
Kabar meninggalnya Dian Maulidia dan pak Himawan itu di dapat dari salah satu alumni Alhasyimi yang ada di Bali, yang di mana kyai pengasuh memang mengondisikan setiap alumni di tiap-tiap daerah, dan kebetulan juga sekretariat alumni Alhasyimi yang ada di Bali itu berlokasi di tempat yang tidak jauh dari tempat tinggal Bu Dian sekeluarga.
Sebenarnya tidak ada yang kebetulan di dunia ini, melainkan semuanya sudah di atur oleh ilahi rabbi, dengan cara pengaturan yang sangat strategis dan tidak terdeteksi. Seperti pula cerita hidup sang kyai dengan putra bungsunya ini. Subhanallah.
Mendengar berita meninggalnya mantan istrinya, Kyai Abdullah Umar segera mengambil langkah untuk menemui putranya. Namun niat tulus berbalut kerinduan nan maha dalam dari beliau terhalangi oleh Bu Arum, ibunda pak Himawan yang diketahui demikian menyayangi Arafka melebihi apa pun, dan memanjakannya sejak kecil. Arum tidak ingin cucu kesayangannya itu kembali pada ayah kandungnya. Dan sekali lagi kyai mengalah, dengan satu keyakinan, bahwa sang putra akan tetap kembali kepadanya, suatu saat nanti.
Kyai Abdullah Umar lalu membangun sebuah yayasan pesantren cabang Alhasyimi di lokasi yang hanya berjarak sekitar tiga kilo meter dari kediaman sang putra, beliau bekerja sama dengan alumni di daerah terdekat berikut tokoh agama setempat, yang di mana salah satu tujuannya adalah untuk memantau kehidupan Arafka. Beliau pun secara rutin mengisi pengajian di sana sebulan sekali, dengan keyakinan yang kokoh dalam hati, bawa setiap usahanya pasti tak akan sia-sia. Allah Yang Maha Penolong pasti akan mengulurkan bantuanNya.
Dan benar saja, Fadhol dari Allah pun datang, sekitar empat tahun kemudian, tepat setelah meninggalnya bu Arum karena sebuah penyakit. Irfan Arafka Wafdan sendiri yang datang menemui beliau dengan diantar salah satu ustadz di sana.
Saat itu beliau baru saja usai memberikan pengajian di masjid, tiba-tiba saja hadir seorang pemuda berparas tampan rupawan berkulit putih bersih nan terawat, menatap kyai dengan begitu dalam, tatapan yang letih, yang membut batin kyai Abdullah begitu trenyuh. Suara pemuda tampan itu terdengar bergetar saat mengatakan, "Saya putranya bu Dian maulidia dan Pak Himawan." Pemuda itu terlihat menghela napasnya sebentar. "Saya, Irfan Arafka Wafdan," lanjutnya, menyebutkan nama lengkap.
Kyai Abdullah umar sejenak mengusap dadanya lalu mengucap syukur pada Allah di kedalaman jiwanya. Selanjutnya beliau memeluk pemuda tampan di depannya itu dengan sepenuh kerinduan, dengan sepasang mata berkaca-kaca, lalu titik bening itu pun bercucuran. Juga dengan suara yang bergetar, kyai mengatakan, "Kau adalah putraku, Nak. Aku adalah ayah kandungmu."
__ADS_1
Pemuda tampan itu pun memeluk kyai Abdullah Umar sambil menangis tersedu-sedu. "Tolong bimbing saya. Saya tidak tau apa-apa," rintihnya dalam isak.
Akhirnya dengan ijin Allah, kyai abdullah Umar menemukan dan mendapatkan putra bungsunya kembali. Setelah melalui sebuah kesabaran yang panjang, serta keikhlasan dalam derai tangis dan untaian tasbih dalam sujud dan doa. Sangat benarlah, petuah mendiang kyai Umar, bahwa segala sesuatu yang diikhlaskan karena Allah. maka Allah yang akan mengembalikannya kepada kita. baik itu pengembalian secara utuh dalam wujud apa yang kita minta, atau dalam wujud lain yang lebih indah. Bukankah Dia Yang Maha Tahu dan Yang Lebih Tahu, segala apa yang dibutuhkan oleh hamba-Nya. Meski harus melalui sebuah penantian panjang. Karena sejatinya dalam setiap penantian, Allah sedang mengajarkan kepada kita indah dan nikmatnya sebuah kesabaran, serta betapa besar dan berartinya buah dari kesabaran.
Kyai Abdullah Umar pun membawa putranya ke Alhasyimi, yang dimana, ia disambut dengan penuh haru dan bahagia oleh seluruh keluarga besar kyai, terutama nyai Syarifah yang begitu menyayangi putra kandung suaminya dengan istri keduanya itu. Akan tetapi ternyata tak semuanya sesuai dengan keinginan kyai berikut keluarga besar yang saat itu langsung ingin mengumumkan kembalinya sang putra bungsu ke khalayak luas.
