
"Jadi, kita berangkat ke sana kapan, Mas?"
Setelah Arafka menyampaikan kalau mereka akan mengunjungi orang tua Meidina Shafa di Jember, wanita itu tak dapat menyembunyikan rasa bahagia. Dengan sangat antusias ia bertanya, karena ingin segera bertemu dengan ayah ibunya di sana.
"Ning, maunya kapan?"
"Sami'na waatho'na, Mas," sahut Meidina. Kalimat berbahasa arab itu kalau diterjemahkan lebih kurang artinya demikian. "Saya dengar dan saya patuh (pada keputusan) Mas."
"Alhamdulillah." Rafka menoleh pada wanita berparas ayu yang duduk di sampingnya itu seraya mengulas senyum. "Terima kasih, Ning, atas kesediaanmu untuk selalu patuh. Tapi, kau juga harus tetap mengutarakan apa yang kau mau, apa keinginanmu. Kau harus tetap menyampaikan, karena pasti aku tidak akan sepenuhnya tahu, tanpa kau beritahu. Bila pada akhirnya kau tetap memilih mematuhiku, insyaallah aku tidak akan memilih jalan yang hanya berdasarkan keegoisan."
"Alhamdulillah, Mas. Tapi di sini saya hanya ingin mengedepankan pendapat jennengan saja, di atas semuanya," sambut Meidina.
"Mungkin hanya dalam beberapa hal, Ning. Tapi jangan dalam semua hal. Karena menurutku, seorang istri itu bukan semata-mata sebagai orang kedua, Tapi, ia adalah satu pribadi yang memiliki level kepentingannya tersendiri di dalam apa yang disebut rumah tangga. Jadi istri pun berhak bersuara."
Meidina mengangguk sambil tersenyum. Hatinya terasa sejuk, batinnya terasa damai. Dalam hati, dan telah lama pula ia mendambakan sosok suami yang memiliki cara pandang seperti apa yang dicetuskan oleh Arafka barusan.
Bahwa Suami adalah pemimpin yang patut dipatuhi. Dan istri, bukan hanya semata sebagai makmum, tapi dia juga punya perang penting tersendiri, yang tak boleh dinomor duakan
Kini, apa yang diimpikannya itu terwujud, Hadiah Allah yang diberikan padanya dengan menjadi makmum dari Arafka, sungguh paket komplit yang tak bisa disanggah. "Sakalangkong, Mas," ucapnya dengan suara hampir tercekat. Sepasang matanya berkabut, karena rasa haru yang menggelayut.
"Mm bagaimana kalau berangkat hari ini juga, saya ingin segera bertemu dengan ayah dan ibu, juga saudara saya."
"Iya, setelah sholat ashar ya. Setidaknya, kamu harus istirahat dulu di rumah, sebelum kita berangkat ke Jember," putus Arafka. Yang langsung diangguki setuju oleh Meidina Shafa.
Mobil yang mereka naiki sudah hampir tiba di gerbang utama Alhasyimi pusat, ketika dengan tiba-tiba Arafka menginjak rem secara mendadak.
"Astaghfirloh," pekik Meidina tertahan, karena tubuhnya yang cukup keras terguncang.
"A-ada apa, Mas?" tanya Meidina dengan panik pada lelaki tampan di sampingnya.
Arafka tak menjawab, sepasang matanya bahkan terkatup rapat, terlihat jelas pula bahwa ia sembari menahan napas. Peristiwa berulang, ketika ia masih sendirian, terjadi lagi sekarang.
"Mas, Jennengan baik-baik saja?" Meidina menyentuh lembut punggung tangan sang suami yang masih bertumpu di atas kemudi.
"Astaghfirlohh." Lelaki itu tersentak dan seperti baru menyadari. Hal pertama yang dikhawatirkannya adalah kondisi sang istri. "Ning, kamu gak papa?" Arafka bahkan segera menggenggam lembut jemari tangan istrinya.
"Gak papa, Mas. Apa yang terjad ..." Meidina tak lagi melanjutkan ucapannya, ketika netranya menangkap siluet wanita yang tengah berdiri dalam jarak satu meter saja di depan mobil mereka.
"Farah?!"
"Iya, dia tiba-tiba menghadang laju mobil kita," sahut Arafka.
