
Tak disangka jika ujian akhir di KM itu menjadi ujian yang paling berat bagi mereka. Bukan hanya sebatas pada ujian materi pembelajaran, pengetahuan dan kreatifitas. Namun, terlebih lagi adalah ujian hati, yang tak hanya menguras keringat dan tenaga, tapi juga air mata.
Air mata yang sesekali terlihat di wajah Kanza Davina. Dan air mata yang juga terlihat beberapa kali menghiasi wajah ayu Madina Shafa. Begitu pula dengan Zaskia Arifa.
Nabila Alia, yang menjadi saksi kisah yang menggugah rasa dari ketiga sahabatnya di KM (kulliyatul muallimin) itu, hanya bisa beberapa kali menarik napasnya. Satu hal yang sangat ia sadari, bahwa tidaklah sebuah kejadian itu terjadi, melainkan karena sudah digariskan demikian oleh Ilahi Rabby.
Namun, kendati demikian pelik lakon hidup yang harus mereka perankan, mereka tetap tampil biasa saja. Bahkan juga tetap bersama dalam menjalani setiap aktifitas dan rutinitas tiap harinya. Tetap saling berkomunikasi akrab. Namun, tak bisa dipungkiri adanya mendung yang berkelebat dalam setiap tatap. Bahkan di beberapa kesempatan saat mereka tengah sendirian, arakan mendung itu terlihat kian pekat, lalu menjelma menjadi badai. Terlihat dari seberapa banyak tangisan yang tercurah, karena guncangan perasaan.
Akan tetapi sungguh hebat cara mereka mengatasi semuanya. Mereka mampu menetralisir perasaan itu, tidak dengan cara curhat, mengadu atau apa pun yang melibatkan pihak lain. Tapi, lebih pada kegiatan kian mendekatkan diri pada sang Kholik, dengan cara mengaji atau pun mengkaji. Dari hal itu jelas terlihat, bahwa mereka saling menghargai. Apa pun yang terjadi, tak ingin mereka jadikan bahan konsumsi, yang banyak orang lain bisa mencicipi. Karena ini menyangkut diri, sahabat terkasih, serta orang yang dicintai.
"Kita memang bebas menentukan pilihan hidup kita, Davina. karena hidup kita adalah milik kita. Tapi kebebasan itu adalah "BEBAS YANG TERBATAS" karena dalam hidup kita, juga ada hak orang lain. Hak kedua orang tua, hak guru kita. Hak teman dan saudara, juga hak sesama. Dan yang lebih mutlak adalah hak Allah di dalamnya. Tuhan kita. Itu yang betul-betul aku rasakan saat ini. Cobalah kau pikir, andai kau ada di posisiku saat itu. Kau pasti juga akan mengambil sikap yang sama sepertiku."
Meidina mengatakan hal itu dengan tegas, dan mantap, meskipun air matanya terus bercucuran.
Davina paham apa yang dimaksudkan oleh sahabatnya itu. Ketika lamaran sudah diterima oleh orang tua, didukung oleh guru, saudara dan segenap orang-orang yang kita sayang, maka menolaknya, seperti menjadi sesuatu yang mustahil, karena banyak hal yang akan dipertaruhkan. Dan dalam hal itu adalah justru orang-orang yang oleh Alquran dihukumi wajib untuk menghormatinya.
"Aku memang tidak pernah membicarakan hal ini, Davina. Bahkan juga tidak terhadap diriku sendiri. Karena semakin kupikirkan semakin banyak pergolakan-pergolakan di dalam batinku, yang justru semakin membuatku sakit. Dan dalam rasa sakit itu, aku malah mempertanyakan keadilan Tuhan. Seolah aku ini lebih tahu siapa diriku, dari pada yang telah menciptakan aku."
Meidina kembali menghela napasnya dalam-dalam.
"Aku hanya butuh doamu, Davina. Doakan aku ya, agar aku selalu bisa husnudzon pada Allah, atas semua yang telah terjadi ini," pinta Meidina sambil mengutas senyuman singkat. Senyum yang datang dari balik wajahnya yang lelah.
