Bertaruh Cinta Di Atas Takdir

Bertaruh Cinta Di Atas Takdir
53 Calon Mertua


__ADS_3

"Saya telepon dari tadi, kok gak diangkat, Dek?" Lupa untuk mengucapkan salam, Nizam segera bertanya demikian, begitu Arafka mengangkat teleponnya. Ia juga mengaktifkan loadspeaker, sehingga suara Arafka didengar juga oleh semua yang ada di sana.


"Maaf, Mas. Saya baru keluar dari ruangan Dekan, ada apa, Mas Nizam?"


"Dek Rafka ke kampus naik apa?"


"Naik mobil."


"Mobil siapa?" tanya Nizam lebih lanjut.


"Mobil sewaan," sahut Rafka terdengar diselingi tawa.


"Serius, Dek. Naik taksi ya?" Nizam malah menebak.


"Saya pakai mobil, Mas."


"Mobilnya kan aku pakai, Dek." Nizam bahkan memutar-mutar kunci mobil pajero hitam milik Arafka itu dengan tangan kirinya.


"Iya, pakai saja. Saya pakai mobil yang lain."


"Jadi, Dek Rafka punya mobil berapa?" Nizam terlihat berkerut kening saat bertanya demikian. Sangat mengherankan sekali, Arafka yang seorang santri, pulang pergi dari Alhasyimi ke rumahnya dengan naik motor besar, sesekali juga pakai mobil. Hal itu saja masih menjadi tanda tanya yang enggan dijawab oleh pemuda tampan itu. Kini, ada satu fakta kecil lagi yang mereka ketahui, kalau pemuda itu masih punya mobil yang satunya lagi.


"Mas Nizam ada di rumah sakit?" Rafka malah bertanya hal lain. Dia tidak mau menjawab apa yang ditanyakan oleh Nizam barusan.


"Iya, Dek. Ini Meidina lagi kambuh," sahut Nizam, sedangkan tatapannya tertuju ke arah Meidina Shafa yang sedang duduk menyandar pada hospital bed yang ditinggikan. Gadis ayu itu menatap Nizam dengan pandangan tak nyaman. Terkait ucapan pemuda itu barusan pada Arafka. Padahal, Meidina saat ini, baik-baik saja. Setidaknya tidak sedang berada pada kondisi yang menghawatirkan seperti semalam.


"Kambuh gimana?" Terdengar tanya Rafka.


"Kambuh kayak semalam itu," jawab Nizam. Sedangkan Azmi dan Ustad Widad, hanya senyum-senyum saja dengan ulah Nizam itu.


"Jangan bercanda, Mas Nizam," kata Arafka dengan nada santai.

__ADS_1


"Beneran lho, Dek." Nizam malah berusaha meyakinkan Rafka dengan laporannya yang hanya mengada-ada itu.


Tak ada jawaban apa-apa dari Arafka. Mungkin pemuda itu di sana sedang berpikir keras. Atau justru tengah berlari menuju parkiran untuk segera kembali ke rumah sakit, dan mengetahui kondisi Meidina saat inj.


Diamnya Rafka ini membuat Nizam memanggilnya. "Dek Rafka masih di sana?"


"Mas Nizam, di ruangan itu saya meletakkan kamera tersembunyi yang terhubung langsung ke ponsel saya. Jadi, Mas Nizam gak bisa bohongin saya."


"Beneran, Dek?" Nizam terlonjak. Tak terkecuali pula yang lain. Dan beberapa pasang mata pun segera menyasar ruang rawat kelas VIp itu, untuk mencari keberadaan kamera tersembunyi yang barusan dikatakan oleh Rafka. Namun, hasilnya nol, mereka tak menemukan apa-apa. Mungkinkah, Arafka hanya sedang balik mengerjai Nizam?


"Saya bisa melihat di sana sekarang ada siapa saja," kata Arafka, yang membuat mereka saling pandang dan saling tanya.


"Haa? Segitunya ya dek Rafka menjaga Meidina," ucap Nizam sambil tertawa renyah.


"Lampu kuning buat, Mas Nizam," sahut Arafka.


"Dek ini serius? Aku hanya bercanda saja kok, Dek. Aku mana berani saingan denganmu," kata Nizam dengan sungguh-sungguh. Seirama dengan raut wajahnya yang juga memerlihatkan kesungguhan.


"Waalaikumsalam." Nizam terlihat menghela napasnya. "Perasaanku sangat tak nyaman, saat dek Rafka bilang lampu kuning buatku," katanya, dengan mode mengadu.


"Makanya, jangan suka ngerjain orang. Balik dikerjai kan sama dek Rafka," kata Azmi, yang ditanggapi tawa renyah oleh Nizam.


"Sebenarnya dek Rafka itu, putranya siapa ya," tanya Nizam kemudian. Entah pertanyaan itu ia ajukan pada siapa.


