
Satu jam kemudian usai melaksanakan sholat shubuh, mereka sepakat untuk kembali ke Alhasyimi. Hanya Kabza Davina yang tetap bersikeras untuk menjaga Meidina Shafa.
"Semalam suntuk, Dek Rafka gak tidur tidur ya," kata Nizam yang sudah bersiap meninggalkan ruangan.
"Kalau begitu, smean istirahat juga, Dek. Biar saya yang menjaga Meidina sendirian, gak papa kok," timpal Davina pada Arafka, yang disambut senyum oleh pemuda itu dan tak terlihat punya inisiatif untuk pergi dari sana.
"Iya, setelah ini," sahutnya. Dan pemuda itu segera bangkit, menghadap ke arah ustadz Widad, Azmi dan Nizam, yang sudah bersiap hendak keluar dari ruangan. "Saya ucapkan terima kasih, karena telah meluangkan waktunya di sini sejak semalam. Saya tau, Mas semua melakukan semua ini bukan hanya karena saya, tapi sudah berdasarkan kepedulian yang datang dari hati, tapi saya tetap wajib berterima kasih atas bantuan semuanya," kata pemuda tampan itu, dengan tutur yang santun dan tegas.
Ustadz Widad tersenyum. "Dek, jangan merasa sungkan, kita semua di sini, bukan hanya sebatas berteman, tapi juga bersaudara," ujarnya.
"Dan kami akan tetap menemanimu, Dek, selama Meidina dirawat di sini, jika dek Rafka berkenan tentunya," timpal Azmi.
"Kecuali jika, Dek Rafka hanya ingin berdua saja dengan tunangannya, maka kami akan sangat mengerti." Nizam Ali menimpali pula. Hal mana membuat mereka tertawa renyah, terkecuali Arafka, yang hanya tersenyum saja.
Sepeninggal mereka semua, Arafka kembali duduk di posisi semula, dan kembali fokus pada layar tabletnya. Davina sejenak memerhatikan semua itu, agak risih juga rasanya, berada dalam satu ruang bersama dengan gitaris melodi Albadar yang tampan itu. Entah kenapa, mungkin karena Arafka yang terlihat cuek, dan seakan enggan bicara, terkecuali bila sudah sangat diperlukan saja. Tapi terhadap teman-temannya, pemuda itu bisa bersikap begitu ramah dan santun.
Davina pun memilih kesibukan sendiri sembari menunggu Meidina terbangun. Walhasil, suasana jadi hening, hingga kemudian, "Davina." Terdengar panggilan lirih.
"Meidina." Gadis manis itu terlonjak menatap sahabatnya yang tampak mulai membuka mata dengan tatapan letih.
"Kau sudah bangun, gimana?" Tak sabar, Davina ingin segera tahu bagaimana kondisi Meidina saat ini.
"Aku telah sukses menyusahkan semua orang ya," ujar Meidina dengan suara lirih.
__ADS_1
"Eh apa yang kau katakan, kami semua ikhkas, kok. Justru kami senang bisa berbuat lebih banyak untukmu," kata Davina seraya sedikit mencuri tatap pada Arafka, berharap pemuda itu akan menimpali sekedar untuk meredakan rasa tak nyaman yang ada dalam diri Meidina saat ini. Akan tetapi pemuda itu tak mengatakan apa-apa, kecuali hanya menatap saja pada keduanya.
"Terima kasih," ucap Meidina sambil berusaha menampilkan senyum di atas rasa tidak nyaman pada tubuhnya sekarang. "Bantu aku ke kamar mandi," pintanya.
Davina pun membantu sahabatnya itu turun dari ranjang, dan menuntunnya menuju ke kamar mandi. Ia lupa satu hal, bahwa tangan Meidina diinfus, hingga, "Aduh." Meidina mengaduh kecil, karena rasa nyeri di tangannya. Namun hanya sesaat saja, karena dengan tanpa kata, Arafka segera membawa botol cairan infus itu dan mengikuti keduanya ke arah kamar mandi.
Setiba di depan pintunya, ia segera menyerahkan infus tersebut pada Davina, dan gegas kembali ke posisi semula karena ada panggilan di ponselnya.
Davina menanti Meidina di depan pintu kamar mandi yang tertutup. Sesekali ia menatap ke arah Arafka Wafdan yang menerima telepon sambil berdiri di depan jendela. Pemuda itu bicara dengan tatanan bahasa yang formil, bahkan dalam pembicaraan itu sesekali disisipi bahasa asing, baik yang hanya merupakan sebuah istilah, atau pun bentuk percakapannya sendiri. Dan terkesan kalau dalam pembicaran itu, dia yang mengendalikan, dari cara penyampaian dan gaya bahasanya. Entah siapa yang menjadi lawan bicaranya di seberang sana. Pasti bukan salah satu dari temannya, karena materi pembicaraan bukan tentang pelajaran, tapi seperti tentang sebuah pekerjaan, atau lebih tepatnya, persoalan dalam sebuah pekerjaan.
