Bertaruh Cinta Di Atas Takdir

Bertaruh Cinta Di Atas Takdir
90 Kangen Calon Suami


__ADS_3

"Nyangka, gak?"


Meidina menggeleng sambil tersenyum, tapi air mata sudah siap menerjang keluar.


"Terima kasih sudah datang," katanya, dan segera menghambur memeluk tiga orang sahabatnya itu secara bergantian.


"Jangan nangis, ini hari bahagiamu." Nabila mengusap-usap pundaknya.


"Aku merindukan kalian." Meidina menatap mereka satu per satu.


"Kami juga, Mbak." Zaskia kembali merangkul sang calon pengantin itu kembali. Dan mereka saling berpelukan lagi.


"Kamu tau, siapa yang memanggil kami datang untuk menemuimu?" Tanya Davina, seusai mereka saling mengurai pelukan. Meidina menggeleng.


"Bu nyai Syarifah. Beliau menemui kami ke wisma, usai jamaah shubuh," terang Davina.


"Ya Allah." Meidina berucap haru.


"Benar, beliau sepertinya sangat paham, kalau kau sangat merindukan kami," kata Nabila yang diangguki setuju oleh Zaskia.


"Apa itu artinya, kalau tidak disuruh ummi, kalian tak akan menemuiku?" Tukas Meidina dengan pandangan memicing.


"Jangan salah, Ning Adin. Kami sudah menyusun seribu satu rencana untuk menemuimu. Dari rencna A sampai Rencana Z semuanya tidak ada yang terealisasi. Tahu alasannya kenapa? Karena kami terlalu canggung untuk masuk ke dhelem tanpa dipanggil lebih dulu." Nabila menerangkan hal itu.


Meidina paham, kalau mereka tak akan serta merta datang berkunjung ke dhelem, bila tidak ada panggilan dari salah satu pihak keluarga pengasuh, atau memang punya kepentingan yang mengharuskan untuk kesana. Rasa rindu pada sahabat mereka, mungkin juga tak termasuk alasan yang bisa membuat mereka berani bertandang ke dhelem pribadi syaikhona, yang ditinggali oleh Meidina saat ini.


Memang sejak keluar dari rumah sakit dua hari yang lalu, Meidina langsung tinggal di dhelem kyai pengasuh, di Alhasyimi pusat. Itu artinya, ia terpisah dengan teman-teman se-wismanya. Tak hanya itu, sampai akad nikah terjadi, Meidina juga tak boleh mengikuti pelajaran di KM dulu, dan harus fokus istirahat untuk memulihkan kesehatan. Walhasil ia hanya berdiam diri di kamar pribadi yang memang sudah disediakan. Sesekali ada santri dhelem yang menemaninya. Tapi, ditemani mereka tentu sangat tidak sama dengan tiga orang temannya di Wisma.


Gadis ayu itu sempat terbersit pikiran, belum jadi istri Rafka, dia sudah merasa bagai di sangkar emas saja.


Dan di hari ini, di mana akad nikah antara Meidina dengan mas Rafka akan dilangsungkan ba'da sholat jumat nanti, tiba-tiba ketiga teman yang sudah ia rindukan hadir mengetuk pintu kamar. Meidina merasa sangat senang bukan alang kepalang.


"Gimana?" Tanya Meidina terkhusus untuk Davina, setelah kini mereka duduk bersama di atas karpet bulu yang tebal, yang terbentang di tengah kamar dengan ukuran sangat luas itu.


"Iya, aku ... mungkin aku akan tiba di Darul-ulum, sebelum dhuhur, hari minggu besok. Bersama ... Ra Fattan." Davina masih menampakkan kecanggungan saat menceritakan. Terlihat dari kalimatnya yang tak begitu lancar, masih ada beberapa penggal kata dan jeda yang cukup lama.


"Jadi, kalian sudah bicara?" Meidina menanyakan itu dengan senyum.


Davina mengangguk.