Arafka ternyata tak berkenan identitasnya diketahui. Ia bahkan menjadikan kerahasiaan identitas itu sebagai syarat pada abahnya, untuk tinggal dan menetap bersama beliau. dan setelah dinilai alasan pemuda itu meminta demikian sangat bisa dibenarkan, yaitu karena ia ingin fokus belajar sebagai santri, fokus untuk memperbaiki diri. Jika semua santri tahu kalau dia adalah putra bungsu kyai pengasuh, kawatir itu akan menjadi salah satu hambatan baginya.
Maka yang terjadi kemudian adalah seperti yang sudah diketahui bersama, Arafka datang ke Alhasyimi sebagai santri pada umumnya, meski ia tak tinggal menetap di pondok sebagaimana lazimnya santri. semua itu adalah salah satu kebijakan dari syikhona juga. Setelah terdaftar sebagai mahasiswa STAI Alhasyimi, kyai juga mengarahkan Arafka untuk kuliah di perguruan tinggi negeri, di pusat kota, dengan mengambil jurusan bisnis, karena syaikhona sadar betul, bahwa disamping sebagai putranya, Arafka adalah juga anak pak Himawan yang punya kerajaan bisnis, yang nantinya juga butuh diteruskan, maka Arafka perlu punya bekal yang cukup mumpuni dalam hal tersebut. Karena hal itulah mengapa pemuda itu tinggal di luar pesantren dan punya akses keluar masuk dengan bebas ke area Alhasyimi.
Sekali lagi, Kyai abdullah Umar Hasyim memeluk Arafka yang berdiri tak jauh di sampingnya, setelah beliau mengakhiri penuturannya tentang rahasia sang putra bungsu yang baru kini bisa diungkapkan, di hadapan banyak orang. Beliau Seakan ingin menunjukkan betapa besar kasih sayangnya kepada sang putra yang baru beberapa tahun ini kembali ada di pangkuannya.
Nyai Syarifah tersenyum menatap sang suami seraya menghapus air mata. Meidina juga terlihat menghapus air mata. Hampir semua yang ada dalam ruangan itu juga ikut bertetes air mata penuh haru dan bahagia, mana kala mereka tahu siapa Irfan Arafka Wafdan itu yang sebenarnya.
__ADS_1
"Aku harap kau bisa menerima semua ini, Nak," kata Kyai pengasuh pada Meidina.
Gadis ayu itu mengangguk sambil memperdengarkan isakan kecil. "Mohon maaf," ujarnya dengan suara yang tersendat.
"Jangan merasa bersalah, Nak. Karena sebenarnya kau tidak salah. Sebenarnya aku ingin memberitahukan semua ini kepadamu, saat aku menyampaikan pinangan untukmu di masjid raya waktu itu. Tapi putraku mencegahnya, dia bilang, dia ingin kau bisa menerima atau menolaknya adalah karena dirinya sendiri, bukan karena aba dan uminya."
Meidina tertunduk dengan hati luruh mendengar semua itu, dan air matanya kembali mengalir karenanya.
"Memang aku yang memutuskan untuk Rafka segera menikah, aku tahu usianya baru dua puluh empat tahun, masih terlalu muda. Tapi aku ingin menjaga putraku dari fitnah, dari hal-hal yang tidak akan diridhoi oleh agama. Aku tahu setiap apa yang terjadi padanya, sejak ia bergabung bersama Albadar. Mungkin saat ini dia bisa bertahan, dia tidak pernah tergoda. Tapi, setan itu selalu akan mencari peluang untuk menyesatkan manusia. Aku tidak ingin putraku terkena bujuk rayunya. lebih-lebih ketika ada santri di cabang yang memfitnahnya dengan sedemikian keji." Terllihat syaikhona menghela napasnya kuat di akhir ucapannya itu.
Semua pasti ingat pada peristiwa menghebohkan beberapa waktu lalu akibat ulah Masayu. Dan segenap mereka pun mengangumi pribadi Arafka yang kuat, yang mampu bertahan dalam badai besar itu. Padahal seyogyanya ia bisa meminta pada abanya untuk menuntaskan masalah itu dengan cepat, apalagi ia memang tak bersalah. Namun pemuda tampan itu memilih mengikuti semua prosesnya tanpa campur tangan orang tuanya yang adalah pengasuh besar Alhasyimi. Pada waku itu Nyai Syarifah bahkan sampai jatuh sakit karena memikirkan Arafka yang tertimpa masalah sedemikian besar, tapi menolak untuk aba dan uminya campur tangan. Karena pemuda itu merasa yakin, kalau hal ini adalah bagian dari pelajaran yang harus dilewatinya dalam langkahnya untuk menata diri.
"Dan lagi sekitar satu bulan lagi, setelah dia menamatkan semua pendidikannya di sini, Rafka akan melanjutkan belajar di Makkah sebagaimana kakaknya. Jadi aku ingin selama dia di sana, sudah ada istri yang mendampingi, karenanya aku memutuskan kalian untuk segera menikah." Dawuh syaikhona lagi.
__ADS_1
mendengar hal itu, Meidina jadi kian tertunduk. Terasa sangat jauh rasanya, jauh sekali antara kenyataan yang sebenarnya tentang Arafka, dengan apa yang selama ini ia baca pada tunangannya itu.
Gadis ayu itu kini hanya bisa menangis.