
"Ayah, bolehkah kita bicarakan hal ini lain kali?"
Arafka turun tangan, saat Meidina tak bisa memberikan jawaban.
Lelaki baya itu tersenyum dan segera mengiyakan. "Baiklah, Nak memang bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini sekarang. Tapi, aku harap hal ini jangan pernah dikesampingkan. Ini juga penting, Rafka."
Pemuda itu mengangguk, "Saya tidak pernah mengabaikan hal itu, Ayah. Bahkan saya juga ikut andil dalam perkembangang perusahaan sekarang, meski cuma sedikit," kata pemuda itu mengurai penjelasan yang Dahlan sendiri bukannya tak tahu.
"Yang diharapkan itu adalah terjun secara praktis, Rafka."
"Saya paham, Ayah. Dan untuk hal ini, kita bicarakan di lain kesempatan saja."
"Baiklah." Dahlan tersenyum lembut.
Dan Arafka segera keluar mengantar Zaini dahlan yang langsung berpamitan untuk terus ke Jakarta, karena sebuah urusan pekerjaan. Setelah cukup lama berselang, barulah pemuda tampan itu datang lagi memasuki ruangan
"Kenapa lama sekali, Dek?" tanya nizam. Dia hanya berdua dengan Azmi di dalam ruangan. Sedangkan Ning Zaskia sedang mengantarkan Meidina ke kamar mandi. Dan yang lain, tengah menunaikan sholat dhuhur bersama di musholla.
"saya langsung sholat Dhuhur, Mas," jawabnya, dan memang saat ini penampilannya telah berubah, ia sudah memakai kain sarung dan baju koko, bahkan juga ada kopyah yang melengkapi penampilannya. Mau di nilai dari arah manapun penampilan Arafka saat ini benar-benar memesona dan menyejukkan mata.
"Dek Rafka, benar-benar curiga padaku tentang Meidina Shafa?" tanya Nizam dengan raut wajah serius.
Arafka tertawa mendengarnya. "Jadi Mas Nizam masih kepikiran hal itu?"
"Terus terang iya, Dek, aku kawatir kalau, Dek Rafka bakal jaga jarak nanti," jawab Nizam serius.
"Tidak, Mas, saya cuma bercanda saja tadi."
Nizam hendak berkata lagi, tapi urung karena melihat Meidina yang keluar dari kamar mandi dengan ditemani oleh ning Zaskia. "Mbak istirahat dulu ya, saya mau pulang dulu, hari ini aba dan umi ada acara keluar, jadi saya yang ditugaskan jaga rumah, tapi insyaAllah nanti malam, saya akan kembali lagi kemari," kata gadis cantik itu, setelah meidina kembali bersandar di ranjang yang yang ditinggikan.
__ADS_1
"Iya, terima kasih ya, ning," sahut Meidna lembut.
"Ning Zaskia biar saya yang antar, saya punya mobil Pajero sekarang," kata Nizam seraya memerlihatkan kunci mobil Pajero milik Arafka itu pada ning Zaskia.
"Yang bertugas mengantar ning Zaskia itu aku, Nizam bukan kamu." Azmi segera menyuarakan keberatannya dengan cepat, sebelum ning Zaskia menjawab tawaran dari sang sahabat.
"He he, gak terima ya, dik," sorak Nizam seraya meminta dukungan kepada Arafka yang hanya tersenyum saja. "Jadi mau pulang sama siapa, Ning Zaskia, saya apa Azmi?" Nizam malah kian melanjutkan aksinya mengolok-olok Azmi dengan menggoda ning Zaskia.
"Saya ikut dawuhnya aba saja," sahut gadis cantik itu. Yang artinya ia akan patuh akan abahnya, yang sudah beberapa kali memberikan tanggung jawab pada Azmi untuk mengantar Zaskia pulang.
"Kalau hatimu kurang berkenan sebaiknya jangan, Ning," tukas Azmi, menyahuti ucapan Zaskia itu.
"Kok Mas Azmi baru mempersoalkan itu sekarang," sahut gadis cantik itu dan segera berlalu keluar ruangan.
"Ehem, sebuah isyarat," celetuk Nizam seraya menaikkan sebelah alisnya.
"Saya pamit dulu ya, Dek. InsyaAllah nanti malam saya kesini lagi," pamit Azmi pada Rafka.
"Azmi tidak usah pura-pura ban bocor ya," celetuk Nizam lagi.
"Itu, kan lagu mu, Zam," sahut vocalis Albadar yang tampan itu dan ssgera berlalu menyusul ning Zaskia yang sudah keluar lebih dulu.
