
"Wahh!" Adli langsung berdecak saat melihat kedatangan Arafka. Pemuda itu kali ini mengenakan pakaian lengkap sebagai atribut santri. Dari mulai pakai kain sarung, baju koko, dan juga peci. Beda dengan biasanya, tiap kali ia datang ke rumah sakit.
"mau sholat jum'at nih, Pak?" ledek Adli sambil tertawa gelak-gelak. Sedangkan yang lain hanya senyum-senyum saja.
"Gak usah ngeledek," sahut Arafka ringan.
"Tumben nih gak kayak biasanya. Ada apa?" lanjut Adli masih dengan mode bercanda.
"Udah kayak ustadz belum?" tanya Arafka dengan maksud bercanda juga.
"Belum. Pakai kopyah, tapi itu rambutnya di depan masih ada yg kelihatan," sahut Nizam.
"Memang gak ada tampang jadi uatadz ya, Mas." Arafka berkata demikian sambil tertawa renyah. Ekspresi wajahnya terkihat lepas, tak ada beban. Padahal nanti ba'da dhuhur, ia harus menghadap Kyai Fadholi, untuk menuntaskan masalahnya dengan Masayu. Mungkinkah pemuda tampan itu sudah mendapatkan sesuatu?
"Tapi bagus kok mas, dengan penampilan kayak gitu," celetuk Zaskia sambil tersenyum. Ia mengemukakan penilaiannya tentang penampilan pemuda tampan itu yang menurut Zaskia terlihat lebih sesuatu. Hal mana membuat beberapa orang di antara mereka tersenyum-senyum menggoda.
"Terima kasih, Ning," sahut Arafka sambil membalas senyum. Mendapatkan senyum dari Arafka, Zaskia bukannya menikmati pesonanya. Tapi gadis itu buru-buru menunduk, karena adanya gemuruh dalam jiwa.
Dua orang ini bila disandingkan memang cocok sekali. Zaskia yang sangat cantik dan Arafka yang sangat tampan. Itu, jika menilai kecocokan di antara dua orang hanya dari tampang.
"Sudah lama di sini, Mas? tanya Rafka pada Nizam dan Azmi. Mereka hari ini kembali berkumpul di rumah sakit untuk kepulangan Davina kembali ke yayasan. Azmi dan Nizam selaku pengurus di area studio alam Al-Badar, yang otomatis juga punya wewenang pada seluruh siswi KM tingkat 3 yang sementara ini wismanya ada di sana. Sedangkan Arafka, sebagai orang yang bertanggung jawab atas perawatan Davina. Dan Adli, adalah solidaritas kepada seorang teman, tentunya.
"Hampir satu jam kami menunggu dek Rafka," jawab Nizam.
"Kalau begitu, Maafkan, Mas."
"Kamu kemana saja, Rafka. Kok lama sekali?" tanya Adli.
"Masih ada tamu tak diundang barusan," selanjutnya pemuda itu mengalihkan tatapan pada Davina. "Saya sudah dari bagian administrasi, mengurus semuanya," katanya.
"Artinya, saya jadi pulang sekarang ya, Dek?"
__ADS_1
"Iya, Mbak. Tinggal tunggu dokternya, gak sampek setengah jam katanya."
"Alhamdulillah, terima kasih untuk semuanya, Dek," kata Davina seraya menatukan tangan di depan dada.
"Sama, Mbak. Saya juga mohon maaf untuk semuanya," sahut pemuda itu dengan keramahan yang sama.
Selanjutnya, tiga orang teman-teman dekat Davina itu pun mulai berkemas, setelah barusan datang perawat melepaskan infus dan memberitahukan untuk menunggu kunjungan dokter sebentar lagi, guna mendapatkan resep obat.
Zaskia terlihat gelisah, meski tangannya sibuk membantu yang lain juga, namun sesekali ia melirik ke arah Arafka dengan ujung mata. Pemuda tampan yang sesekali diam, dan sesekali pula berbincang dengan teman-temannya itu mungkin tak menyadari hal ini. Hingga gadis cantik tersebut tak kuasa untuk terus memendam semua gejolak rasa itu lebih lama lagi. Ia pun memutuskan untuk bertanya saja pada Arafka terkait apa yang sangat menjadi kegelisahan dan tanda tanya dalam dirinya.
"Bagaimana soal nanti, Mas Rafka?"
Mendapat pertanyaan demikian, Arafka terlihat menarik napasnya samar. Ia seperti diingatkan pada satu hal yang sebenarnya sangatlah jadi beban pikiran. Dan pertanyaan dari Zaskia ini, sebenarnya menjadi pertanyaan dari rekan-rekan Arafka yang lain juga. Hingga mereka jadi sama-sama menatap pada pemuda tampan itu, karena menanti jawaban yang sama.
