
Masih segar diingatan, kemeriahan harlah Al-Hasyimi kemarin malam. Masih terasa euforia kebahagiaan, memperingati hari jadi pesantren yang kesekian. Saat acara itu, santri-santri Al-Hasyimi baik yang di pusat atau pun cabang, sama-sama diijinkan untuk ikut memeriahkan ke area studio alam Al-Badar. Tapi tentu saja dengan dijadwal. Mengikuti kelas madrasah Diniyah masing-masing. Dan ada petugas terpercaya yang menjadi pendamping.
Begitu pun dengan siswi Kulliyatul Muallimin tingkat 3, kendati wisma mereka berada di kawasan studio alam itu, tetap saja mereka harus mengikuti peraturan yang berlaku. Sama-sama dijadwal sesuai dengan keputusan dari Syaikhona pengasuh besar.
Sukses. Satu kata untuk acara itu. Dan penampilan Al-Badar yang bisa dikata hampir sempurna, adalah satu hal yang turut mendukung kesuksesan acara. Tapi, suksesnya acara tersebut menuai luka yang teramat sangat, dalam batin Zaskia. Tersebab adanya sebuah peristiwa tak terduga keesokan harinya. Peristiwa yang terjadi di malam peringatan harlah. Tepatnya satu jam setelah acara besar itu usai.
Gadis cantik itu melabuhkan pandangannya ke luar wisma, ke hamparan kehijauan yang menjadi ciri khas pemandangan studio alam Al-Badar. Berharap ada kabar yang lewat. Yang berfungsi untuk meralat. Atau menegaskan siapa yang benar dan siapa yang salah di antara kabar yang sudah tersiar.
"Mau ikut ke perpus, Ning?" Nabila telah berdiri di dekatnya. Dan gadis itu tak segera menyadari. Dahsyat sekali muara pikiran yang merampas alam sadarnya, hingga tak sadar kalau ia sudah tak sendirian saja.
"Ke perpus mbak? Di pusat ya?" Meski bertanya demikian, nampak sekali ia menunjukkan kegugupan. Nabila mengangguk.
"Saya gak ikut, Mbak. Maaf ya."
"Gak papa, aku nyusul Madina dan Davina dulu ya Ning, mereka udah duluan berangkat," pamit Nabila. Zaskia hanya mengangguk mengiringi kepergiannya. Namun, baru beberapa langkah, Nabila berhenti dan berbalik badan menatap Zaskia lagi.
"Ning, jangan terlalu dipikirkan, yang salah dan yang benar, pasti bakal ketahuan." Nabila pasti paham apa sebab kegelisahan zaskia itu.
"Aku gak percaya, Mbak. Kalau Mas Rafka seperti itu," tandas Zaskia cepat.
"Pegang kepercayaanmu, dan mintalah pada Allah!" Saran Nabila.
"Iya, Mbak. Insyaallah."
********
BES atau badan executive santri kulliyatul muallimin, memiliki kegiatan rutin, salah satunya berupa forum kajian al-Quran yang diadakan tiap seminggu sekali. Mereka mendatangkan pembicara yang menguasai di bidang tafsir, tentu saja yang merupakan pengajar di Al-Hasyimi, atau pun santri senior yang sudah menempuh pendidikan ma'had Aliy.
Hasil dari kajian itu mereka bukukan, bahkan tak jarang dimuat dalam majalah pesantren, dan berada di kolom utama. Sering pula, hasil kajian anggota BES KM tersebut menjadi bahan referensi mahasiswa/i sekolah tinggi agama islam Al-Hasyimi. Atas semua ini, nama Madina Shafa sebagai ketua BES Km pun semakin dikenali.
__ADS_1
Gadis itu memang tak lelah menimba ilmu. Tak hanya sekedar di bangku kelas, ia juga rutin membaca, dan gemar bertanya pada yang dianggap ahli di bidangnya. Baginya, tiada waktu selain belajar, prinsip yang dia anut adalah seperti yang termaktub dalam hadis shohih. Tuntutlah ilmu dari sejak berada dalam ayunan ibu, sampai masuk ke liang lahad. Tuntut, yang dimaksud di atas, adalah, carilah ilmu. Bukan tuntutan, ataupun tuntut menuntut seperti yang belakangan ini sedang ramai diparodikan. "Janganlah menuntut ilmu, karena ilmu tidak bersalah". Tidak. Bukan itu maksudnya.
Seperti pula saat ini, di dalam perpustakaan pesantren, di depan buku-buku yang sudah ia pilih, gadis itu khusyu membaca, dan menimba ilmu yang terdapat di dalamnya. Hingga ia abai akan getar ponsel yang diletakkan di atas meja. Tak jauh darinya.
