Bertaruh Cinta Di Atas Takdir

Bertaruh Cinta Di Atas Takdir
35 Kini Sudah Tak Sama Lagi


__ADS_3

"Assalamualaiki."


Seseorang dengan suara yang lembut mengucap salam khusus kepadanya. Seketika, jiwanya terasa berdesir. Jantungnya terasa berdetak lebih cepat. Ia tahu itu suara siapa, ia tahu segenap jiwanya bereaksi seperti ini untuk siapa.


Gadis ayu itu hanya menoleh sekejap, menatap sosok indah Rayyan Ali Fattan yang telah berdiri tak jauh di sampingnya.


"Waalaikassalam," sahutnya dengan tetap menundukkan pandangan.


"Alhamdulillah." Terdengar suara lirih Ra Fattan mengucapkan syukur, karena ucapan salamnya mendapatkan jawaban yang sepadan.


"Ujian ya, dari tadi?" Selanjutnya pemuda tampan itu bertanya dengan lembut.


"Iya." Meidina hanya mampu menjawab singkat. Sementara hatinya bertanya dari mana pemuda tampan itu tahu perihal itu.


"Bagaimana?" Ra Fattan masih bertanya dengan nada lembut. Kelembutan yang terasa meruntuhkan perasaan Meidina yang terus menunduk dan tak berani menghadapkan wajah.


"Alhamdulillah, lancar," sahut Meidina dengan suara yang hampir timbul tenggelam, karena perasaannya yang merasa terguncang.


"Allahu yubaarik alaiki, Meidina Shafa." Untaian doa singkat, terucap dengan suara lembut dari Ra Fattan.


"Amiin Ya Rabb," sambut gadis itu dengan hati yang tulus pula.


Meidina masih tetap enggan mendongakkan wajah. Lebih tepatnya ia merasa segan, bukan enggan. Gadis itu merasa kalau dengan kondisinya sekarang, ia telah memberi sebuah pengkhianatan atas ikrar yang mereka ucapkan.


Dan sekian waktu, Ra Fattan pun tak memberikan ucapan, membuat Meidina menyangka kalau pemuda tampan itu mungkin sudah berlalu dari hadapan. Namun, saat ia menoleh ternyata Ra Fattan masih ada di tempatnya, bahkan tengah menatapnya dalam.


"Apa yang terjadi, Meidina?"


"Ee a-apa, Ra?" Meidina balik tanya dengan suara gugup.


"Saya dapat merasakan kegelisahan kamu, Meidina. Tapi saya belum dapat mengerti semuanya secara utuh. Maaf ya, kalau saya tidak hadir secara penuh, di saat kamu butuh."


"Saya tidak apa-apa, Ra," ucap Meidina cepat. Gadis itu segera memangkas ucapan Ra Fattan yang mungkin belum selesai diucapkan, karena ia merasa tak sangggup untuk mendengarkan untaian kalimat Ra Fattan yang terasa mengoyak perasaan. Perhatian dan pengertiannya yang begitu dalam pada Meidina, yang terungkap dalam sebentuk kata membuat gadis ayu itu seakan lemas lunglai tak bertenaga.


Namun, ketegaran jiwa yang berusaha dibangun oleh Meidina dengan ucapan tegasnya barusan, kini hancur tak berarti, saat sepasang matanya malah justru berkaca-kaca ketika tanpa sengaja bersitatap dengan netra lembut Ra Fattan.


Meidina segera menunduk sambil merutuki diri. Bersamaan dengan itu, ada beberapa orang pria yang keluar dari pintu kantor. Salah seorang dari mereka menghampiri seraya menyerahkan sebuah payung pada Ra Fattan.


"Ini payungnya Ra Fattan," ujarnya.


"Terima kasih ya, insyaallah saya segera menyusul ke aula," ujar Ra Fattan sambil menerima payung itu.


Ketiga orang pemuda itu pun berlalu, menembus hujan dengan payung masing-masing di tangan.


"Chat dari saya mengganggu kamu ya?" lanjut tanya Ra Fattan pada Meidina yang terlihat menghapus air mata.


"Tidak," jawab Meidina sambil menggeleng.


"Apa telepon dari saya mengusik kamu?" tanya Pemuda tampan itu lagi.

__ADS_1


"Tidak."


"Lalu mengapa tidak kamu jawab?"


"Saya ..." hanya satu kata yang bisa diucapkan oleh Meidina Shafa, satu kata yang tak bisa menghasilkan sebuah pemahaman makna.


"Kamu sibuk ya? Saya paham kalau begitu. Saya justru minta maaf. Tapi saya tidak paham kenapa kamu mencoba menyembunyikan sesuatu dari saya."


