Bertaruh Cinta Di Atas Takdir

Bertaruh Cinta Di Atas Takdir
28 Pertemuan


__ADS_3

"Meidina Shafa!" Nabila, Zaskia dan Davina kompak memanggil.


Meidina yang baru turun dari panggung, dengan memegang piala penghargaan dan masih berswafoto dengan rekan-rekan sesama peserta lomba itu menoleh. Ketiga temannya itu kompak melambaikan tangan. Tentu saja Meidina segera menghampiri.


Davina langsung menyambutnya dengan pelukan hangat. "Kamu menang, Meidina. Kamu jadi juara satu," ujarnya dengan tatap mata berbinar.


"Selamat ya, Mbak." Zaskia pun merangkulnya.


"Kami sangat senang dan sangat bersyukur sekali dengan kemenanganmu ini, Meidina." Nabila juga mengungkapkan rasa bahagianya. Ke-empat siswi kulliyatul muallimin tingkat tiga itu saling berpeluk haru dengan rasa bahagia masing-masing di tengah lalu lalang orang-orang yang mulai meninggalkan tempat itu, karena memang acara telah usai dan ditutup dengan doa bersama barusan.


"Kita fhoto bersama yuk, untuk mengabadikan ini semua," usul Zaskia.


"Iya, boleh. Yuk." Nabila menjawab dengan antusias dan disetujui pula oleh yang lain. "Tapi lebih bagus kalau ada yang fotoin, siapa ya," lanjut gadis itu lagi.


"Aku cari bantuan dulu, Mbak." Zaskia segera celingak-celinguk berharap di antara santri yang lalu lalang ada yang ia kenal, untuk dimintai bantuan. Sekian waktu tak mendapatkan apa-apa, yang ada malah ia menubruk orang yang sedang melintas. "Aduh, maaf kak, gak sengaja," kata Zaskia. Biasa di antara sesama santri, akan memanggil mbak pada santri putri, dan memanggil kakak pada santri putra.


"Mas Rafka." Dan Zaskia mejadi kaget juga, saat tahu kalau santri putra yang ditubruknya itu adalah Arafka.


"Maaf ya, Mas." Zaskia mengulang kata maafnya dengan perasaan tak nyaman. Arafka hanya mengangguk singkat dan tersenyum sekilas. Lalu kembali hendak bergegas. Namun,


"Bisa minta bantuannya, Mas?" tanya Zaskia tiba-tiba. Sepertinya itu adalah permintaan yang spontanitas. Karena setelah kalimat itu terucap, Zaskia seperti kaget sendiri dengan ucapannya. Dan buru-buru ingin meralat. Tapi,


"Bantuan apa, Ning?" Arafka menghentikan langkahnya, yang sepertinya sedang tergesa itu.


"Minta tolong fotoin kami berempat, Mas. Kalau gak merepotkan," kata gadis itu sambil tersenyum ramah.


Arafka mengangguk kecil. "Mana ponselnya," pintanya langsung.


Setelah memberikan ponsel miliknya, Zaskia segera bergabung dengan tiga orang temannya yang lain. Mereka berdiri merapat dengan memosisikan Meidina di tengah. Arafka hanya menjepret sekali saja, lalu memerhatikan hasil fotonya.


"Kenapa, Mas? tanya Zaskia yang melihat raut wajah Arafka seperti kurang suka.


"Gelap, Ning. Kurang jelas." Jawabnya.


"Mungkin udah kwalitas ponselnya kayak gitu," Kata Zaskia pelan.


"Pakai ponselnya dek Rafka saja, nanti hasilnya kirim ke kita," celetuk Nabila.


Dan terlihat pemuda tampan itu segera meraih Iphone canggihnya dari dalam saku. Mengaktifkan fitur kamera dan segera beraksi. Entah berapa kali ia mengambil gambar, tak ada yang sadar. Sampai pemuda itu mengatakan.


"Saya kirimkan fotonya ke Ning Zaskia ya."


"Iya, Mas," sahut Zaskia senang.

__ADS_1


"Berapa nomornya, Ning?"