"Kenapa masih menanyakan itu sekarang, Zam," tegur Widad. Karena bertanya-tanya soal itu, sudah lewat masanya sejak dulu. Sejak Rafka masuk sebagai santri Alhasyimi, yang kesehariannya tampil dengan fasilitas yang lengkap dan terkesan mewah. Serta masih memiliki hak istimewa, dengan bisa tinggal di luar wisma santri.


"Ya, karena dek Rafka, tak pernah bercerita secara gamblang tentang itu, Mas," sahut Nizam.


"Dia pasti tidak ingin privasinya diketahui banyak orang, kita hargai saja apa yang jadi keputusannya itu." Widad memberikan keputusan bijak.


"Dan siapa pun orang tuanya, pasti punya hubungan dekat dengan syaikhona. Sampai beliau begitu menyayangi dek Rafka dan memberikan hak istimewa," timpal Azmi.

__ADS_1


"Meidina jadi gak istirahat karena kita asyik ngobrol ya. Sebaiknya kita pindah keluar saja, sambil menunggu dek Rafka datang."


Keputusan bijak ustad Widad itu segera disetujui oleh yang lain.


Meidina pun memejamkan matanya. Berharap segera meraih tidur, dan berharap dengan itu, segera bisa memeluk kesembuhan dan mendapatkan kesehatannya kembali. Terasa sudah sangat lama, berbaring di atas hospital bed yang sangat empuk, dalam ruang yang memancarkan aroma harum. Padahal, baru semalam ia menjadi pasien istimewa di ruangan VIP ini. Ternyata kenyamanan fasilitas yang ia dapat di sini, tak mampu memberinya rasa betah untuk terus berlama-lama di tempat ini. Dan ternyata, pula tidur di wisma kulliyatul muallimin yang memiliki fasilitas serba sederhana, itu yang lebih ia sukai.


Seperti orang yang hendak melakukan perjalanan dengan alat transportasi, baru juga melaju belum mencapai hitungan kilo, tiba-tiba alat transportasi tersebut harus berhenti. Seperti itulah yang dirasakan oleh Meidina saat ini. Baru juga terlelap sudah terdengar kasak kusuk dalam ruangan yang semula sepi. Karena baik Zaskia maupun Davina yang sedang menemaninya tak membuka pembicaraan sama sekali.


Sepertinya, sudah ada yang datang membezuknya lagi, seperti beberapa waktu tadi, di mana hampir semua teman-temannya di KM tingkat beramai-ramai mengunjungi ke rumah sakit ini. Dan kali ini, siapa lagi yang mendatangi.


Meidina membuka matanya, dan tatapannya segera memindai seisi ruangan, lalu terpaku pada sosok asing yang sama sekali tidak ia kenal. Seorang pria dengan stelan rapi, lengkap dengan dasi dan sepatu vantofel yang memerlihatkan harga tinggi, sedang berbincang dengan Widad, Nizam dan Azmi, di seat sofa itu. Bersamanya, juga terlihat seorang lelaki muda berusia sekitar tiga puluh tahunan, memakai safari berwarna hitam.


Apakah, itu juga orang yang membezuknya? Tapi, Meidina merasa tidak kenal, orang itu siapa. Dari penampilan pria baya yang tak lagi muda, namun memerlihatkan gurat-gurat ketampanan dan ketegasan di raut wajahnya itu, jelas dia bukan dari keluarga besar Alhasyimi. Dia seperti orang-orang yang bekerja di balik meja. Bisa jadi jajaran executive di sebuah perusahaan.


"Nah itu, Meidina sudah bangun, Paman," kata Azmi, setelah ia melihat ke arah Meidina Shafa yang sudah membuka mata.


Lelaki baya tampan itu menoleh ke arah ranjang pasien. Seutas senyum terbit di bibirnya. Tak hanya itu ia segera berdiri dan melangkah mendekati. Sementara Zaskia dan Davina membantu Meidina untuk mendapatkan posisi yang nyaman dengan duduk bersandar pada sandaran yang ditinggikan.


"Meidina Shafa ya." Lelaki itu menyapa ramah. Dan tak melepaskan senyuman.


"Iya, paman." Sahut Meidina lirih, sementara tatapannya penuh tanya keheranan.


"Belliau ini calon mertuamu, Meidina. Ayahnya dek Rafka." Ustad Widad segera menjelaskan demi dilihatnya tatap mata keheranan dari Meidina Shafa.


Meidina terhenyak, teringat pada pembicaraannya pagi tadi dengan Davina. Bahwa saat ini Allah sedang mengenalkan Arafka padanya. Apa ini adalah rangkaian pengenalan itu? Dimana ia kini diperkenalkan pada ayah dari calon suaminya.


🌺🌺🌺


Teman-teman, mohon maaf ya, kalau pada bab ini typonya maxi. Aku gak sempat review dulu, dikejar waktu. Hari ini riweh bangett..


Tapi like komen, tetap selalu ditunggu ya..

__ADS_1


Love u all


__ADS_2