Bertaruh Cinta Di Atas Takdir

Bertaruh Cinta Di Atas Takdir
15 Akibat dari Sebab Yang Sengaja Dibuat


__ADS_3

Arafka mengibaskan tangan Masayu, tidak terlihat kasar, tapi juga tidak terkesan lembut. Melihat hal itu, kakak Masayu kembali menyerang Arafka dengan ancamannya.


"Kalau kamu gak mau nikahin adikku, maka ..."


"Mas gak usah mengancam." Arafka memangkas ucapan lelaki tersebut dengan tenang. "Kalau memang terbukti saya bersalah, saya gak akan pernah lari dari tanggung jawab. Walaupun ..." Pemuda itu memangkas sendiri ucapannya seraya mengalihkan pandangan pada Masayu.


"Walaupun apa, Mas?" tanya gadis itu.


"Walaupun sebenarnya saya tidak wajib bertanggung jawab," sahut Arafka. Masayu kaget mendengarnya.


"Apa maksudnya, Mas? Kau sudah berbuat tidak senonoh padaku." Gadis itu kini terlihat berang. Suaranya pun naik sepersekian.


"Kalaupun itu memang benar, saya melakukan perbuatan seperti yang kamu tuduhkan. Bukankah itu kamu sendiri yang menginginkan. Kamu yang sengaja menjebak saya," sahut Arafka dengan kata-kata tegas penuh penekanan.


"Siapa yang menjebakmu, Mas?" Masayu masih berkilah.


"Masayu, kau sengaja memberikan Rafka minuman yang bercampur obat. Apa itu namanya kalau bukan menjebak. Dan sekarang kau menerima akibat dari sebab yang memang telah kau buat. Sangat tak pantas kau menuntut Rafka dalam hal ini. Itu jika kau mau memakai akal sehat." Adli yang mengambil alih menjawab dengan suara ketus. Sejak tadi pemuda itu berusaha menahan diri dari rasa kesal yang menguasai hati. Dari sejak Masayu datang pertama kali.


"Ah kalian tidak usah bertele-tele." Kakak Masayu kembali tampil membela sang adik. Dan dia mengucapkan hal itu dengan suara keras dan kasar. Sampai beberapa penunggu pasien di kamar yang lain, sama-sama melongok keluar, untuk melihat apa yang terjadi.


"Masayu." Azmi segera menengahi. Ia mengarahkan pembicaraan hanya kepada Masayu, bukan kepada kakaknya yang dinilai tidak sopan itu. Datang tanpa salam dan langsung mengancam.


"Sampaikan pada kakakmu, masalah ini sudah ada prosedurnya tersendiri sesuai dengan peraturan pesantren. Dan di sana sudah ada jajaran pengurus yang amanah dan berkompeten dalam mengatasi setiap permasalahan santri, jadi pihak lain tidak perlu turut campur. Dan tentang masalah ini, keputusannya akan diketahui bersama besok, di hadapan Kyai. Jadi tidak usah mengancam dan teriak-teriak di sini. Ini rumah sakit, bukan lapangan bola."


Dan ucapan dari Azmi Khalidi itu merupakan sebuah tamparan sangat keras yang dirasakan oleh Masayu, dan juga lelaki itu, hingga mereka terlihat saling pandang dan menunduk. Namun, tak hanya berhenti sampai di situ, Nizam Ali juga menambahkan.


"Sebaiknya kamu segera kembali ke yayasan, Masayu. Kamu itu sudah terlalu berani melanggar aturan. Keberanianmu ini hanya membuat semakin banyak orang tidak percaya bahwa kamu benar."

__ADS_1


Masayu terdongak, wajahnya memerah. Entah karena malu, atau karena marah. Bisa jadi kedua-duanya lah. Kemudian tanpa permisi ia menarik tangan kakaknya , dan segera pergi dari tempat itu dengan cepat.


Semua menghela napas lega. Termasuk juga Meidina Shafa yang sudah berada kembali di tempat itu dan menyaksikan semuanya. Lalu dalam serempak, semua pandangan mereka teralih pada Irfan Arafka Wafdan. Pemuda tampan itu sendiri tampak diam, dengan tatapan lurus ke depan. Adli segera mengusap-usap pundaknya tanpa kata. Ia paham apa yang dirasakan oleh temannya itu sekarang. Dan ia pun paham, apapun kata yang akan diucapkan, tak akan bisa mengembalikan perasaan Rafka menjadi baik-baik saja.


