Bertaruh Cinta Di Atas Takdir

Bertaruh Cinta Di Atas Takdir
36 Tak Saling Menatap


__ADS_3

"Menghindari kemarahanku, Dek. Karena secara sengaja atau tidak, kau telah mengambil wanita yang aku harapkan."


Itu ucapan Nizam Ali. Terlihat Arafka sedikit terhenyak mendengar semuanya. Bahkan begitu juga dengan segenap gadis berhijab yang ada di sana.


"Kau serius, Zam?" tanya Fadil.


"Tidak, Ustad. Saya cuma bercanda," sahut Nizam dengan tawa renyah.


"Dia serius, Mas," timpal Azmi. "Dia memang pernah suka, dari pandangan pertama, malah," imbuhnya lagi.


"Ee jangan buka kartu, Azmi. Gak enak sama Dek Rafka. Nanti dia jaga jarak denganku." Nizam segera memperingatkan seraya menatap tak nyaman pada Arafka. Tapi, pemuda itu hanya diam dan tak menanggapi apa-apa, begitu pun ketika Ustadz Widad mengatakan,


"Wah, harus ada lampu kuning tuh, Dek, bila ketemu sama Nizam."


"Ini berarti Nizam kalah start ya dari dek Rafka." Ustad Fadil juga ikut meledek Nizam dengan ucapannya.


"Iya, Mas. Bisa jadi kalah strategi atau kalau power. Dan Nizam gak punya backing yang cukup kuat," tukas Azmi. Pemuda itu seperti sengaja memancing di air keruh dengan ucapannya tersebut. Mungkin karena ia merasa geregetan juga melihat Rafka yang hanya diam.


"Gak, Mas. Gak ada strategi atau pun backing." Dan akhirnya Arafka terpancing juga dengan ucapan Azmi barusan.


"Tapi kok bisa langsung finish ya dek?" tanya Azmi penasaran.


"Allah yang lebih Tahu." Arafka menjawab seraya tersenyum.


"Maksudnya?" Nizam terlihat benar-benar penasaran.


"Dalam dua hari ini, saya juga mencari jawabannya. Dan saya belum dapat. Jadi saya husnuddzon saja," sahutnya seraya tersenyum.


"Jadi, Dek Rafka gak ikut andil dalam hal ini?" Ustadz Widad bertanya serius.


"Gak bisa dibilang begitu juga, Mas."


"Lalu?" Azmi dan Nizam bertanya hampir bersamaan. Dan Arafka hanya menjawabnya dengan senyuman. Sepertinya ia tidak mau, atau belum mau untuk menjelaskannya secara rinci. Mungkin karena waktunya, atau tempatnya, dan bisa jadi karena keduanya, yang dianggap tidak tepat.


Pasti hanya Fitria saja yang tak mengerti kemana arah pembicaraan yang tak menyebutkan objeck secara tertentu tersebut. Sedangkan yang lain, seperti Nabila dan Davina, mereka memerhatikan jalannya obrolan ringan para pria yang duduk tak jauh di depannya itu dengan seksama. Kecuali Zaskia, gadis cantik itu justru memilih menepi dengan dirinya sendiri. Ia sengaja menenggelamkan diri dengan pikiran yang ia buat sendiri, agar pendengaran dan perhatiannya tidak menyimak pembicaraan tentang pertunangan Arafka dengan Meidina yang sedang mereka bicarakan saat ini.


Semua itu karena ia ingin menjaga perasaannya sendiri dari rasa tidak nyaman, yang bisa mengarah pada rasa menyakitkan. Sebab inti pembicaraan itu adalah hal yang berpotensi memberi rasa perih, atas hatinya yang masih terlukai karena rasa kecewa yang masih sepenuhnya belum terobati. Betapapun ia berusaha untuk menyandarkan semuanya pada Sang Pemilik Kuasa, Penentu jalan hidup manusia.


"Saat itu, Dek Rafka tampak tenang-tenang saja, seperti memang sudah siap, justru kita yang sangat kaget." Azmi masih melanjutkan pembicaraan, kendati terlihat kalau Arafka kurang berkenan.

__ADS_1


"Iya, karena saya sudah diberitahu sebelumnya," sahut Rafka jujur.


"Oleh Syaikhona?" tanya Ustadz Fadil.


"Iya."


Hal mana membuat teman-temannya itu saling tatap satu sama lain. Mereka seperti memahami sesuatu dari hal tersebut. Namun, masih ada hal yang perlu mereka tanyakan, akan tetapi Arafka malah merubah topik pembicaraan dengan cepat.


"Mas saya butuh dosen pembimbing untuk skripsi, kemarin sama pak Irham, tapi beliau sekarang sedang sakit."


"Iya, pak Irham penyakitnya cukup serius, butuh perawatan cukup lama," sahut Fadil.


"Iya, padahal saya hanya tahu beliau yang cukup berkompeten di bidang yang saya pilih. Selain beliau siapa ya, Mas?"


"Iya, nanti saya Carikan informasinya ya. Secepatnya saya akan kabari dek Rafka," sahut ustad Widad seraya menatap ke arah Nabila yang terlihat cukup gelisah sambil menatap layar ponselnya. "Kenapa, Dek?"


"Hampir jam 2, Meidina belum datang juga."


"Coba telepon, mungkin dia tidak tau kalau kalian nunggu di sini," Sarah Fadil yang segera disetujui oleh Davina, gadis manis itu gegas meraih ponselnya untuk menelepon Meidina. Namun,


"Davina , itu seperti Meidina," tunjuk Fitria ke arah seorang gadis bergamis putih panjang yang menembus hujan dengan berlindung di bawah payung motif pelangi.


