
Seperti pula kali ini, pemuda itu menjadikan diam sebagai jawaban. Lagi-lagi ia mewakili kalimatnya dengan diam, tiap kali Masayu--atau Masayu-Masayu yang lain menyatakan perasaan--Arafka hanya diam.
"Aku memang gak seberapa, Mas. Dibandingkan dengan para wanita berkelas yang punya prestasi, dan para putri-putri Kyai yang juga menyukaimu. Aku hanya ..."
"Tidak seperti itu, Masayu." Arafka cepat memotong ucapan Masayu yang sebenarnya belum mencapai titik itu. "Aku masih dalam perjalanan menata diriku. Jadi aku belum mampu untuk hal-hal seperti itu." Demikian jawaban pemuda tampan itu.
Tak hanya Masayu saja yang tercekat mendengarnya, bahkan juga beberapa siswi kulliyatul muallimin yang berada tak jauh dari sana, termasuk juga ke-empat bintang pelajar KM yang berdiri di teras aula. Mereka melihat semuanya dan mendengar segalanya. Hampir tak percaya, seorang Arafka akan menjawab demikian.
Sudah lewat setahun ini namanya menjadi buah bibir dengan segepok pujian dan seabrek sanjungan. Bersamaan dengan kiprahnya bersama Al-Badar, grup sholawat Alhasyimi. Arafka sebagai gitaris melody Al-Badar, yang setiap kali tampil selalu terlihat memukau. Tidak dengan gaya yang berlebihan, bahkan ia seperti fokus dengan dirinya, dan saat senyum pun, seperti hanya tersenyum untuk dirinya saja. Tapi, semua itu justru kian menambah pesona yang tak terbantahkan. Di samping wajah rupawan yang tak bisa dinafikan. Maka Dalam sekejap namanya tampil menjadi tokoh idola di kalangan keluarga besar pesantren Al-Hasyimi.
Dan Masayu, adalah satu dari sekian yang menyukainya. Dan mungkin satu-satunya yang terlalu berani menyatakan perasaan kepada Arafka. Sedangkan yang lain, lebih memilih menyukai hanya lewat bisik-bisik sesama teman saja, ada yang memuja dalam diam. Juga ada yang melangitkan doa menyebut nama Arafka di atas hamparan sajadah panjang.
Tak pernah ada yang tahu, apa tanggapan Arafka ketika namanya melambung jadi tokoh idola. Ia tetap menjalani hari-harinya seperti biasa sebagai pelajar Alhasyimi, meski tak tinggal menetap di pondok secara praktis sebagaimana lazimnya santri pesantren. Tapi ia tetap menjaga citranya sebagai santri yang menjaga jarak dengan santri putri, seperti yang lain.
Jawabannya kepada Masayu yang merupakan sebentuk penolakan secara halus, sepertinya cukup menjawab tanda tanya mereka selama ini. Hal ini menurut sebagian orang, termasuk ning Zaskia, yang terlihat saat itu langsung menunduk dengan sepasang mata yang berkaca-kaca.
Tapi, tidak bagi Masayu. Ia anggap Arafka hanya beralasan untuk menolaknya, karena yang menyukai pemuda tampan itu banyak dari kalangan putri-putri keluarga besar Kyai juga. yang bila dibandingkan dengan Masayu, dalam tanda kutip, gadis cantik itu pasti kalah pamor di mata Arafka.
"Tidakkah itu hanya sebuah alasan, Mas?" tukas Masayu dengan tatapan sedih, dan kini mendung tebal terlihat mulai berarak menghiasi wajahnya.
__ADS_1
"Mungkin begitu, menurut penilaian sebagian orang. Tapi bagiku, itu memang yang sebenarnya," tegas Arafka. Dan tatap matanya ikut menegaskan semuanya. Telah lewat masanya, kelana cinta yang pernah ia jalani, dari dekapan wanita yang satu pada wanita yang satunya lagi. Kini, ia telah menginsyafi diri, dan memantapkan hati untuk meraih cinta yang halal nan sejati. Dan karena perjalanan menuju cinta halal itu masih dirasa jauh, Arafka selalu menepis rasa demi rasa yang mungkin menghampiri.
"Baiklah, jika itu keputusanmu, aku tak bisa memaksa. Tapi setidaknya, Mas Rafka harus bisa menghargai perasaanku," tuntut Masayu.
"Saya menghargai kamu, jika saja bukan dengan cara seperti ini yang kamu tempuh," sahut Arafka dengan suara tegas.
"Apa caraku salah, Mas?"
