Bertaruh Cinta Di Atas Takdir

Bertaruh Cinta Di Atas Takdir
21 Terungkap Di Saat Yang Tidak Tepat


__ADS_3

Pagi ini terlihat begitu cerah. Kabut hitam yang menyelimuti sudah pergi. Mendung tebal yang menghiasi juga sudah tiada lagi. Setidaknya itulah yang dirasakan oleh Zaskia saat ini. Ia merasa sudah menorehkan sebuah prestasi yang gemilang, meski tanpa adanya piala penghargaan.


"Akhirnya jelas sudah ya, siapa yang salah dan siapa yang benar," kata Nabila. Sudah cukup lama ia memerhatikan putri bungsu kyai Fadholi itu, wajah cantiknya tampak bersinar bahagia. Meski zaskia tak mengungkapkannya dengan kata. Dan Nabila sudah bisa menebak, semua itu karena hal apa.


"Iya, Mbak. Lega rasanya semua keyakinan saya sudah terbukti, bahwa Mas Rafka, gak mungkin serendah itu," sahut Zaskia. Dan benar seperti dugaan Nabila kalau ihwal kebahagiaan gadis itu adalah perkara Arafka yang sudah terungkap semua kebenarannya.


"Memang ya, Ning, kita cenderung merasa senang saat melihat orang yang kita sayang itu berbahagia, terlepas ia tahu atau tidak, jika kita menyayanginya."


Zaskia mengangguk dan tersenyum. Sekian lama mengarungi cinta dalam diam, membuat perasaan gadis itu sering terombang ambing di antara dua hal yang saling bertentangan. Namun, semuanya ia coba lalui dengan senyuman. Walau di dasar hatinya ada gemuruh yang mungkin sebentar lagi menjadi badai. Atau justru gemuruh itu menghilang, seiring hilangnya si mendung tebal. Lalu pelangi datang menghiasi pemandangan.


"Semoga perasaanmu pada Arafka diijabah oleh Allah, Ning." Doa tulus Nabila dari dasar hati.


"Amiin," jawab Zaskia lirih.


Entahlah, apa yang akan terjadi kemudian. Zaskia lebih suka memilih jalan aman, yaitu berserah kepada Tuhan.


"Ee, Mbak, kita berangkat ke aula, yuk," ajak Zaskia.


"Iya. Ayo Ning. Hari ini kita hanya berdua saja memimpin pertemuan."


Keduanya pun melangkah beriringan menyusuri jalan berpaving yang menuju ke aula.


"Loh, kemana mbak Davina dan mbak Madina?"


"Davina dipanggil ke cabang, ada uminya datang kesana. Kalau Madina dia ikut pelatihan ke pusat."


"Oh untuk lomba prestasi itu ya, Mbak?"


"Iya." Nabila menjawab singkat saja, karena langkah mereka akan berpapasan dengan Azmi Khalidi serta Nizam Ali. Dan mereka sejenak masih saling menyapa ramah, meski dalam posisi berdiri yang menjaga jarak.


Dari arah gerbang terlihat sebuah motor sport datang. Dan sudah bisa dipastikan siapa yang biasa datang ke kawasan studio alam Al-Badar dengan menggunakan motor besar. Arafka yang datang, pemuda itu menghentikan laju motornya tak jauh dari mereka semua. Dan ucapan salamnya terucap seiring dengan langkahnya yang mendekat.

__ADS_1


"Waalaikumsalam," jawab mereka serempak.


"Gimana pagi ini, Dek?" tanya Azmi.


"Alhamdulillah, Mas," jawabnya dengan senyum sempurna.


"Gak kuliah hari ini?" Nizam yang bertanya kali ini.


Arafka melihat jam tangannya lebih dulu. "Sebentar lagi," ujarnya.


Pasti yang dimaksud oleh Nizam bukan kuliah di STAI, tapi di Universitas negeri. Hal itu dilihat dari penampilan Arafka saat ini, yang tak menampilkan pakaian dengan atribut santri.


Diketahui kalau Arafka memang sedang menjalani kuliah di dua perguruan tinggi sekaligus. Di STAI dan di Universitas Negeri.


"Saya sengaja kesini, karena ada perlu sama Ning Zaskia," ujar Arafka, dan sepasang matanya kemudian berlabuh pada seraut wajah cantik putri kyai Fadholi itu.


Zaskia merasa denyut jantungnya bereaksi ketika mendapat tatap mata dari Arafka seperti ini.


"Ning saya mau berterima kasih untuk semua bantuanmu," ujar Arafka dengan sepenuh hati.


Gadis itu tak sedang berpuitis kata dengan berkata demikian, atau pun berusaha menarik hati Arafka, agar merasa tertawan. Tapi kata itu diucapkan karena memang sesuai dengan apa yang dirasakan dan dialami. Kemarin, saat dia sibuk memutar otak untuk bisa meminjam ponselnya Farah yang terdapat rekaman itu, tiba-tiba saja sofia datang menghampirinya. Gadis yang memang punya tugas bersih-bersih di dhelem itu memberitahukan kalau Zaskia dipanggil sang ummi.


Saat itulah kemudian terdengar irama hp. Zaskia sempat menegur. Dan Sofia bilang kalau itu adalah ponselnya Farah. Zaskia lalu mencari alasan untuk bisa melihat hp itu dan menyuruh Shofia untuk pergi lebih dulu. Sepeninggalan Shofia, Zaskia segera menyalin rekaman itu dan ke ponselnya sendiri, dan lalu mengirimkannya pada Irfan Arafka Wafdan.


