Bertaruh Cinta Di Atas Takdir

Bertaruh Cinta Di Atas Takdir
72 Tentang Arafka 2


__ADS_3

Akan tetapi tiap sesuatu itu tak ada yang abadi. semua hal pasti memiliki batas waktunya tersendiri, memiliki masanya tersendiri. Dari yang semula tiada, menjadi ada, dan kemudian sirna lagi. Begitupun dengan kehidupan Arafka yang sepintas lalu terlihat indah dan sempurna, serba ada, serba bisa, dan seakan tak terbatas. saat tiba pada masanya semua itupun berakhir jua.


Pak Himawan dan bu Dian Maulidia dipanggil yang kuasa atas sebuah kecelakaan pesawat yang mereka tumpangi dalam penerbangan dari Jakarta ke Thailand. Arafka kehilangan kedua orang tuanya secara bersamaan, dua penyangga dan penopang dalam hidupnya diambil sekaligus dari hidup pemuda itu. Sakit? itu pasti. Kehilangan orang yang disayang, adalah pukulan yang amat sangat memilukan.


Lalu apa yang dilakukan oleh Arafka untuk menghapus kesedihan itu. Pasti sudah bisa ditebak jika pemuda tampan itu kemudian malah kian menenggelamkan dirinya dalam kehidupan yang penuh hura-hura dan tuna makna.


"Mabuk, saya sering. Narkotika juga sering. Bahkan saya sampai harus menjalani masa rehabilitasi selama empat bulan," akunya dengan suara bergetar, bahkan kini sepasang matanya terlihat berembun, teringatkan kembali masa-masa kelam dulu yang pernah ia lalui. Saat dia tersandung narkoba, namun lepas dari jerat hukum karena segepok uang yang digelontorkan oleh sang nenek--bu Arum--untuk menutupi semuanya.


"Pacar saya banyak, selalu berganti-ganti. Walaupun saya tahu, mereka mendekati saya bukan karena benar-benar merasa cinta pada saya, ada yang hanya sekedar ingin shoping dan traveling secara gratis."


Di samping sangat kaya raya, Arafka memang memiliki wajah yang tampan rupawan, sehingga tak ada satu pun wanita yang menolak untuk didekatinya. Dan malah yang ada, mereka-lah yang mendekat lebih dulu, walaupun tujuannya adalah seperti apa yang diungkap oleh Arafka barusan itu, hanya untuk sekedar bersenang-senang. Tak ada kesungguhan, apalagi cinta dan ketulusan.


"Dan yang sangat saya syukuri sampai saat ini, bahwa seberapa pun buruknya hidup saya, ternyata Tuhan masih menjaga saya. Saya tak pernah terjerumus pada perbuatan zina, meski pun banyak wanita-wanita cantik yang mengelilingi saya. Pasti, itu karena aba yang selalu bersujud kepada Allah, untuk menjaga dan melindungi saya." Dan jatuhlah titik-titik bening di wajah Arafka, bergulir melintasi wajah rupawan yang ia punya. Betapa rasa haru mengungkung jiwa, akan kasih sayang luar biasa dari sang aba tercinta. Kasih sayang yang tak hanya memenuhi hidupnya dengan serba kecukupan, tapi juga menuntun pada jalan kebenaran. Jalan yang menuju kasih sayang Sang Maha Rahman.

__ADS_1


Tiba masanya kemudian bu Arum terkena serangan stroke, dan mengalami kelumpuhan seluruh anggota badan, bahkan untuk berkata pun sudah tak bisa jelas melafadzkan. Sampai pada kondisi itu, bu Arum seperti baru menyadari sesuatu hal yang tak pernah ada pada dirinya, sejak dahulu, Dan yang juga tak akan bisa diberikan oleh cucu kesayangannya itu. yaitu, ia ingin mendengarkan lantunan ayat suci Alquran.


Bu Arum lalu meminta pada Arafka untuk menghadirkan seorang ustadz yang fasih mengaji. Dan kebetulan ustadz yang dimintanya datang itu adalah salah satu pengajar di Alhasyimi cabang--pesantren Alhasyimi cabang yang didirikan oleh kyai abdullah Umar--bu Arum meminta ustadz tersebut untuk membacakan ayat-ayat Alquran.


Saat ustadz yusuf tersebut melantunkan ayat Alquran dengan fasih dan lancar, sesuai makhroj dan tajwidnya, dengan suara yang indah dan lembut, bu Arum tak kuasa menahan jatuhnya air mata. bahkan Rafka yang memang ada di ruangan yang sama, yang semula sedang sibuk dengan tab nya, juga terlihat menghentikan aktivitasnya itu dan mendengarkan dengan seksama.


Ada satu hal yang dirasakan oleh pemuda tampan itu jauh di relung jiwanya. satu desir lembut yang menggemakan rasa damai dan syahdu. Satu rasa istimewa yang tak bisa dimaknai secara sempurna, dan tak bisa diungkap dengan kata, seberapa pun banyak kosakata yang dipunya. Satu rasa yang tak pernah ia dapat, dengan menghamburkan uang dari ayah dan bundanya. Juga rasa yang tak ada saat ia menaiki mobil mewah seharga miliaran rupiah. Tidak juga pada fasilitas yang serba lengkap dan hanya tinggal tunjuk kanan, dan tunjuk kiri saja. Maupun dalam hingar bingar club malam dan aroma minuman beralkohol yang sering mengisi hari-harinya. Apapalagi dari wanita-wanita cantik nan s-e-k-s-i yang senantiasa menawarkan diri kepadanya. Bahkan juga tidak dari kasih sayang ayah dan bundanya yang selagi masih ada di dunia.