"Aku akan selalu berdoa untukmu, Meidina." Davina segera merangkul sang sahabat, seraya mengiring doa dan harap.
Kau sahabatku yang luar biasa. Kau wanita yang cerdas dengan sebenar-benarnya. Wanita yang cerdas empat arah," puji Davina dengan begitu tulus untuk Meidina Shafa.
Cerdas empat arah yang dimaksud oleh Davina itu mengacu pada sebuah buku karya Erbe Sentanu, dengan judul Quantum ikhlas.
Dalam buku itu di sebutkan bahwa, manusia sempurna adalah manusia yang hidup seimbang dan utuh dengan seluruh kecerdasannya. Kecerdasan fisikal, intelektual, emosional, dan spiritual. (PQ, IQ, EQ, dan SQ). Kecerdasa pisik dan intelektual, umumnya kita dapat dari bangku pendidikan, kecerdasan emosional dari pergaulan, dan kecerdasan spiritual dari kematangan pengalaman hidup. Itu semua adalah penjelasan teoritis yang juga bisa dibaca dari berbagai literatur lainnya.
Meidina dan Davina masih saling mengagumi kelebihan masing-masing dan bersyukur kepada Allah, yang telah menjadikan persahabatan itu begitu kuat dan indah, bahkan tak goyah kendati ditimpa badai perasaan yang mengalirkan banjir air mata.
Tiba-tiba saja Davina tersentak.
"Din, badanmu panas sekali, kau demam?"
"Hanya tidak enak badan sedikit," sahut Meidina lemah.
"Istirahatlah, sana. Biar aku yang kerjakan tugasmu."
"Tidak, Vina. Kita semua sudah ada tugas masing-masing," tolak Meidina.
"Jangan bandel, Meidina. Biar aku yg selesaikan. Kita nanti ada rapat habis isya. Kau istirahatlah dulu."
"Baiklah, terima kasih ya."
🌺🌺🌺🌺
Hai, teman-teman di episode kali ini, kembali saya ingin memperkenalkan karya Author Novi Artikasari. Pasti sudah banyak yang tahu, pada karya-karyanya yang fenomenal ya. kami bersahabat, tapi sudah layaknya keluarga. Saya mengagumi tulisannya yang rapi, tertata apik. bahasa yang digunakan indah, penuh makna dan mudah dipahami. Alur cerita yang dusajikan juga apik, dan sangat tersusun. Berikut ini adalah karya terbarunya.
BURONAN TAMPAN.
Novi Artikasari
Bag
__ADS_1
Big
Bug
Pukulan bertubi-tubi melayang pada wajah seorang lelaki berseragam abu-abu tua dengan celana berwarna coklat tua pula. Kopel hitam melingkar posesif di perutnya yang buncit. Baret cokelat berlambangkan padi dan kapas terpasang ketat di kepala.
Termakan usia, lelaki itu sebenarnya tampak lebih senior dibandingkan yang lainnya. Namun, dia tetap bersemangat menjalankan tugas demi menangkap seorang pemuda yang baru saja dilaporkan seorang saksi atas kasus pembunuhan.
Seorang pemuda berhidung mancung, bermata tajam, alis dan bibir tebal, serta brewokan, tampak sedang berdiri dengan kuda-kuda sempurna. Pukulan yang dilayangkannya tadi benar-benar telak mengenai lawan. Bahkan pak polisi dengan gelar perwira dua itu berhasil dibuatkan terkapar di tepi jalan.
BRUUUGH
Si petugas berperut buncit langsung tak sadarkan diri.
"Tangkap dia!" teriak salah seorang polisi yang perawakannya lebih muda. Ia mengerahkan beberapa anggota polisi junior untuk melumpuhkan pertahanan pemuda itu, lalu menjebloskannya ke dalam penjara--niatnya.