Dua hari yang lalu, saat Meidina pulang dari rumah sakit, tak disangka, mas Izzat--kakak kandung mas Rafka--yang datang menjemput bersama istri ke rumah sakit. Mereka pun berbagi tumpangan untuk kembali ke Alhasyimi. Davina sedianya akan se-mobil dengan ning Zaskia dan Azmi. Tapi, setiba di parkiran, Ra Fattan datang menjemput. Maka saat itulah waktu dan kesempatan yang mungkin diberikan oleh Allah pada keduanya untuk bicara.


Saat teman-temannya sudah pulang dengan mobil masing-masing, Davina dan Ra Fattan masih berdiri saling berjauhan, sesekali saling pandang, namun sama-sama tak ada yang memulai pembicaraan.

__ADS_1


"Eh Ra." Davina menguatkan diri untuk bicara lebih dulu. Bagaimana pun ia sadar, kehadiran pemuda tampan itu ke rumah sakit adalah untuk menjemputnya. Sangat tak baik jika ia hanya mendiamkannya saja. Toh semua tentang Ra Fattan dan Meidina sudah terungkap jelas, baik dari sisi putra kyai Muhajir itu, atau pun dari Meidina Shafa. Dan Davina juga sangat memahami semuanya.


"Jam berapa, rencananya pulang ke Darul Ulum, hari minggu besok?"


Usai bertanya itu, Davina berdecak sendiri dalam hati, karena merasa kalau susunan kata yang ia ucap kurang terangkai apik dan tidak sistematik. Itu pasti akibat dari rasa gugup yang masih menyelimuti hati. Namun, untungnya Ra Fattan mengerti. Karena ia menjawab pertanyaan itu dengan kata-kata yang lugas sekali.


"Setelah pengajian kitab, ba'da jamaah shubuh."


"Ee sa-saya mau ikut, Ra," kata Davina cepat.


Meski pun merasa sangat senang dengan ucapan gadis manis ini, Ra Fattan terlihat masih ingin memastikan dengan pertanyaannya. "Kamu juga mau pulang?"


"Iya, masa pada acara peresmian pertunangan kita, hanya jennengan yang ada di sana, Ra. Saya juga ingin menghadirinya," jawab Davina, dan sebelum jawaban itu sempurna terucap, kepalanya sudah menunduk lebih dulu.


"Kamu yakin?"


"InsyaAllah."


"Dari hati?"


"Iya, Ra."


"Alhamdulillah." Kalam syukur itu pun terucap dari Ra Fattan diserta raut wajahnya yang berbinar.


"Alhamdulillah. Sini peluk dulu." Meidina merentangkan kedua tangannya.


Davina pun segera memeluk sahabatnya itu dengan rasa terharu dan bahagia.


"Semoga bahagia ya Davina."


"Amin. Kamu juga Ning Adin. Hari ini, adalah hari paling bersejarah dalam hidupmu. Semoga bahagiamu berawal dari hari ini, sampai akhir hayat nanti."


"Amin." Nabila dan Zaskia ikut mengamini doa yang diucap oleh Davina. Sedangkan Meidina sendiri terlihat sepasang netranya tengah berkaca-kaca.


"Bagaimana?" Nabila terlihat menaikkan sebelah alisnya.


"Apa?" Meidina balik tanya.


"Di sini kamu tiap hari bisa ketemu mas Rafka ya."


Meidina hanya tersenyum, dan tak memberikan jawaban.


"Pastinya, lah Mbak," celetuk Zaskia.

__ADS_1


Terlihat Meidina menggeleng. "Kami tak pernah bertemu sama sekali," katanya.


"Hah?" Ekspresi kaget itu pun datang secara bersamaan dari Davina, Nabila dan zaskia.


"Yang benar?" tanya Nabila hampir tak percaya.


"Iya. Terakhir bertemu, waktu pulang bersama-sama dari rumah sakit itu."


