Bertaruh Cinta Di Atas Takdir

Bertaruh Cinta Di Atas Takdir
81 Sama-Sama Menang Dan Sama-Sama Kalah


__ADS_3

"Mari kita duduk kembali, Mas Fattan," ajak Rafka. Karena sejak menyadari siapa pemuda yang ada di depannya, Ra Fattan tetap memilih berdiri saja, ta'dziman pada putra syaikhona.


Beda dengan Arafka yang mampu menguasai perasaan lebih dulu. Hingga ia terlihat lebih tenang, dan seakan lebih menguasai keadaan. Yang sebenarnya Rafka bukan tidak terkejut saat menyadari siapa Rayyan Ali Fattan bagi Meidina Shafa, calon istrinya.


"Maafkan saya, Mas Rafka," ujar Ra Fattan, setelah kini keduanya duduk bersama-sama. Sebenarnya ia tidak punya alasan sama sekali ketika memilih kalimat ini sebagai awal kalam kembali, pasca ketidaknyaman rasa yang sempat melanda hati, padahal sebelumnya perbincangan mereka sempat terjalin dengan akrab sekali.


Karena sebenarnya, hal apa yang perlu dimaafkan, sehingga Ra Fattan meminta maaf. Apakah karena adanya hubungan yang sempat terjalin dengan Meidina Shafa? bukankah itu terjadi saat gadis ayu itu belum ada apa-apa dengan Arafka. kalau mau dinilai lebih jauh, seharusnya kata maaf itu pantas diucapkan oleh Rafka, karena ia hadir dalam hidup Meidina saat gadis ayu itu sudah ada janji kasih dengan Ra Fattan. Semua itu, karena telah lebih dulu hadir rasa canggung dalam diri Ra Fattan, sebab pemuda yag ada di depannya itu adalah putra gurunya.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Mas fattan, saya tidak datang kemari sebagai putra kyai anda. Tapi sebagai seorang laki-laki yang telah bertunangan dengan wanita yang Mas Fattan cintai." Arafka mengucapkan hal itu dengan santai, bahkan disertai dengan senyuman. Akan tetapi Ra fattan nampak cukup kaget, meskipun ia sudah dapat menduga, kalau Arafka tak akan menemuinya, melainkan karena ia tahu ada apa sebenarnya antara Ra Fattan dengan Meidina.


Di sana, Rafka mengajak Ra Fattan untuk sama-sama menempati posisi masing-masing sebagai sesama laki-laki yang terkait pada satu orang gadis yang sama, dengan tanpa membawa-bawa nama syaikhona.


"Ya, saya akui semua itu memang benar." Ra Fattan sejenak diam untuk menarik napas dalam. "Tapi, kalau memang sudah seperti ini jalannya, mungkin saya hanya bisa merelakan, Mas Rafka." Fattan berucap demikian karena ia sudah bisa menebak, pembicaraan apa yang akan terjadi setelahnya. Lagi pula yang duduk di hadapannya saat ini adalah putra syaikhona, putra gurunya. Kendati pun Rafka memintanya untuk memosisiskan diri di tempat masing-masing, tanpa embel-embel nama Syaikhona, tapi Rayyan Ali Fattan tak akan bisa mengabaikan hal itu begitu saja. Karenanya pemuda tampan itu pun mengatakan lebih dulu, sebelum dirinya diminta atau dipaksa untuk mengatakannya. Hal itu menurut sudut pandang Rayyan Ali Fattan, belum tentu demikian kalau sudut pandang Arafka Wafdan.


"Mas Fattan, tujuan saya menemui, Anda, bukan bermaksud minta izin untuk menikahi wanita yang, Anda cintai. Atau pun untuk meminta, Mas fattan mengikhlahkan wanita yang anda cintai kepada saya," ujar Arafka segera, yang membuat Ra Fattan teredongak menatapnya. Pemuda itu terseyum lembut, untuk meyakinkan Ra fattan atas apa yang diucapkannya barusan.


"Mohon dengarkan penjelasan saya dulu, Mas Fattan," pinta Arafka dengan bahasa sangat sopan.


"Iya, silakan, Mas Rafka. Mohon maaf, jika saya telah terburu-buru menduga." Ra Fattan menjawab dengan tak kalah sopan.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, saya paham." Sekali lagi Arafka tersenyum ramah. "Saya menjalankan pertunangan ini dengan Meidina Shafa, berdasarkan petunjuk dari Allah yang didapat oleh aba lewat jalan riyadhoh. hal mana membuat kami berkeyakinan, kalau apa yang saya jalani ini adalah kehendak dari Allah." Arafka memulai pembicaraannya dengan nada dalam. Dengan kalimat yang halus dan sopan, kalau bisa diartikan dengan bahasa yang lugas, mungkin bisa dimaknai demikian.


Bahwa Arafka meminang Meidina bukan karena niat ingin menikung wanita yang sudah dipilih oleh Ra Fattan sebagai calon pendampingnya. Apalagi sekedar mempergunakan taringnya sebagai putra syaikhona, sehingga dengan semena-mena merebut wanita yang sudah dipilih oleh lelaki yang lain. Tapi karena gadis itulah yang diilhamkan oleh Allah pada abahnya untuk dipilih sebagai pendamping Arafka.


"Begitu juga dengan perasaan yang ada pada mas Fattan untuk Meidina, dan sebaliknya, semua itu juga merupakan kehendak dari Allah. Dan sekarang di antara saya dan, Mas Fattan masih belum tahu, manakah di antara dua kehendaknya itu yang lebih diridhoi-Nya." Arafka melanjutkan ucapannya kembali yang membuat Ra Fattan sesaat terdiam.


