Bertaruh Cinta Di Atas Takdir

Bertaruh Cinta Di Atas Takdir
46 Milik Publik Bukan Milik Perseorangan


__ADS_3

"Punyaku gak jelas, jaraknya terlalu jauh," kata Asiah seraya memerlihatkan rekaman tampilan Albadar barusan di layar ponselnya.


"Aku nih yang beruntung, lihat!" Husna dengan semangat memperlihatkan hasil bidikan kamera phonennya pada Amira yang lalu berseru,


"Haa mas Rafka!"


"Mana, mana, aku mau liat." Asiah dan Fadilah pun segera melihat ke layar ponsel Husna itu.


"ya Allah kok ganteng banget sih manusia yang satu ini!" seru Fadilah.


"Pas banget kamu bidikannya, Na," kata Asiah.


"Iya, dong, Husna." Gadis itu tersenyum jumawa.


"Sumpah deh, mas Rafka tampan badai." Amira kembali menyuarakan kekagumannya seraya melihat gambar seorang pemuda yang berdiri memetik gitar, tatapannya mengarah ke depan dan bibirnya menyungging senyuman menawan, tampan sekali.


"Sudah cukup!" Husna menarik ponselnya lagi.


"Kirim gambarnya padaku, Na!" pinta Amira.


" Iya aku juga," timpal Fadila


"Asiah mau juga?" Husna menawarkan.


"Iya lah pasti," sahut Asiah.


"Bayar!" Husna menadahkan tangan kanannya sambil cengengesan.


"Ihh." ketiga temannya pun kompak memukul pundaknya.


"Na, kau 'kan ngefansnya sama mas Azmi, bukan mas Rafka. Jadi untuk apa kau menyimpan fotonya? Sini kirimkan saja pada kita," kata Fadila.


"Memang iya, aku ngefans sama mas Azmi, tapi bukan berarti jantungku gak deg degan juga melihat gantengnya mas Rafka, plus senyumannya yang menawan itu," kata Husna sambil cengar cengir.


"Eh sumpah, mas Rafka itu hakku lho," kata Amira sambil berusaha merebut ponselnya Husna.


"Sembarangan, Rafka itu milik publik bukan milik perseorangan," kata Fadila.


Mendengar ucapan itu, untuk kesekian kalinya, Nabila Alia saling pandang dengan Davina, sedangkan Zaskia menoleh ke arah Meidina Shafa yang menyandarkan kepalanya di tiang bangunan madrasah itu seraya mengatupkan matanya rapat.


"Pusing ya, Mbak?" Tanya Zaskia. Meidina tersenyum sambil mengangguk.


Sementara rebutan foto Arafka di antara ke empat gadis yang duduk tak jauh dari mereka itu, terus berlanjut. "Ayo, Na kirim!" Amira sedikit memaksa Husna untuk mengirimkan fotonya Arafka itu ke ponsel miliknya.


"Iya, iya, tunggu," sahut Husna dan ia mulai menscrol layar ponselnya itu beberapa kali.


"Ngefans sama Albadar ya?" Akhirnya Nabila membuka suara ke arah empat orang gadis yang telah membuat obrolan Nabila bersama teman-temannya terganggu, sebab keempat gadis itu cukup rusuh memperebutkan foto Arafka. Husna yang berhasil membidik tepat Arafka dengan kamera phonenya pada penampilan Albadar barusan di kediaman kyai Sholih itu, diserang oleh teman-temannya, agar berbagi foto pemuda tampan tersebut dengan mereka semua.

__ADS_1


"Iya, mbak-mbak ini dari Alhasyimi ya, pasti kenal kan dengan personel Albadar?" tanya Fadila.


"Iya," sahut Nabila singkat.


"Bisa kirim salam, gak, buat mas Rafka?" tanya Amira cepat.


"Salam apa?" Nabila jadi balik tanya.


"Salam dari seseorang yang diciptakan dari tulang rusuknya, gitu," jawab Amira sambil cengengesan.


"Ciee." Ketiga temannya itu pun kompak memukul pundaknya. Sementara Nabila hanya saling tatap dengan Davina seraya tersenyum.


"Eh jangan bilang gitu, Amira. Mana tau, mas Rafka itu di Alhasyimi sudah punya pacar." Asia memperingatkan Amira.


"Bener, gak kalau mas Rafka sudah punya pacar, kalian pasti tau." Fadila yang bertanya pada ke empat siswi KM itu.


"Setau kami bukan punya pacar, tapi sudah bertunangan," sahut Zaskia.


"Ah gak mungkin. Mas Rafka masih muda gitu, masa sudah punya tunangan," tepis Amira.


"Beneran, mas Rafka sudah punya tunangan?" tanya Fadila lagi ke arah Zaskia. Dan pertanyaan ini mendapat anggukan secara bersamaan dari Zaskia, Nabila dan Davina.


"Ya, harus siap-siap patah hati nih," ledek Asia dengan wajah ditekuk.


"Ini bakal mengulang cerita, patah hati se-Indonesia Raya," celetuk Husna.


"Itu kan hanya katamu," sahut Husna dan Asia bersamaan.


"Eh Husna itu kayak mas Azmi deh!" tunjuk Fadila ke satu arah. Dan bukan hanya Husna saja yang menatap ke arah tersebut, tapi juga Zaskia dan Nabila. Dan memang benar, Azmi sedang berjalan dengan ustad Widad hendak melintasi madrasah tempat mereka duduk saat ini. Nabila segera bangkit dari duduknya dan memanggil.


"Mas Widad!"


