Bertaruh Cinta Di Atas Takdir

Bertaruh Cinta Di Atas Takdir
50 Dirawat 2


__ADS_3

"Kalau boleh tau, kenapa, Dek?"


"Dokter tadi bilang, dia terlalu capek, terlalu memforsir tubuh fisiknya, dan melupakan kebutuhannya untuk istirahat. Mungkin semua itu karena ada beban pikiran berat yang coba untuk ditepisnya dengan terlalu menyibukkan diri. Akhirnya, fisiknya kalah."


Nizam Ali menghela napas mendengar ucapan Arafka itu, dan entah kenapa perasaannya jadi sedikit tak enak karena hal tersebut.


"Tapi semua ini hanya menurut perasaan saya saja, Mas. Belum tentu benar juga," lanjut Arafka, sepertinya ia mencoba untuk tidak menduga-duga yang akan mengarah pada prasangka, yang belum tentu benar adanya.


Nizam mengangguk paham, sesaat ia seperti tak tahu harus berkata apa untuk mendamaikan perasaan Arafka yang saat ini mungkin sedang tidak baik-baik saja. Dalam pada itu, ia menoleh pada Meidina Shafa yang berbaring di hospital bed itu, terlihat gadis ayu tersebut bergerak pelan diiringi rintihan kesakitan.


"Dik." Nizam memberi isyarat. Arafka pun segera menghampiri diekori oleh Nizam Ali. Gadis ayu itu menggerakkan kepalanya kanan kiri seraya memegangi tenggorokannya.


"Kenapa? Mau minum?" tanya Rafka lembut.


Tanpa membuka mata, Meidina Shafa mengangguk lemah. Rafka mengatur posisi bed hospital yang ditiduri oleh Meidina agar gadis itu sedikit bersandar. Ia kemudian meraih gelas minuman yang terdapat di atas meja, dan menyodorkannya pada Meidina seraya berkata, "Minum dulu!"


Barulah saat itu, Meidina membuka mata, kendati sepasang mata itu menatap lemah, namun sepertinya ia langsung dapat mengenali siapa pemuda yang duduk di depannya, dan menyodorkan gelas minuman ke dekat bibirnya. Meidina terhenyak. Seketika ia urungkan niatnya untuk minum, bahkan "Davina mana?" tanyanya, sepertinya ia tdak ingin kebutuhannya dilayani oleh pemuda tampan itu.


"Davina dan yang lain sedang sholat Maghrib, di sini hanya ada saya dan Mas Nizam."


"Ini di mana?" Gadis ayu itu membuat gerakan ingin bangkit, tapi Arafka menahan dengan tangannya.


"Ini di rumah sakit, kamu harus dirawat, karena kondisimu sangat lemah."


"Ohh." Meidina Shafa melenguhkan napasnya. Terasakan kepalanya begitu berat, pusing dan berdenyut. Tubuhnya juga terasa sangat panas, bahkan tatapannya begitu lemah dan berat.


Nampak sepasang matanya berkaca-kaca.

__ADS_1


"Saya ingin pulang saja ke Alhasyimi," ujarnya dengan suara bergetar, dan satu titik air matanya jatuh.


"Tentu saja, setelah kondisimu membaik," sahut Rafka tetap dengan suara lembutnya. "Saya juga tidak akan berani mengambil keputusan untuk kamu menjalani rawat inap, kalau bukan karena melihat kondisimu yang memang membutuhkan perawatan intensive," lanjut pemuda tampan itu lagi demi dilihatnya air mata Meidina Shafa.


"Meidina jangan memikirkan apapun. Sekarang yang terpenting adalah kesehatanmu dulu. Kamu itu pingsan dari tadi, karena panas yang sangat tinggi, kami semua sangat kawatir," kata Nizam Ali.


Meidina terdiam, dan memang dirasakan betapa sangat tidak nyaman kondisi tubuhnya saat ini. Tenggorokannya rasa tercekat karena rasa pahit yang seakan menyumbat. Gadis itu meraba tenggorokannya dengan tangan gemetar.


"Minum dulu." Arafka kembali menyodorkan gelas minuman itu. Meski dengan perasaan yang sangat tidak enak, gadis ayu itu menenggak air dari gelas yang di pegang oleh Arafka, karena ia sangat butuh asupan air itu untuk membasahi kerongkongannya. Namun, Meidina malah memuntahkan air yang seakan tertolak untuk masuk, dan muntahan tersebut tepat mengenai baju Arafka.


"Maaf," ujarnya seraya memegang baju itu dengan tangan gemetar. "Saya gak sengaja,"'lanjutnya dengan perasaan yang tak nyaman.


" Gak papa," jawab Arafka. Ia segera menahan tangan Meidina yang ingin mengusap baju Arafka yang basah. Tangan itu panas sekali. Arafka menatap wajah Meidina dengan tatap mata kawatir.


"Air itu terasa pahit," kata Meidina dengan suara memburu.


"Minum air hangat saja ya. Saya ambilkan dulu."


Saat semua yang lain datang usai melaksanakan sholat dan memasuki ruangan, tampak Arafka sedang memberikan minum pada Meidina Shafa dengan menyuapi pakai sendok, karena tidak mungkin kalau air panas itu akan ditenggak langsung dari gelasnya. Melihat hal itu, semua serempak hentikan langkah.


Ada yang saling menatap, ada yang langsung menunduk karena tak ingin melihat, ada yang saling melempar senyum atas apa yang mereka lihat.