"Menurut kamu bagaimana? Dua kali kamu mencoba menabrakkan diri pada laju motor saya. Dan dua kali pula, saya terkena sanksi peraturan yayasan karena ulahmu. Dan sekarang, jika keberadaanmu di sini ketahuan petugas, apa kamu pikir saya juga tidak ikut menerima hukuman?" Tandas Rafka dengan tatapan datar menyapu wajah Masayu.
Masayu tampak terkejut, ia seakan baru tersadar kalau tempat ini baginya adalah area terlarang. Kawasan studio alam Al-Badar, tidak boleh dimasuki santri Al-Hasyimi baik pusat atau cabang, terkecuali bagi yang memiliki kepentingan dan sudah mengantongi ijin dari pemangku kekuasaan.
Tapi, jika menabrakkan diri pada laju motor pemuda tampan itu saja, Masayu berani, Apalagi hanya untuk melanggar peraturan pesantren dengan masuk ke kawasan ini, dia pasti akan lebih berani lagi. Demi apa semuanya?
Masayu menamakannya demi cinta pada Irfan Arafka Wafdan. Tapi apa betul itu adalah cinta, atau justru hanya obsesi semata.
Atas ucapan Arafka, kini sepasang matanya mulai mengembun, dan perlahan ada satu titik bening yang menggelinding. Masayu menangis, tanpa isakan dan tanpa suara.
"Sorry, kalau kata-kata saya terlalu kasar," ucap Arafka dengan perasaan tak nyaman. Bagaimanapun lembut dan ramahnya sebuah kata penolakan, tetap akan terasa menyakitkan. Arafka sangat sadar itu, tapi ia juga tak bisa membenarkan cara Masayu yang telah membuatnya beberapa kali iku menerima sanksi peraturan yayasan.
__ADS_1
"Aku cinta pada, Mas Rafka," sentak Masayu dengan suara cukup tinggi. Tampak ia masih sangat tidak puas dengan apa yang didapatinya kali ini. Semoga gadis itu segera terbuka hatinya. Dan tak akan melakukan hal-hal yang lebih jauh lagi, demi untuk mendapatkan cinta seorang Irfan Arafka Wafdan, tokoh idola di Al-Hasyimi itu.
Selanjutnya Masayu keluar dari kawasan itu dengan berlari. Beberapa dari mereka yang melihatnya, hanya bisa menghela napas, beberapa yang lain saling pandang, ada pula yang saling berbisik, mengemukakan opini secara diam-diam atas apa yang telah mereka saksikan.
Ustadz Widad melempar senyum pada Arafka, saat pemuda tampan itu menatapnya setelah kepergian Masayu. "Semoga tetap istiqamah, Dek, dalam sekian ujian yang datang," harapnya dalam doa tanpa melepas senyuman. Ustadz Widad cukup tahu, kalau gitaris melodi Al-Badar itu sudah teramat sering mendapatkan tembakan cinta seperti ini. Dan selama ini pula, dilihatnya Arafka selalu kokoh, dengan apa yang sudah menjadi keputusan hati.
"Amiin, terima kasih, Mas," sahut Arafka dan selanjutnya ia menatap pada pagar tembok yang jatuh tak jauh darinya itu. "Saya akan minta tukang untuk segera memperbaiki, Mas," ujarnya.
"Gak usah terlalu dipikirkan, Dek."
"Tidak, Mas. Acara harlah sudah tinggal 4 hari lagi, semua di sini sudah harus rapi," cetus Arafka seraya meraih ponsel dan menghubungi seseorang.
Ustadz Widad---pengajar KM--itu hendak berlalu, namun tatapannya sempat terarah ke teras Aula, di mana ada 4 bintang kelas KM itu berdiri di sana. Ustadz muda tampan itu melemparkan senyumnya sesaat sebelum berlalu.
"Melihat senyum ustadz Widad, kenapa aku merasa dejavu," kata Davina seraya menatap punggung tegap ustadz tampan tersebut yang mulai menjauh.
"Dejavu gimana?" tanya Nabila penasaran.
"Senyum yang sepertinya untuk kita semua yang ada di sini. Padahal sejatinya, ada salah satu di antara kita yang menjadi center of interest dari senyuman itu. Aku jadi merasa dejavu," urai Davina.
__ADS_1
Nabila hanya mesem dan tak memberikan tanggapan apa-apa. Sedangkan Madina nampak berkerut kening memikirkan ucapan sahabatnya tersebut. Dan Zaskia, gadis cantik itu mengalihkan pandangan, agar tiga orang temannya yang lain, tak melihat kalau ada air mengambang di pelupuk matanya. Bukan karena senyuman ustadz Widad, tapi karena mendengar ucapan Irfan Arafka Wafdan pada Masayu barusan.