Bertaruh Cinta Di Atas Takdir

Bertaruh Cinta Di Atas Takdir
39 Saya Akan Melamar Kamu


__ADS_3

"kau kenapa, Din?" Davina bertanya pelan seraya menyentuh tangan Meidina. Gadis ayu itu tersenyum.


"Sepertinya untuk pertemuan kali ini, cukup dulu." Ia alihkan pembicaraan pada perannya sebagai ketua BES dengan cepat. Atas keputusannya ini semua mengangguk patuh dan mulai menutup bukunya masing-masing.


Meidina menoleh pada Davina yang tetap menunggu jawabannya darinya. Meidina tersenyum. "Kau pasti sudah dapat menebak, apa yang bakal jadi jawabanku," ujarnya.


"Apa?" Davina justru kebingungan sendiri.


"Aku baik-baik saja. Tak ada yang perlu dikawatirkan."' Meidina mengucapkan hal itu dengan sangat santai.


Pandai sekali ia menyembunyikan perasaan, atau lebih tepatnya pandai sekali memanipulasi keadaan. Padahal semut pun juga tahu kalau dia tidak sedang baik-baik saja. Terbukti dari air matanya yang berlinangan, jatuh berderai tanpa suara. Tak akan mungkin air mata itu datang bertandang, kalau tidak diundang. Diundang oleh rasa pilu yang merejam jiwa. Ketika rasa pilu tak bisa lagi diungkapkan dengan kata, dan tak bisa dibahasakan dengan sempurna, Maka di sanalah air mata mengambil perannya.


Tapi, kalau memang Meidina memilih untuk menutup bahasa, dan enggan bercerita, maka yang lain bisa apa? "Meidina. Kau tahu dengan pasti, kita semua ini bukan hanya temanmu, tapi juga saudaramu." Nabila hanya mampu mengatakan hal ini, bahwa kapan pun dan di manapun, mereka siap menjadi pendengar, jika Meidina mau bercerita. Siap jadi penopang, jika gadis itu merasa lemah dan lelah. Semua itu dimaksudkan agar gadis ayu itu tak canggung untuk bebagi segenap keresahannya.


"Syukron. keberadaan kalian dalam hidupku, adalah anugerah yang tak ternilai." Demikian ucapan Meidina, sepertinya ia memang telah memutuskan untuk tak akan pernah mengatakan hal apa yang telah terjadi dan menjadi sumber jatuhnya air matanya. Hal ini hanya bisa membuat Davina dan Nabila saling pandang, namun lalu mereka bertiga sama-sama bangkit keluar dari aula, mengiringi Meidina yang telah mengayun langkah lebih dahulu.


"Davina titip ini ya." Meidina menyerahkan beberapa buku dan ponselnya. "Aku mau ke kamar kecil sebentar." Dan gadis ayu itu segera berlalu.


"Kita harus menghargai, kalau memang Meidina belum mau bercerita," kata Nabila seraya memandangi sosok Meidina yang semakin menjauhi.


"Iya," sahut Davina pelan.


"Sebenarnya banyak hal yang harus kita bicarakan dengannya terkait jadwal kita pasca ujian ini. karena saat itu dia sudah menikah, tentunya ada beberapa jadwal yang harus kita rubah," kata Nabila. Zaskia langsung menunduk mendengar hal itu. Sedangkan Davina terlihat menghela napasnya.


"Entahlah, Nabila. Yang aku tau pasti, Meidina sangat ingin menuntaskan semua rangkaian pembelajaran di sini, tapi bila dia harus menikah dalam waktu dekat, apa semua itu bisa terlaksana?" Davina berucap pelan.


"Pasti begitu banyak beban pikirannya saat ini. yang membuatnya jadi lebih memilih diam." Nabila mencoba membaca dari sudut pandang Meidina Shafa.


Sedangkan Meidina sendiri, gadis itu sebenarnya tak berminat sama sekali ke kamar mandi. Ia hanya ingin menuntaskan tangisannya yang sempat tertunda karena ketahuan teman-temannya. Ihwal kejadiannya adalah, saat semua sibuk dengan pembagian tugas masing-masing untuk menambah referensi dari para ahli dengan disiplin ilmu masing-masing sesuai materi, Meidina juga ambil peran di dalamnya, dengan meneliti dan menelaah kembali hasil kajian yang telah disepakati sebelum masuk ke meja penyuntingan yang dilakukan langsung oleh kyai Mustofa Tamimi, selaku penanggung jawab dari karya ilmiah yang akan mereka terbitkan.