"Apa mas Rafka tidak tinggal di sini juga? Apa tetap tinggal di rumahnya yang lama ya." Zaskia membuat perkiraan sendiri. Meidina menggeleng, karena ia juga tidak tahu pasti.


Selama ada di kediaman agung ini, ia tak pernah bertanya tentang Arafka pada siapa pun, termasuk pada dua orang santri dhelem yang sering menemaninya, meski mereka sudah kian akrab dengan aneka obrolan santai, tiap kali bersama.


Yang sesekali menemuinya juga adalah istrinya Mas Izzat, namun mereka belum bisa dikata cukup dekat karena terbatas pola interaksi. Istrinya mas Izzat yang memang berasal dari Makkah itu, terbiasa berkomunikasi dengan bahasa arab, hanya ada satu atau dua kosakata berbahasa indonesia yang ia pahami. Jadi, jika dalam pola interaksi saja antara dua orang wanita sesama menantu kyai itu kurang begitu lancar, maka bagaimana mungkin istrinya mas Izzat itu membicarakan tentang Irfan Arafka Wafdan.


Apalagi Nyai Syarifah, beliau termasuk yang paling sering menemui Meidina. Tiap pagi, beliau mengajak calon istri putra bungsunya itu duduk santai di taman bunga belakang kediaman. Dan tiap sore juga diajaknya berbincang bersama. Bu nyai seperti sedang mengajari Meidina untuk akrab dengan suasna dhelem, terutama orang-orangnya. Tapi, tak sekali pun bu nyai Syarifah membicarakan putra bungsunya, atau pun hanya sekedar menye but nama Arafka saja.


"Mungkin kau sedang dipingit ya, Ning Adin. Jadi belum boleh ketemu mas Rafka," kata Davina.


"Bisa jadi," kata Nabila. Walau mereka semua tahu kalau budaya pingitan itu tidak berlaku di kalangan keluarga besar Alhasyimi.


"Mungkin biar mas Rafka dan Ning Adin saling rindu," cetus Zaskia.


"Pastinya." Lagi-lagi Nabila tampil menyetujui pendapat ini juga. "Kangen, gak Ning sama Mas Rafka?" tanya nya lagi. Yang dijawab Meidina dengan senyum kecil. "Kangen lah pasti." Nabila memutuskan sendiri jawabannya yang tidak disanggah oleh Meidina.


"Nah iya, beneran kangen itu wajahnya merah," tuding Davina pada wajah ayu Meidina yang membuat raut wajahnya terasa kian panas saja.


"Apaan sih," tepis Meidina seraya sedikit menoel pundak Davina.


"Gak papa lagi. Kangen sama calon suami itu, wajib," kata Davina sambil terkekeh.


"Berarti gak salah dong apa yang dikatakan oleh ustadz Fadil," ujar Nabila seraya menatap ketiga orang temannya.


"Sewaktu kita hendak pulang dari rumah sakit, ingat gak ustadz Fadil bilang apa sama Ning Adin," katanya lagi. Yang membuat setiap diri jadi memutar ingatan kembali. Kembali pada peristiwa dua hari lagi di rumah sakit, lima belas menit sebelum mas Izzat datang menjemput.


🌺🌺🌺🌺🌺


"Benar, Ning merasa tidak perlu untuk menanyakan perasaan mas Rafka kepadamu?"


"Iya, karena saya yakin, beliau penuh tanggung jawab, dan bisa memenuhi apa yang sudah menjadi keharusan," jawab Meidina dengan mantap.


"Baiklah, jika kamu merasa tidak perlu mempertanyakan perasaan saya, maka saya juga tidak akan menanyakan perasaanmu pada saya. Mari kita jalani semuanya sesuai dengan hati, dan dengan sepenuh hati," kata Arafka pada Meidina Shafa. Yang disegera diangguki setuju oleh gadis itu. Setuju dan patuh.


"Tapi saya merasa yakin, kalau Mas Rafka itu cinta padamu, Ning Meidina," kata ustadz Fadil.

__ADS_1


__ADS_2