Bertaruh Cinta Di Atas Takdir

Bertaruh Cinta Di Atas Takdir
32 Perbedaan Yang Runcing


__ADS_3

"Mas Rafka." Syaikhona sedikit menoleh pada pemuda ganteng yang duduk tak jauh darinya itu.


"Dhalem." Arafka menjawab santun tanpa melabuhkan pandang pada sosok agung Kyai yang sangat dihormatinya tersebut. Dan semua yang hadir di sana, kecuali Meidina Shafa yang tetap menunduk, jadi sama-sama mengarahkan pandangan pada pemuda tampan itu.


Wajah tampan Arafka tetap terlihat tenang. Tatapannya tetap lurus dan tak terlihat adanya riak kegelisahan. Entah setegar apa perasaan pemuda rupawan itu, mengapa keputusan syaikhona ini, yang menjodohkannnya dengan gadis yang berusia lebih di atasnya, seakan tak menggelisahkan jiwanya, dan tak mampu merebut ketenangannya.


Azmi dan Nizam yang memang lebih mengenalnya dari pada yang lain, juga cukup mengherankan sikap pemuda tampan itu yang nampak biasa saja. Seakan tak ada apa-apa. Ataukah, ia memang sudah siap, karena memang sudah diberitahu sebelumnya.


Kalau memang Rafka sudah tahu sebelumnya, kenapa sikapnya tadi tampak biasa saja saat Zaskia meminta bantuannya untuk mengambil foto, yang di mana di sana terdapat Meidina Shafa juga. Sedikitpun ia tak menunjukkan sikap yang tak biasa, bahkan tak ada intsraksi kecil darinya untuk Meidina, berupa tatapan, atau mungkin sapaan. Ia hanya bergegas pergi karena memenuhi panggilan dari syaikhona.


Selanjutnya terdengar jelas ucapan Syaikhona pada pemuda tampan itu yang tentu didengar pula oleh yang lainnya. "Masih ada waktu, jika kau ingin saling mengenal dulu dengan calon istrimu, sebelum kalian menikah pada tanggal 14 jumadil Akhir mendatang."


Ucapan itu diangguki setuju oleh Arafka. Sementara dalam benaknya berpikir. Tanggal empat belas jumadil Akhir itu adalah sekitar 2 minggu lagi. Karena malam ini tepat malam tanggal satu bulan hijriyah itu. Ia ketahui hal tersebut, saat pengumuman lomba di halaman besar Alh-Hasyimi tadi.


Jadi, sudah kurang dua minggu lagi?


Barulah saat itu terlihat Arafka dengan samar menghela napas.


Sedangkan Davina dan Nabila hanya bisa saling pandang, menyadari sahabat mereka akan segera menikah dalam jarak dua minggu mendatang. Berbeda dengan Ning Zaskia, yang langsung tertunduk bak kuntum bunga yang jatuh terkulai, nan layu sebelum mekar, diiringi air mata yang berlinang.


Keputusan yang dibuat malam ini, di masjid raya Alhsyimi, adalah keputusan bulat yang sudah disepakati, keputusan yang sudah qat'i, dan tidak boleh diganggu gugat lagi. Demikian kiranya kesan yang didapat oleh semuanya, saat Syaikhona mengakhiri pertemuan itu dengan kata pamit, berupa ungkapan terima kasih untuk semuanya.


Rupanya, setiap orang yang beliau hadirkan di sana adalah untuk menyaksikan apa yang telah beliau putuskan mengenai anak asuhnya, Irfan Arafka Wafdan, yang akan segera menikah dengan wanita yang telah beliau pilihkan.


Kyai pengasuh itu segera meninggalkan masjid raya dengan tetap berpegangan pada lengan Arafka, sebagai penopang kekuatan. Sebelumnya, beliau sempat berpesan pada ustadz Rahman untuk mengantarkan siswi-siswi kulliyatul muallimin itu ke wisma mereka di studio alam Albadar dengan menggunakan mobil pesantren. Dan kyai Musthofa Tamimi mengikut pula untuk meninggalkan masjid Raya.


Namun, baru beberapa langkah, Syikhona berbalik badan dan, "Azmi Khalidi."


"Dhalem." Azmi reflek bangkit dan berdiri melipat tangan siap menerima titah.


"Ajak teman, antarkan Zaskia ke cabang, dan sampaikan salamku pada kyai Fadholi."