Meidina terdiam, air matanya langsung jatuh. Perih sekali rasa hatinya. Pedih sekali tiada terkira. Ingin rasanya ia menjerit, untuk mengurai rasa sesak yang terasa menghimpit. Ada rasa ingin juga untuk menghambur ke dalam pelukan Ra Fattan, dan menceritakan segala ihwal guncangan batin yang ia rasakan. Tapi, ia tak akan mampu untuk berbuat itu. Sebagaimana juga ia tak akan mampu untuk menyembunyikan semuanya.


"Jangan menangis Meidina. Tidak apa-apa kalau kamu belum mau bercerita. Bertawakkallah pada Allah. Insyaallah, Dia tak akan mengabaikan kamu." Ra Fattan berkata lembut, selembut tatapannya yang menyapu wajah ayu Meidina. Ia juga punya rasa, punya keinginan untuk membawa gadis ayu itu ke dalam pelukan, lebih-lebih ketika tangis merengkuh sang gadis seperti sekarang. Tapi, sebagaimana Meidina, Ra Fattan juga tak akan mampu melakukan hal apa yang diinginkan.


Dia hanya mampu untuk berkata lembut lagi, meminta Meidina agar berhenti menangis. "Susut bening kristalnya, Meidina. Saya mohon."


Memang hanya kelembutan lah yang selama ini selalu ditunjukkan oleh Rayyan Ali Fattan kepada Meidina Shafa. Baik saat bicara secara langsung, atau pun saat bicara di telepon, begitu pun dengan untaian kalimatnya dalam pesan teks, semuanya menunjukkan sisi kelembutannya. Dari hal itu semua menunjukkan kalau pemuda tampan itu hanya ingin memberikan cinta dan cinta saja, yang terwakili dalam setiap kelembutan kata dan tindakannya.


"Maafkan saya, Ra." Meidina terisak dengan suara bergetar. Sedangkan tangannya mengusap titik-titik bening air mata di wajahnya, dalam pandangan luruh Ra Fattan.


"Apanya yang harus saya maafkan?"


"Tidak, Ra. Saya harus minta maaf." Meidina hampir tak bisa menyelesaikan kalimatnya dan segera tertunduk.


"Insyaallah, saya akan selalu memahami kamu, Meidina. Tapi, tolong jangan abaikan telepon saya, walau hanya dengan sepatah kata."


Serasa ada pukulan telak yang menghantam jiwa Meidina Shafa dengan ucapan dari Ra Fattan tersebut. Dan tak ada jawab yang bisa ia ucap, apalagi janji untuk menepati. Karena kini sudah tak sama lagi. Dan gadis ayu itu tak memiliki kekuatan untuk memberitahukan apa yang sebenarnya telah terjadi.


"Pakailah payung ini." Ra Fattan menyerahkan payung di tangannya itu pada Meidina.


"Kamu tak akan menunggu hujan reda, di sini 'kan?"


"Lalu jennengan?"


Ra Fattan hanya tersenyum lembut, dan kemudian berbalik pergi. Namun, baru tiga langkah, dia menoleh lagi. "Baik-baik ya. Assalamualaiki."


Ucapan itu lagi kembali membuat sepasang mata Meidina berkaca-kaca, dan kembali satu titik bening jatuh menggelinding, bersamaan dengan langkah Ra Fattan yang melangkah menjauhi, menembus hujan tanpa memakai payung. Meidina kini membiarkan dirinya menangis, air matanya sambut menyambut dengan deras. Seperti derasnya air hujan yang sampai kini belum berhenti.


🌺🌺🌺🌺


Sudah banyak obrolan yang terjadi di gazebo dua itu, di antaranya seputar topik kuliah umum yang diikuti oleh hampir seluruh santri, utamanya yang sudah duduk di pendidikan tinggi. Hanya Zaskia Arifa yang tampak diam saja. Kendati pun ia mengikuti alurnya perbincangan, namun tak melibatkan diri di dalamnya. Hal itu tak luput dari perhatian Azmi, hingga lalu vocalis tampan AlBadar itu bertanya,


"Ning Zaskia, kau baik-baik saja?"


Pertanyaan itu sontak membuat Zaskia tersentak. Apalagi kini semua pasang mata jadi menatap ke arahnya.


"Iya, saya baik-baik saja," sahut Zaskia lirih. Ia paham apa maksud terpendam dari pertanyaan Azmi. Bukan hanya baik yang dirasakan pada saat ini. Tapi, baik-baik saja dari satu hal yang telah menghantam jiwanya.


Azmi tersenyum mendapat jawaban demikian.


"Berarti, Mas Azmi memerhatikan ning Zaskia dari tadi ya," celetuk Fitria sambil senyum-senyum.

__ADS_1


"Sejak dari tadi," sahut Nizam, dan jawaban ini tidak mendapatkan penyangkalan dari sang empunya.