Nizam hanya terkekeh seraya menatap Arafka yang kembali duduk di posisi biasa. "Semoga mereka segera berlanjut ya, Dek," ujarnya pada pemuda tampan itu. Arafka mengangguk tanpa menyertai sepatah kata.
Dari arah pintu muncul Nabila dan Davina yang baru saja selesai melaksanakan sholat dhuhur juga, diekori oleh ustad Widad dan Ustad Fadil.
Davina bergegas menghampiri Meidina Shafa dan segera berkata, "Din, umiku telepon, katanya sebentar lagi nyampek di Alhasyimi, aku mau pulang dulu ke yayasan ya, untuk menemui beliau."
"Iya, jangan bilang-bilang sama bibi ya, kalau aku sedang dirawat," pinta Meidina.
__ADS_1
"Iya, tapi gimana, Din, aku kepikiran kamu jadi sendirian di sini." Davina menampakkan raut kawatir seiring dengan ucapannya itu.
"Sendirian? Kamu pikir kami yang ada di sini apa? Mahluk tak kasat mata?" Sarkas Nabila sewot. Davina mesem aja dengan protes keras temannya itu.
"Davina tidak usah kawatir, kami tak akan membiarkan Meidina sendirian," celetuk ustad Widad.
"Iya, Ustadz." Davina pun berkemas hendak keluar ruangan.
"Saya antar Davina ya, kasian kalau dia harus naik taksi," kata Nizam yang lalu diangguki setuju oleh yang lain. Dan terlihat Davina juga tak mempermasalahkan. Karena dia harus mengejar waktu untuk segera tiba di Alhasyimi sebelum uminya.
"Istirahatlah, Adin. Biar kesehatanmu segera kembali," kata Nabila pada Meidina sepeninggalan Kanza Davina. Terlihat Meidina menatap heran pada temannya itu, pasti karena nama panggilan yang disebutkan oleh Nabila barusan untuknya, lain dari biasanya. "Tidurlah!" Nabila membenahi selimut yang dipakai Meidina. Selanjutnya ia berpindah duduk sedikit menyisih untuk memberi akses pada Meidina agar bisa meraih tidurnya dengan nyaman. Semua yang ada dalam ruangan itu pun juga tak ada yang bicara, mereka sengaja menciptakan suasana hening, agar gadis ayu itu segera bisa merengkuh lelap dengan ketenangan.
"Sekarang tanda tanya kami tentang keluarga, Dek Rafka sudah terjawab," kata ustadz Fadil, setelah sekian saat waktu dibiarkan terlewat begitu saja tanpa adanya aktifitas suara.
Terlihat Arafka menghela napas. "Saya minta maaf, Mas. Seharusnya ayah Dahlan tak perlu membicarakan tentang hal ini di depan semuanya," ujarnya masih dengan tatap mata menyayangkan.
"Apa itu satu hal yang harus disembunyikan, Dek?" Widad menanggapi ucapan pemuda tampan tersebut dengan pertanyaannya.
"Memang tidak, Mas. Tapi juga bukan sesuatu yang harus diberitahukan," jawab Rafka tegas.
"Tapi kami melihat kalau pak Dahlan itu cukup amanah dan bertanggung jawab. Umumnya orang ketika memegang kekuasaan atas harta kekayaan yang berlimpah, cenderung lupa pada siapa yang berhak. Dan pak Dahlan sepertinya tidak demikian. Ia tetap tak lupa, bahwa apa yang ada padanya saat ini adalah haknya Dek Rafka, dan dia ingin mengembalikannya." Ustadz Fadil mengemukakan penilaiannya tentang seorang Zaini Dahlan.
"Beliau memang sahabat terbaik ayah saya," sahut Arafka, dan sekilas tatapannya menerawang, ia seperti hendak terbang ke suatu masa yang dimana sudah terlewat. Mungkin masa-masa dimana ayah bundanya masih ada di dunia.
"Jika pak Dahlan saja sedemikian menyanyangimu, Dek. Pasti ayah kandungmu juga melebihi dari itu." Bersama dengan ucapannya itu, rasanya Widad sudah bisa membayangkan bagaimana gagah dan berwibawanya seorang pak Himawan, ayah kandung Irfan Arafka Wafdan.
Mendengar ucapan dari ustad Widad itu, Arafka tersenyum dan sedikit mengangguk.
"Iya, ayah saya memang sangat menyayangi saya. Bisa dikata melebihi apa pun. Walau pun sebenarnya ..." Arafka memangkas sendiri ucapannya dan hanya digantikan dengan senyuman singkat.
__ADS_1
"Sebenarnya apa, Dek?" tanya Widad.
"Tidak apa-apa, Mas. Saya hanya sedikit teringat pada ayah saya."