__ADS_1


"Enggih." Azmi patuh dengan kepala tetap menunduk. Dan setelah pengasuh besar Alhasyimi itu berlalu, Azmi melayangkan pandangan pada Zaskia yang tak dapat lagi membendung air mata.


Semua orang masih sama-sama belum ada yang beranjak dari duduknya. Dan keheningan masih sangat pekat menyelimuti mereka.


"Subhanallah ... Masyaallah." Terdengar suara ustadz Fadil memecah keheningan.


"Luar biasa kasih sayang syaikhona pada dik Rafka. Sepanjang pengetahuanku, tak pernah beliau mengatasi pernikahan santri sampai semendetail ini. Dari mulai memilihkan calon, mengajukan lamaran, dan menentukan tanggal. Bahkan juga terhadap putra-putra kyai anggota masayikh Alhasyimi, beliau tak sampai seperti ini. Semua pasti karena syaikhona telah menganggap dek Rafka bagaikan putranya sendiri," urai ustadz Fadil.


"Saya juga berpikir seperti itu, Ustadz," sahut ustadz Widad, dan beberapa orang yang lain juga sependapat.


"Apa pun tanggapan Meidina mengenai hal ini, tapi insyaallah, apa yang diputuskan oleh beliau adalah sebuah kebaikan," ujarnya lagi pada salah satu murid tercerdasnya di KM itu.


"Amin." Semua menjawab serempak meski dengan suara yang lirih.


"Benar itu, Meidina," timpal ustadz Fadil.


"Engkau wanita yang sangat istimewa, demikian pasti yang dinilai oleh syaikhona. Sehingga engkaulah yang dipilih oleh beliau untuk mendampingi dek Rafka yang juga sangat diistimewakannya," lanjutnya seraya menatap pada Meidina yang masih diam tertunduk dengan wajah pucat karena terlalu banyak menangis.


Bukan tanpa alasan jika ustadz Fadil menguraikan demikian, semua sudah tahu siapa Meidina Shafa, apalagi atas prestasi yang diraihnya malam ini sebagai juara pertama. Membuat semua keluarga besar santri Alhasyimi mengakui kehebatan gadis ayu yang senantiasa menghiasi wajahnya dengan pasmina itu. Ia siswi yang sangat berprestasi di KM, dan di beberapa lingkup pendidikan Alhasyimi yang lain. Kecerdasannya banyak diakui dalam kiprahnya sebagai ketua badan executive santri kulliyatul muallimin, yang mana hasil pemikiranya dalam forum kajian Alquran banyak mengisi halaman utama majalah Alhasyimi dan mading. Tak jarang pula menjadi bahan referensi oleh siswa-siswi Alhasyimi pusat dan cabang dalam tugas ilmiah mereka.


Meidina Shafa, satu dari beberapa santri di Alhasyimi yang dikenal karena prestasi dan kehebatannya. Bisa dibayangkan, sosok pria yang bagaimana yang pantas disandingkan dengan gadis berparas ayu itu. Sangat jauhlah kriterianya bila itu dinishbatkan pada Irfan Arafka Wafdan, yang katanya baru pemula di bidang agama.


Arafka adalah seorang pemuda yang kehilangan keindahan etika makhluk beragama di masa mudanya yang kelam, penuh hura-hura. Hidup seenaknya, dan tuna makna. Hingga sekian waktu terlewat dengan sia-sia. Syaikhonalah yang menginsyafkannya dan membawa pemuda tampan itu ke Alhasyimi untuk menata ulang lembaran hidupnya secara islami, tentu saja di mulai dari nol lagi.


Akan tetapi sekelumit cerita tentang sosok gitaris grup shalawat Albadar yang tampan itu hanya berkisar dari mulut ke mulut dan berdasar "katanya, dan katanya saja" belum ada yang dapat memastikan kebenaran dan keotentikannya. Karena Rafka sendiri tak pernah mengisahkan masa lalunya secara detail pada siapa pun. Seperti ia memang ingin menutup lembaran silam itu rapat-rapat hanya dalam dirinya saja.


Yang sering pemuda itu katakan, bahwa ia bukan siapa-siapa. Di Alhasyimi ia santri yang ada di kalangan santri kelas bawah dari segi pengetahuan dan keshalihan.


