
Nasib ponsel yang jatuh ke lantai itu sungguh tragis. LCDnya pecah, bahkan baterainya terburai keluar. Meidina meringis, menatap alat komunikasi mikiknya itu, yang sepertinya bukan hanya ada di fase emergency, tapi mungkin juga sudah tak akan bisa bernyawa lagi.
Rafka membuktikan dugaan Meidina itu dengan memungut ponsel naas tersebut, dan mengembalikan ke posisi utuh seperti tadi. Tapi, nihil. Sepertinya petugas pencabut nyawa telah beraksi, dan ponsel itu pun tak bisa diselamatkan lagi.
"Gak bisa," kata Rafka seraya menatap Meidina Shafa. Tersamar gadis itu menghela napas.
"Barusan mau telepon siapa?" tanya Rafka sesaat kemudian.
"Bukan mau telepon. Ada pesan masuk dari Davina yang belum sempat dibaca," jawab Meidina tanpa beralih tatap dari ponselnya yang sudah teegolek tak berdaya di atas meja.
"Telepon Davina pakai ini." Arafka memerlihatkan ponsel canggihnya itu. "Berapa nomornya?"
"Gak usah sudah. Saya juga gak hafal nomornya Davina."
Rafka sesaat diam menatap Meidina. Tapi kemudian ia menyrahkan Iphon canggih di tangannya itu pada gadis di depannya. "Pakai ini, jika sewaktu-waktu ada kepentingan komunikasi."
"Pakai ini?" Meidin masih bertanya.
"Iya."
"Ini 'kan ponsel kamu."
"Iya, gak papa. Saya masih ada yang lain."
"Gak usah. Jangan terlalu baik sama saya. Saya takut gak akan bisa membalasnya," kata Meidina, seraya menatap tepat pada netra Arafka, walau hanya sekejap mata.
Pemuda tampan itu tersenyum, tak butuh waktu lama ia sudah paham apa maksud sebenarnya dari ucapan Meidina. "Biar Allah saja yang membalasnya," ujarnya. Dan tanpa surutkan niat, ia meletakkan ponsel canggihnya itu di samping Meidina Shafa, yang terdiam setelah apa yang dikatakan oleh Arafka.
__ADS_1
"Kok malah bengong?" tegur Rafka. Karena sekian saat Meidina hanya dia saja.
"Gak papa," sahut Meidina cepat. Sebenarnya ia memikirkan jawaban Rafka barusan padanya. Dimana ia merasa kalau dalam kalimat itu mengandung makna yang luas dan dalam.
"Makan lagi, biar cepat sehat." Arafka memberi isyarat pada piring buah di pangkuan gadis itu. Meidina mengangguk. Ia kembali meraih garpu untuk melanjutkan menyantap buah itu. Namun, gerakan tangannya seketika terhenti, saat terdengar Arafka berkata, "Dan jangan terlalu banyak memikirkan sesuatu."
Gadis ayu itu terhenyak, dan kemudian terdongak. "Maksudnya?"
"Kata dokter, kamu itu terlalu capek dan terlalu banyak pikiran," jawab Rafka.
Meidina diam. Karena memang apa yang dikatakan oleh Rafka itu benar. Pikirannya memang mulai kacau, setelah tahu tentang perjodohan Kanza Davina dan Rayyan Ali Fattan. Semakin bertambah kacau, saat tahu kalau dirinya sudah bertunangan dengan Irfan Arafka Wafdan. Dan bahkan akan segera menikah dalam jarak waktu yang tak sampai sebulan. Sementara di saat yang bersamaan, Kulliyatul muallimin sudah memasuki masa-masa ujian. Maka dalam diri gadis itu berlaku dua aliran air yang sama-sama deras menghanyutkan.
Antara kepedihan akan masa depannya yang selalu menguras pikiran dan air mata tiap kali dikaji. Dan harus memusatkan konsentrasi pada ujian menjelang kelulusan di Alhasyimi. Akhirnya, Meidina mengambil jalan tengah, ia sibukkan diri se-sibuk-sibuknya, tanpa memberikan sedikit pun kesempatan untuk pikiran tentang masa depannya bertahta. Setiap pikiran itu datang, selalu ia alihkan dengan banyak kesibukan. Bahkan juga tak membiarkan tubuh fisiknya untuk beristirahat. Sedangkan dari segi psikologis memang sudah dipompa setiap saat. Walhasil, tubuh fisik itu pun kalah. Ia jatuh sakit. Sakit yang cukup parah, dan membawanya berakhir di ruang perawatan rumah sakit bunda Fatimah.
