
"Panas sekali," kata Nabila ke arah Davina. Tangannya sesekali memijit kaki Meidina yang tertutup selimut tebal.
Davina mengangguk sambil menghela napas, dan sekali lagi ia berusaha untuk membangunkan Meidina agar mau minum walau seteguk saja. Tapi, seperti yang sudah terjadi, gadis ayu itu tak memberikan reaksi.
Dari sejak di UGD, sampai kini berpindah ke ruang perawatan Vip, gadis itu belum pernah membuka mata sama sekali. Setiap panggilan atau pun bisikan dari teman-temannya tak pernah mendapatkan respon. Membuat kepanikan kian melanda setiap hati
"Meidina ini tidur apa pingsan sih." Akhirnya Davina mengucapkan kepanikannya dengan mata berkaca-kaca. Tangannya sendiri juga ikut merasakan panasnya suhu tubuh Meidina, karena Davina tak hentinya mengusap-usap tangan sahabatnya itu dari tadi.
"Mbak, bangun." Zaskia juga turut memanggil Meidina cukup keras, tak seperti dari tadi yang hanya pelan dan lirih saja.
"Mas Widad ini gimana?"
Karena dua temannya sudah panik, Nabila juga ikut makin panik sampai bertanya pada ustad Widad yang duduk di seat sofa bersama semua rekan yang lainnya.
Ustadz Widad ditanya demikian terlihat juga tak tahu harus bagaimana. Untuk mendekat ke arah Meidina sebagaimana ketiga siswi KM itu, rasanya juga bukan tempatnya. Walhasil ia hanya saling pandang dengan Nizam. Sedangkan Azmi malah melempar tanya yang serupa kepada Arafka yang tak sekalipun bicara sejak masuk ke ruangan ini. Membuat tiga orang yang lainnya juga ikut berpuasa kata.
"Gimana, Dek? Apa perlu kita panggil dokter saja?"
"Sebentar, Mas." Pemuda itu sudah tiga kali bertanya pada dokter terkait kondisi Meidina yang sepertinya tak menunjukkan tanda kesadaran penuh. Dan dokter sudah menjelaskan bahwa gadis itu harus bisa minum walau seteguk, untuk diberikan injeksi. Setelah itu, diperkirakan kondisinya akan kembali normal lagi. Rafka yakin jika ia kembali bertanya, jawaban dokter pasti juga akan sama.
Pemuda itu bangkit menghampiri, menatap raut wajah ayu Meidina yang pucat pasi.
"Lakukan sesuatu supaya dia sadar, Dek. Tolong," pinta Davina yang sudah tak bisa lagi berbaik sangka melihat kondisi Meidina Shafa saat ini.
Arafka hanya mengangguk singkat, dan kian mendekat. Sebenarnya dari sekian menit yang lalu, ia sudah terpikir untuk melakukan sesuatu, agar Meidina yang separuh tidur dan separuh pingsan itu bisa terbangun. Sesuatu itu adalah Sebuah metode sederhana yang dulu pernah diajarkan oleh syaikhona. Namun, ia harus menahan diri, karena metode itu harus dengan cara menyentuh telapak tangan Meidina.
Tapi saat ini, sepertinya untuk melakukan cara yang ia tahu itu, sudah menjadi harus, karena kondisi Meidina yang tetap tak bisa terbangun, betapa pun cara sudah dilakukan oleh Nabila dan Davina, juga Zaskia.
__ADS_1
Rafka meraih tangan Meidina yang tidak diinfus, dan ternyata benar seperti dugaannya, tangan itu mengepal kuat bahkan jari-jarinya terlihat sepucat kertas. Setelah terlebih dahulu membuat tangan yang mengepal itu terbuka, Rafka lalu menekan tapak tangan itu tepat di bagian tengahnya. Sementara tatapannya mengawasi pergerakan Meidina di raut wajahnya.
Saat tak terlihat tanda-tanda kesadaran di wajah itu, Rafka kian kuat memberi tekanan di tapak tangan Meidina. Dan saat terlihat setitik pergerakan pada kelopak mata gadis tersebut, Rafka segera memanggil untuk kian menarik kesadaran Meidina Shafa agar kembali.
"Adin."
Satu panggilan darinya, disertai tekanan di tapak tangan. Terlihat adanya pergerakan di area wajah yang semakin jelas. Membuat Arafka kembali mengulangi panggilannya. "Adin."
