
Sudah lewat setengah jam, sejak Rafka berpamitan untuk sholat Ashar, hingga kini si tampan itu masih belum kelihatan.
Terlihat Meidina tidur dengan tenang, setelah cairan infusnya diganti barusan. Namun, sebenarnya tidaklah demikian. Gadis ayu itu tidak sedang terlelap di atas peraduan. Melainkan pikirannya sedang berkelana ke tanah seberang. Bukan tanah kelahiran seseorang, tapi berkelana pada perbincangannya dengan Kanza Davina tadi, saat waktu menjelang siang.
Tuhan sedang mengenalkan Arafka kepadamu. Demikian penilaian seorang Davina, yang kini sedang menari-nari dalam maya pikir Meidina Shafa.
Terhitung sudah dua puluh empat jam, dari sejak di yayasan kyai Sholih kemarin, Meidina berada dalam satu lingkup dengan sang tunangan. Selama waktu dua puluh empat jam ini, sudah cukup banyak yang diperlihatkan oleh sang penulis skenario terhadap Meidina Shafa, tentang siapa Arafka.
Selama ini, Meidina memang tidak tahu banyak tentang pemuda tampan itu, kecuali bahwa ia adalah mahasiswa STAI Alhasyimi, di samping itu ia juga gitaris melody Albadar. Hanya itu saja. Hal yang lain, seperti bagaimana intelegensinya, bagaimana prestasi akademiknya, dan terlebih bagaimana kepribadiannya, ia tidak tahu sama sekali. Pun juga dari mana dia berasal, serta bagaimana latar belakang kehidupannya, semuanya ia tidak tahu, dan tak pernah ingin mencari tahu.
Kini, setelah ia terikat pertunangan dengan Arafka, lambat laun ia seperti diperkenalkan bagaimana pemuda tampan tersebut, bahkan hanya dalam waktu yang singkat. Dalam situasi dan kondisi yang tak pernah ia bayangkan sama sekali. Perkara sakitnya, hingga harus opname di rumah sakit, sepertinya adalah skenario dari Sang Penguasa Takdir untuk kedua insan itu saling mengenal, sebelum melaju ke jenjang pernikahan.
Sampai pada titik pemikiran ini, gadis ayu itu menghela napasnya kuat, berbagai pikiran pun berkecamuk dalam benak.
Apakah itu berarti, Tuhan merestui aku untuk menikah dengan Rafka?
Ataukah justru, Tuhan memang menakdirkan kami untuk hidup bersama?
Ah tidak, masih terlalu dini untuk menyimpulkan hal ini sekarang. Masih dibutuhkan untuk menilai dan menyimpulkan. Tapi, bukankah waktu pernikahanku sudah dekat? Tidak sampai seminggu lagi. Itu artinya aku harus segera mengambil keputusan. Tapi, keputusan apa?
Meidina, masih terombang ambing dalam pemikirannya sendiri. Menimbang-nimbang antara dua hal yang sama-sama berat untuk ia pilih, juga berat untuk ditinggalkan. Akhirnya, tak pernah ada yang dipilih. Dan tak pernah ada yang diputuskan. Selalu begini, dan masih begini. Belum ada keberanian untuk menyatakan. Masih terjebak dalam ketakutan yang ia ciptakan.
Sampai kapan Meidina?
Tapi, baiklah. Memang masih ada beberapa hal yang belum diungkapkan. Mungkin jika semua sudah terungkap, Meidina akan berani untuk mengambil keputusan.
Saat gadis itu masih sibuk berkelana kesana kemari, bersama pikirannya yang tak kunjung memberi kata pasti. Tiba-tiba saja, "Nduk Meidina."
Gadis ayu itu terhenyak kaget melihat seorang wanita baya berkerudung duduk di samping ranjangnya, dan menatapnya dengan lembut, disertai seulas senyuman manis.
"Bibi!?" Meidina terlihat sangat kaget, melihat uminya Davina yang tiba-tiba ada di dekatnya.
__ADS_1
Bahkan kemudian, "kau sudah bangun, Nak?"
Bu nyai Fitrotin, uminya Ra Fattan juga hadir dan berdiri di dekat Hj Mutmainnah, uminya Davina. Lepas dari keterkejutan, Meidina segera bersalaman mencium tangan. Selanjutnya ia mencari keberadaan sosok Davina untuk menanyakan, mengapa bisa dua orang ini ada di sini sekarang. Padahal tadi, ia sudah berpesan agar keberadaan Meidina di rumah sakit ini tidak perlu disampaikan.
Ada makna yang tersirat di balik tatap mata Davina ke arahnya, saat kedua gadis itu saling menatap, dan saling mengirimkan isyarat. Tapi, Meidina tak memberikan waktu pada dirinya sendiri, untuk memaknai semua itu, karena kemudian netra indahnya menangkap keberadaan sosok tampan yang namanya masih sering bergema dalam lubuk hatinya paling dalam. Sosok tampan Rayyan Ali Fattan.
Ada senyuman lambut yang terbit di bibir Ra Fattan, saat dalam waktu sepersekian detik, mereka saling berpandangan. Namun, pemuda tampan itu segera beralih pandang, dan kemudian berbicara dengan ustadz Widad yang berdiri bersebelahan.
Dia datang, bisik Meidina pada segenap jiwanya yang serasa berguncang.
