Bertaruh Cinta Di Atas Takdir

Bertaruh Cinta Di Atas Takdir
Extra 1


__ADS_3

Pov Meidina.


Langkahku terpaku saat tiba di depan aula, saat netra ini berlabuh di sana. Di depanku, dalam jarak sekian meter saja, lelaki tampan itu berada. Ia sedang bersama beberapa seniornya di Al badar. Mereka sepertinya sedang terlibat pembicaraan serius, hingga tak ada satu pun yang menyadari kedatanganku. Tidak juga dengan lelaki tampan itu. Lelaki yang sejak beberapa waktu yang lalu, ketampanannya menghiasi hari-hariku.


Dia adalah Lelaki halalku.


Kuputuskan untuk tetap berdiri menunggu, dalam jarak sekian meter di tempat saat ini aku terpaku. Aku sungguh tak ingin mengusiknya bersama teman-temannya, jika tiba-tiba aku hadir di antara mereka. Atau mungkin lebih tepatnya, aku masih ingin memandangi wajahnya saja dari sini, dari tempatku berdiri saat ini. Kalian tahu kenapa aku memilih menatapnya diam-diam? Karena saat ia ada di dekatku, atau pun di depanku, aku selalu tak mampu memandang wajahnya. Karena dia pasti akan memandang balik padaku dengan tatapan teduhnya, serta dengan senyum indahnya. Semua itu membuat jantungku bergemuruh. Wal hasil, aku akan tertunduk, tanpa mampu untuk menatap.


"Mau ke KM lagi?" tanya suamiku pagi tadi, saat aku menyuguhkan segelas teh hangat ke hadapannya yang sedang duduk santai di depan jendela.


Aku tak segera menjawab hanya menyelipkan senyum tipis. Kami sudah tiga hari tinggal bersama dalam label halal pernikahan. Tentu saja selama itu pula, aku belum pernah pergi ke KM lagi. Tempat sekolahku yang sampai saat ini masih berpusat di studio alam Al badar. Dan tentu saja aku rindu. Rindu dengan semua suasana di sana. Terlebih lagi rindu pada semua teman-temanku. Khususnya tiga orang sahabat terbaikku.


"Jika diizinkan, Mas," sahutku. Dan aku tidak sedang bersandiwara dengan menjawab begitu. Betapa pun aku sangat ingin melanjutkan pendidikanku kembali--yang sebenarnya sudah tinggal sedikit lagi--tapi aku tetap patuh pada apa yang menjadi kehendak suamiku.


"Boleh. Lanjutkan semua rangkaian pendidikanmu di KM, Ning. Semuanya seperti biasa. Kecuali satu hal yang tidak boleh." Mas Rafka tak segera melanjutkan ucapannya, bahkan terdengar ia menghela napas cukup berat. Membuatku yang selalu hampir tak bisa mendongak tiap kali di depannya, segera menatap wajah suamiku yang sampai saat ini, belum aku temukan pria yang memiliki ketampanan sama dengannya. Tentu saja ini hanya penilaianku saja sebagai istrinya.


"Kecuali apa, Mas?" Aku bertanya cemas. Mas Rafka tersenyum. Ia terlihat baik-baik saja. Sementara aku sudah merasa khawatir karena mendengar helaan napas beratnya baru saja.


"Kemarilah, lebih mendekat."


Mas Rafka meraih jemariku dan membimbing tanganku untuk kian mendekat. Dengan malu-malu aku mengikuti kemauannya, sementara debar jantungku terdengar bertalu-talu.


"Lihat aku, Ning."


"Ee." Permintaan itu membuatku malah kembali menunduk.


Ia meraih daguku dengan jemarinya dan mengangkatnya pelan. Lelaki halalku ini benar-benar ingin aku menatap wajahnya. Bagaimana ini? Aku sempat merasa bingung. Entahlah, kenapa ritme jantungku selalu membuat alunan musik abstrak bila melihat wajahnya. Musik keras hingar bingar yang seakan mendobrak dada.


Dan itu membuatku khawatir dengan kesehatan jantungku.

__ADS_1


"Sebelum menikah, Ning tak pernah menatapku secara sengaja. Dan aku berharap setelah menikah, wajahku ini akan menjadi pemandangan terindah yang ingin kau pandangi di setiap waktunya. Seperti aku yang tak ingin melihat apa pun, setiap kali melihat wajah ayu wanita halalku."


Ah kata-katanya itu mengalir lembut bak irama melankolis yang sanggup menghanyutkan perasaanku. Aku menatapnya, aku ingin tahu seperti apa raut wajahnya saat mengatakan itu. Seperti apa tatap mata beningnya, saat kalimat indah nan menggugah itu meluncur dari bibirnya.


Dan hasilnya, aku selalu tak mampu. Tak mampu untuk berlama-lama menatap suamiku.


Terlalu berlebihankah aku?


"Sepertinya keinginanku belum bisa terlaksana," ucapnya, terdengar sedikit kecewa. Mungkin karena aku yang langsung menunduk setelah menatapnya sebentar saja.