"Ee, yang dulu gak disimpan ya, Mas?" tanya Zaskia dengan tatap penuh harap. Saat membantu Rafka mendapatkan video dari Farah, keduanya sempat saling tukar nomor. Dan Zaskia menyimpan dengan rapi nomor pemuda tampan itu di ponselnya. Sedangkan Arafka?


"Tidak," jawabnya singkat.


Zaskia tersamar menghela napas kecewa. Dari hal ini saja, ia dapat menyimpulkan, kalau dirinya bagi Arafka bukanlah sesuatu yang masuk kategori "tak biasa" apalagi "Luar Biasa". Dan gadis itu pun menyebutkan nomornya. Lalu dalam sekejap beberapa fhoto terkirim ke ponselnya dari Iphone Arafka.


Setelahnya, dan dengan tanpa kata pemuda tampan itu segera hendak berlalu dari sana.


"Terima kasih, Mas," kata Zaskia. Terlihat Arafka hanya mengangguk saja.


"Terburu-buru ya, Dek?" tanya Davina.


"Iya, ditimbali Syaikhona," sahutnya dan segera membawa tubuh tegapnya untuk berlalu.


"Ya, Allah. Jadi kita sudah menghalang-halangi mas Rafka untuk segera memenuhi panggilan dari Syaikhona ya," kata Zaskia terlonjak, dan raut wajahnya langsung terlihat tak nyaman.


"Dia pasti gak enak buat nolak permintaanmu, Ning," sahut Nabila.


"Jadi tambah gak enak," ujar Zaskia seraya menatap ke arah kepergian Arafka.


"Dienakin aja, toh Arafkanya terlihat fine-fine saja tuh." Davina menepuk pundak Zaskia, ia paham kalau dalam diri gadis cantik itu, selalu ada rasa yang lebih, dan perhatian yang berlebih untuk Arafka Wafdan.


"Jadi kita pulang ke wisma jalan kaki?" Pertanyaan Nabila ini segera membuyarkan suasana sendu dalam hati Zaskia akibat peristiwa barusan.


"Tapi, apa, Mbak Meidina gak capek kalau jalan kaki?" Zaskia melayangkan pandang pada Madina Shafa yang hanya lebih banyak diam itu.


Gadis ayu itu tersenyum. "Ayo kita jalan kaki." Dan ia segera mengayun langkah mendahului. Keempat gadis cantik itu harus memutari gedung auditorium dulu untuk sampai ke halaman utama pesantren. Ada canda tawa yang mengiringi setiap langkah. Ada cerita yang diakhiri dengan tawa. Ada kisah yang satu sama lain antusias mendengarnya. Hingga jarak tempuh dengan jalan kaki untuk sampai ke halaman utama pesantren yang tak hanya membutuhkan waktu sepuluh menit itu, jadi berlalu tanpa terasa.


Tak hanya itu, keasyikan mereka berempat juga mengabaikan beberapa santri yang juga berlalu lalang di jalan yang sama. Juga meniadakan beberapa orang yang mungkin akan menghampiri mereka. Termasuk dengan seseorang yang melangkah mendekat, yang juga tak mereka lihat. Hingga salam yang terucap, membuat mereka sama-sama terdongak, dan sama-sama menghentikan gerak.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam warahmah ..."


Pasca menjawab salam yang diucapkannya, mereka terdiam dengan seketika. Entah itu diam terpana, atau diam karena terpesona. Dan bisa jadi adalah diam karena keduanya.


Lalu siapakah yang datang?


Siapakah yang memberi salam?


Seorang pemuda berwajah tampan, yang membalut tubuh tinggi proporsionalnya dengan baju koko warna hitam. Kopyah putih yang menutupi mahkotanya, tersulam benang warna emas. Dan kain sarung yang digunakannya, melambai lembut diterpa angin yang landai. Tatapannya nampak tenang, seiring senyumnya yang terkembang menawan. Sesosok tampan yang memancarkan kharisma cukup dalam.

__ADS_1


"Meidina Shafa, selamat ya, sudah berhasil menjadi juara." Ucapan pemuda tampan itu hanya tertuju ke Meidina Shafa saja. Dan semua juga tak bisa menafikan kalau pandangan lembut si tampan itu juga hanya tertuju pada Meidina seorang.