"Saya tidak akan mengatakan bahwa saya tau apa yang kamu pikirkan, tapi saya akan menegaskan, bahwa tidak ada siapa pun yang bisa memaksa kamu, Adin." Itu ucapan Arafka. Kalimat tegas yang menyeruak dengan cepat dan merampas lamunan Meidina Shafa. Gadis itu terdogak.
Ada banyak hal yang kini dirasakan oleh Meidina, hal yang juga ingin disampaikannya pada Arafka. Ia merasa ingin bercerita dengan jujur saja pada tunangannya itu, tentang apa yang dirasakannya saat ini. Karena sepertinya dari kata-kata Rafka, pemuda itu sudah paham apa yang terjadi, sudah mengerti apa yang menjadi muara kekalutan pikirannya selama ini. Namun, lidahnya terasa kelu, bahasanya seakan membeku.
Akhirnya segala rasa itu hanya mengendap di rongga dada, lalu tampak pada sepasang matanya yang kini berkaca-kaca. Dan saat ada satu titik bening jatuh dari kelopak bening itu, Meidina Shafa segera tertunduk.
Rafka mengambil tisu lembut di atas meja. Dan dengan tisu itu ia menghapus titik bening di wajah ayu Meidina Shafa. Meski terlihat kalau calon istrinya itu terhenyak dengan apa yang ia lakukan. Tapi, Arafka tak menghentikan pergerakan tangan, hingga air mata di wajah itu sempurna dibersihkan.
Tiba-tiba saja, "Hmm." Terdengar suara interupsi menggoda dari pintu ruangan. Rafka menoleh pada siapa yang datang, sedangkan Meidina menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Kami tidak ganggu ya, Dek?" Fadil bertanya diiring dengan seulas senyuman.
"Boleh kami masuk?" Widad juga ikut mengajukan tanya, padahal Rafka juga belum menjawab pertanyaan dari ustad Fadil, seniornya.
__ADS_1
"Tentu saja, Mas. Silakan." Arafka menjawab pertanyaan Widad. Setelahnya ia kembali menatap pada Meidina Shafa. "Dimakan lagi buah-buahannya," katanya, seraya menyerahkan garpu ke tangan gadis itu. Setelahnya pemuda itu segera melangkah ke arah pintu. "Saya mau sholat Ashar juga, Mas," pamitnya.
"Kok terburu-buru, Dek? Kalau belum selesai, silakan dilanjut! Kami akan keluar lagi," kata Widad. Tak jelas di sini, apa itu adalah sebuah perintah atau hanya bercanda saja.
"Sudah selesai, Mas," jawab Rafka dan segera teruskan langkahnya untuk keluar dari sana.
Nabila segera menghampiri Meidina Shafa yang sedang memakan buah, tapi air mata sambut menyambut di wajahnya.
"Apa Arafka menyakitimu?" tanyanya.
Meidina menggeleng.
"Tapi, kamu kok nangis?"
Meidina diam saja.
"Dia bilang apa saja sama kamu, Din?" Kembali Nabila bertanya.
"Gak bilang apa-apa," jawab Meidina. Namun, air matanya kembali menetes lagi.
"Kalau gak bilang apa-apa, kok kamu malah tambah nangis?" lanjut Nabila.
"Dek jangan mengusiknya!" tegur ustad Widada. "Biarkan saja apa yang mereka bicarakan itu, hanya menjadi milik mereka berdua. Kita hanya ikut mendoakan saja," lanjutnya.
"Iya. Tapi saya gak terima, Mas, kalau Dek Rafka itu menyakiti sahabat saya, meskipun ia adalah tunangannya," kata Nabila.
"Dek Rafka itu orangnya selalu berhati-hati dalam bersikap, dia tidak akan menyakiti siapa pun," tegas Widad. Nabila tersenyum mendengarnya seraya menatap pada Meidina yang menghapus air mata dengan tissu yang digunakan oleh Rafka barusan.
__ADS_1
Selanjutnya, Nabila menuntun gadis itu ke kamar mandi untuk melaksanakan sholat ashar juga, karena penanda waktu saat ini sudah lewat dari titik enam belas.