Perbuatan Farah ini mengulang apa yang pernah diperbuat oleh Masayu dulu, yang gemar sekali hendak menabrakkan diri pada laju motor Arafka. Dan sekarang, Farah mengikuti jejaknya.
"Mungkin ia ada perlu sama, Jennengan, Mas."
"Bisa jadi."
__ADS_1
"Sebaiknya, jennengan temui dia, Mas."
"Gak papa aku keluar, Ning?" Rafka masih bertanya. Padahal Meidina sudah menyilahkannya.
"Gak papa, Mas. Silakan!"
Arafka mengangguk kecil, dan kemudian keluar dari mobil.
"Mas Rafka. Nuwwun sewu." Farah menyatukan tangannya di depan dada, sembari membungkukkan kedua pundaknya ke hadapan Arafka yang kini berdiri tak jauh di depannya. "Maaf, saya sudah mengganggu perjalanan jennengan," ucapnya lagi dengan suara bergetar. Dan kini Arafka dapat melihat dengan jelas, wajah Farah yang pucat, serta dari sepasang matanya yang sembab, mengalir titik bening yang terus menggelinding.
Akan tetapi, Arafka hanya sesaat saja melihat hal itu. Karena pemuda tampan tersebut segera melepaskan pandangan ke lain arah.
"Ada apa, Farah?"
"Sa-saya, hanya ingin menyampaikan sesuatu, Mas. Mohon perkenannya."
"Katakan saja!"
"Sa-saya ... saya ..." Farah terlihat kebingungan untuk memilih kata yang akan diucapkan. Ia bahkan terlihat menarik napasnya berulang kali, seperti masih mengumpulkan kekuatan untuk bisa menyampaikan. "Ma'af, Mas Rafka. Saya hanya mohon keikhlasan ajunan, untuk ... untuk rasa yang saya pendam. Sa-saya ..."
"Maaf, Farah." Arafka segera memangkas ucapan Farah yang terbata-bata itu. Karena ia sudah dapat merasa ke arah mana ujung dari pembicaraan gadis di depannya.
"Ini sepertinya bukan pembicaraan yang patut aku dengar."
"Saya mohon, Mas Rafka. Saya tidak punya maksud macam-macam, saya hanya ... demi Allah, tolong dengarkan saya dulu," pinta Farah dengan pelupuk mata yang kembali membasah.
Semua itu tak luput dari tatapan Farah, yang segera dapat mengambil kesimpulan, kalau Arafka sangat menyayangi dan menghormati istrinya.
"Assalamualaikum, Farah. Apa kabar?" Meidina Shafa yang menyapa lebih dulu, dengan bahasa ramah, dan mengulas senyuman indah.
"Wa-waalaikumsalam, Ning.
Saya-saya baik." Dan Farah pun menjadi gugup saat menjawabnya. Karena ia tak menduga kalau Meidina Shafa akan bersikap seramah ini kepadanya.
"Farah, sekarang kau bisa menyampaikan apa kepentinganmu, karena istriku juga sudah ada di sini," kata Arafka.
Farah hanya mengangguk, namun demikian tak ada kata yang segera terucap darinya.
"Atau, kita cari tempat duduk dulu, biar Farah lebih santai saat bicara," usul Meidina.
"Tidak usah, Ning," tolak Farah cepat. "Saya ... gak jadi, Ning, e Mas Rafka, saya gak jadi mau bicara. Ma-ma'af, sudah mengganggu waktunya. E Sa- saya permisi." Setelah menyelesaikan kalimatnya yang terbata itu, Farah segera berbalik badan hendak berlalu. Namun, Meidina menahan tangan gadis itu.
"Farah," ucapnya lembut, membuat Farah segera berbalik menatapnya.
"Katakan saja apa yang ingin kau katakan. Aku tau, hal yang ingin kau katakan itu adalah beban dalam hatimu. Mungkin dengan menyampaikannya, beban itu akan semakin berkurang," ucap Meidina lembut.
Farah langsung menunduk, dalam sekejap saja terlihat ada titik bening yang kembali menggelinding di wajahnya.
