
Malam yang sangat panjang dan melelahkan. Desir angin malam seakan berhenti. Nyanyian malam yang seperti biasanya juga tak terdengar lagi. Malam terasa sangat kelam dan pekat. Malam yang mengemas semua pemandangan sedih dalam kamar Zaskia Ariva. Sendirian dalam tangisnya, sendiri dengan rasa terkoyak dalam dada.
Malam terasa kian mencekam, seiring kepedihan yang terasa melemahkan badan. Ya Allah ... Ya Allah.
Berkali ia panggil asma tuhannya. Berharap dan mengadu. Sementara tilam bantalnya basah, sajadahnya pun basah. Lirih ia berbisik di sela isak tangis.
"Beginikah caraMu memberitahukanku, bahwa dia yang namanya selalu ku sebut
Di HaribaanMu itu, tidak baik untukku?
Mengapa caraMu sepedih ini, Tuhan."
Dan kembali ia larut dalam tangis, sedangkan bayang-bayang wajah tampan Arafka, senantiasa bermain di cermin matanya.
"Ajari aku ikhlas.
Tenagai aku untuk bisa tabah."
Zaskia merintih tertahan, dan kepalanya pun terkulai bersandar di tepi pembaringan, sedangkan pikirannya tiada henti beraktifitas.
Mas Rafka, sedang apakah kau saat ini? Apakah kau sedang tertidur pulas ditemani para bidadari, yang akan mengantarmu menjemput pagi untuk segera jadi pengantin.
Ataukah kau tengah terluka?;ketika harus melepas masa lajangmu di usia muda.
Ataukah ...?
Apakah yang sedang kau rasakan saat ini, Mas Rafka?
Engkaukah yang memang berada di balik semua ini?
Apakah di balik diammu, kau menyimpan perasaan yang begitu rupa pada mbak Meidina?
Bukankah kalian tidak sepadan?
Apakah ketinggian perasaanmu telah menghapus semua itu?
Ataukah kau hanya menerima perintah wajib yang tak boleh ditampik, dari syaikhona yang sedemikian kita sanjungi itu?
Di manakah posisimu saat ini, Irfan Arafka Wafdan?
Tahukah kau bahwa aku terluka, dan kulihat mbak Meidina juga terluka.
Dan, apakah kau pun terluka?
Ah.
__ADS_1
Zaskia menghempaskan napasnya dengan kuat. Kuatkan aku ya Allah, bisiknya lirih di antara burai air matanya, di sela kepedihan jiwanya, dalam suasana malam yang kian tenggelam. Tak lama kemudian terdengar ketukan lirih di pintu kamar, disusul suara sang umi yang menggema lembut di pendengaran.
"Sholatlah, Nak! Sholatlah!"
"Ummi." Zaskia segera bangkit, menghapus air mata dan membuka pintu. Namun, dengan seketika bibirnya terkatup, karena ternyata tak ada siapa pun di depan pintu kamarnya. Lampu ruang tengah juga belum menyala, dan pintu kamar Nyai Fadholi juga masih tertutup rapat, pertanda sang ummi belum bangun untuk sholat sunnah.
Penanda waktu menunjukkan angka dua dini hari.
Lalu siapa yang menyuruhnya untuk sholat.
Zaskia tersentak dan segera beranjak untuk ambil whudu. Bagaimana pun bentuk dan ukuran sebuah keresahan, seharusnya hanya kepada Tuhan saja diadukan. Karena jika hanya dikemas dalam pola pikiran, berapapun lamanya, dan seberapa pun banyaknya, tetap tak akan menemukan jawaban.
🌺🌺🌺🌺
Nabila Alia tersentak, dengan kehadiran Ning Zaskia yang diawali dengan salam. Sambil menjawab salamnya, Nabila memerhatikan wajah cantik putri kyai Fadholi itu dengan seksama.
"Kenapa mbak Nabila menatap saya begitu?" tanya Zaskia sambil tersenyum tipis.
"Kau baik-baik saja, Ning?"
Mendapat pertanyaan demikian, dan memahami maksud yang sebenarnya di balik pertanyaan, Zaskia sejenak diam dengan wajah sendu. "Insyaallah, Mbak. Doakan ya," ucapnya kemudian.
"Kau wanita cantik yang sebenarnya, Ning. Cantik luar dan dalam," puji Nabila dengan tulus.