Davina gegas berdiri di tepi gazebo itu dan memanggil, "Din, Meidina!"


Terlihat gadis bergamis putih itu menghentikan langkah, dan memerhatikan ke arah gazebo. Davina segera melambaikan tangannya.


"Meidina kemari. Kita semua menunggu di sini." Nabila juga ikut memanggilnya. Meidina pun segera melangkah ke arah gazebo itu dengan langkah yang tidak tergesa, ia seakan sengaja bercanda dengan sang hujan yang telah membuat bagian bawah gamisnya kebasahan. Mungkin ia ingin berlama-lama berada di bawah payung yang diberikan oleh Ra Fattan itu.


Saat tiba di depan gazebo itu, Meidina melihat ke arah siapa saja yang ada di sana. Gadis itu segera bertanya pada Nabila. "Kita gak langsung balik aja ke wisma?"


"Masih hujan, Din. Iya kamu pakai payung, kami yang lain gimana?" kata Nabila. Sedangkan Davina yang paham kenapa sahabatnya itu enggan berada di sana yang mungkin karena ada Arafka, hanya diam saja.


"Duduk saja dulu, Non. insyaAllah sebentar lagi hujannya reda," kata ustad Fadil. Meidina mengangguk dan setuju untuk duduk. Tiba-tiba saja, suasana hening setelah gadis ayu itu bergabung di sana. Semua seperti tak punya topik lagi untuk bicara. Sebagian dari mereka menatap ke arah Meidina. Dan sebagiannya lagi melihat ke Arafka. Keduanya ternyata mempunyai sikap yang sama. Tak saling melihat, tak saling memerhatikan. Sama-sama terlihat biasa, dan datar-datar saja. Hal mana membuat membuat beberapa di antaranya saling tatap, saling tanya. Apalagi Meidina saat awal duduk itu, ia hanya menatap layar ponselnya saja, ketika ada pesan masuk dari Ra Fattan di sana.


Jika saya punya kuasa, Jika saya punya daya upaya, akan saya tanggung resahmu. Agar tak akan pernah ada sedih menyapa, susah melanda, dan gelisah merejam jiwa. Dan untuk semua itu saya hanya bisa meminta. Semoga Rabb yang Maha Tinggi selalu menjaga kamu, Meidina.


Pesan itu yang selalu dipandangi oleh Meidina hingga seakan dia menyisih dari mereka semua. Davina yang paham, mulai mencari-cari cara untuk mengalihkan perhatian sahabatnya itu. Pasalnya, sepasang mata Meidina sudah terlihat berkaca-kaca. Davina tak ingin, gadis ayu itu menangis di sana, karena bakal jadi tanda tanya besar. Apalagi di sana juga ada Arafka.


Saat Davina masih sibuk mencari topik pembicaraan dengan Meidina, tiba-tiba saja Fitria berkata pada gadis ayu itu. "Eh, Din. Cincinmu bagus sekali."

__ADS_1


"Ha? Cincin apa?" Meidina yang berada dalam kondisi tak sepenuhnya sadar, dalam tanda kutip, masih bertanya. Padahal hampir semua yang ada di sana mulai menatap pada cincin yang melingkari jari manisnya. Cincin yang terlihat begitu exclusive dari desain, warna, serta batu permata yang menghiasinya.


"Itu," tunjuk Fitria pada cincin berkualitas mewah yang pasti memiliki harga mahal di jari Meidina. Hal mana membuat gadis itu ikut melihat ke cincinnya juga. Dari gerakan tangan Meidina itu, semakin terlihat ke-exlusivannya, karena cincin itu memancarkan cahaya tiga dimensi dan membentuk sebuah inisial.


"Oh." Dan hanya itu saja tanggapan dari Meidina.


"Itu pasti cincin mahal ya, berapa kamu beli?" tanya Fitria sangat ingin tau.


Meidina menggeleng. "Gak tau," sahutnya datar.


"Beli di mana?" Fitria merubah pertanyaannya. Dan ia kembali mendapatkan jawaban yang sama dari Meidina. Tidak tahu.


"Jadi, kamu dapat cincin itu dari mana?" Rupanya Fitria tidak bisa menahan rasa penasaran tentang cincin itu, meski Meidina sudah terlihat enggan untuk menjawabnya.


"Dikasih orang," sahut Meidina asal. Sebenarnya bukan jawaban yang ngasal, tapi justru itu adalah jawaban yang benar. Dan jawaban Meidina yang terkesan asal itu justru membuat Fitria memahami sesuatu.


"Jadi maksudmu itu cincin pengikat ya? Kamu sudah bertunangan ya Din. Pantas ada inisialnya di cincin itu."


"Inisial apa?" Nabila dan Davina sama-sama bertanya.


"MA."


"Benar. Itu inisial Meidina dan tunangannya," kata Nabila dengan pasti.


"Bukan," tepis Meidina dengan cepat.


"Lalu, apa ayo." Fitria mulai terlihat ingin meledek.


"Madrasah Aliyah," sahut Meidina.


"Iya, tapi yang program khusus," celetuk ustad Widad, hal mana mendatangkan tawa dari beberapa orang yang lain, kecuali Meidina Shafa, dan Arafka sendiri. Keduanya kompak diam saja, tetap tak saling menatap seperti semula. Dan tawa renyah mereka itu harus terhenti dengan kemunculan Adli yang langsung berkata pada Arafka.


"Aku nyariin kamu mulai kemarin."


"Ada apa?"


"Aku ada hal penting, aku mau komplain sama kamu," kata Adli dengan raut wajah serius.


"Soal apa?" tanya Rafka tak kalah seriusnya.

__ADS_1


"Meidina Shafa."


__ADS_2