Bertaruh Cinta Di Atas Takdir

Bertaruh Cinta Di Atas Takdir
47 Anugerah yang Berselubung Musibah


__ADS_3

Ada yang saling berbisik lirih, ada yang menatap tanpa enggan beralih, ada yang terpaku dengan pikirannya sendiri hingga seakan menyisih. Dan ada yang langsung menunduk, menghindari hati dan pikirannya yang mulai berselisih.


Itulah reaksi yang beragam dari mereka semua yang ada di tempat itu, tatkala Irfan Arafka Wafdan hadir di sana bersama dengan Nizam Ali.


"Dik ini ada yang mencarimu." ustad Widad menunjuk pada Rahman Azizi dan abahnya.


"Mas Rafka masih ingat saya?" Azizi langsung bertanya akrab.


"Siapa ya?" Dan ternyata Arafka tak langsung dapat mengingat.


"Saya Rahman Azizi, Mas. Kita pernah bertemu di lapter Juanda, kira-kira dua bulan yang lalu," kata Rahman lagi.


Arafka terlihat mengingat-ingat.


"Saya yang kehilangan tiket pesawat dan dompet saya, Mas Rafka saat itu yang menyelamatkan saya." Rahman menambah keterangannya, agar Arafka dapat segera mengingat semuanya.


"Oo iya, saya ingat," kata Arafka.


"Alhamdulillah." Rahman terlihat sangat senang. "Ini aba, dan adik saya, Mas." Ia memperkenalkan ayah dan adiknya pada Arafka.


"Nak, dari dulu kami sangat berharap untuk bisa bertemu denganmu," kata kyai Tamim--ayah Rahman Azizi--ia angkat bicara setelah Arafka bersalaman denhannya. Bahkan Kyai Tamim masih memegang tangan Rafka, bak seorang ayah pada anaknya.


"Kami mencarimu di beberapa yayasan di Situbondo. Kami sekeluarga, terutama aku, sangat berterima kasih atas pertolonganmu pada waktu pada Azizi, jika saja tidak ada orang sebaik, Nak Rafka, pasti saat itu Azizi tidak bisa terbang ke Jakarta. Padahal ia mendapat panggilan penting dari ketua pusat RMI, untuk keberlangsungan pesantren yang baru kami dirikan." Kyai Tamim menguraikan semua itu dengan mata berkaca-kaca.


Betapa ia amat merasa terharu dengan kebaikan pemuda tampan di depannya tersebut, yang telah membelikan tiket pesawat lagi di penerbangan berikut, serta memberikan uang saku dalam jumlah cukup sebagai bekal Azizi selama empat hari di Jakarta.


"Terima kasih, Nak. Terima kasih yang tak terhingga. Semoga kau disayang Allah, dan semoga hidupmu berkah." Doa tulus diucapkan oleh Kyai Tamim untuk pemufa yang masih ia pegang erat-erat tangannya itu. Betapa ia merasa sangat terharu, dengan kebaikan pemuda yang telah menolong putranya itu, sedangkan mereka tidak pernah saling mengenal sebelumnya. Bagi kyai Tamim Arafka sungguh pemuda yang berhati malaikat.


"Amin Ya Rab," sahut pemuda itu sambil tersenyum senang. Senang karena mendapatkan doa kebaikan dari orang lain.


"Kau sungguh berbudi, Nak. Kau telah menolong orang yang tidak kau kenal dengan tanpa pamrih, kau sungguh mulia sekali," puji Kyai Tamim untuk yang kesekian kali.


"Kyai jangan berlebihan. Saat itu saya hanya melakukan apa yang bisa saya lakukan," ujar Arafka merendah. Perihal amal yang telah ia lakukan beberapa waktu lalu, sudah tidak pernah ia ingat-ingat lagi. Siapa sangka, justru pemuda yang ditolongnya itu telah mencarinya kemana-mana, hingga mereka bertemu kini.


"Saat itu aku bahkan berjanji, setelah bertemu denganmu, aku akan menjadikanmu sebagai menantuku, untuk putriku, Syakila." Kyai Tamim menunjuk gadis cantik di sampingnya. Yang kini jadi menunduk, karena hampir semua pasang mata menatap ke arahnya. Tak terkecuali Irfan Arafka Wafdan sendiri.