Bu Arum meminta pada ustadz Yusuf untuk rutin datang tiap hari ke rumahnya, dan membacakan ayat-ayat Alquran, untuk mendukung kesembuhannya, atau untuk kelancaran menghadapi ajal, jika memang waktu itu telah tiba. meskipun tidak menolak keinginan bu Arum, akan tetapi ustadz Yusuf menyarankan, bahwa yang lebih afdhol dalam mendoakannya, adalah anak dan cucunya sendiri, dalam hal ini tentu adalah Irfan Arafka Wafdan, karena Pak Himawan putra tunggal bu Arum sudah lebih dulu berpulang.


"Apa yang bisa saya lakukan pada waktu itu," ujar Arafka di tengah ceritanya. "Jangankan untuk membaca satu surat Al Quran, membaca satu kalimat pun saya tidak bisa. Saya tidak bisa mengaji, saya tidak tahu caranya sholat. Saya hanya terlahir sebagai muslim, tapi saya tidak mengerti apa itu islam," lanjut Arafka dengan titik air mata yang kembali menetes, teringatkan semua peristiwa itu, berikut ketidaktahuannya dalam hal agama.


Beberapa saat kemudian, Arum meninggal dunia. Beruntungnya sebelum ajal itu datang, ia sempat memberitahu Arafka, bahwa sebenarnya pemuda itu adalah putra kandung dari seorang pengasuh pondok pesantren besar modern di Jawa Timur, tepatnya di wilayah kabupaten Situbondo. Arum juga menjelaskan perihal ayah kandung Arafka yang berkali ingin menemui putranya tapi selalu dihalang-halangi olehnya.

__ADS_1


Tentu saja pemuda tampan itu sangat terkejut mendengar fakta tentang ayah kandungnya ini. Saat itulah kemudian ia mulai merasakan hidupnya hampa dan tiada arti, tanpa nilai, tanpa makna sama sekali. Dalam kegelisahan batin yang ia rasa, Arafka kemudian mencari ustdaz Yusuf untuk bertanya banyak hal. Terutama karena ia ingin merasakan kembali rasa sejuk di jiwa saat mendengar ustadz Yusuf mengaji dulu, waktu bu Arum sakit. Dan keinginan untuk kembali bisa merasakan rasa indah itu, lebih besar dari pada keinginanya untuk bertemu dengan sang ayah kandung.


Saat ustadz Yusuf mulai mengajarinya sholat dan mengaji, Rafka meninggalkan semua kehidupan lamanya, dan betul-betul menekuni pelajaran baru tersebut. Ustadz Yusuf yang sebenarnya memang ditugaskan oleh syaikhona untuk memantau arafka itu, mulai mengarahkan pemuda tampan tersebut untuk mau menemui gurunya, yakni kyai pengasuh Alhasyimi, jika memang ingin bersungguh-sungguh belajar ilmu agama.


Mula-Mula pemuda tampan itu menolak karena merasa malu dan takut, namun secara pelan-pelan dan sabar, ustadz YUsuf terus mengarahkan Arafka yang pada saat itu belum tahu bahwa guru yang dimaksud oleh ustadz Yusuf itu adalah ayah kandungnya sendiri. Hingga suatu ketika, Arafka sendiri yang bertanya pada sang ustadz apakah ia kenal dengan seorang kyai pemilik pondok pesantren ternama di Jawa Timur, bernama Kyai Abdullah Umar Hasyim.


Ustadz Yusuf terlonjak, dan segera ia mengakui bahwa beliau itu adalah gurunya. Ustadz Yusuf adalah alumni Alhasyimi, di mana kyai Abdullah Umar sebagai pengasuhnya. Tak hanya itu, ustadz Yusuf pun mengajak Arafka untuk bertemu dengan sang kyai.


Maka atas izin Allah, terjadilah pertemuan antara aba dengan putranya, setelah 21 tahun berlalu. Pertemuan yang mengharu biru itu terjadi di masjid jami' Al-Irsyad, cabang Alhasyimi, yang terletak di Badung-Bali.


Pertemuan yang sangat membahagiakan bagi seorang Arafka, karena ia tak hanya bertemu dengan sosok ayah kandungnya, tapi terlebih lagi, bertemu dengan sosok guru yang mulai membimbingnya satu demi satu, langkah demi langkah. dengan penuh kasih sayang, syaikhona membangunkan jiwa Arafka dan menanamkan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan dalam diri putranya.


Tanpa kesulitan, Arafka dapat menyerap semuanya dengan cepat, karena sejatinya pintu hidayah untuk pemuda itu sudah terbuka, dari doa sujud yang selalu dilazimkan oleh kyai untuk sang buah hati.

__ADS_1


__ADS_2