Terlihat kemudian Meidina memberi isyarat dengan tangan karena sudah merasa cukup minum air hangat itu, barulah semuanya mendekati. Setelah meluruskan kembali bed hospital agar Meidina kembali pada posisi tidur yang lebih nyaman, Rafka dan Nizam segera pamit untuk melakukan sholat Maghrib.


Usai sholat isya, ketika tepat pukul 20:00, Nabila bersama ustad Widad dan Azmi, pulang ke Alhasyimi untuk mengurusi perijinan ke kantor pesantren, terkait dirawatnya Meidina Shafa, dengan membawa surat keterangan dari dokter.


Hampir pukul 22, ketika mereka kembali lagi ke rumah sakit dengan mengantongi surat ijin tersebut.

__ADS_1


Sekitar lima belas menit kemudian, kyai Fadholi beserta bu nyai datang menjenguk. Sementara kondisi Meidina masih belum menunjukkan perubahan yang berarti. Panas badannya masih sangat tinggi, ia bahkan belum membuka mata sama sekali, usai minum air Maghrib tadi. Perawat pun datang memeriksa keadaannya tiap dua jam sekali.


Nyai Fadholi kembali meraba kening Meidina untuk yang kesekian kali. "Panas," ujarnya. "Apa dari tadi dia tidak sadar sama sekali?" tanya bu nyai pada Zaskia yang berdiri tak jauh darinya.


"Pernah tadi, Mi, sekali, waktu Maghrib," sahut Zaskia, seraya sedikit menatap pada Arafka yang berdiri terpekur tak jauh di samping bed hospital itu.


"Apa dia bicara?" tanya bu nyai lagi. Dapat dipaham


Jika beliau bertanya demikian, karena kondisi Meidina saat ini sudah tiba pada tahap step, akibat panasnya yang sangat tinggi. Biasanya orang dalam kondisi ini tidak berada dalam kondisi kesadaran penuh.


Zaskia tak menjawab, karena pada saat itu ia sedang sholat. Davina juga tak menjawab, malah segera menatap pada Rafka.


"Dia bicara, Bu, Nyai. Dia bertanya ada di mana, dan setelah dikasih tahu, dia minta pulang." Arafka yang mengambil alih memberikan jawaban.


"Jangan dulu, Nak. Jangan dulu dibawa pulang, biar dia dirawat sampai sehat benar. Yayasan sudah memberikan ijin. Bukan apa-apa, kalian itu akan menikah, kalau calon istrimu sakit, urusannya bisa rumit," ujar Nyai Fadholi menanggapi penuturan Arafka itu.


"Iya, itu benar," timpal Kyai juga.


Sekitar setengah jam kemudian, pemangku Alhasyimi cabang satu itu pamit. Namun Zaskia menolak diajak pulang bersama karena masih ingin memastikan kondisi Meidina Shafa, yang belum menunjukkan tanda-tanda akan baik-baik saja.


Waktu pun berlalu, semua masih belum ada yang beranjak, kendati mungkin sudah sama-sama diserang kantuk yang mendobrak menuntut untuk segera istirahat. Namun, rasa kawatir yang lebih besar atas kondisi Meidina saat ini, dapat melawan kantuk yang mereka rasakan. Memasuki jam 00, barulah terlihat titik-titik keringat memenuhi wajah Meidina yang tetap terbaring tenang sejak sore tadi. Hal itu menandakan kalau panasnya sudah mulai turun, Dan semakin turun. Perawat yang memeriksa pun memastikan hal tersebut. Maka rasa panik yang sempat menyerang, kini berangsur hilang.


Menjelang shubuh, Meidina Shafa perlahan membuka mata. Tatapan netra itu terlihat lemah dan sesekali mengerjap. Tangannya terangkat untuk meraba wajahnya yang basah oleh keringat. Ia pun melihat tangan kirinya yang diinfus. Pandangannya lalu memindai ke seluruh ruangan. Ruang yang lebar dengan vasilitas cukup lengkap. Ada lemari, kulkas, LCD TV 30 inch, AC yang menebarkan aroma harum. Ada seperangkat sofa empuk, serta kasur tidur untuk penunggu pasien. Dapat dipastikan, kalau ruang perawatannya adalah kelas VIp.


Zaskia dan Nabila tertidur di kasur itu, dan di bawahnya, dengan beralas karpet tebal, Davina juga tidur dengan berbantal kedua lengan.


Sedangkan di bagian yang lain, yang berjarak cukup jauh dari mereka, di atas seat sofa itu, ustad Widad juga tertidur bersama Azmi, dengan kepala yang saling beradu. Tak jauh dari mereka, Nizam juga terlelap dengan posisi duduk yang tak sempurna. Hanya satu orang yang tetap terjaga, Irfan Arafka Wafdan, yang duduk di kursi tak sebegitu jauh dari bed hospital yang ditiduri oleh Meidina.

__ADS_1


Pemuda itu sedang sibuk di depan layar 11 inch tablet pintarnya. Sepenuhnya, perhatian Rafka hanya terfokus ke sana. Entah apa yang sedang ia lakukan, mengerjakan tugas, main game, atau hanya sekedar scroll sosial media untuk membunuh rasa kantuk yang mungkin menyerang.


Melihat semua itu, tersembunyi Meidina menghela napasnya. Niat hati ingin terus terjaga. Nyatanya rasa pusing yang masih menggelayut di kepala, membuatnya menyerah dan kembali masuk ke alam mimpi.


__ADS_2