Bertaruh Cinta Di Atas Takdir

Bertaruh Cinta Di Atas Takdir
94 Bukan Bab Baru


__ADS_3

Assalamualaikum, kakak-kakak tercinta.


Mohon maaf yang se-besar-besarnya. Karena sebenarnya ini bukan bab baru. Ini hanya pengulangan dari beberapa bab sebelumnya. Saya up ulang karena ingin mengikuti peraturan sistem, yang menekankan agar jangan bolong up di tanggal satu. Sedangkan saya tidak punya waktu untuk mengetik bab baru hari ini. Ada kesibukan yang tak bisa diabaikan.


Mohon pengertiannya. Dan mohon maaf dengan ketidaknyamanan ini.


Selamat membaca.


🌺🌺🌺


Sedangkan di dalam ruangan.


Meidina Shafa masih tetap di posisi semula, ia duduk menyandar di atas sofa empuk dengan kedua kaki selonjor. Pandangannya nampak kosong dan menerawang. Ada setitik bening menggelinding di wajah ayunya yang hari ini terlihat lebih cerah dan bersinar, ditambah lagi dengan pemilihan warna baju dan pasmina yang dikenakan.


Terdengar langkah kaki mendekati, gadis ayu itu menoleh. Mana kala tahu siapa yang menghampirinya, ia segera merubah posisi duduknya dan menurunkan kedua kakinya.


Irfan Arafka Wafdan menatapnya dengan seksama, sebelum segera duduk di sofa tak jauh dari Meidina. "Sudah merasa lebih baik?" tanyanya.


"Iya."


"Tidak pusing lagi?"


"Tidak." Meidina menggeleng singkat. "Sa-saya ingin pulang hari ini."


"Tidak bisa kata dokter," sahut Rafka, hal mana membuat Meidina terdongak menatapnya heran.


"Kenapa tidak boleh? Saya sudah merasa sehat sekarang."


"Kata dokter kamu belum boleh pulang dari rumah sakit inj, karena kamu masih sering menangis, dan masih belum bisa tersenyum."

__ADS_1


Awalnya Meidina terhenyak mendengar ucapan itu, tapi saat ia sadar kalau itu hanya bercanda, gadis ayu itu tersenyum lembut.


"Kenapa?" tanya Rafka kemudian seraya menatapnya dalam-dalam. Pasti pertanyaan itu dimaksudkan untuk kondisi perasaan Meidina saat ini, di mana ia masih lebih suka diam, lebih suka sendiri dan lebih suka menangis dalam diam dan sendiri.


Seperti pula saat inj, ketika ditanya demikian, ia memilih diam. Sebenarnya sangat besar keinginananya untuk menjawab apa yang ditanyakan, bahkan ia ingin bicara sebanyak-banyaknya oada Rafka tentang apa yang ditanyakan. Tapi entah kenapa, rasanya masih belum bisa. Bahasanya seperti masih tertahan di rongga dada. Namun, gadis itu tak sepenuhnya terpaku dalam bungkam, ia memilih topik lain sebagai bahan pembicaraan.


"Ajunan pernah ke rumah saya?"


"Belum pernah," jawab Rafka cepat, sementara jantungnya terasa berdetak kuat, dengan cara Meidina bertanya yang sudah menempatkannya pada posisi mulia. Ajunan itu bahasa madura. Artinya, engkau terkhusus untuk satu sosok yang terhormat dan dihormati. Di Alhasyimi, kata ini jarang dipakai, karena mayoritas santri menggunakan bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Tapi, kata ini bukan hal yang asing dan tidak pernah didengar. Karennya, Arafka paham.


"Pernah ketemu orang tua saya?" tanya Meidina lagi. Awalnya Rafka yang ingin menanyai gadis itu terkait semuanya, tapi malah kini terbalik, Malah Meidina yang menginterogasi.


"Iya, pernah dulu di cabang. Ada kamu juga."


Meidina menghela napas pendek. Jadi, hanya sekali itu saja Rafka bertemu dengan orang tuanya.


"Kenapa, Ning?"


"Lalu?"


"Sangat berbeda jauh dengan latar belakang keluarga, Ajunan."


"Ning Adin." Rafka menatap gadis itu seksama, dan dalam waktu cukup lama.


"Kalau kamu ikhlas dengan pernyataan kamu tadi malam di depan aba dan ummi, bahwa kamu bersedia menikah dengan saya, kamu bersedia menjadi istri saya, maka kamu tidak akan pernah mempermasalahkan hal ini."


Meidina Shafa segera tertunduk, dengan sepasang mata yang segera berkaca-kaca. Arafka wajar meragukan keihlasannya, karena jawaban yang diberikan oleh Meidina semalam memang hanya spontanitas saja.


"Saya bersungguh-sungguh ingin hidup sama kamu, meski pun saya tahu kalau di hatimu ada orang lain," kata Rafka dengan lembut.

__ADS_1


Dan jatuhlah air mata Meidina mendengar kalimat itu. Untuk sesaat ia tak bisa berkata apa-apa lagi. Rafka juga tak mengusiknya, hingga kemudian Meidina terdongak dan berkata lirih, "Maafkan saya, Mas Rafka."


Rafka tersenyum lembut. "Sekarang, hampir semua orang memanggil saya begitu. Tapi, panggilan darimu ini yang paling saya sukai."


Ujung Jemari pemuda itu lalu mengusap titik bening di wajah Meidina.


"Jangan menangis lagi, tolong," ujarnya lembut. "Tak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Tak ada kesulitan yang tidak punya jalan keluar. Yang penting kamu yakin, apa pun kamu bisa bicarakan sama saya. Sekalipun itu untuk hal yang paling tidak menyenangkan, misalnya kamu ingin membatalkan pernikahan kita." Pemuda tampan itu berkata mantap, tak terlihat berbeban dan berat.


Meidina hanya mampu menggeleng, tanpa mampu berbicara, sementara Arafka tak sedikit pun melepaskan tatapannya. Tiba-tiba saja.


"Mohon maaf, Mas Rafka." Nizam Ali terlihat berdiri di tengah pintu, terlihat ragu, antara mau terus masuk, atau keluar saja dulu.


"Iya, Mas Nizam," sahut Rafka dengan raut wajah tenang.


"Mas Rafka dipanggil dokter."


"Oo, iya terima kasih, Mas Nizam."


Nizam Ali mengangguk dan segera berlalu. Dengan perlahan Arafka pun bangkit. "Saya akan temui dokter dulu," ujarnya, dan segera melangkah hendak keluar dari ruangan.


Namun, baru dua langkah, Meidina memanggilnya. "Mas Rafka."


Saat Arafka menghentikan langkah dan menatap gadis itu, Meidina segera berkata, "Sampaikan pada dokter, saya mau pulang. Karena saya sudah tidak mau menangis lagi, dan sudah bisa tersenyum." Saat berkata demikian, di wajah ayu itu memang tersemat senyuman.


Rafka juga menyunggingkan senyum mendengar ucapan itu. "Kamu sangat ayu, Ning Adin. Semoga Allah benar-benar memberi saya hak sebagai yang halal memandangi wajah ayumu."


Lembut ucapannya, tapi saat mendengar ucapan itu, Meidina merasakan tenggorokannya tercekat bagai tersumbat. Hingga ia butuh waktu beberapa jenak untuk menjawab. Sayangnya, Rafka sepertinya tak butuh jawaban, karena ia segera melangkah keluar.


Mas Rafka, mengapa segera pergi, tanpa menunggu jawaban saya lebih dulu.

__ADS_1


Batin gadis itu sambil menghela napas


__ADS_2