Bertaruh Cinta Di Atas Takdir

Bertaruh Cinta Di Atas Takdir
43 Bebas Yang Terbatas


__ADS_3

"Maaf ya, Mas. Saya ganggu waktunya." Nabila langsung mengatakan hal itu tatkala melihat kehadiran ustad Widad.


Lelaki itu tersenyum, "sudah lama nunggu, Dek?" tanyanya.


"Gak, Mas." Padahal sudah hampir setengah jam Nabila memunggu di sana.


Widad lalu menyilakan gadis itu duduk, dalam jarak yang tidak dekat, lelaki itu juga mendudukkan dirinya.


"Apa yang bisa dibantu, Dek?"


"Seperti yang tadi saya bilang, Mas. Mau nambah referensi." Nabila segera menyodorkan lembaran kertas yang sudah diketik rapi.


"Bismillah, semoga saya bisa ya, Dek."


Maka mulailah Nabila melancarkan beberapa pertanyaan terkait materi yang saat ini ia bawa. Widad menjawab semampunya dan sesuai dengan konteks pertanyaannya. Hampir setegah jam hal itu berlangsung. Hingga Nabila merasa sudah cukup sebagai bahan tambahan referensinya.


"Saran saya, minta pendapat para ahli di bidangnya. Seperti senior di Ma'had Ali, atau majlis Masyayikh Alhasyimi. Agar tulisan kalian ini mencakup berbagai segi."


"Majlis Masyayikh?" Nabila bergumam.


"Iya, tidak usah ragu, Dek. Untuk setiap hal yang berkaitan dengan ilmu dan pembelajaran, beliau semua pasti mendukung."


"Insyaallah, Mas. Saya mau rembukan dulu dengan teman-teman."


Karena merasa sudah cukup, Nabila hendak pamit, tapi urung karena tiba-tiba hadir Nizam Ali ke tempat tersebut.


"Saya ganggu, Ustad?"


"Ah kau ini bisa saja. Duduklah, ini kursi umum yang boleh diduduki oleh siapa pun. Asal jangan dekat-dekat dengan calon istriku," kelakar ustad Widad.


"Gak berani Ustad," sahut Nizam Ali yang segera ikut duduk dengan mengambil posisi cukup berjarak dari Nabila.


"Gimana, Zam?" tanya Widad segera. Sepertinya pertanyaan itu ada, karena telah ada pembicaraan sebelumnya.


"Saya barusan dipanggil oleh Kyai Hamdi," sahut Nizam.


"Oh ya, gimana?" Widad menanggapi dengan antusias.


"Beliau bertanya, kapan saya akan ke An-Nur. Saya sanggupi nanti sore, karena besok Al-Badar ada acara."


"Iya, Albadar mengisi acara pernikahan putranya kyai Sholih ya?"


"Iya, Ustdaz."


"Bagus lah, Zam. Lebih cepat lebih baik. Untuk urusan ibadah itu memang harus disegerakan."


"Iya, saya rencananya mau minta didampingi Ustadz Widad."


"Iya, insyaAllah." Selanjutnya Widad menatap pada Nabila yang hanya diam saja menyimak perbincangan keduanya.


"Doakan, Ya dek. Nizam Ali mau taaruf sama seseorang, mudah-mudahan ada kecocokan," ujarnya.

__ADS_1


"Oo, Alhamdulillah. Semoga diridhoi Allah ya, Mas. Dan semoga barokah," sambut Nabila dengan doa yang tulus dari hatinya.


"Amin, amin, terima kasih."


"Orang mana, Mas Nizam?" tanya Nabila lagi.


"Keponakannya Kyai Hamdi, sekarang sedang jadi guru tugas di An-Nur," sahut Nizam.


"Subhanallah, semoga berjodoh."


"Iya, terima kasih. Sebenarnya, sudah cukup lama saya naksir seseorang, ee gak kebagian," kata Nizam diselingi curhat.


"Siapa?" tanya Nabila terlihat penasaran.


"Temannya smean, Dek," sahut Widad.


"Teman saya? Di KM?"


"Iya."


"Siapa, Mas?" Nabila jadi kian penasaran.


"Ketua BES," sahut Widad.


"Meidina?" Nabila terlonjak. "Jadi, Mas Nizam beneran naksir sama Meidina? Saya pikir cuman bercanda aja dengan dek Rafka."


"Naksirnya beneran. Tapi malah yang gak disangka-sangka, itu yang mendapatkan. Tapi gimana kabarnya Meidina sekarang, setelah peristiwa dua hari lalu. Azmi yang cerita ke saya."