Tapi pekerjaan apa, bukankah ia seorang santri, seorang mahasiswa, bukan seorang yang sudah bekerja. Tapi gaya bicaranya, dan apa yang dibicarakannya, seperti seorang atasan terhadap bawahannya. Dan dari semuanya, telah meretas tanya dalam diri Davina dengan rasa penasaran dalam dada. Hinggapu Arafka telah mengakhiri teleponnya lalu kembali duduk di posisi semula, Tapi Davina masih tak henti bertanya-tanya. Hingga kemudian, dan kemudian sekali.
Meidina keluar dari dalam kamar mandi dengan mengenakan baju ganti yang tadi diberikan oleh Davina. Namun kerudungnya hanya tersampir di pundak saja. Dengan sedikit mengaduh ia menyerahkan infusnya pada Davina. "Aku pusing," keluhnya dengan napas sedikit memburu.
"Meidina!" pekik Davina seraya menahan tubuh Meidina. Tapi gadis manis itu tak mampu menahan beban tubuhnya, walhasil mereka hampir jatuh secara bersamaan, jika bukan karena Arafka yang bertindak dengan cepat. Ia mengangkat tubuh Meidina dan dibaringkannya lagi di atas hospital bed. Tak hanya itu saja. Pemuda itu segera memanggil perawat melalui intercom ruangan.
Tak butuh waktu lama dua orang perawat datang memasuki ruangan, mereka segera memeriksa kondisi Meidina, menensi darahnya, dan membetulkan slang infusnya di sana sini, lalu kemudian memberikan injeksi.
"Jangan terlalu banyak gerak, Ya Mbak. Jangan banyak kena air dingin dulu," kata perawat itu di akhir pemeriksaannya.
"Kalau memang diperlukan penggunaan air, pakai air hangat saja. Tinggal hubungi kami. Kami sudah siapkan semuanya," timpal perawat yang satunya.
Meidina hanya mengangguk kecil.
__ADS_1
"Tensi darahnya masih belum di angka normal. Kami sudah memberikan suntikan, dengan banyak istirahat, insyaallah keadaannya akan semakin membaik," kata perawat itu lagi pada Arafka yang berdiri di tepi pembaringan seraya memerhatikan semuanya dengan seksama.
"Iya, terima kasih, Suster," sahutnya.
"Mas ini keluarganya ya?" tanya perawat yang satunya pada Arafka.
"Iya," sahut Rafka singkat.
"Saudara atau?" Suster itu bertanya lebih lanjut.
"Dia tunangannya pasien, Mbak," celetuk Davina dengan cepat.
"Ooh." Si perawat hanya menanggapi dengan ber-oh ria saja, lalu segera keluar dari sana. Mungkin dia merasa kecewa setelah mengetahui status Arafka dan Meidina. Jika saja tidak dalam situasi prihatin atas kondisi Meidina Shafa, Davina ingin rasanya menyoraki dan berkata, "Jangan menambah daftar nama patah hati akibat pertunangan Arafka ya suster. Cukup di Alhasyimi saja, ada hari patah hati sedunia. Jangan ada di rumah sakit ini juga."
Sementara Arafka hanya menatap datar pada dua orang perawat yang keluar dari ruangan itu. Bahkan ia segera bertanya pada Meidina. "Masih pusing?"
Meidina mengangguk kecil. "Maaf," ujarnya lirih.
"Maaf untuk apa?" Rafka menatapnya telak pada kedua netra.
"Untuk semuanya," sahut Meidina.
Rafka hanya tersenyum, tanpa menjawab iya atau tidak. Tapi jelas ada makna yang tersirat di balik senyumnya. Dua orang petugas makanan masuk membawakan hidangan, sedangkan petugas yang satunya, meletakkan beberapa macam buah-buahan ke dalam kulkas. Davina pun membantu Meidina untuk menyantap makanannya, terkadang dengan sedikit membujuk juga, Karena Tampak Meidina yang kurang berselera.
__ADS_1
"Davina." Tiba-tiba saja, Rafka sudah berdiri tak jauh di dekatnya dan menyabut namanya. Davina sempat terhenyak, pasalnya selama ini ia memanggil adik pada pemuda tampan itu. Tapi ternyata Rafka tak membalasnya dengan panggilan mbak. Pemuda itu hanya menyebut nama saja.