"Wah jangan-jangan." Fitria terlihat memicingkan mata, memasang wajah curiga. Di KM tingkat 3, Fitria memang termasuk siswi yang pandai mencairkan suasana. Selera humornya tak jarang membuat rekan-rekannya hanyut dalam tawa canda ria. Sehingga tak heran kalau ketiadaan gadis ini, sering kali di cari. Karena banyolan ringannya selalu sukses mendatangkan tawa.


"Jangan-jangan apa?" tanya Ning Zaskia cepat dengan perasaan yang mulai tak enak. Karena biasanya celetukan Fitria tidak jauh dari kata benar. Tapi, untungnya saat itu gadis itu hanya tertawa. Azmi juga seperti ingin menanggapi ucapannya, namun urung karena ponselnya yang segera berbunyi.


"Dek Rafka," ujarnya dengan terlonjak, saat melihat satu nama si penelepon di layar benda pipih yang dipegangnya.


"Cepat angkat!" Nizam terlihat tak sabaran.


"Suruh kesini, Azmi." Ustad Widad pun menimpali pula.


Azmi segera melakukan seperti apa yang diminta oleh teman-temannya. Ia menjawab telepon dari Arafka dan meminta pemuda itu untuk datang ke gazebo dua dekat musholla Assurur. Sekitar 50 meter dari gerbang pesantren bagian timur. Tak butuh waktu lama, hanya sekitar 10 menit kemudian, Arafka hadir ke tempat itu sendirian. Ada Titik-titik hujan di wajahnya yang tampan, dan terdapat juga pada kemeja waran maroon yang ia kenakan.


Senyuman indahnya mengiringi salam yang terucap. Selanjutnya, sebagaimana kebiasaan seorang Arafka, ia segera bersalaman sopan pada semua pemuda yang ada di sana, yang notabenenya adalah seniornya.


"Naik motor, Dek?" tanya Ustadz Fadil, bersamaan saat pemuda tampan itu telah duduk di samping Azmi. Rafka sempat melempar senyuman ramah sesaat pada jajaran gadis berkerudung yang juga ada di sana.


"Iya, Mas," sahut Rafka.


"Gak pakai jas hujan ya," tebak Nizam, yang memang tau kebiasaan Arafka. Pemuda itu paling tidak suka pakai jas hujan. Alasannya pusing.


"Kehujanan dari mana, Dek?" Ustadz Widad pun bertanya pula.


"Sejak dari rumah, Mas."


"Sampai dibela-belain ya, Dek," seloroh Nizam.


"Karena saya sudah janji mau datang, Mas," sahut Rafka.


"Tuh kan, apa aku bilang. Dek Rafka itu sportive," celetuk Ustadz Fadil.


Hal itu hanya ditanggapi dengan senyum singkat oleh Arafka. Sementara tatapannya tak sedikitpun mengarah pada ke empat gadis berhijab yang duduk tak jauh di depannya. Begitupun dengan Zaskia, ia tak sedikiitpun melabuhkan pandangan pada pemuda tampan itu, ia selalu berusaha mencari objek lain untuk diperhatikan, dari pada menuruti keinginan hatinya untuk menatap pemuda yang sudah ia mantapkan hati untuk menghapus perasaan cintanya. Walaupun jelas, kalau itu bukan hal yang mudah.


Berbeda dengan Fitria, baginya ini adalah pertama kali ia dapat berada dalam satu lingkup dengan gitaris Al-Badar itu, sehingga Fitria terlihat memerhatikan dengan seksama pemuda tampan itu dari awal kedatangannya, dari sejak model rambut, seat baju yang dikenakan, jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangan, sampai sandal yang digunakan, semuanya tak luput dari perhatian Fitria dalam diamnya. Pasti, sebuah penilaian sudah ia dapat tentang Arafka, dari hasil pengamatannya.


"Kami memang sangat memgharapkan kedatangan dek Rafka, di samping untuk membicarakan slow Albadar besok lusa, juga ada beberapa hal lain yang ingin kami tanyakan," ujar Ustadz Fadil.


"Iya, Mas." Arafka hanya menjawab patuh.


"Semalam kita latihan lho, Tapi Dek Rafka gak datang. Dalam dua hari ponselnya gak bisa dihubungi," kata Azmi.


"Bukan karena low Baterai kan?" Nizam tersenyum seraya menaikkan sebelah alisnya.


Arafka menggeleng singkat. "Bukan, Mas. Saya memang menon-aktifkan ponsel," jawabnya.


"Takut dihubungi, atau mau menghindar nih," tukas Azmi kendati hal itu diucapkan dengan tertawa renyah.


"Bukan begitu, memang apanya yang harus dihindari, Mas?"

__ADS_1


"Menghindari kemarahanku, Dek. Karena secara sengaja atau tidak, kau telah mengambil wanita yang aku harapkan."


__ADS_2