"Mas Rafka sangat tampan," kataku dengan spontan. Bahkan aku sendiri terkejut dengan apa yang telah aku katakan barusan. "Ba-banyak orang mengagumi hal itu," lanjutku dengan sedikit gugup.


"Apa artinya, jika istriku sendiri saja hampir tidak pernah melihat padaku. Ketampanan itu tidak untuk mendapatkan pujian dan sanjungan orang. Tapi, untuk dipersembahkan pada yang halal."


"Mas Rafka." Aku segera mengangkat wajahku dan menatap ke arahnya. Menatap tepat pada wajah tampan dengan senyuman menawan itu. "Saya sebenarnya sangat malu untuk menatap smean, Mas."


"Kenapa malu?"


"Masih tentang itu sayang?"


Suamiku itu menyentuh wajahku dengan lembut.


Aku mengangguk. Dan sepasang mataku kini mulai mengembun.


"Maafkanlah dirimu sendiri. Karena aku sudah sangat memaafkanmu. Apa pun sikap dan tindakanmu dulu, aku pahami itu sebagai Af'al Allah, sebagai cara Allah untuk mengajari kita sesuatu hal yang belum kita tahu. Mari kita syukuri saja semuanya, Ning. Jangan menenggelamkan diri dalam sesal tak berujung. Karena dengan itu, kita hanya akan ketinggalan banyak hal."


Ia mengusap air mataku sebelum jatuh di atas belahan pipi. Ia pun mengusap pucuk kepalaku yang dibalut hijab warna peach pagi tadi. Lalu kemudian ia meraih kedua tanganku dan dikecupnya jari jemari ini dengan lembut.


Perasaanku berdesir kuat. Satu kata tertanam dalam benak, meski tanpa terucap, "Ya Rabb, atas hal apa pun, jangan pernah kau posisikan kami dalam satu tempat saling menjauh satu sama lain, dan saling melupakan satu sama lain. Izinkan kami terus bersama, lebih dari selamanya."

__ADS_1


"Saya minta maaf, Mas," ucapku dengan rasa haru yang sudah tak mampu tertampung dalam dada.


"Sebenarnya, tak ada yang perlu dimaafkan. Tapi, jika istriku yang ayu ini meminta maaf, maka tentu aku maafkan semuanya."


Aku segera menjatuhkan diri dalam pelukannya. Merangkul erat pundaknya, meredamkan wajahku dalam-dalam di dadanya. Seindah ini hubungan halal. Senikmat ini cinta yang halal. Aku sampai merasa malu untuk bersyukur pada Tuhan, dengan dihadirkannya mas Rafka kepadaku sebagai pasangan halal. Karena selama ini, kehadirannya sempat aku pertanyakan.


Tapi kini aku sadar. Dan apa yang diucapkan oleh suamiku itu benar. Bahwa semua sikap dan tindakan ku selama ini hanyalah mengikuti skenario Tuhan. Karena Ia Berkenan Memberikan Pelajaran besar. Sebuah pelajaran yang tak akan didapatkan di bangku sekolah atau pun meja perkuliahan. Wa'ala kulli Hall, aku harus melazimkan syukur kepada Yang Maha Rahman.


"Jadi saya boleh ke KM, Mas?" Aku bertanya, sesaat setelah pelulan kami terurai bersamaan.


"Iya, Ning."


"Boleh melanjutkan rangkaian pendidikan di KM?"


"Boleh." Mas Rafka menjawab pertanyaanku dengan senyuman.


"Barusan jennengan bilang, kecuali satu hal yang tidak boleh. Apa itu, Mas?"


"Kecuali jika kamu meminta tetap tinggal di asrama," ucapnya, menjawab pertanyaannku barusan. Aku pun tertawa sembari menatapnya.


"Kalau hal ini sih, saya juga tidak mau, Mas," monologku dalam hati. Terlalu bodoh jika aku melewatkan kesempatan dipeluk seorang pemuda tampan rupawan, ketika waktu tidur hampir menjelang.


Jadilah hari ini, aku berangkat ke KM dengan diantar oleh suamiku. Ada hal yang luar biasa, yang kurasa dalam jiwa saat hendak keluar dari mobil dan masih mencium punggung tangannya. "Aku langsung kembali ke pusat ya, Ning. Nanti pulangnya aku jemput," ucap beliau, usai mengecup pucuk kepalaku singkat.


Dan ternyata benar. Siang ini, saat aku baru keluar dari gedung aula. Kulihat suami tampanku sudah ada di sana. Dan kalian pasti menertawakanku saat ini. Di mana sebagai wanita halalnya, tapi aku masih mencuri-curi pandang kepadanya dari kejauhan. Dan mengagumi ketampanannya yang bagiku seakan tiada tandingan.


🥀🥀🥀🥀


Jangan lupa mampir dan dukung selalu karya teebaru saya...y

__ADS_1



Istri Tertukar Tuan Anres. Biar semakin semangat buat nambah bab baru.


__ADS_2