
TIGA SETENGAH TAHUN SUDAH BERLALU.
Dari sejak Arafka masuk menjadi seorang santri di Alhasyimi.
"Saya hanya orang yang baru bangun dari tidur panjang. Saya tidaklah lebih baik dari kalian semua yang ada di sini. Saya ibarat bayi yang masih baru belajar merangkak. Sedangkan smean semua yang ada di sini, sudah bisa berjalan, bahkan berlari. Jadi, meskipun saya putra kyai pengasuh di sini, tapi secara pribadi, saya bukan apa-apa."
Setulus itulah perasaannya, dan sejujur itu pula yang ia rasakan. Tidak hanya dibuat-buat untuk sebuah pencitraan.
"Mas Rafka memang ibarat orang yang baru bangun dari tidur, tapi selama itu pula, jennengan tetap terjaga, dengan sangat teliti dan hati-hati, saya saksinya," kata Azmi, dengan menyampaikan sebuah analogi dari perjalanan hidup Arafka.
"Yang sudah lama terbangun pun sering lalai dan tak terus terjaga, bahkan terkadang tidur lagi. tapi tidak dengan Mas Rafka, yang dengan tekun menjalankan apa yang dipahmi dan lalu dipraktekkan, sedangkan kami maih hanya sebatas teori," timpal Nizam Ali.
dan memang apa yang diiucapkan oleh keduanya itu adalah benar adanya. Dari pertama mereka kenal pada Arafka, sejak pemuda tampan itu bergabung bersama dengan Albadar, sekitar dua setengah tahun yang lalu. Rafka bagi mereka adalah adalah satu pribadi yang cakap, santun dan tak banyak bicara. Menghormati semua seniornya dan menghargai yang seangkatan dengannya. dan yang paling mengagumkan adalah, pemuda itu mempraktekkan dan menjalankan segala apa yang diketahuinya dari pengajian asatidz, atau pun masyayikh terlebih lagi syaikhona.
Setiap waktunya, Rafka tak pernah berhenti untuk menempa diri, fokus dan kokoh dengan prinsip yang sudah diyakini. Memang selama ini yang menonjol darinya hanyalah performnya sebagai gitaris melody Albadar, ia dikenal dan dielu-elukan dari hal itu, bukan dari prestasi akademiknya di Alhasyimi. tapi, teman-teman dekatnya, lebih-lebih para kru Albadar tahu, bagaimana kesehariannya, bagaimana sikap dan sifatnya saat menghadapi sesuatu.
Arafka memang tak menampakkan diri sebagai orang yang pintar, alim, dan piawai dalam beberapa disiplin ilmu tertentu. Tetapi tampak sifat-sifat yang baik dalam keseharian dan pergaulan. dan hanya mereka yang kenal dengannya saja yang tahu akan hal itu.
"Setiap orang, sebaik apapun dia, pasti punya masa lalu, Mas Rafka," ujar ustadz Widad. "Dan se-buruk apapun masa lalu seseorang, dia pasti masih punya masa depan. Jika Mas Rafka merasa memiliki masa lalu yang buruk, kenyataannya masa lalu itu yang mengantarkan jenengan menuju kebaikan sekarang, di mana kami kalah satu langkah dari, Mas Rafka," lanjut pengajar di Km itu lagi.
"Dan contohnya adalah saat ini." Ustadz fadil menimpali. "Mas Rafka merasa enggan untuk dihormati sebagai putra kyai karena merasa tidak pantas. Mungkin lain halnya bila salah satu di antara kami yang berada di posisi, jenengan saat ini. Tidak ada yang bisa menjamin kalau kami tidak akan berbesar diri. Menjadi putra syaikhona itu adalah sesuatu yang luar biasa, takdir yang luar biasa dari Allah. Suatu kebanggan, Tapi mas Rafka tidak lantas berbangga diri," lanjut ustadz Fadil lagi.
"Kita tetap berteman, Mas Rafka, itu suatu kehormatan bagi kami. Tapi, biarkan kami tetap menghormati, Jennengan sebagai putra guru kami, karena kami tau, siapa yang kami hormati," putus Azmi, dan ucapannya ini disetujui pula oleh yang lain.
__ADS_1
Nampak Arafka masih diam tertunduk untuk beberapa jenak. hingga kemudian ia terdongak, dan senyum pun terbit di wajahnya. Ustad Fadil segera merangkulnya diikuti oleh ustadz Widad. Ikatan persaudaraan memang begitu kuat dalam jiwa mereka. Setelah, melewati cukup waktu bersama-sama, dengan saling menghormati dan saling menghargai sebagai saudara sesama muslim.