"Ajunan?" Sedang Meidina, yang diajaknya bicara, masih belum lepas dari kekagetan. Hingga ia hanya mampu bersuara demikian.


Gadis itu masih merasa tak percaya, masih ingin mengingkarinya. Tapi, pemuda itu nyata berdiri di depan mata. Dan tak hanya Meidina saja yang dapat melihatnya. Begitu pun dengan tiga orang temannya yang lain. Hal itu terpancar dari raut wajah mereka yang juga mengumpulkan tatapan pada objek yang sama.


"Meidina." Pemuda itu menarik Meidina pulang dari kelananya yang cukup panjang. Panggilannya mengalihkan semua perhatian gadis ayu itu dari hal yang lainnya. Seperti pula hadirnya selama ini, yang sudah cukup mengalihkan dunianya.


Meidina menatapnya penuh tanya. Selaksa kata tanya yang hanya dirangkum dalam tatap mata. Tak ada kata sebagai penyerta.


"Iya, ini saya. Rayyan Ali Fattan." Dan pemuda itu menjawab tanya tanpa kata dari gadis ayu di depannya.


Mendengarnya, Nabila dan Zaskia saling pandang, sama-sama menampakkan ekspresi paham. Sementara Davina tampak tersenyum dan segera mengalihkan pandangan.


Sepertinya kini Meidina harus mengakui kalau apa yang dilihatnya itu memang nyata. Pemuda tampan yang sangat dirindukan itu kini ada di hadapannya. Di Alhasyimi juga. Namun demikian, belum ada kata yang dapat ia ucapkan. Hingga kemudian ia menunduk dengan sepasang mata yang berkaca-kaca.


"Ka-kapan jennengan tiba, Ra?" Akhirnya, ada bahasa yang terucap juga dari Meidina Shafa, setelah begitu terkejut akan datangnya Ra Fattan yang tiba-tiba, sanggup membuatnya bungkam tanpa suara.


"Satu jam sebelum kamu menerima penghargaan." Ra Fattan mengucap itu dengan senyum. Dan sebuah doa berbahasa arab ia hadiahkan untuk Meidina. "La'llallaaha Yarhamuki."


"Amiin Ya Rabb," sambut Meidina dengan khusyu. "Ra, ini teman-teman terbaik saya." Akhirnya Meidina teringat untuk mengenalkan Zaskia dan Nabila.


Keduanya pun mendapatkan senyuman ramah dari Fattan. Sebelum pemuda itu menyapa Davina dengan pertanyaan.


"Apa kabar, Davina?"


"Baik, Ra. Alhamdulillah," sahut gadis manis itu, meski sejenak ia sempat tergagu. Namun, Davina adalah sosok yang lembut dan teguh. Ia tak akan membiarkan dirinya terjajah oleh perasaan. Ia kukuh membangun ketegarannya, meski mungkin jiwanya rapuh. "Jennengan sendiri, apa kabarnya?" Ia mampu membalik pertanyaan, agar komunikasi yang ada terkesan akrab. Utamanya untuk menunjukkan pada Meidina, bahwa antara dirinya dan Ra Fattan, memang tidak ada apa-apa.


"Aku juga baik ... katanya, beberapa saat lalu kamu mengalami kecelakaan?"


"Iya, benar. Ra," sahut Davina sambil tersenyum.


"Oh ya, selamat ya Ra, sudah lulus ujian." Davina bahkan berkata dengan nada lebih akrab lagi.


"Terima kasih. Meidina ya yang memberitahumu?" tebak Ra Fattan.


"Bu Nyai yang memberitahu Davina, Ra," celetuk Meidina.


"Ooh, Umi." Hanya itu tanggapan dari Ra Fattan.


"Kemarin juga, bu nyai sempat berkunjung kesini menjenguk Davina," lanjut Meidina.


"Bukan hanya menjenguk saya Ra. Tapi menjenguk kami berdua tepatnya," timpal Davina, meralat apa yang dicetuskan oleh Meidina.

__ADS_1


Ra Fattan kali ini tak berkata apa-apa, ia hanya menatap Meidina dengan tatapan lembutnya. Membuat gadis itu menundukkan wajahnya.


"Meidina, kamu tidak tanya, kenapa saya ada di sini sekarang?"


__ADS_2