"Tidak-tidak. Mbak jangan berkata begitu. Saya masih tertatih-tatih, Mbak. Saya masih berusaha menuju ikhlas. Dan semua itu butuh proses," tepis Zaskia dengan suara lirih, teringat bagaimana perjuangannya semalam untuk bisa meraih tenang.
"Di mana mbak Meidina?" tanya Zaskia, ia membangunkan dirinya sendiri dengan pertanyaan itu agar tak lagi hanyut dalam suasana hati yang akan membuatnya merasa pedih lagi. "Dia kok gak ikut kuliah umum ini?" lanjutnya lagi.
"Dia ke cabang. Ada kunjungan orang tua," sahut Davina
Dan ketiga gadis itu pun mengikuti jalannya kuliah umum yang digelar di halaman kantor pusat Alhasyimi. Mereka dapat melihat dengan jelas, ke arah Rayyan Ali Fattan yang mendampingi sang guru besar--pemateri kuliah umum--di atas panggung kehormatan. Peran putra mahkota Darul Ulum itu terlihat sangat besar di acara tersebut, pernah beberapa kali ia menjawab pertanyaan beberapa audiensi, baik atas isyarat sang guru, maupun inisiatifnya sendiri.
Seperti saat ia menjabarkan pertanyaan dari salah satu peserta tentang ketidakmampuan manusia dalam menangkap pesan-pesan ilahi, padahal sejatinya dalam setiap diri telah dibekali dengan perangkat yang khusus dan memadai untuk hal tersebut.
Rayyan Ali Fattan, langsung menjawab dengan menyitir salah satu sabda nabi yang diriwayatkan oleh imam Abu Hurairah Ra. Laula Asysayatinu yakhumuuna ala Qulubi bani adama, Lanadhoru ala malakuutissama'a.
Artinya: Seandainya manusia mampu membebaskan kesadaran dan hati nuraninya dari pengaruh syetan, niscaya manusia akan menembus kerajaan langit.
Mengacu pada hadist di atas, Ra Fattan melanjutkan jawabannya, ketidakmampuan manusia dalam menangkap pesan-pesan ilahi, atau sulitnya untuk berhubungan dengan Tuhannya, itu bisa disebabkan dengan adanya beberapa kemungkinan yang menjadi gangguan.
Pertama, karena manusia tidak punya kecanggihan jiwa yang memungkinkan secara cepat atau langsung ia dapat berkomunikasi dengan Tuhannya.
Kedua, karena tidak ada kekuatan lain yang membantunya. Artinya, kekuatan yang dimilikinya hanya kekuatan manusiawinya saja, tanpa ada kekuatan tuhan.
Dan ketiga, adanya kekuatan penghalang yang memang membatasi kemampuannya, sehingga tidak mampu menembus alam luar. Dan menurut hadis di atas kekuatan lain itu berupa kekuatan syetan yang memang potensial mengganggu manusia.
__ADS_1
Sangat gamblang, Rayyan Ali Fattan menjawab dan menjabarkan. Jelas, lugas, dan ringkas. Hal mana menunjukkan kematangan dalam kecerdasan spiritualnya.
Karena memang tidak mungkin seseorang itu mampu mengemukakan buah pikirannya bila tak didasari penelitian dan pengalaman secara reel sebelumnya. Maka dapat disimpulkan kalau sosok tampan Rayyan Ali Fattan itu adalah termasuk sebagian orang yang cukup lancar dalam menerima sinyal-sinyal Tuhan. Karena ia dapat tahu apa saja kemungkinan yang membuat datangnya sinyal-sinyal itu terganggu, sehingga otomatis ia akan merawat jiwanya agar terus bisa aktif dan dapat menerima pesan-pesan ilahi dalam kehidupannya.
"Hebat!" Seru Nabila seraya berdecak kagum. "Sosok seperti Rayyan Ali Fattan ini pasti bisa menempatkan cinta secara proporsional. Cinta pada Tuhan, cinta pada sesama, dan cinta pada kekasih. Dia memang sosok imam impian," lanjut gadis itu dengan tatap mata penuh kagum.
Zaskia mengangguk setuju dengan hal itu. "Tapi hati-hati, Mbak. Pujianmu untuk Ra Fattan jangan sampai didengar oleh ustadz Widad," lanjut gadis itu mengingatkan.
Nabila tertawa renyah seraya menatap pada Davina yang nampak sibuk dengan catatannya.