"Sabar ya Dik." Justru Nabila yang berkata-kata untuk menguatkan. Hal mana membuat Arafka menoleh ke arahnya.


"Cepat atau lambat, yang benar dan yang salah, pasti akan terungkap," lanjut Nabila lagi.


"Iya, terima kasih, Mbak," sahut Rafka. Pemuda yang diketahui kalau namanya masih tercatat sebagai mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Agama di Al-Hasyimi pusat, semester 6. Maka dipastikan kalau pemuda itu jauh lebih muda dari Nabila dan rekan-rekannya. Kecuali Zaskia, yang sepertinya mereka berdua seusia.


"Banyak kok yang bersimpati dan mendoakan dik Rafka dalam masalah ini." Nabila melanjutkan ucapannya lagi. "Bahkan salah satunya ada di sini juga. Yang mempersembahkan doa dan sujud demi kejelasan masalah ini," tambahnya lagi sambil tersenyum.


"Siapa, Mbak?" tanya Adli, ia terlihat sangat penasaran di antara yang lain.


Nabila Alia hanya tersenyum seraya menatap pada Zaskia dan Madina secara bergantian. Caranya ini membuat yang lain jadi berspekulasi, tentang siapa yang ada di balik ucapan Nabila. Apakah Zaskia Arifa, ataukah Madina Shafa.


"Nabila, aku mau kembali dulu ke Al-Hasyimi ya," kata Meidina setelah beberapa jenak kemudian.


"Oh iya, kamu ada pelatihan ya sekarang. Biar aku yang menemani Davina di sini, bersama ning Zaskia."


"Iya, aku mau pamit dulu kepadanya." Ketiga siswi KM itu pun kembali memasuki ruang perawatan Davina. Sementara ke-empat pemuda itu sama-sama kembali duduk di kursi yang berderet di depan ruangan.


Tak lama kemudian terlihat Madina keluar lagi dari ruangan itu, dengan di antar Zaskia yang menghentikan langkah tepat di tengah pintu.


"Mau kembali ke Yayasan?" Tanya Nizam Ali pada gadis itu.


"Iya." Madina menjawab singkat, tapi dengan nada yang ramah.

__ADS_1


"Naik apa?" lanjut Nizam.


"Naik becak," sahut Madina.


Adli yang merasa kalau Nizam telah mencuri start dengan mengajak akrab pada Meidina, segera berkata dengan nada yang lebih akrab. "Pulang bersama kami saja, Mbak. Kami bawa mobil."


"Gak usah. Terima kasih." Madina menolak halus tawaran dari Adli itu.


"Iya, Mbak. Biar cepat sampai." Ning Zaskia malah ikut menyarankan.


"Kalau naik becak, nanti dibawa lari lho sama tukang becaknya," timpal Adli sambil tertawa.


"Itu, kalau yang jadi tukang becaknya, kamu, adli," sahut Nizam sambil tertawa renyah. Azmi dan Rafka juga tak dapat menahan tawanya.


Madina hanya tersenyum saja dan segera berlalu dari hadapan mereka semua.


"Ada-ada saja kamu, Adli." Azmi menepuk pundak Adli sepeninggalan Madina, dan Zaskia yang kembali masuk ke dalam ruangan.


"Uuh senyumnya, Mbak Meidina itu indah sekali lho, Mas. Sumpah deh, aku harus bisa dapetin dia," kata Adli geregetan.


"Ups. Kamu tahu, gak, jatuh cintanya santri itu harusnya bagaimana," tanya Nizam pada Adli.


"Iya, menggapai cinta dengan doa, dan merayu Sang Pencipta," sahut Adli. "Tapi, berdoa itu harus disertai dengan berusaha. Jadi, antara bedoa dan berusaha itu harus seimbang. Hasil akhirnya bagaimana kita serahkan pada Allah."


"Betul," sahut arafka.


"Dan barusan itu, adalah caraku berusaha," lanjut Adli setelah sempat cengengesan karena merasa dapat dukungan.

__ADS_1


"Halah." Arafka tergelak dan segera beranjak. Azmi dan Nizam mengikuti pula. Mereka akan kembali ke Al-Hasyimi untuk sebuah jadwal sekolah.


__ADS_2