Menurut Zaskia, ia mendapat kesempatan untuk menjalankan misi itu karena Allah yang telah memberinya waktu dan mengizinkan semua itu. Karenanya gadis tersebut berkata demikian.


"Memang benar apa yang kau katakan itu, Ning. Bahwa semua itu terjadi karena kehendak Allah. Tapi, semuanya kan butuh perantara. Dan Ning Zaskia yang dipilih oleh Allah untuk menjadi perantara," kata Nizam menanggapi ucapan Zaskia.


"Dan untuk semua itu, tidak ada harga yang harus dibayar dek Rafka 'kan?" tanya Nizam kemudian sambil tersenyum.


"Gak, Mas." Zaskia menggeleng cepat. "InsyaAllah saya ikhlas. Dapat membantu mas Rafka, saya sudah merasa sangat senang sekali," lanjut gadis itu dengan senyum tulus.

__ADS_1


"Semoga Allah yang membalasnya dengan kebaikan," kata Nabila yang segera diamini oleh semua yang ada di sana termasuk juga Arafka.


Mereka segera hendak membubarkan diri menuju tujuan masing-masing. Tapi, dengan tiba-tiba saja datang Farah ke tempat itu. Ia begitu tergesa dan bahkan tanpa berucap salam lebih dulu. Gadis itu langsung mendamprat ning Zaskia.


"Ning, kenapa kau main belakang?"


"Farah?" Semua yang ada disana sudah dibuat cukup kaget dengan hadirnya gadis itu yang tiba-tiba. Kini mereka lebih kaget lagi, karena Farah berkata dengan nada kasar pada Zaskia Arifa. Tatapannya tajam ke arah putra kyai Fadholi tersebut. Dari sana terlihat nyata sekali kalau Farah sedang dikuasai api amarah yang tinggi.


"Ada apa ya, Farah?" Ning Zaskia bertanya ramah dan lembut. Meski ia bukan tak paham apa maksud ucapan Farah barusan.


"Gak usah pura-pura gak tau, Ning." Farah menjawab tetap dengan nada bicara seperti semula. "Kau kan yang telah menyalin rekaman di ponselku."


"Ee." Zaskia cukup tercekat. Ia sudah bisa menebak, kalau pada akhirnya Farah akan tahu juga. Tapi, Zaskia tak menyangka kalau bakal secepat ini. Karena dalam sidang kemarin, Farah tak ikut hadir, sebab dia bukan orang yang memiliki keterkaitan dengan masalah tersebut.


Padahal tanpa diketahui oleh yang lain, Farah diam-diam mengikuti jalannya sidang itu, ia berencana akan hadir di waktu yang tepat untuk menyelamatkan Arafka dari jerat Fitnah Masayu, dan lalu ia bisa mendapatkan kesempatan untuk bisa mendapatkan cinta seorang Irfan Arafka Wafdan.


Akan tetapi, Farah harus merasa kecewa, karena ternyata, Rafka sudah punya rekaman peristiwa yang sama persis dengan rekaman video miliknya. Dan gadis itu baru sadar apa yang terjadi, saat tanpa sengaja, Sofia memberitahukan kalau ponselnya dipinjam oleh Ning Zaskia selama beberapa menit.


"Jangan mungkir ya, Ning. Sofia sudah menceritakan semuanya padaku," kata Farah berang.


"Iya, memang aku yang mengambilnya," sahut Zaskia tegas.


"Untuk bisa dapat perhatian dari mas Rafka," sergah Farah dengan cepat.


"Gak, bukan untuk itu. Tapi agar kebenaran itu terungkap, bahwa mas Rafka gak salah, dia hanya difitnah. Bukankah kita berkewajiban untuk menolong orang yang dizdolimi jika kita berada dalam posisi mampu untuk melakukannya," sahut Zaskia, mencoba untuk menjelaskan maksud ucapannya.


Farah bukan tak faham dengan apa yang diuraikan oleh Zaskia, tapi pikirannya sudah dikuasai oleh amarah, akibat mimpi yang sudah dibangun dengan begitu rapi dan sebentar lagi bakal didapati, harus kandas begitu saja, karena adanya campur tangan dari Zaskia. Maka betapapun Zaskia benar dengan alasannya, tetap salah dalam pandangan Farah.


"Ning Zaskia gak usah munafik," katanya, dengan nada menyentak. Bahkan tangannya terangkat dan menunjuk wajah cantik Ning Zaskia.


"Kau pikir aku tidak tahu, kalau kau pun suka pada mas Rafka. Kau juga bermimpi untuk bisa mendapatkan dia 'kan?"

__ADS_1


Ucapan Farah itu membuat Azmi dan Nizam jadi saling pandang, lalu sama-sama menatap pada Arafka. Pemuda tampan itu sendiri terlihat menghela napas. Sedangkan Zaskia, gadis itu kaget dan terhenyak. Lidahnya mendadak kelu, dan tak mampu lagi untuk berkata-kata. Gadis itu lebih dari hanya sekedar merasa malu. Pasalnya Farah mengungkap rahasia perasaan yang selama ini ia simpan di depan Arafka sendiri.


Dan terungkapnya perasaan itu adalah di saat Yang Tidak Tepat.


__ADS_2