Bertaruh Cinta Di Atas Takdir

Bertaruh Cinta Di Atas Takdir
71 Tentang Arafka


__ADS_3

"jika kalian mau menghormati saya, hanya karena saya putranya aba. Saya malu pada diri saya sendiri," tandas Arafka dengan ekspresi datar, tak ada lagi kesan keramahan yang selama ini ia tunjukkan, hal mana menandakan kalau ia benar-benar tak senang dengan cara teman-temannya yang kini ingin memberinya penghormatan lebih sebagaimana terhadap putra-putra kyai di Alhasyimi yang lain.


Sekedar bercerita, di beberapa pesantren salaf yang ada di Jawa Timur, wa-bilkhusus di Jember, sopan santun seorang santri terhadap kyainya memang sangat dikedepankan. bagaimana cara mereka bicara terhadap kyai, cara mereka berdiri atau duduk bila di hadapan beliau, juga cara berjalan dan lain sebagainya, semua ada tatanan masing-masing yang tidak boleh dilewati. Dan hal itu berlaku tidak hanya pada tokoh kyai saja, tapi juga terhadap putra-putra beliau, istri dan anggota keluarga yang lain. Sikap dan cara menghormat sepertri inilah yang ditolak oleh Arafka, karena ia merasa belum cukup pantas untuk mendapatkan semua itu, meski terlahir sebagi putra bungsu syaikhona.


"Bahkan cara pandang yang seperti itu, Mas Rafka, justru tidak dimiliki oleh semua putra-putra kyai di Alhasyimi." Zaskia turut menyampaikan suara dan penilaiannya. "Saya berani mengatakan hal ini, karena saya tahu sendiri. Bahkan ada beberapa yang dengan bangga, bertepuk dada mengatakan ini aba saya, ini ummi saya, padahal dalam dirinya sendiri justru tidak ada hal yang patut untuk dibanggakan," ungkap gadis itu, terkait beberapa hal dan penilaian yang ia dapat dari beberapa kerabatnya yang lain, yang adalah putra kyai anggota majlis masyayikh Alhasyimi.


Fenomena seperti ini memang pasti marak terjadi, dan di berbagai lini, seberapa banyak orang yang masih membanggakan darah keturunan, sebagai anak dari siapa, dan putranya siapa. banyak yang masih dengan bangga menunjukkan ini ayah dan ibu saya, Bukan menepuk dadanya sendiri dan mengatakan, ini saya. Dan Arafka tidak termasuk dalam golongan ini, terbukti ia menolak dengan keras semua teman-temannya yang ingin memberikan penghormatan lebih kepada pemuda tampan itu.


"Mas Rafka memang tidak dibesarkan oleh syaikhona, tidak tinggal dengan beliau sejak kecil, tapi Mas Rafka mewarisi sifat beliau yang sangat rendah hati. Mas Rafka menghargai setiap orang dalam konteks kemanusiannya, bukan karena ini dan itu. Mungkin tidak semua kami yang ada di sini punya sifat seperti itu. Apa salah jika kami menghormati mas Rafka sekarang, lebih-lebih setelah kami tau, siapa jennengan yang sebenarnya." Zaskia menguraikan semua kesimpulan dan pendapatnya sembari bertetes air mata.


Betapa ia sangat terharu dengan pribadi indah seorag Arafka, pribadi yang seakan mewarisi keshalihan abanya. Walaupun benar apa yang diungkapkan oleh Arafka tadi, bahwa keshalihan dan kemuliaan di hadapan Allah itu tidak diturunkan, atau tidak diwariskan.


"Benar, semakin Mas Rafka melarang kami untuk menghormatimu karena alasan tersebut," timpal ustad widad "semakin kami tau, kalau kau memang pantas untuk dihormati. Di sini kami bukannya ingin mengkultuskan tradisi menghormati putra-putra kyai, seakan kyai tersebut. tapi kami hanya tidak ingin salah. Apalagi kami sangat mengenal Mas Rafka selama ini. Jennengan memiliki pribadi yang pantas untuk dihormati, bukan hanya karena jennengan itu putra guru kami."


"Bukankah selama ini kita memang sudah hidup dengan saling menghormati, Mas, apa ada yang masih ada yang kurang degan hal itu?" Retoris Arafka, yang membuat sesaat hening, tidak ada jawaban. Hingga,

__ADS_1


"Iya, tapi itu hanya sebatas di antara teman, Mas Rafka," jawab Fadil.


