Bertaruh Cinta Di Atas Takdir

Bertaruh Cinta Di Atas Takdir
65 Nasihat Kyai Pengasuh


__ADS_3

"Apa ada obat yang harus diminum, Nak?" tanya Nyai Syarifah pada Arafka, setelah usai memberikan air minum pada Meidina Shafa.


"Tidak ada, Ummi," sahut Rafka. Ternyata ia memanggil umi pada nyai Syarifah. Dan tak ada nada canggung dalam panggilannya, yang menandakan kalau ia memang sudah terbiasa memanggil demikian. "Obatnya, melalui injeksi intravena," lanjut pemuda tampan itu.


"Oo Alhamdulillah," sambut bu nyai sambil tersenyum.


"Bagus, kau menghabiskan makananmu, Nak," dawuh kyai pada Meidina. Beliau memang hanya diam saja, saat nyai Syarifah menyuapi gadis itu. Dapat dipahami, bahwa dalam tuntunan ahlak, memang orang yang sedang makan itu tidak boleh sambil berbicara, dan sebaiknya juga jangan diajak bicara.


"Orang sakit, agar segera sembuh, di samping harus banyak istirahat, dianjurkan agar tidak membiarkan perut dalam keadaan kosong," lanjut beliau lagi.


Meidina mengangguk patuh. Sebenarnya baru kali ini saja, gadis itu bisa menghabiskan makanannya. Biasanya ia tak pernah mampu untuk menuntaskan makan, betapa pun nikmat dan lezat hidangan yang disajikan. Tapi, di lidahnya selalu terasa hambar, atau tertolak dengan sendirinya untuk masuk ke tenggorokan.


Hal ini sangat berbeda dengan sekarang, dimana makanannya tandas tanpa sisa dan hanya menyisakan piring bekas makannya saja. Padahal, selama menikmati makanan yang disuapi oleh Nyai Syarifah itu, Meidina sering-sering mengerjapkan mata, karena sepasang netra yang sering berkaca-kaca, agar tak ada air mata yang jatuh di wajah.


Artinya dia makan dengan hampir menangis. Akan tetapi makanannya malah bisa habis. Itu karena tangisan itu berdiri di atas rasa haru dan bahagia, yang hampir saja tak mampu ia lukiskan dengan kata.


Saat tadi Kyai Hamdi Umar bersama nyai, menjenguknya. Disusul oleh kyai Musthofa Tammi beserta istrinya. Ditambah lagi dengan kedatangan kyai Sholih dan nyai Wardah, Meidina sudah merasa sangat bahagia tak terkira. Kunjungan keluarga kyai Alhasyimi itu terasa sangat "sesuatu" baginya. Kini ditambah lagi dengan kehadiran pengasuh besar beserta nyai Syarifah. Apalagi sampai bu nyai berkenan menyuapi seperti ini, rasanya ada bulan jatuh, menimpa Meidina.


Demikian euforia kebahagiaan seorang santri saat mendapatkan perhatian luar biasa dari kyai dan Nyai. Bagi Meidina kehadiran beliau berdua dapat menjadi suport sistem untuk kesembuhannya. Terbukti dengan gadis itu mampu menghabiskan makanannya.


"Bersandarlah, Nak. Duduk yang santai, agar pencernaanmu bekerja dengan baik." Dawuh Syaikhona lagi, pada Meidina yang duduk menunduk dengan melipat tangan di atas pangkuan, terlihat sangat canggung dan sungkan.


"Tidak usah merasa canggung pada kami. Kami ini adalah orang tuamu sendiri," lanjut beliau lagi. Yang lagi-lagi membuat perasaan Meidina berdesir kembali. Puji syukur ia gemakan dalam hati.

__ADS_1


Nyai Syarifah lalu membantu Meidina untuk duduk bersandar, seperti yang diinginkan oleh pengasuh besar.


"Jangan terlalu banyak memikirkan apa pun, Nak. Berpasrahlah kepada Allah." Kyai memberikan nasihat bijak, saat Meidina sudah duduk dengan posisi yang lebih tenang.


Gadis ayu itu langsung tertunduk dalam. Ia paham apa yang dimaksudkan oleh kyai, pastinya terkait dengan jatuh sakitnya kali ini, yang memang berawal dari terlalu banyaknya pikiran yang membebani. Arafka saja tahu hal tersebut dengan ucapannya tadi sore pada Meidina. Apalagi kyai pengasuh, yang dipercaya punya kelebihan dari Allah, dengan bisa tahu pada sesuatu yang masih tersamar bagi orang lain. Apalagi dalam kasusnya kali ini, juga bukan perkara gaib, yang membutuhkan indera kesekian untuk menuntaskan.


"Kalau kau ragu, dengan pemberian Allah kepadamu, itu berarti kau pun ragu, tentang dirimu sendiri kepada Allah." Kyai sepuh melanjutkan petuahnya lagi. Yang semakin membuat Meidina seakan tak bisa mendongak kembali. Begitu dalam makna dari kalimat itu, begitu mengena di relung hati.