Terlihat Zaskia menunduk sambil mengusap air mata. Nabila dan Davina pun tak luput dari ikut mengeluarkan tangis haru pula, apalagi Meidina Shafa, sejak Syaikhona dan nyai syarifah meninggalkan rumah sakit, ia diam seribu bahasa, sementara air matanya senantiasa mengalir membasahi wajah ayunya. entah apa yang tengah dirasakan oleh Meidina Shafa bahkan gadis itu sendiri juga tak dapat memaknai perasaannya dengan sempurna.
"Tapi bagaimana dengan Albadar? bagaimana nasibnya jka ditnggal oleh mas Rafka?" pertanyaan dari Nizam Ali itu menyeruak di antara gegap gempita rasa haru yang mereka rasa bersama-sama. "Dari dulu sudah menjadi peraturan, bahwa tidak ada putra-putra masyayikh Alhasyimi yang boleh menjadi anggota Albadar," katanya lagi. Dan hal ini juga pasti menjadi pertanyaan Azmi.
"Mas Rafka itu menjadi putra syaikhona sudah dari dulu, dari sejak lahir. Kenyataannya dia bersama kita selama ini di Albadar," kata ustadz Fadil. hal mana membuat mereka semua saling pandang heran, sedangkan Rafka sendiri tampak mengulum tersenyum.
"Memang aba yqng menitahkan pada saya untuk masuk di Albadar," ujar pemuda tampan itu. 'Tapi tentunya lewat jalan mengikuti audisi dan seleksi seperti yang diketahui smean semua dulu," lanjutnya. Semua tahu kalau masuknya pemuda itu dalam keanggotaan Albadar adalah tidak melalui jalur khusus, atau jalur yang tersembunyi, melainkan lewat jalur resmi dan proses seleksi yang ketat, yang diadakan oleh tim manajemen Albadar waktu itu.
Ternyata kini satu fakta diketahui bahwa semua itu adalah atas perintah dari abahnya sendiri. Pasti ada rahasia di balik perintah yang melewati batas aturan itu. Disebut melewati batas aturan, karena dari awal berdirinya, sudah terbit sebuah peraturan dari pemangku kekuasaan di Alhasyimi, bahwa putra-putra kyai tidak boleh ada yang masuk menjadi anggota Albadar. Lalu kenapa, syaikhona justru memerintahkan putranya sendiri untuk bergabung dalam grup shalawat yang pernah mendapatkan gemlengan langsung dari raja dangdut Indonesia itu.
"Pasti ada maksudnya," tukas ustadz Fadil.
"Apa itu, Mas, kalau boleh tau," tanya Azmi.
"Awalnya saya pikir karena aba tahu, kalau saya suka musik, dan bisa memainkan beberapa alat musik. Mungkin dengan masuk di Albadar itu, akan menjadi hiburan bagi saya yang pada waktu itu, sedang giat-giatnya belajar menghafal Alquran. ternyata maksudnya tidaklah sesederhana itu. Masuknya saya di Albadar Itu, juga merupakan rangkaian pendidikan dari aba untuk saya."
Suatu malam, ketika Arafka sudah berhasil masuk menjadi anggota Albadar, lewat kepiawaiannya memainkan gitar, kyai pengasuh memanggil putranya itu ke dhelem. Dan beliau mengatakan."Nak, menuju jalan Allah itu, atau mengingat Allah itu ada banyak macam cara. Selain dengan jalan ibadah mahdhoh seperti sholat, Dzikir, dan ibadah-ilbadah lain dari mulai yang kecil mau pun yang berat, Selain dari cara itu, ada juga yang melalui sarana yang lain, tergantung bagaimana cara manusia itu memfungsikannya, contohnya melalui alat musik."
Dan Arafka pun bertanya apa maksudnya. Sebab hal itu belum pernah ia dengar sebelumnya. kemudian Syikhona menjelaskan. bahwa caranya adalah dengan hati. Sebab hati adalah tempat untuk mengenal dan merasakan Allah. Mengingat Allah dengan Hati, bisa difungsikan dalam banyak hal, terutama pada apa yang disukai atau hobbi.
"Petik gitarmu, mainkan nadanya sesuai dengan iramanya. Fokuskan perhatianmu. Jangan gunakan pikiran, jangan gunakan perasaan, tapi gunakan hatimu, sebut nama Allah dalam setiap petikan gitarmu, atau dalam tiap tarikan napasmu. Praktekkan itu dalam setiap kau memainkan alat musik itu."