Nanti, selepas waktu duhur, pemuda itu harus menghadap Kyai Fadholi--ayah Zaskia--selaku pengasuh Al-Hasyimi cabang, untuk menyelesaikan permasalahannya dengan Masayu. Karena nanti siang adalah batas waktu yang diberikan oleh Kyai untuk Arafka mengajukan bukti ataupun saksi yang menyatakan kalau dirinya tak bersalah dan bebas dari semua tuntutan. Atau, mengakui semua kesalahan yang dituduhkan oleh Masayu dan harus menikah dengan gadis tersebut.
Setelah jawabannya dinantikan oleh hampir semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut, Arafka, justru memberikan jawaban hanya dengan menggeleng perlahan.
"Maksudnya, Mas?" tanya Zaskia.
"Yakin, Dek?" tanya Nizam dengan raut wajah menyayangkan.
"Iya, Mas."
Pasrah seringkali menjadi pilihan terakhir, ketika semua usaha yang telah dilakukan tidak membuahkan hasil. Pasrah yang dimaksud adalah ketika merasa sudah tak mampu lagi untuk melakukan daya upaya, maka memasrahkan segala apa yang akan terjadi ke depannya, sering menjadi pilihan akhirnya.
Namun, pasrah secara benar pada kekusaaan dan kekuatan Allah, atau yang disebut tawakkal, adalah mengandung kekuatan besar, dan pilihan paling benar. ketika semua usaha dan doa telah dilakukan, maka yang terakhir memang harus dipasrahkan. Pasrah pada ketentuan Takdir yang telah digariskan. Karena atas semua hal yang sudah terjadi, sedang terjadi dan akan terjadi, lebih dulu telah berlaku ketentuan dari Sang Maha Rahman.
Entahlah, pasrah yang dimaksud oleh Arafka itu, termasuk golongan pasrah di bagian pertama, atau yang kedua. Yang jelas raut wajah pemuda tampan itu terlihat tenang saat mengatakan demikian.
"Saya gak punya bukti apa-apa, kecuali keyakinan saya sendiri, dan dukungan dari teman-teman yang percaya bahwa saya tidak bersalah. Apa ini cukup?"
__ADS_1
"Apa gak ada jalan lagi?" tanya Adli. Di titik waktu yang sudah kurang beberapa jam lagi itu, ia berharap bakal ada keajaiban, yang akan menyelamatkan.
"Ada," sahut Arafka cepat.
"Apa?" Adli pun bertanya dengan tak kalah cepat.
"Jika kau mau menggantikan aku, untuk menikah dengan Masayu," sahut pemuda itu sambil tersenyum.
"Rafka, kau malah bercanda. Padahal aku serius. Kepalaku ini lho pusing bila memikirkan hal ini," gerutu Adli.
"Maaf, Adli. Aku hanya berusaha menghibur diri sendiri."
Semua paham apa maksud jawaban dari Arafka ini.
"Bagaimana kalau kita ajukan saksi," usul Adli kemudian, dan pemuda itu malah sedikit terlonjak dengan idenya sendiri.
"Saksi apa?" tanya Nizam.
"Saksi fiktif." Adli mengecilkan suara, karena ia tahu kalau jawaban ini akan mendatangkan reaksi tak biasa dari semuanya.
Dan benar saja, atas hal itu, Azmi segera berkata, "Tidak. Untuk membuktikan sebuah kebenaran, jangan pakai kebohongan."
Adli hanya cengengesan. Ia tahu kalau seharusnya ia diam, dari pada hanya mengajukan ketidakbenaran. Namun, di atas semuanya ia merasa sangat peduli akan nasib sang teman.
"Sebenarnya barusan ada yang datang ke rumah, dan dia menawarkan bantuan," kata Arafka saat semua diam dan sama-sama berpikir keras untuk bisa membantu pemuda tampan itu.
"Bantuan apa, Dek?" tanya Azmi.
"Untuk menjelaskan semua masalah ini. Katanya dia tahu semuanya, dan dia punya buktinya."
"Bagus, kalau ternyata ada yang punya bukti, siapa dia dek?" Nizam bereaksi lebih cepat dari pada teman-temannya yang lain.
__ADS_1
"Santri Alhasyimi cabang juga. Orangnya tinggi dan pakai kaca mata minus. Namanya Farah, Farah ..." Arafka terlihat masih mengingat-ingat nama panjang tamu tak diundang yang barusan datang ke rumahnya.
"Farah Adela," celetuk Zaskia.