"Din, ada beberapa chat dari tadi." Malah Davina yang terusik, dan menyampaikan hal itu dengan suara lirih. Madina hanya mengangguk, dan perhatiannya enggan beralih.
"Lihat dulu, mungkin ada yang penting," kata Davina lagi. Tapi, lagi-lagi Madina hanya mengangguk.
"Siapa tahu Ra Fattan yang berkirim pesan," celetuk Nabila yang duduk tak jauh di samping Davina. Madina hanya mesem mendengarnya. Dan suasana kembali hening, hingga ponsel Madina kembali menunjukkan getar.
"Ada lagi." Davina kembali memberitahukan.
"Buka aja, Vina. Aku mau ke toilet sebentar," ujar Madina dan segera berdiri dari duduknya. Davina mengangguk dan membuka ponsel sahabatnya itu.
"Dari Ra Fattan, Din," kata Davina memberiatahukan.
"Buka aja gak papa." Madina pun terus berlalu. Karena ada panggilan alam yang tak bisa lagi ditunda. Saat ia kembali ke dalam ruang perpustakaan itu, di bangku yang mereka duduki bertiga, ternyata hanya ada Nabila saja.
"Dia pamit keluar. Mau baca di teras aja katanya," sahut Nabila.
Madina mengangguk dan langsung meraih ponselnya. Tak sabar ingin melihat pesan dari Ra Fattan. Yang mana biasanya pemuda itu selalu membingkai ucapan dalam sebentuk kalimat indah nan menggugah, yang penuh makna terdalam.
Sering pikiranku tergelincirkan, saat membaca divan muhibbi para sufi.
Tempatmu ada dalam hatiku.
Dalam segenap relung kalbuku.
Tak ada, selain engkau.
__ADS_1
Mengingatmu, melenyapkan keinginanku.
Melupakanmu, membuatku menangis.
Lihatlah, apa yang terjadi, jika aku kehilangan kamu.
Aku Bukan tak tahu, siapa yang dimaksud di balik syair sufi itu. Tapi, begitu kalimat itu aku baca, seraut wajah ayu Madina Shafa yang terbayang di pelupuk mata.
Subhanallah..
Salamun alaiki ya qurrotal ain...
Tak puas rasanya hanya membaca pesan itu sekali, Madina mengulang membacanya lagi. Dua kali, hingga tiga kali. Dan tak lepas senyum di wajahnya yang ayu, karena membaca untaian kalimat indah itu.
"Jadi senyum-senyum sendiri," celetuk Nabila yang diam-diam memerhatikan Madina. Gadis ayu itu hanya tertawa renyah, dan kembali ingin membaca chat itu lagi. Tapi,
"Ra Fattan kirim chat apa, kenapa Davina menangis setelah membacanya?"
Madina Shafa terdongak, dan menatap Nabila dengan penuh tanya. "Davina nangis?"
"Iya, usai baca pesan itu, matanya berkaca-kaca, dan kemudian dia buru-buru keluar," terang Nabila.
Madina terdiam. Diam tenggelam dalam maya pikir yang penuh tanda tanya besar.
"Tapi bisa jadi aku hanya salah lihat, Din. Mungkin ada hal lain yang membuat Davina menangis, bukan chat dari Ra Fattan itu," ralat Nabila, setelah beberapa jenak. Bagaimana pun mengambil keputusan terhadap orang lain, tentang sesuatu yang belum jelas, itu bukan suatu hal yang dianjurkan.
Madina menggangguk, ia paham maksud ucapan Nabila tersebut. Namun, gadis itu segera ke luar dari ruangan perpustakaan untuk menyusul Davina. Dan ternyata, ia menemukan keberadaan gadis manis sahabatnya itu di tempat mana pun. Hingga terdapat satu pesan masuk di ponselnya, dan itu dari Davina.
Din, aku balik dulu ke wisma. Maaf ya, gak sempat ngasih tau.
__ADS_1
Madina menghela napas pelan, jika memang ini keputusan Davina, ia sangat menghargai. Tapi, tak dapat ia menolak gejolak batinnya yang senantiasa meneriakkan tanya. Ada apa sebenarnya dengan Davina. Hal apa yang telah membuatnya mengambil keputusan demikian. Dan tangisan sahabatnya itu, benarkah karena sebab yang dilihat oleh Nabila?
Saat Madina dan Nabila kembali ke wisma, ternyata Davina tidak ada di sana. Menurut keterangan salah satu santri, katanya Davina memang belum datang sama sekali, sejak pergi bersama dengan Madina tadi. Dimanakah gadis manis itu berada kini? Kalau memang tidak ada apa-apa dengannya, kenapa ia harus sembunyi?