Alih-alih melawan, pemuda itu malah pergi dengan gerakan cepat karena khawatir akan tertangkap. Sebelumnya ia sempat berpikir bahwa sekuat dan seperkasa apa pun dirinya, tetap saja tidak akan bisa melumpuhkan semua anggota polisi yang jika tidak salah hitung berjumlah sekitar satu peleton.
"Lari kemana dia?"
Anggota polisi yang lebih dulu tiba di tepi jalan raya tampak kelimpungan, karena kehilangan jejak buronannya.
"Itu dia!"
Salah seorang dari mereka menangkap pergerakan pemuda itu yang saat ini sedang menaiki sebuah jembatan penyeberangan. Hiruk-pikuk kendaraan yang berlalu-lalang tak membuat pergerakannya terhambat. Dengan lihai ia menaiki satu per satu anak tangga hingga mencapai atas.
Tak ingin kehilangan jejak untuk yang kedua kalinya. Sebagian dari anggota kepolisian itu menunggu di ujung jembatan sebelah Utara, dan sebagiannya lagi berjaga di ujung selatan.
"Sial!" umpat pemuda itu karena sekarang posisinya sudah terjepit. Jika ia berlari ke kanan, maka akan tertangkap. Sedangkan, jika ia berlari ke kiri, maka akan disergap.
Namun, akal pikiran pemuda itu seolah telah terbaca oleh beberapa anggota yang sudah berpengalaman dalam mengejar buronan. Dua orang pemuda berseragam dari arah kiri dan kanan bergerak cepat ke arahnya dengan todongan senjata mengarah ke depan.
Pemuda brewokan itu sudah berdiri pada besi pengaman jembatan, siap untuk terjun. Namun, karena dua orang polisi itu lebih dulu sampai di posisinya berdiri, alhasil pemuda itu gagal melompat. Ia pun jatuh karena terdorong, kemudian bergelantungan pada penyangga yang terbuat dari besi.
"Aaaarrgh!"
Teriakan histeris dari beberapa pengguna jembatan penyeberangan menambah kegugupan pemuda tersebut.
Truk yang tadinya menjadi sasaran terjun, kini sudah melewatinya. Sekarang rencananya gagal total.
Kaki masih menjulur ke bawah, sementara tangan masih kokoh menggenggam besi, sehingga menampakkan urat-urat besar pada otot kedua tangannya. Ia masih bertahan.
Berdecak kesal, pemuda itu terus melihat ke bawah, mencari sasaran lain, namun tak kunjung ditemukan. Sementara beberapa anggota polisi sudah menunggunya di atas jembatan bersiap menembakkan peluru jika ia berani terjun bebas.
"Jangan bergerak!" instruksi salah seorang polisi. Todongan senjatanya tak lepas sama sekali.
Mendengar sebuah instruksi yang diarahkan padanya, pemuda itu sontak mendongak seraya berkata, "Sampai jumpa kembali, Komandan!"
Setelah mengatakan kalimat itu, ia pun melepaskan kedua tangannya dari besi pengaman. Tubuhnya langsung melayang, dan mendarat sempurna pada atap mobil sedan berwarna hitam mengkilat yang entah datangnya dari mana.
BRAAAK
Kelakuan si pemuda sontak membuat sang pengemudi sedan tersentak. Kepalanya refleks mendongak dengan kedua alis bertautan.
Apakah mobilnya kejatuhan durian runtuh? Mungkin seperti itu pikirnya.
Sedikit terusik, arah kemudi pun langsung melenceng dari garis awal. Tikungan di depannya menjadi jalan alternatif untuk mengecek apa sebenarnya yang mendarat telak di atas atap mobilnya.
__ADS_1
Seorang gadis bermata bulat dengan bibir mungil langsung menepikan kendaraannya, ketika kemudinya sudah memasuki kawasan sepi. Ia melepas sabuk pengaman, lalu keluar dari mobil.
"Hei!"
Gadis itu tak segan-segan meneriaki pemuda tadi yang dengan berani menjadikan atap mobilnya sebagai tempat pendaratan.