__ADS_1
"Maafkan, Mas Rafka. Mungkin kau ingin bicara lebih privaci dengannya. Tapi, beliau memintaku untuk mendampinginya, alasan pertama karena memang tidak lazim jika kalian hanya bicara berdua saja. Dan kedua, karena beliau menghargai perasaanku sebagai istrinya." Meidina kembali menyampaikan kalimat lembutnya yang membuat Farah jadi kian tak bisa mendongakkan wajah.
"Saya paham, Ning Adin." Luruh hati Farah akan kelembutan dan keramahan Meidina. Sangat pantas, jika gadis ayu itu yang dipilih oleh kyai pengasuh untuk mendampingi putra bungsunya. Dan apalah Farah, dibandingkan dengan Meidina Shafa.
"Syukurlah. Sekarang sampaikanlah. Semoga kami menjadi orang yang tepat untujl mendengarkan keresahanmu."
"Saya ... saya tak bisa melupakan perasaan cinta saya pada Mas Rafka. Meski saya sudah berusaha kuat. Meski saya sadar siapa saya. Meski saya sampai berpuasa untuk bisa melupakan itu. Tapi ... tapi saya tetap tak bisa." Farah berbicara cepat, meski napasnya sempat terengah. Karena ia hampir tak memberi jeda pada rangkaian kalimatnya. Dan di akhir ucapannya itu, ia menarik napas dalam-dalam, seperti sudah merasa lega karena akhirnya bisa menyampaikan apa yang menjadi beban yang selama ini terpendam.
Arafka terdiam
Meidina Shafa juga diam. Entah diamnya wanita berparas ayu itu karena merasa terkejut dengan kejujuran Farah, atau karena dia memberi waktu pada gadis di depannya tersebut untuk menuntaskan ucapan.
"Tolong saya, Ning Adin. Bantu saya," pinta Farah dengan air mata berurai.
"Membantu bagaimana, Farah?" tanya Meidina lembut, meski hatinya bergemuruh. Bantuan apa yang bisa diberikan oleh seorang istri terhadap wanita lain yang mencintai suaminya. Apakah bantuan itu berupa kerelaan untuk berbagi. Tidak. Meidina jelas akan menolak hal ini.
Tiba-tiba saja, mas Rafka meraih tangan Meidina dan mengenggamnya lembut. Pria itu seperti paham hal apa yang sempat terlintas dalam benak sang istri. Dan ia sengaja melakukan hal itu, untuk menunjukkan bahwa hanya dengan Meidina saja, Arafka ingin mengarungi kehidupan di dunia hingga ukhrowi.
"Bantu saya ntuk saya bisa melupakan rasa itu." Farah tertunduk. Dan Meidina tahu kalau sebenarnya gadis itu merasa berat. Berat untuk melupakan rasa cintanya pada Arafka.
"Yakin, ingin melupakan?"
tanya Meidina.
"Iya, Ning." Farah mengangguk pasti. Bahkan ia mendongak menatap wanita ayu di depannya itu sekejap, untuk menunjukkan bahwa ia benar-benar ingin melupakan. Walau jelas ada juga keinginan dalam dirinya, untuk bisa bersama dengan pria yang dicintai. Tapi ia tahu, hal itu sudah sangat tidak mungkin lagi. Dan sangat berat rasanya menyimpan rasa pada seseorang yang sudah tidak bisa didapati.
Ah Cinta.
Kenapa kau memiliki kecenderungan terhadap sesuatu yang tak bisa dimiliki.
Dan Meidina Shafa, istri Arafka yang ayu itu seakan disadarkan, bahwa tak ada sosok yang sempurna di dunia ini. Baru saja ia menahbiskan dalam hati bahwa suaminya adalah paket komplit sebagai suami. Tampan, mapan, hartawan, putranya kyai. Pandangan dan pola pikirnya cukup Qurani. Ternyata di balik itu ada hal yang cukup membuat Meidina kurang suka dan justru harus membuatnya mewaspadai.
Arafka banyak yang suka.
Arafka banyak yang memuja.
Arafka banyak yang menginginkannya.
Mungkin kali ini hanya satu orang Farah, suatu saat nanti, bisa jadi akan datang Farah-Farah yang lain lagi.
Bagaimanakah cara Meidina menyikapi?
🥀🥀🥀🥀🥀
Kakak-kakak tersayang, tetap dinanti hadirnya dalam kisah Elea Pramita dan Anres alvaro ya..dalam judul..
__ADS_1
Mohon dukungannya selalu....