Sangat jauh berbeda dengan seorang Meidina Shafa. Perbedaan yang sangat runcing adanya.


Dan sekelumit kata yang diucapkan oleh ustadz Fadil itu seharusnya mampu menumpulkan perbedaan yang runcing tersebut. Akan tetapi Meidina Shafa hanya diam saja mendengarnya. Ia tetap menunduk seperti semula. Baginya saat ini, tak ada kalimat seindah apapun yang mampu menghibur hatinya. Tak ada nasihat sebenar apapun yang bisa menyejukkan batinnya.

__ADS_1


Davina bergegas bangkit menghampiri.


"Meidina." Ia raih tangan sahabatnya itu. Meidina terdongak menatapnya, namun tak ada kalimat apa pun yang diucapkan kecuali air mata. Davina tak mampu menahan diri, sepasang matanya juga berkaca-kaca. "Kita balik yuk," ajak Davina lembut. Meidina mengangguk keduanya pun bangkit diikuti juga oleh Nabila yang membimbing tangan Zaskia untuk bangkit.


Ke empat siswi kulliyatul muallimin itu segera meninggalkan masjid raya dengan tanpa ada satu pun yang berkata-kata. Hingga saat tiba di halaman depan masjid yang luas, Azmi mendekati Zaskia.


"Ning, mari saya antarkan pulang ke cabang."


Zaskia mengangguk, dan sesaat menatap pada Nabila. Lalu putri kyai Fadholi itu melangkah ke hadapan Meidina yang melangkah agak ke samping darinya.


"Mbak," ujarnya dengan suara yang serak, seraya memandangi wajah ayu Meidina yang basah oleh air mata. "Selamat ya, Mbak," ujarnya dengan suara parau.


Melihat hal itu, hampir semua yang melihatnya jadi menunduk. Mereka tak tega dan sekaligus terharu akan kebesaran hati Zaskia.


"Mbak yang terpilih untuk mendampingi mas Rafka, tak harus saya sebutkan keistimewaan apa yang ada padamu hingga pantas mendapatkan itu. Seperti pula mas Rafka yang dipilih untuk mendampingi mbak Meidina. Itu pasti karena ada kekuatan pada dirinya untuk bisa menjadi imam bagimu, Mbak."


Suara Zaskia bergetar karena menahan isak tangis saat mengucap demikian.


Bagi Zaskia, Arafka adalah sosok yang istimewa, terlepas bagaimana pun desas desus dari mulut ke mulut tentang masa lalu pemuda itu yang pernah ia dengar. Dan Zaskia yakin kalau Arafka itu mampu mendampingi Meidina Shafa, sosok yang juga sangat istimewa. Karenanya ia berkata demikian pada Meidina.


Tapi, bagi Meidina Shafa sendiri, ia masih butuh waktu lama untuk meyakini kebenaran dalam ucapan Zaskia. Karena pertentangan yang ada dalam jiwanya, adalah bukan saja hanya karena ia harus menikah dengan pria yang lebih muda darinya. Tapi, karena ia harus terpisah dari dari belahan jiwanya, sosok Rayyan Ali Fattan, yang ia sayangi dengan sepenuh rasa.


Dan bagi yang lain, yang mendengarkan ucapan Zaskia itu, mereka tak hanya mengakui kalau ucapan itu benar. Tapi, juga mengakui keanggunan pribadi putri kyai Fadholi tersebut.


Karena mereka tahu, betapa besar dan indahnya harapan Zaskia Arifa pada seorang Irfan Arafka Wafdan. Kendati segala harapan dan cinta disandarkan sepenuhnya pada kehendak yang Esa. Tapi, jelas betapa hancurnya hati gadis cantik itu, mengetahui sang pujaan hati akan segera menikahi wanita yang adalah temannya sendiri.


Air mata Zaskia yang berurai tiada henti mewakili segala kepedihan hati yang tak terperi. Namun, dengan cara yang sangat anggun ia memberikan selamat pada Meidina Shafa, dengan menggunakan sisa-sisa kekuatan jiwanya yang telah hancur berserakan karena dalamnya rasa kecewa yang dirasakan.


Ini, tentu saja bukan hal yang mudah.


Dan akhirnya, semua harus mengakui,

__ADS_1


Indahnya pribadimu, seindah kecantikanmu, Zaskia Arifa.


__ADS_2