Saat itu dalam pekerjaannya ia menemukan adanya beberapa hal yang perlu ditambah dan disempurnakan. Maka terbersitlah pemikiran, kalau ia ingin minta bantuan dari Ra Fattan. Karena selama ini pemuda tampan itu memang sudah cukup banyak berperan dalam bentuk sumbangan pemikiran dari berbagai wawasan dan pengetahuan, terkait tugas Meidina sebagai ketua badan Executive santri KM, dan misi mereka menerbitkan buku dari hasil kajian Alquran yang rutin mereka lakukan.


Maka diketiklah sebuah pesan mohon bantuan yang langsung terkirim dan dalam sekejap langsung mendapatkan tanggapan.

__ADS_1


Ra, boleh saya minta tolong?


Katakan saja, Meidina. insyaAllah, saya akan selalu ada untukmu.


Dengan semangat, Meidina segera mengetik pesan tentang beberapa hal yang ingin dia tanyakan. Namun, baru tiga kalimat yang terangkai, gadis itu seperti baru disadarkan oleh sebuah kenyataan. Ada satu bisikan di sisi hatinya, yang mempertanyakan, apakah masih boleh aku berbuat demikian?


Satu pertanyaan singkat, yang membuatnya jadi terhenyak. Faktanya, cepat atau lambat, suka atau tidak, Rayyan Ali Fattan harus ia relakan pergi. Dan itu berarti ia tak hanya akan kehilangan sosok kekasih hati, tapi juga sosok sahabat yang penuh kasih dan selalu mengerti. Dan yang terpenting lagi, sosok guru yang membimbing dan menjawab segala ketidakmengertiannya dengan teliti. Begitu besar memang arti hadirnya Ra Fattan dalam hidup Meidina selama ini. Terasa lengkap dan paripurna dari berbagai segi.


Maka Teramat besarlah arti kehilangan itu ketika ia harus memaknainya secara keseluruhan. Dan teramat luka hatinya, kala menyadari, bahwa sosok seindah Rayyan Ali Fattan dalam hidupnya tak akan pernah tergantikan. Dan ketika luka itu kian menghimpit tulang, air matanya pun jatuh berderai. Itulah penyebabnya mengapa Meidina menangis tanpa kata saat rapat BES barusan.


***


Kanza Davina cukup terkejut, tatkala melangkah bersama Nabila dan Zaskia meninggalkan aula, menuju ke suatu tempat di mana Azmi sedang menunggu Zaskia di sana. Ternyata pemuda itu tak sendiri, melainkan sedang bersama ustad Widad dan Ra Fattan. Melihat keberadaan putra kyai Muhajir itu di area wisma KM, Davina merasakan jantungnya berdetak kencang.


"Nah ini yang sedang ditunggu," kata ustad Widad saat melihat ke arah mereka bertiga, tanpa menjelaskan secara khusus siapa yang menunggu, dan siapa yang ditunggu. Yang pasti, Azmi menatap ke arah Zaskia dan bertanya


"Sudah selesai rapatnya?"


"Sudah," jawab gadis cantik itu. "Maaf kalau lama nunggu,". Katanya lagi.


"Mau langsung pulang sekarang, Mas?" tanya Zaskia


"Terserah Ning Zaskia. Kalau masih ada sesuatu, gak papa diselesaikan dulu."


Zaskia terlihat mengangguk kecil dan segera alihkan pandangan. Ustad Widad dan Nabila terlihat saling melempar senyum. Sementara Kanza Davina yang tanpa sengaja saling bersitatap dengan Ra Fattan, segera menunduk setelah sempat tersenyum lebih dulu.


"Sudah selesai ujiannya?" tanya Ra Fattan.


"Sudah dari tadi, Ra. Barusan kami masih rapat," sahut Davina. Meski ia tahu, kalau pemuda itu hanya sekedar basa basi saja dengan pertanyaanya, tapi Davina memberikan jawaban yang sempurna. karena dalam hati ia sangat menghargai putra kyai Muhajir tersebut.


"Rapat apa?"