"Kau pikir mobilku ini bandara darurat?" pekiknya seraya memelototi pemuda tersebut. Kedua tangan dibuat berkacak pinggang. Persis seperti posisi seorang preman pasar.
Si lawan bicara masih enggan berpindah tempat. Wajahnya seakan terpana dengan pemandangan indah di hadapan.
Sungguh sempurna ciptaan Tuhan, mungkin begitulah isi kepalanya.
Selama si gadis mengomel tanpa jeda, si pemuda malah asik memandangi bibir mungil yang tak berhenti mengucapkan banyak kata. Semilir angin yang membelai rambut depannya yang sedikit panjang membuat ia semakin lena dalam geming.
Ia terpesona.
Ia terkesima.
Sekarang, mata bulat dengan netra bening gadis itu menjadi sasaran pandangnya. Bisa ia tangkap kebeningan netra gadis itu melebihi embun yang jatuh di pagi buta.
Rambut panjang ikal si gadis yang tertiup angin membuat pergerakannya tampak sangat lamban di pelupuk mata. Pemuda itu kembali mengedipkan kedua netra seraya tersenyum tipis.
Inikah rasanya jatuh cinta? pikirnya.
"Itu dia, tangkaaap!"
Suara gerombolan petugas kepolisian sukses membuyarkan lamunannya. Untuk sesaat ia sempat melupakan bahwa diri adalah seorang buronan.
Dalam sekali hentakan, tubuhnya berpindah tempat. Melompat dengan lincah untuk mencapai daratan. Tangan sigap menggandeng lengan gadis di hadapan, lalu mendorongnya masuk ke kursi penumpang bagian depan. Sementara ia memutar posisi, lalu duduk di kursi kemudi.
"Hei, lancang sekali kau!" sergah gadis itu seraya menatap pemuda di sampingnya dengan penuh amarah.
Yang semakin membuatnya kesal adalah pemuda itu tak sedikit pun menggubris ocehannya. Ia malah terus menjalankan mobil dengan kecepatan penuh.
"Hei, kau sedang menculikku?" tanyanya dengan wajah yang mulai panik. "Tolong! Tolong! Aku diculik di dalam mobilku sendiri!" pekiknya sambil menggedor-gedor kaca jendela.
Pemuda itu sedikit melirik tingkah absurb si gadis dari ekor matanya. Tampak lengkungan tipis terbentuk di kedua sudut bibirnya.
Gadis barbar, komentarnya dalam hati.
Selagi ia mempercepat laju mobil, semakin gadis itu berteriak histeris.
"Kau, berani sekali kau menculikku!" Tak segan-segan gadis itu menggigit lengan si pemuda dengan sekuat tenaga. Membuat konsentrasi pemuda itu terganggu dan kemudinya pun goyah.
CKIIIT
Hampir saja kendaraan roda empat itu menabrak bahu jalan. Namun, keahlian menyetir pemuda tersebut sangat tidak bisa diragukan. Mobil itu pun kembali pada poros yang sebenarnya dalam sekali kendali.
"Berhenti kubilang!" titahnya, namun sia-sia. "Hei, apa kau bisu?" pekik gadis itu lagi. "Tolong! Tolong! Siapa pun tolong aku! Aku diculik orang bisu." Ia kembali melolong.
Membuat pemuda di sebelahnya kembali tersenyum tipis. Ia terus membuang muka ke luar jendela agar si gadis tak menangkap raut wajahnya.
"Apa kau sedang menertawakanku?!" tuding si gadis dengan tatapan benci. Ia paling tidak suka jika ada orang yang menertawakannya. Sungguh, menyebalkan.
Seperti sebelum-sebelumnya, jawaban yang diharapkan tak juga didapatkan. Alih-alih merespon, pemuda itu malah membawanya ke suatu tempat yang ia sendiri pun tak tahu di mana.
"Kau membawaku kemana? Hei, kenapa kita melewati hutan belantara seperti ini?" tanya si gadis yang kembali disergap kepanikan.
__ADS_1