"Iya, Mas Rafka. Itu adalah janji yang sudah diucapkan oleh aba. Dan karena janji tersebut, aba selalu menolak tiap kali datang lamaran untuk Syakila, sebelum bertemu dengan mas Rafka dan menyampaikan hal ini." Rahman Azizi menimpali, mana kala dilihatnya Arafka terdiam seakan tak percaya dengan apa yang telah didengarnya kali ini.


"Aku tidak memaksa, Nak. Tapi aku sangat berharap sekali. Karena aku meyakini kebaikanmu." Kyai Tamim menepuk pundak Arafka seraya tersenyum lembut.


Kini semua mata menatap pada pemuda tampan itu, sama-sama menanti, apa kiranya yang akan menjadi jawaban Arafka, atas pinangan terhadap dirinya.


"Ee kyai, saya sangat berterima kasih atas kepercayaannya yang sangat besar. Tapi, mohon maaf yang sebesar-besarnya, saya tidak bisa memenuhi harapan, Kyai terhadap saya." Pemuda itu memilih bahasa yanh paling santun saat menyatakan penolakan. Dan tanpa ia sadari, dengan penolakannya ini, banyak hati yang merasa senang dan lega. Entah milik siapa saja.


"Kenapa, Nak? Kau tidak mau menjadi menantuku? Tidak mau menjadi bagian dari keluargaku?"

__ADS_1


"Satu kehormatan bagi saya, bisa menjadi bagian dari keluarga, Kyai. Tapi, bukan sebagai menantu. Karena saat ini saya sudah bertunangan, Kyai."


Jelas, dan tidak bertele-tele itu jawaban Arafka. Maka bersama jawabannya ini, terjawab sudah keraguan Amira atas keterangan dari Nabila dan Zaskia, tentang Arafka yang sudah bertunangan. Dan jawabannya adalah, benar.


Jangan tanya kenapa jika ekspresi Amira kini jadi kecut, bibirnya mengerucut. Niat hatinya ingin mencuri perhatian Arafka selepas kepergian Kyai Tamim, kini sirna sudah. Nyatanya sang tokoh idola, gitaris melodi Albadar yang tampan itu, kini sudah berpuan.


"Benar itu, Mas Rafka?" Azizi terlihat kaget dengan fakta tentang pemuda di depannya itu.


"Iya, Mas," sahut Arafka.


"Aba." Azizi segera menoleh pada Kyai Tamim, terpahat kekecewaan di wajahnya saat menatap sang ayah.


Namun, kyai Tamim berkata dengan bijak.


"Gak papa kalau begitu, Nak. Dalam hal ini aku hanya berniat untuk menunaikan janjiku yang disaksikan oleh Allah."


"Dan sekarang, Kyai sudah terlepas dari janji itu," kata Arafka sambil tersenyum.


"Kalau kau sudah bertunangan, segeralah menikah dan membina rumah tangga yang sakinah." Kyai Tamim menepuk pundak Arafka lembut.


"Insyaallah, Kyai."


"Suatu saat, mungkin kau bisa minta ijin istrimu, untuk menikah lagi dengan putriku," lanjut Kyai Tamim lagi.


"Aba!?" Rahman Azizi dan Syakila sama-sama berseru kaget. Dan tak hanya mereka berdua saja, yang lain juga terlihat sama kagetnya. Bahkan bisik-bisik di antara santri Annur itu sudah terdengar, bak auman lebah kala tidak kebagian tempat tinggal.


"Tidak sanggup untuk minta ijin, atau tidak sanggup untuk menjalani, Nak?"


"Dua-duanya, Kyai."


Atas jawaban dari Arafka itu, Kyai tamim tertawa renyah. "Aku cuma bercanda, Nak." Baya berusia di atas lima puluh tahun itu menepuk pundak Rafka."Terima kasih untuk semuanya, Ya Nak. Senang sekali sudah bisa bertemu denganmu begini."


"Sama-sama, Kyai."


Dan kyai Tamim bersama putra putrinya itu pun pergi. Sepeninggalan mereka, Widad dan Azmi juga Nizam saling tertawa renyah.