"BES. Badan Executive santri kulliyatul muallimin, Meidina Ra, ketuanya," jawab Davina dengan antusias. Ra Fattan tersenyum, tentu saja ia sudah tahu tentang hal itu. Dan Davina juga bukan tidak paham, perkara Meidina yang jadi katua BES pasti juga sudah diketahui oleh Ra Fattan dari dulu. Menyampaikan sesuatu kepada yang sudah tahu, sama seperti menggarami air lautan. Tapi, sekali lagi perlu dijelaskan bahwa, interaksi itu hanya dilakukan oleh Davina karena sangat menghargai Pemuda itu. Entah seperti apa posisi Ra Fattan dalam hati Davina, sehingga ia sangat menghargai putra kyai Muhajir tersebut dengan setinggi-tingginya.

__ADS_1


Meidina Shafa hadir di tempat itu, ia mengucapkan salam dengan kepala tertunduk. Semua menjawab salamnya, hanya Rayyan Ali Fattan yang nampak diam saja. pemuda itu memilih hanya menatap saja pada wajah ayu Meidina Shafa yang berhias kerudung pasmina. wajah yang senantiasa menghiasi Maya pikirannya dengan pandangannya yang teduh. Tapi kini di sepasang mata sayu itu seperti menyimpan seribu misteri yang terselubung.


"Sudah?" tanya Davina singkat ke arahnya.


Meidina mengangguk seraya menerima kembali buku-buku dan ponselnya dari tangan sang sahabat. "Ayo," ajaknya untuk segera pergi dari tempat itu.


"Apa masih ada sesuatu hal yang harus dikerjakan?" tanya Ra Fattan. Tak disebutkan dengan jelas pertanyaan itu untuk siapa, tapi tatapannya jelas mengarah pada Meidina. Dan terlihat, Meidina menggeleng singkat.


"Waktu sholat dhuhur masih satu jam lagi, apa boleh saya meminta waktunya sebentar?" tanya Ra Fattan, dengan bahasa yang begitu santun dan sopan.


"Ee." Meidina tak segera menjawab, ia seperti masih kebingungan, atau justru tengah menyusun strategi untuk menghindar.Tapi, kali ini Ra Fattan sudah bertekad, untuk menyingkap rahasia apa yang tak terungkap pada Meidina, kenapa gadis ayu itu kini berubah sikap. sangat jelas kalau Meidina ingin menghindar, entah karena hal apa. Dan Ra Fattan sudah tidak tahan terus menerus bertanya dalam rasa hati yang tak nyaman.


"Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan kamu," kata Ra Fattan.


Meidina menunduk dengan hati yang menggemuruh, dan pada akhirnya ia mengangguk. Ia berharap putra kyai Muhajir itu akan menyisih dari tempat itu untuk sesuatu hal yang akan mereka bicarakan. Agar pembicaraan yang pasti bersifat rahasia itu tidak akan didengar oleh mereka yang ada di sana.


Ternyata, Ra Fattan hanya bangkit saja dari duduknya, mengimbangi posisi Meidina yang saat ini tengah berdiri. Dari bahasa mata dan bahasa tubuh keduanya ini, Azmi dan Widad sudah dapat memahami sesuatu, hingga keduanya terlihat saling menatap.


"Sedianya besok, saya akan kembali ke Al-Azhar. Tapi syaikhona meminta saya untuk tinggal dulu, sambil mengisi jadwal salah satu dosen di STAI yang sedang sakit." Demikian ucapan Ra Fattan. Meidina terdongak menatapnya dan tersenyum, gadis itu merasa senang, merasa dirinya dianggap penting hingga Ra Fattan memberitahukan hal itu padanya. Namun, hanya sesaat, senyum itu memudar. Bibirnya pun menggemakan tanya.


"Berapa lama?"


"Tidak lama, kurang lebih dua Minggu saja. Setelah itu saya akan kembali ke Al-Azhar untuk diwisuda."


"Alhamdulillah, saya turut senang," ujar Meidina dengan suara bergetar. Menandakan kalau ucapannya itu sepenuh perasaan.


"Kamu sendiri, pendidikanmu di sini sudah hampir selesai 'kan?"


"insyaAllah," sahut Meidina.


"Saya berharap kamu pulang lagi ke Darul-Ulum, saya juga akan pulang. Untuk kita bisa bersama."


"Mak-maksud Jennengan apa Ra?" tanya Meidina dengan suara gugup.

__ADS_1


"Saya akan melamar kamu, Meidina "


__ADS_2