Sebuah panggilan yang tak sama, dengan panggilan singkat Meidina selama ini. Tapi, semua tak ada yang mempertanyakan hal itu, karena kemudian terlihat Meidina bergerak, mengeluarkan suara merintih samar, dan pelan tapi pasti, sepasang matanya pun terbuka.
"Alhamdulillah." Hampir semua menggemakan kalimat syukur.
"Din, minum dulu ya." Sigap, Davina segera menyorongkan botol air mineral yang sudah terdapat pipet itu ke arah Meidina. Dengan posisi tidur begini, gadis itu tentu kesulitan untuk bisa minum dengan sempurna, sekalipun Davina kian mendekatkan botol minuman itu ke mulutnya.
Melihat hal itu Arafka juga sigap, ia segera mengangkat bantal yang tiduri oleh Meidina sampai pada posisi paling nyaman untuk gadis itu bisa menelan minumannya.
Satu teguk, air mulai memasuki kerongkongan Meidina, disusul dengan tegukan kedua. "Sekali lagi, Din," pinta Davina. Namun pada tegukan ketiga, tidaklah selancar dua sebelumnya. Air itu tumpah membasahi sebelah pipinya juga pada bagian dagu.
Sempat terlihat Zaskia dan Nabila saling pandang, atas tindakan sigap Arafka Wafdan. Bahkan Davina sampai merasa kalah sigap dari pemuda itu, dalam hal menolong Meidina.
Sesaat kemudian, perawat memasuki ruangan. "Apa pasien sudah bisa minum?" Tanyanya langsung.
"Sudah, Suster. Tapi hanya dua teguk saja," sahut Davina.
"Gak apa-apa, yang penting, sudah ada air yang masuk. Permisi ya, saya mau memberikan injeksi dulu."
Semua menepi untuk memberi akses pada petugas medis itu melakukan tugasnya dengan lebih leluasa. Perawat itu memberikan injeksi di slang infus, lalu memeriksa suhu badan Meidina yang kembali memejamkan mata "Demamnya sangat tinggi," katanya.
__ADS_1
"Tapi, dia gak apa-apa 'kan Suster?" tanya Davina kawatir.
"Gak apa-apa. Yang dipenting dijaga saja, mungkin dia minta minum, karena biasanya reaksi obat yang saya suntikkan ini akan membuat tenggorokannya berasa pahit."
"Baik, Suster." Davina, Nabila dan Zaskia kompak menjawab dengan sigap.
Sejenak, setelah perawat itu keluar dari ruangan.
"Sebaiknya kita sholat Maghrib gantian," ujar ustad Widad, karena memang adzan Maghrib sudah berlalu sejak hampir lima belas menit lalu. "Sisakan di sini dua orang untuk menjaga Meidina," lanjutnya lagi memberikan instruksi.
Dan semua menyetujui hal ini.
Hanya Nizam Ali dan Arafka yang berada dalam ruangan itu kemudian. Sedangkan yang lain pergi untuk menunaikan sholat Maghrib di musholla.
Sejenak Nizam Ali memerhatikan Arafka yang diam tanpa bicara sepatah kata pun, sembari duduk di sofa empuk tak jauh di sisi pembaringan Meidina Shafa. Kemudian dia beralih menatap gadis ayu itu yang sekilas nampak berbaring dengan tenang.
"Apa, Dek Rafka kawatir?" tanya Nizam.
Ditanya demikian, pemuda tampan itu menghela napas lalu tersenyum, tanpa menjawab iya atau tidak.
"Mungkin salah ya, Dek. Aku nanya seperti ini. Dibilang tidak kawatir, nyatanya aku juga merasa kawatir. Cuman aku lihat, Dek Rafka itu seperti memikirkan sesuatu dari tadi," kata Nizam lebih lanjut.
"Memang benar, Mas," sahut Arafka.
"Soal sakitnya, Meidina?" tanya Nizam pelan.
"Iya."
__ADS_1
"Kalau boleh tau, kenapa, Dek?"
"Dokter tadi bilang, dia terlalu capek, terlalu memforsir tubuh fisiknya, dan melupakan kebutuhannya untuk istirahat. Mungkin semua itu karena ada beban pikiran berat yang coba untuk ditepisnya dengan terlalu menyibukkan diri. Akhirnya, fisiknya kalah."