Sudah jadi kebiasaan mereka bertiga, dalam setiap mengikuti kajian, pasti akan selalu mencatat hal apa saja dari pemahaman dan penjelasan yang mereka dapat. Davina nampak membetulkan apa yang ia catat, dengan menambah di sana-sini, dan menghapus apa yang dianggapnya tak penting. Namun, yang sebenarnya, gadis manis itu hanya sedang mengalihkan perhatian dengan kesibukan, agar kedua temannya itu tidak tahu kalau ia sedang menitikkan air mata sekarang.
Akan tetapi Nabila sudah tahu hal itu, dan ia hanya dapat menghela napas tertahan. "Jika Meidina ada di sini, dia pasti juga menangis, seperti Davina saat ini," batinnya.
Dan dugaan Nabila itu tidak jauh dari benar. Meidina juga hadir di acara itu tepat lima menit sebelum Ra Fattan memberikan jawaban pertanyaan. Dan dia memang menangis, saat menyaksikan semuanya. Bukan hanya karena mengagumi kematangan jiwa pemuda yang bertahta dalam hatinya itu saat memberikan jawaban. Tapi, ia memang langsung menangis saat pertama kali melihat Rayyan Ali Fattan duduk di panggung kehormatan.
Karena hal itulah, Meidina menahan diri tidak menghampiri teman-temannya, agar mereka tak melihat tangisan yang tercurah atas kepedihan yang tak bisa digenggam. Bahkan kendati acara di hari pertama itu telah ditutup, Meidina masih enggan beranjak dari tempatnya duduk. Hingga lalu teleponnya memperdengarkan nada dering pertanda pesan masuk.
Pesan dari Rayyan Ali Fattan. Pesan yang ke dua puluh satu kali, yang belum ia buka sejak semalam. Matanya mengatup rapat, sebelum memutuskan untuk mengabaikan pesan itu lagi. Lagi dan lagi.
"Maafkan saya, Ra. Saya gak akan sanggup untuk membacanya. Gak akan pernah sanggup," rintihnya dalam hati.
🌺🌺🌺🌺🌺
Cuaca nampak mendung. Awan hitam berarak sangat tebal, pertanda hujan akan segera turun. Saat ini jarum jam sudah berada tepat di angka 2 siang, saat tiga orang gadis itu keluar dari musholla dan memutuskan untuk segera kembali ke wisma.
"Kita langsung pulang sekarang?" tanya Meidina yang baru datang menghampiri mereka.
"Iya, sebelum hujan keburu datang," sahut Nabila. Dan mereka sama-sama melangkah bergegas keluar dari gerbang besar Alhasyimi pusat, melintasi beberapa orang pemuda yang sedang berbincang di gapura.
"Gak naik becak motor saja, ini mau hujan." Salah satu di antara pemuda itu menegur, membuat mereka sama-sama menoleh. Ternyata yang bicara barusan adalah ustadz Widad, ia sedang bersama dengan ustadz Fadil dan Rayyan Ali Fattan.
"Iya, Mas. Kita cari betor sambil jalan." Nabila yang menjawab, karena ketiga teman-temannya itu hanya memilih diam.
"Baiklah, hati-hati," kata ustadz Widad.
"Insyaallah." Dan kembali hanya Nabila yang menjawab.
Ustad Widad mengangguk, lalu berpaling pada Ra Fattan yang duduk tak jauh di dekatnya. "Mas Fattan, dia tunangan saya," katanya menjelaskan, mungkin untuk menghindari kesalahpahaman.
Rayyan Ali Fattan mengangguk singkat, dan menatap sekilas pada Nabila, diserta senyuman sesaat. Kemudian netranya segera beralih tatap, pada seraut wajah ayu yang Meidina Shafa yang nampak terdongak. Pandangan mereka beradu di ruangan hampa.
Meski sangat besar ha-s-r-at untuk bernaung di bawah tatap mata teduh pemuda itu, Tapi Meidina segera mengakhiri bersitatap dengan melempar senyuman sesaat, lalu langkahnya segera terayun lebih dulu, mendahului teman-temannya, meninggalkan tempat itu.
Sedangkan Rayyan Ali Fattan, tak memutuskan pandangan, kendati sang objek sudah menghindar, dan kini hanya kelebat kerudungnya saja yang kelihatan.
__ADS_1
Ada yang tersirat, dari sekilas senyum Meidina Shafa. Ada yang tersirat dari cara menatapnya Ra Fattan. Ada sesuatu yang tak hanya cukup dipahami dengan kata-kata. Tapi juga harus disertai rasa. Sesuatu yang tak biasa, yang membuat Ustadz Widad dan Ustad Fadil saling melihat dalam diamnya.