"Apa itu artinya, Mas semua ini tidak mau legi berteman dengan saya?" tanya Arafka cepat sambil menatap mereka lekat.


"Bahkan satu kehormatan, Mas Rafka, kami bisa berteman dengan jennengan," sahut Widad dengan cepat.


"Kalau begitu, bersikaplah seperti biasa pada saya. Itu, jika smean semua masih berkenan untuk menjadi teman saya," kata Arafka cepat, dan pemuda itu segera melangkah ke arah sofa. Ia meraih ponsel dan laptopnya di atas meja. "Sudah malam, istirahatlah." Ia berkata demikian dengan pandangan mengarah pada Meidina Shafa yang saat itu juga terlihat menatapnya.


Gadis itu tak menjawab, hanya menundukkan pandangannya saja.


"Apa masih ada yang belum tuntas, Mas?" tanya Arafka. Entah pertanyaan itu terkhusus untuk siapa. Yang terlihat, pemuda itu menyapu pandang ke arah semuanya, secara berganti-ganti.


"Mas Rafka, setidaknya biarkan kami tetap memanggil jennengan seperti ini." Fadil tampil bersuara, mewakili yang lain.


Arafka menghela napas, baginya ini terlalu berat, meski hanya sebuah panggilan saja. Panggilan untuk seorang putra kyai. Bagi Arafka ini tetap menjadi beban berat yang harus ia tanggung. "Berat bagi saya, untuk menerima satu hal terkecil sekalipun dari embel-embel sebagai putra kyai. Karena saya masih belum cukup pantas untuk disebut anak kyai," ujarnya dengan nada dalam dan suara yang hampir bergetar. Pasti ada hal mendalam yang selama ini dirasakan, yang tidak pernah diceritakan.

__ADS_1


"Masa lalu saya sangat hitam, sangat buruk," ujarnya lagi, diiringi dengan helaan napas berat berkali-kali.


Pemuda tampan itu lalu kembali memilih duduk di kursi yang sedianya hendak ia tinggalkan tadi. "Selama dua puluh satu tahun, saya melewatkan waktu dalam hidup saya dengan sia-sia. Hidup hanya untuk hura-hura dan tidak tau agama." Pemuda itu berkata dengan nada berat.


Sepertinya pemuda tampan itu mulai ingin membuka kehidupan tentang masa lalunya, hal yang selama ini tidak pernah ia bicarakan, dan bahkan telah ia kubur dalam-dalam, dan hanya tersisa satu hal, yaitu sebuah pelajaran yang ia kaji dalam hidup untuk meraih masa depan.


Dan semua pun mendengarkan penuturannya dengan seksama.


Dibesarkan dalam keluarga yang sangat kaya raya. Hampir tak ada yang tak bisa didapatkan. Hidupnya bergelimangan kemewahan. Segala apa yang diinginkan, semua terlaksana dengan mudah. Jangankan apa yang memang ia pinta, yang hanya sekedar ia bicarakan pun, ayah dan bundanya segera mewujudkan.


Tak hanya itu, di bidang akademik pun, ia selalu mendapatkan nilai yang bagus, meski tak rajin mengikuti pelajaran. Selalu bisa masuk sekolah favourit meski tak perlu mengikuti ujian seleksi. Sebenarnya, Arafka tergolong anak yang cerdas, namun kemewahan telah melalaikannya dari banyak hal, terutama sekolah dan belajar.


Apalagi kedua orang tuanya sama-sama sibuk menekuni dunia karir masing-masing, mereka memenuhi putranya dengan fasilitas lengkap, tapi lupa untuk mengajari Arafka hal yang sangat mendasar, yaitu agama. Padahal bundanya pernah merasakan nikmatnya menjadi seorang muslimah yang taat ketika masih menjadi istri Kh Abdullah Umar Hasyim. Namun, rupanya kesibukan akan duniawi dan popularitas telah melalaikan semuanya.


"Tak ada lagi yang saya pikirkan pada waktu itu kecuali hanya bersenang-senang. Menghambur-hamburkan uang," tuturnya dengan pandangan yang menerawang, seakan hendak menyibak batas waktu yang telah terlewat.

__ADS_1


__ADS_2