"Meidina baik-baik saja, Mas Nizam. Dia kan orangnya memang lebih banyak nyimpan, kalau ada apa-apa itu gak gampang cerita. Apalagi setelah bertunangan dengan Arafka, dia gak pernah sekalipun membicarakan, bahkan cenderung menghindar setiap kali kami menyinggung tentang hal tersebut," urai Nabila cukup panjang.


"Mereka baik-baik saja, Mas?" Sahut Nabila. "Kalau memang mau ada apa-apa di antara keduanya, seharusnya 'kan dari dulu. Tapi, mereka tetap baik-baik saja. Davina malah sangat mendukung Meidina dengan Ra Fattan. Padahal Ra Fatan itu calon tunangannya, dan Davina mencintainya. Dan ketika Meidina tau itu, ia juga tak mengubah keadaan, ia memendam semuanya, sementara hubungannya dengan Davina tetap baik-baik saja," cerita Nabila yang disimak dengan seksama oleh Widad dan Nizam.


"Mereka itu sama-sama memiliki rasa ingin memberi. Salut ya, dengan persahabatan mereka," kata Ustad Widad.


"Yang paling tak nyaman dalam hal ini, tentunya Ra Fattan," celetuk Nizam.


"Iya, dan Ra Fattan juga sangat bijak. Meski ia terhimpit dalam satu masalah, tapi dia tetap mampu kuasai diri, dia tetap berkata lembut, berkata ramah, padahal dia pasti sangat terpukul sekali," urai ustad Widad, teringat peristiwa dua hari lalu di halaman aula KM itu.


"Iya, saya bisa menyimpulkan kalau Ra Fattan itu sangat mencintai Meidina, tapi juga sangat menghargai Davina. Luar biasa 'kan." Nizam menimpali. Dan semua mengangguk menyetujui


"Oya, Zam, Azmi hanya menceritakan hal itu padamu saja? Dia tidak cerita pada Dek Rafka juga?" tanya Widad.


"Azmi hanya cerita pada saya, Ustadz. Tapi sepertinya dek Rafka tau kalau Meidina ada hubungan dengan Ra Fattan."


"Ha?" Dan bukan hanya Nabila yang kaget dengan ucapan Nizam, ustad Widad juga. Bahkan ia segera bertanya.


"Dari mana kau menyimpulkan demikian, Zam?"


"Kemarin, Ustad." Dan Nizam pun bercerita tentang pembicaraan Azmi dan Rafka kemarin. Azmi mengatakan kalau sedianya ustadz Widad ingin mengusulkan Ra Fattan sebagai dosen pembimbing Arafka, menggantikan dosen lama yang saat ini sedang udzur. Tapi, Widad mengurungkan niat tersebut dan memilih untuk mencari nama lain saja. Atas cerita dari Azmi itu Arafka menanggapinya dengan ucapan, "kenapa mas Widad kok gak jadi memberitahu saya. Soal kayak gini, gak bisa dikait-kaitkan dengan masalah pribadi."


Mendengar ucapan dari Arafka tersebut, tentu saja Azmi jadi terkejut. Dan ia bertanya lebih lanjut, tapi pemuda itu enggan menjelaskan dengan runtut, malah segera mengalihkan pembicaraan dengan cepat layaknya pengendara yang sedang ngebut.

__ADS_1


"Dek Rafka orangnya sportife ya," ujar Nabila.


"Iya, dia satu pribadi yang tenang, dalam menyikapi hal apapun tidak gegabah," sahut Nizam.


"Dan salah satu yang istimewa darinya, syaikhona selalu membimbingnya secara langsung. Tiap kali dia dipanggil, pasti diberinya satu petuah. Dan setiap petuah syaikhona selalu diterapkan oleh Rafka dalam setiap harinya," sambung Ustad Widad.


Nabila manggut-manggut mendengar hal itu. Terlintas dalam pemikirannya, Meidina pintar dan cerdas, kalau bukan pria yang memiliki satu kelebihan, tentu Allah tak akan menjadikan mereka satu dalam perjodohan. Iya, Allah, selalu Lebih Tahu.


🌺🌺🌺


Sore menjelang, angin bertiup landai, udara sangat sejuk terasakan.


Seperti yang dikatakan oleh Nabila, Meidina Shafa dan Kanza Davina tetap terlihat biasa saja. Mereka tetap bersama-sama dalam tiap melakukan aktivitas, tetap saling berkomunikasi akrab, seperti saat ini, Davina menghampiri Meidina yang sedang sibuk menulis. "Gimana, sudah semuanya?" tanya gadis manis itu seraya duduk di samping sang sahabat.