Meidina menghela napas samar, dan kembali menatap Davina yang dengan sekejap juga mengalihkan pandangan. Ada rasa bersalah dalam diri gadis manis itu karena sudah tak bisa menjaga kepercayaan Meidina. Tapi, ia tak bisa menolak, saat uminya dan Nyai Fitrotin memaksa untuk menjenguk Meidina, dan parahnya lagi malah mengajak Ra Fattan juga.
"Bagaimana keadaanmu, sekarang, Nak?" Pertanyaan Nyai Fitrotin membuyarkan semua lamunan Meidina.
"Saya sudah baikan, Bu Nyai. Hanya masih sedikit pusing," sahut Meidina.
Nyai Fitrotin mengusap bagian atas kepala Meidina dengan lembut. Mendapat perlakuan demikian, perasaannya berdesir. Seakan mendapat sentuhan kasih dari calon ibu mertua. Dalam tanda kutip, calon mertua gagal.
"Tidak, Bibi. Saya gak mau ibu kawatir. Saya sudah tidak apa-apa, nanti juga saya akan pulang dari sini."
"Ee jangan dulu sebelum sehat betul," cegah hj Mutmainnah dengan cepat. "Kamu jangan main-main dengan kesehatanmu, pernikahanmu sudah dekat, Nak. Kalau kamu di yayasan, gak akan bisa istirahat total, seperti di sini," lanjut wanita baya itu lagi mewanti-wanti.
"Benar, Meidina." Bu nyai Fitrotin menimpali. "Kalau gak ada instruksi dari dokter, jangan terburu-buru pulang. Mau Menghadapi pernikahan itu bukan perkara mudah. Kalau badan tidak fit, bisa repot."
Meidina Shafa diam, dan diam-diam menghela napasnya dengan samar. Pandangannya lalu beralih, dan tanpa sengaja malah bertemu tatap dengan Rayyan Ali Fattan. Pemuda tampan itu memberinya tatapan lembut, seperti caranya menatap Meidina selama ini.
Gadis ayu itu merasa tercekat, dan tubuhnya serasa panas. Sangat ingin ia nikmati tatapan indah Ra Fattan itu lebih lama lagi. Namun, ada satu sisi dalam dirinya yang seakan tidak merestui. Hal yang sama mungkin juga dirasakan oleh Ra Fattan, hingga keduanya kompak sama-sama alihkan pandangan. Interaksi singkat ini, sempat dilihat oleh beberapa orang yang ada di sana.
"Ujian kalian sudah selesai?" Pertanyaan Nyai Fitrotin kembali menyadarkan Meidina dari keterpakuan.
"Sudah, Bu Nyai."
__ADS_1
"Sudah rampung semua?"
"Tinggal ujian praktek."
"Dapat tugas mengajar di mana?"
"Belum tau."
Semua pertanyaan dari Nyai Fitrotin itu, Davina yang menjawabnya. Karena terlihat Meidina diam saja, pasti gadis itu masih berusaha untuk menetralisir perasaannya.
"Fattan." Nyai Fitrotin kemudian mengalihkan ucapan pada sang putra. "Abamu dulu pernah mengatakan, untuk mengajukan tugas mengajarnya mereka di Darul ulum, apa aba tidak membicarakan ini denganmu?"
"Iya, Umi. Aba pernah membicarakan hal itu pada saya. Tapi belum tahu, sudah diajukan apa belum," sahut Ra Fattan.
"Sudah, Mas," celetuk ustad Widad. "Pengajuan dari Darul-Ulum sudah sampai ke sekretariat kulliyatul muallimin, dan bagian managemen sudah mempelajari itu semua. Insyaallah sembilan puluh persen, pengajuan diterima," lanjut salah satu dosen KM itu lagi. Hal mana segera disambut dengan bahagai oleh Nyai Fitrotin dan uminya Davina. Sedangkan Ra Fattan hanya tersenyum singkat saja. Pasti atas hal tersebut, banyak pikiran yang menggelayut dalam benaknya.
"Alhamdulillah." Bu nyai Fitrotin menggemakan segenap rasa syukur dengan kalimat hamdalah. "Harlah Darul Ulum, sudah dekat. Jika kalian tugas mengajar di sana, maka di Harlah ini kami tak akan kehilangan Meidina dan Davina lagi," lanjutnya dengan raut wajah yang terlihat bahagia sekali.
"Makanya cepat sembuh ya, Nak." Uminya Davina mengusap pundak Meidina lembut.
Gadis ayu itu tersenyum.
"Tapi." Bu Nyai Fitrotin seperti baru teringat sesuatu. "Pada saat tugas itu, kamu sudah menikah ya,Nak?" tanyanya pada Meidina. "Apa nanti suamimu bakal mengijinkan?"
Meidina diam. Karena ia juga tidak tahu akan menjawab apa. Hal ini juga menjadi pertanyaan yang belum tuntas hingga saat ini.
"Minta ijinlah nanti baik-baik ya, tapi jangan memaksa. Ikutilah apa pun yang menjadi keputusan beliau. Mematuhi suami itu adalah segalanya bagi seorang istri," nasihat nyai Fitrotin dengan lembut.
Meidina Shafa mengangguk, kendati terlihat beban yang cukup berat di raut wajahnya.
Dari arah pintu ruangan terdengar ucapan salam, disusul hadirnya Irfan Arafka Wafdan.
__ADS_1