ada beban apa-apa yang menggelayut di sana.


Hal ini tentu sangat bertolak belakang dengan Meidina Shafa, yang merasakan badannya panas dingin karenanya. Ia terlihat ingin berbicara. Namun,


"Jangan terburu-buru dijawab dulu, Nak!" kata Nyai Syarifah. "Kau harus benar-benar menemukan kemantapan dulu dalam hatimu, seperti apa tadi yang dianjurkan oleh aba. kami akan menunggu, kau jangan merasa risih karenanya. Kami sekarang adalah orang tua yang tak ingin memaksakan kehendak kepada putrinya. bukan sepasang kyai dan bu nyai, yang harus selalu dipatuhi oleh santrinya," lanjut bu Nyai dengan sangat bijak.


Subhanallah, siapa yang tak akan tergetar dengan keagungan pekerti mereka berdua. Keduanya sosok yang saling melengkapi dan sangat mengayomi, pantaslah jika Alhasyimi menjadi sangat besar di bawah kepemimppinan mereka berdua. Benar-benar pasangan yang patut dicontoh, di mana bu nyai Syarifah senantiasa mengiringi dan melengkapi syaikona dalam setiap titah dan keputusannya.


Meidina Shafa pun terdiam untuk kembali mengkaji dirinya sebelum memberikan jawaban. Entah karena hal apa, saat ini ia merasakan lebih nyaman dan tak terombang-ambing lagi dalam kebingungan seperti yang sudah-sudah. Tak ada bayang-bayang Ra Fattan yang biasanya selalu hadir secara bergantian dengan Irfan Arafka Wafdan dalam benaknya. yang ada sekarang adalah rasa haru dan bahagia karena mendapatkan perhatian serta kasih sayang nyai Syarifah dan Syaikhona.Dan ia merasa tak ingin kehilagan itu semua.


"saya boleh menjawab sekarang?"


"kalau kau sudah menemukan kemantapan dalam hatimu, dan kau merasa yakin dengan itu, jawablah, Nak!" Demikian Syaikhona menyarankan, agar Meidina hati-hati dan bersungguh-sungguh dalam memberikan jawaban, sebab apa yang menjadi jawabannya sekarang, akan menjadi penentu kelanjutan hidupnya ke depan.


Meidina mengangguk, terlihat tak ada keraguan di wajahnya, sepertinya ia telah menemukan jawabannya. Sedangkan yang lain menanti dengan berdebar. apalagi Kanza Davina, wajahnya sampai terlihat berkeringat dingin, karena ada rasa bimbang dan hawatir. Sebab ia tidak bisa menebak terlebih lagi merasa, apa yang akan menjadi jawaban Meidina.

__ADS_1


Meidina Shafa terlihat menghela napasnya, sebelum mengutas jawab dari pertanyaan Syaikhona. Seakan ia masih mengumpulkan kekuatan, untuk bisa menyajikan kebenaran dari apa yang menjadi jawaban. Dan selanjutnya, "saya siap untuk menikah, menjadi istri dan menjadi bagian dari hidup Irfan Arafka Wafdan."


I


__ADS_2