"Mungkin Allah lebih meridhoi apa yang sedang, Mas Rafka jalani saat ini," putus Ra Fattan, setelah beberapa jenak kemudian.


"Masih mungkin, Mas fattan, belum pasti," sahut Arafka.


"saya tidak punya alasan untuk meragukan ijtihadnya syaikhona. Apa yang beliau dapat, pasti hak dari Allah."


dapat dipaham jika Ra fattan berkata demikian. Semua percaya dan sebagian besar juga menjadi saksinya, bagaimana kyai Abdullah Umar Hasyim itu dalam menjalani penghambaan pada Rabbnya. Sangat mawas diri dan hati-hati. Seorang hamba yang seperti beliau itulah yang mampu untk mengakses pesan-pesan tuhan dengan cepat. Maka lalau tak mengherankan jika Ra Fattan memiliki penilaian demikian.


maka Jika Ra Fattan bisa dibenarkan dengan pendapatnya, Arafka juga tak bisa disalahkan dengan penilaiannya.


"Akan lebih baik, mari kita cari tau sendiri, Mas fattan, manakah di antara dua hal ini yang lebih diridhoi-Nya," ajak pemuda tampan itu kepada pemuda yang juga tampan di depannya.


"Subhanallah.'' Dan akhirnya Ra Fattan mengusap wajahnya, setelah sesaat ia diam mencermati setiap makna dari kalimat Arafka barusan. ia mengakui kebenaran dalam ucapan putra gurunya itu. Kebenaran yang sepertinya baru ia sadari saat ini.

__ADS_1


"Jangan ada yang merasa dikalahkan, atas nama cinta dan pengorabanan. Tapi lebih pada berusaha untuk menjalani apa yang sudah menjadi ketetapan Allah, pada masing-masing kita," cetus Arafka dengan tatapan lurus.


Karena kalau mau bicara kalah menang. Keduanya itu sama-sama kalah dan juga sama-sama menang. Rayyan Ali Fattan menang, karena Meidina mencintainya. Tapi, Irfan Arafka Wafdan menang, karena saat ini, ia adalah calon suaminya.


Di satu sisi Rayyan Ali Fattan kalah, karena calon suami Meidina adalah putra syaikhona, yang membuatnya tak akan punya keberanian untuk bersaing dengan pemuda itu. Tapi Arafka juga kalah, karena meski sudah menjadi calon suami, Meidina masih belum bisa menerimanya hingga saat ini. (Saat cerita tentang pertemuan dengan dua orang itu terjadi)


"Terima kasih, Mas Rafka. Jennengan telah mengingatkan kepada saya, apa yang seharusnya saya lakukan. Selama ini, saya hanya sibuk dengan kekecewaan saya, dan melalaikan untuk memperoleh apa yang seharusnya saya cari, yaitu petunjuk." Ra Fattan mengucapkan hal itu sambil sedikit membungkukkan pundaknya, pertanda rasa hormat yang sangat dalam. Rasa hormat yang lahir dari rasa terima kasih atas sampainya sesuatu hal yang sangat besar. Yang selama ini memang sangat ia butuhkan. Petunjuk dari Sang Maha Rahman.


Jika Ra Fattan bisa dikata terlambat untuk mendapatkan kesadaran itu, hal tersebut bukan karena kurangnya pemahaman. Bukan pula karena ia tak cukup mempunyai SQ yang cukup dalam. Tapi karena memang sudah menjadi kelaziman, bahwa manusia itu adalah makhluk sosial, yang mana tiap-tiap masing-masing sama-sama butuh pada yang lain. Seperti saling menasehati dalam hal kebenaran dan kebaikan. Dan juga sebagai perantara datangnya pemahaman dan pengetahuan, seperti Arafka pada Ra Fattan sekarang. Dan hal itu adalah sebuah keniscayaan.


(SQ adalah cerdas spiritual. Hal ini sudah pernah diterangkan dalam bab 44 berjudul Cerdas Empat Arah. Yaitu, cerdas fisikal(PQ) Cerdas Intelektual (IQ) Cerdas Emosional (EQ) Dan cerdas Spiritual (SQ) demikian menurut sebuah buku berjudul Quantum Ikhlas.


Dalam buku itu di sebutkan bahwa, manusia sempurna adalah manusia yang hidup seimbang dan utuh dengan seluruh kecerdasannya. Yaitu cerdas empat arah yang disebutkan di atas.


Kembali pada perbincangan Ra Fattan dan Arafka.


"Saya sangat kagum pada Mas Rafka," ucap Ra Fattan lagi, menyusul kata-kata yang sebelumnya.


"Tidak, Mas Fattan," tolak Rafka dengan cepat. " Justru saya yang merasa sangat kagum pada, Anda. Karena apa yang ada pada Mas Fattan, itu tidak ada pada saya. Saya ini memang putra bungsu syaikhona, tapi sebenarnya saya ini belum bisa apa-apa," imbuhnya lagi dengan wajah yang tertunduk. Dengan jujur ia akui, kalau putra kyai Muhajir itu lebih dari dirinya.

__ADS_1


"Jenengan boleh merendah, Mas Rafka. Tapi saya melihat dengan jelas, kalau darah syaikhona mengalir dengan kuat dalam diri Mas Rafka. Ketika orang tua memutuskan satu hal dalam hidup jennengan, Mas Rafka memilih mematuhi dan mencari ketetapan hati berdasarkan petunjuk dari Allah. Jenengan mengedepankan ridho Allah dalam menentukan langkah," urai Ra Fattan dengan sejujur-jujurnya penilaian yang ia rasakan.


"Hal ini beda dengan saya ..."


__ADS_2