"Kenapa, Mas?" Arafka menatap penuh tanya pada para seniornya itu.


"Luar biasa ya, Dek Rafka. Belum punya istri, sudah ditawari calon istri. Sebuah anugerah itu," kata Widad sambil tertawa.


"Anugerah yang terselubung musibah," timpal Azmi, yang segera disambut tawa oleh Nizam.


"Anugerah yang terselubung musibah, setuju banget," sahut Nabila unjuk pendapat.


Ucapan Nabila ini memantik tanya dari Nizam untuk Meidina. "Kalau menurut Meidina gimana?"

__ADS_1


Gadis ayu yang tampak pucat itu hanya tersenyum tipis dan menggeleng pelan.


"Meidina lagi sakit, Mas," kata Davina.


"Hah, Sakit?" Nizam langsung terlonjak, seperti kebakaran jenggot. "Pantes pucat, sudah minum obat? Sudah periksa ke dokter?" Lelaki itu langsung menunjukkan perhatiannya.


"Hmm, jangan menempati tempat Dek Rafka, Nizam," sindir Azmi seraya memberi isyarat pada Arafka yang terlihat menatap pada Meidina dengan diamnya. Nizam jadi menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Akan tetapi Arafka, bukannya menunjukkan perhatian sebagaimana Nizam barusan pada Meidina, saat tau kalau calon istrinya itu sakit, ia justru berkata pada Nizam. "Kunci mobil saya ketinggalan di masjid ya, Mas Nizam."


"Ini dek, aku bawa. Tadi kau terburu-buru sekali sampai lupa bawa kunci mobilnya," sahut Nizam sambil menyerahkan sebuah kunci mobil pada Arafka.


"Mobilnya ada di mana, Dek?" tanya Widad.


"Di samping masjid."


"Siapa saja yang ikut semobil dengan dek Rafka?"


"Gak ada. Cuma mas Nizam ini."


"Gimana, kalau mereka semua ikut di mobilnya, Dek Rafka?" Widad memberi isyarat pada ke empat siswi KM itu berikut menjelaskan alasan kenapa mereka belum bisa pulang dari sana.


"Iya, Mas," sahut Rafka setelah mendengar penjelasan dari Widad barusan. "Saya ambil mobilnya dulu," lanjutnya dan segera beranjak.


"Tapi, Dek Rafka. Kami masih mau mampir ke rumah sakit. Ngantar Meidina berobat. Bisa?" Nabila menahan langkah pemuda itu dengan ucapannya.


"Gak usah sudah, Nabila. Kita langsung pulang ke Alhasyimi saja," tolak


"Din, sakitmu akan tambah parah lho, kalau gak dibawa ke dokter," kata Davina.


"Tapi, ini sudah jam berapa, nanti kita telat sampai di wisma," jawab Meidina.


"Gak apa-apa, Meidina. Nanti aku yang akan lapor ke pengurus," kata Widad "Dek, antar mereka ke rumah sakit dulu ya," pintanya pada Arafka. Yang segera mendapatkan anggukan persetujuan dari pemuda itu.


"Jangankan ke rumah sakit, ke bulan pun akan diantarkan, ustad Widad, asal Meidina lho," celetuk Nizam.


Arafka tak menanggapi, ia kembali teruskan langkahnya untuk pergi. Namun, lagi-lagi kali ini terhalangi.


"Tunggu, Mas Rafka!"


🌺🌺🌺🌺


Apa kabarnya teman-teman ku tersayang?


Semoga sehat, semangat, dan bahagia selalu ya.

__ADS_1


Aku mau tanya, cerita ini mau dilanjut atau tidak? Aku merasa lelah, terus menerus dikecewakan sistem. (jadi curhat) hihi.


Satu-satunya penyemangatku buat terus nulis, hanya kailan saja..kalian saja. Para pembaca setia. Love ter love deh buat kalian...Semoga aku bisa nuntasin cerita ini. Tapi kalau menurut kalian gak usah dilanjut, aku akan berhenti. Nasib cerita ini ada di tangan kalian lho..Yuk berikan suara terjujurnya..aku tunggu ya


__ADS_2