__ADS_1
Ini sebenarnya adalah pelajaran yang gampang-gampang susah. Karena pelajaran seperti ini, sudah ada pada tingkatan tauhid yang cukup tinggi. Yang tidak akan mudah untuk dipraktekkan bila tidak ada yang menjadi pembimbing. Karena ini adalah ibadah yang sir atau samar, yang tidak mudah dilakukan. Tapi bukan sesuatu yang tidak akan bisa dilakukan.
Penulis sendiri harus memilih kata-kata yang tepat untuk menjelaskan, supaya tidak terjadi salah pemahaman. Namun bagian ini penting untuk dicantumkan, mengingat tokoh dalam cerita ini adalah pemain salah satu alat musik dalam sebuah grup shalawat, sedangan notabenenya dia adalah putra tokoh ulama. Tentu tak sembarang bagi seorang kyai pemangku pesantren besar, untuk membiarkan putranya terjun dalam sebuah grup musik, meskipun grup musik tersebut terkhusus untuk lagu-lagu shalawat. Kalau bukan karena ada alasan yang sangat kuat serta tepat.
Sampai saat ini, masih ada dua pendapat tentang shalawat yang didiringi musik, ada yang memperbolehkan, juga ada yang tidak. Yang memperbolehkan mengacu pada satu tujuan yaitu memasyarakatkan shalawat dan menshalawatkan masyarakat. karena manusia itu adalah mahluk sosial yang tak bisa lepas dari sesamanya, maka melakukan sesuatu secara berjamaah akan lebih menarik minat mereka dari pada hal yang dilakukan secara individual. Contoh bershalawat bersama. Maka dari itu banyak tokoh yang kemudian menciptakan grup shalawat yang tujuannya untuk mengajak bershalawat bersama-sama. Dan kemudian diiringi dengan musik untuk membuat lantunan shalawat itu lebih hidup dan menjadi pemicu semangat.
Sedangkan bagi yang melarang, karena mengacu pada satu pemahaman, bahwa ibadah itu harus dijalankan secara murni dan konsekuen. Dari berbagai pendapat tersebut, di sini tidak untuk mengulas mana yang benar, mana yang salah. Hanya mungkin hal ini penting untuk disampaikan karena berkaitan dengan alur cerita yang disajikan.
Untuk lebih mengetahui lebih jelas tentang boleh dan tidaknya hal tersebut di atas, maka disilakan bertanya pada yang lebih berkompeten untuk memberikan jawaban yang sesuai, serta tepat dan benar.
Kembali ke cerita:
Adapun maksud dan tujuan dari syaikhona memasukkan putranya dalam Albadar, adalah masih dalam rangkaian pendidikan dari beliau untuk sang putra lebih mengenal Allah dengan cara yang lain.
Ada salah satu pendapat yang mengatakan, keberhasilan suatu pendidikan bukan karena sudah mencapai satu prestasi tertentu, atau pun sudah meraih gelar akademik tertentu. Tapi, ketika dari semua apa yang dipelajari bisa langsung dikaitkan dengan kekuasaan Sang Maha Pencipta segalanya. Dan Itulah, tujuan dari didikan syaikhona kepada Irfan Arafka.
πΊπΊπΊπΊπΊ
Assalamualaikum..Semua teman-teman terbaikku. Mohon maaf nggeh kalau dalam bab ini ada beberapa hal yang pembahasannya sedikit keluar alur. Tidak untuk membahas hal yang di luar ranahnya, tapi hanya sedikit menyampaikan karena ada kaitannya dengan cerita yang disajikan.
Dan, dalam bab ini juga next bab, mungkin masih membicarakan seputar tokoh utama. Arafka. Tujuannya tidak untuk terlalu menyanjung-nyanjung tokoh hingga seakan terlihat sempurna. Tidak. Kita tahu bersama, bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Kesempurnaan hanya milik Allah saja. Saya di sini hanya ingin mengisahkan perjalanan seseorang menemukan kebenaran. Serta ingin menyampaikan juga, bahwa jangan semena-mena kita menilai orang lain itu lebih buruk dari kita hanya karena terlihat dari kelakuannya yang secara lahiriah saja. Kita tidak pernah tahu, apa yang ada dalam hatinya. Bisa jadi orang tersebut sering mengingat Allah dalam hatinya, sering berdzikir dalam diamnya. Dan kita juga tidak pernah tahu dzikir dari siapa yang lebih disukai oleh-Nya. Kita, atau dia..
ππ»ππ»ππ»
__ADS_1
Next bab ya..Jangan lupa jempol dan komennya..Gift juga boleh..atau ada yang mau sedekah koin, monggo...akan diterima dengan senang hati. Salam Cinta selalu buat kakak ter-love semua.