Kedua pemuda itu sama-sama menoleh, dan sesaat mereka terlihat heran, lalu segera menghampiri. "Kok ada di sini?" tanya Widad. Pasalnya ini adalah pesantren Nuris, yang dikelola oleh kyai Sholih, pesantren ini berjarak 7Km dari Alhasyimi.


"Iya, kami menghadiri undangan," sahut Nabila.


"Cuma berempat?" Azmi yang bertanya.


"Iya."


"Sudah sowan Nyai Wardah?"


"Sudah, Mas. Kami nyampek ke sini pas Albadar dapat tiga lagu tadi. Kami sudah mau pulang, tapi mobilnya gak bisa keluar," terang Nabila.


"Gak bisa keluar gimana?" tanya Widad heran.


"Itu, Mas!" tunjuk Nabila pada sebuah mobil super carry yang parkir di ujung, sedangkan di samping dan dibelakangnya banyak berderet mobil-mobil dari tamunya kyai sholih. Halaman madrasah Nuris itu kali ini memang tersulap menjadi lahan parkir untuk tamu undangan yang menghadiri acara hajatan di kediaman kyai Sholih tersebut.

__ADS_1


"Sama dengan mereka!" tunjuk Nabila pada Amira dan teman-temannya. "Mereka dari Annur, dan mobilnya juga gak bisa keluar."


"Bagaimana ya Ustad, sebelum Maghrib kita sudah harus tiba di Alhasyimi. Sekarang sudah jam empat," kata Davina.


Terlihat ustad Widad diam berpikir. "Mobil kita sudah penuh ya, Azmi?" tanyannya pada Azmi.


"Iya, tapi gak papa diroling ustad. Biar saya dan yang lain pakai mobil carry itu. Mereka bisa pulang lebih dulu dengan mobil Albadar," putus pemuda itu dengan cepat. Widad mengangguk setuju dengan keputusan dari Azmi itu. Namun,


"Jangan mas Azmi! Iya jennengan sama ustad Widad gak papa, tapi bagaimana dengan crew Albadar yang lain," sahut Zaskia, dan semuanya setuju dengan pendapat gadis cantik itu.


"Iya, ning Zaskia benar. Biar sudah kami tetap nunggu mobilnya. Kalau kita terlambat sampai di Alhasyimi, mohon kesaksiannya ya Mas Widad, kalau kami ada masalah begini, bukan niat gak patuh sama peraturan," kata Nabila sambil menatap widad yang memang merupakan salah satu pengajar KM itu.


Ustad tampan itu tersenyum sambil mengangguk, dan tatapannya kemudian berlabuh pada Meidina yang duduk diam saja dengan wajah pucat.


"Meidina kenapa?"


"Meidina sakit, Ustad," jawab Davina.


"Sakit?" Widad jadi saling pandang dengan Azmi.


"Rencananya dari sini kami mau ke dokter dulu, mengantarkan Meidina sebelum pulang ke Alhasyimi. Malah ada hambatan kayak gini," terang Davina lagi.


"Saya akan coba cari celah ya, Mas. Siapa tahu mobilnya bisa keluar." Azmi sangat terpanggil untuk mencarikan solusi. Dan iktikad baiknya ini segera disetujui oleh ustadz Widad. Namun, baru saja Azmi hendak berlalu, terlihat sebuah mobil berhenti di dekat mereka. Pengemudinya seorang pemuda sebaya Azmi gegas turun dengan tergesa. Di susul oleh seorang pria baya yang dilihat dari penampilannya, dan raut wajahnya, sepertinya beliau seorang kyai. Dan bersamanya, berjalan seorang gadis muda cantik, yang memakai hijab warna jingga. Mereka semua sama-sama berjalan ke teras madrasah di mana para muda-mudi santri itu tengah berkumpul di sana.


"Assalamaualaikum." Pemuda itu berucap salam lebih dulu.


"Waalaikumsalam Warahmatulloh." Hampir semua menjawab salamnya dengan serempak.


"Saya Rahman Azizi. Beliau ini ayah saya, dan ini adik saya." Pemuda itu memperkenalkan orang-orang yang bersamanya. Sebagaimana ramah tamah dalam pergaulan, tak lupa pula dengan saling bersalaman. Antara yang pria dengan sesamanya, pun sebaliknya.


"Maaf, Mas kalau tidak salah, smean grup sholawat Albadar ya?" Rahman mengarahkan tanya hanya kepada Azmi saja.


"Iya, benar," jawab Azmi.


"Apa benar, gitaris melody Albadar itu bernama Irfan?" tanya Rahman lagi.


"Namanya Arafka. Nama panjangnya memang Irfan Arafka Wafdan," sahut Azmi.


"Alhamdulillah." Azizi berucap senang. Bahkan kemudian ia menoleh pada abahnya. "Benar dia Aba."


"Nak, minta tolong, bagaimana caranya bertemu dengan Nak Irfan itu, kami sekeluarga ada keperluan yang sangat penting dengannya." Kali ini berucap bukan lagi Rahman, tapi kyai Tamim, abahnya Rahman Azizi.


"Iya, Mas. Kami sangat minta tolong," timpal Rahman.


Azmi menatap ustad Widad. "Kira-kira dek Rafka sudah pulang belum ya, Ustad?"


"Tidak tahu juga. Barusan bilangnya mau langsung pulang. Tapi coba saja ditelepon," usul Widad.

__ADS_1


"Iya, Mas. Minta tolong ditelephon, Mas. Kami mohon." Rahman Azizi sampai menyatukan tangan di depan dada. Azmi mengangguk, sementara hatinya bertanya-tanya siapakah Rahman sekeluarga ini. Mengapa terlihat sangat berhajat untuk bertemu dengan Arafka.


__ADS_2