"Iya, cukup lah. Walaupun makin banyak referensi, tentu makin baik," sahut Meidina dengan senyum.


Nampak Meidina menatap wajah ayu itu dengan seksama. "Meidina, aku minta maaf," ujarnya dengan nada dalam.


"Maaf untuk apa?" Meidina balik menatapnya.


"Untuk semuanya," sahut Davina dengan tertunduk.


"Apanya yang harus dimaafkan, Davina?"


"Tidak, aku harus minta maaf," ujar Davina keukeuh, dan suaranya juga mulai parau.


Meidina menghela napas pelan. Ia lalu meletakkan pulpen di tangan, dan sedikit merubah posisi duduknya untuk lebih menghadap ke arah Davina.


"Kalau memang ada yang harus minta maaf, maka itu adalah aku. Aku yang harus minta maaf padamu. Karena aku telah mengambil apa yang seharusnya untukmu."


"Tidak Meidina, bukan seperti itu." Davina menggeleng pelan.


"Aku tidak bisa membayangkan, Davina. Bagaimana perasaanmu saat itu. Saat kau tahu, kalau Ra Fattan mencintaiku," lanjut Meidina dengan suara lirih.


Davina terdiam, secepat kilat ingatannya pun terbang pada saat-saat dimana ia merasa begitu sakit dan kecewa, dengan fakta yang ada. Fakta, bahwa pria yang dicintainya, ternyata jatuh cinta pada Meidina Shafa. Sahabatnya yang terkasih.


"Iya, saat itu aku memang merasa sakit. Tapi, pasti jauh lebih sakit yang kau rasakan saat ini," ujar Davina dengan suara parau seraya menyeka air mata yang mulai jatuh di pipi.


"Siapa yang bilang aku merasa sakit." Meidina Shafa berkilah seraya mengusap air mata.


"Aku dapat merasakannya, Din. Kalau aku saat itu merasa sakit, karena orang yang aku cintai ternyata jatuh cinta pada sahabatku sendiri. Tapi rasa sakitmu, adalah bukan saja harus berpisah dari cintamu, tapi juga harus menikah dengan orang yang tak diinginkan. Dan semua itu adalah karena aku."


"Tidak, bukan karena kamu," sahut Meidina cepat. "Aku yang memutuskan sendiri semuanya. Kau ingat 'kan waktu itu, syaikhona memberiku kesempatan untuk menerima atau menolak. Aku sendiri yang memutuskan untuk menerima," lanjut gadis ayu itu, demi agar Davina tak terus menerus menyalahkan diri sendiri saja.


"Memang iya, tapi keputusan itu ada, karena kau tak punya pilihan lain, setelah kau tau semuanya tentang aku dan Ra Fattan," isak Davina.


Meidina Shafa menggeleng-geleng dengan ucapan Davina itu, sementara air matanya juga ikut deras mengalir tanpa bisa dibendung.


"Aku sungguh merasa bersalah, Meidina. Aku tidak akan merasa tenang dalam hal ini. Dengan siapa kita memutuskan untuk menikah, itu bukan perkara main-main. Karena pertaruhannya adalah kelanjutan hidup kita sampai ajal. Dan kau telah mengambil keputusan tergesa, bahkan sakit, semua itu karena aku ..."


"Sudah, cukup Davina," sergah Meidina cepat. "Berhentilah terus menerus merasa bersalah! Ada satu kekuatan yang berada di luar jangkauan kita. Kekuatan yang mengatur semua jalan hidup manusia. Kita tidak akan bisa melawan kekuatan itu, karena memang Dia, Yang Lebih Tahu dan Lebih Berhak Menentukan semuanya. Jadi berhentilah merasa bersalah. Itu sama saja kau mengingkari KehendakNya."

__ADS_1


Davina langsung terdiam, mendengarkan apa yang diucapkan oleh Meidina.


"Kita memang bebas menentukan pilihan hidup kita, Davina. karena hidup kita adalah milik kita. Tapi kebebasan itu adalah "BEBAS YANG TERBATAS" karena dalam hidup kita, juga ada hak orang lain. Hak kedua orang tua, hak guru kita. Hak teman dan saudara, juga hak sesama. Dan yang lebih mutlak adalah hak Allah di dalamnya. Tuhan kita. Itu yang betul-betul aku rasakan saat ini. Cobalah kau pikir, andai kau ada di posisiku saat itu. Kau pasti juga akan mengambil sikap yang sama sepertiku."


__ADS_2