Meidina seperti dipinta untuk menelaah ke dalam dirinya sendiri, dengan segenap pemahaman dan kesadaran, bahwa segala apa yang ada padanya, dari mulai hal yang terkecil, sampai yang paling besar, adalah semata-mata pemberian Allah. Baik itu secara langsung, atau melalui sebuah perantara. Begitu pun ketika ia jatuh cinta kepada Rayyan Ali Fattan, tapi kemudian harus melupakan cintanya itu, karena telah dijodohkan dengan Irfan Arafka Wafdan, semuanya adalah pemberian Allah, dan tak luput dari ketentuan-Nya.


Ketika pemberian itu berupa sebuah kebahagiaan, ia menerimanya dengan penuh suka cita, menyukurinya dengan begitu rupa, dan menahbiskannya sebagai suatu anugerah dari Allah yang luar biasa. Lalu, Senantiasa ia gemakan di dalam jiwanya, bahwa Allah Maha Baik, Maha Penyayang Dan Maha Sempurna.


Namun, ketika pemberian itu berupa hal yang kurang disukai, bahkan cenderung bertolak belakang dengan apa yang diinginkan dan yang diharapkan. Maka, jangankan menerima apalagi menyukurinya. Yang ada malah mempertanyakan semuanya, meragukan keadilan Tuhan dalam keputusan-Nya, dan bahkan menganggap kalau Allah sudah tidak baik lagi kepadanya.


Padahal dalam setiap saat dan waktu, Allah tak pernah berhenti memberikan Rahman dan Rahimnya, apalagi terhadap hamba-Nya yang bertakwa.


Di sini, Syaikhona sedang mengingatkan, bahwa jika kita ragu kalau pemberian Allah itu adalah yang terbaik, maka itu berari kita ragu dengan diri kita sendiri kepada-Nya.


Sudahkah kita benar-benar mengabdi kepada-Nya dan menyucikan-Nya. Sudahkah kita Bertakwa kepada-Nya, berserah diri pada kehendak-Nya, serta ikhlas dengan keputusan-Nya.


Karena hamba yang benar-benar dengan pengabdiannya kepada Allah, tentu akan selalu merasa tenang dalam setiap menerima pemberian dan ketentuan-Nya. Serta yakin bahwa Allah, hanya akan memberikan sesuatu yang terbaik padanya, sesuai dengan standarisasi kebutuhannya.


Seyogyanya, setiap diri harus pandai instropeksi, dari pada hanya sibuk mengasihani diri sendiri, dan merasa paling menderita di dunia ini.

__ADS_1


Setelah merasa kalau nasihat itu sedang dicerna dengan baik oleh Meidina, Syaikhona lalu berpaling pada Arafka. "Rafka, ini bukan hanya untuk calon istrimu, tapi untukmu juga," ujar beliau, yang dimaksud adalah petuah yang disampaikan barusan.


Secara khusus, nasihat itu mungkin untuk Arafka dan Meidina. Tapi, secara umum semua yang ada di sana sudah ikut mempelajari dan berusaha memahami maknanya.


"Inggih, Aba," patuh Arafka sambil menganggukkan kepala dan sedikit membungkukkan badannya, pertanda ia patuh dan juga respek terhadap semuanya. Pasti karena ia telah mencerna nasihat itu dan mulai memahaminya.


Terdapat satu fakta lagi di sini, bahwa ternyata, Arafka menyebut "Aba" pada syaikhona. Padahal di beberapa tempat, bila sedang membicarakan atau hanya sekedar menyebut kyai pengasuh besar Alhasyimi itu, Arafka selalu menyebut dengan kata"syaikhona" sebagaimana sebutan mayoritas santri Alhasyimi untuk sang guru besar yang demikian mereka hormati.


Sementara kemudian terlihat air mata yang menggelinding di wajah Meidina, setelah sempurna ia memahami maksud dari nasihat syaikhona.


"Jangan nangis, Nak. Abamu itu memberikan nasihat untuk kebaikan kalian berdua " Nyai Syarifah mengusap-usap pundak Meidina yang mulai terisak.


Meidina mengangguk. Dalam hati ia sangat berterima kasih, seakan baru dibangunkan dari tidur, setelah mendapat nasihat itu. Gadis itu ingin mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada syaikhona, namun suaranya bagai tersumbat di tenggorokan saja.


Nyai Syarifah mengusap air mata gadis itu, hal mana membuat Meidina kian terisak karena terharu. Bu nyai pun merangkulnya seraya mengusap lembut kepala gadis ayu yang tertutup hijab itu.


🌺🌺🌺🌺


Hai teman-teman ter-love.


Di part ini, mengingatkan aku saat masih nyantri dulu. Boleh ya aku sedikit bercerita. Dulu, saat aku sakit, bu nyai menyuruh salah satu ustadah kepercayaan beliau, untuk membawaku tidur di dhelem (kediaman kyai). Saat tangah malam aku panas tinggi, beliau mengusap-usap kepalaku, dan memberikan aku minum, rasanya ya Allah, senang banget. Seperti langsung sembuh sakitku.


Mohon maaf ya, kalau penggambaran kebahagiaan Meidina saat dapat kasih sayang dari nyai pengasuh itu dianggap terlalu berlebihan. Tapi memang seperti itulah kebahagiaan seorang santri ketika dapat perhatian dan kasih sayang dari kyai dan bunyai pondok. Rasanya itu, sesuatu banget.

__ADS_1


Sekian ceritaku,


Love u All...


__ADS_2