Bertaruh Cinta Di Atas Takdir

Bertaruh Cinta Di Atas Takdir
23 Satu Doa Satu Amin


__ADS_3

Rintik hujan jatuh di sore hari. Setiap orang yang melintas di jalan pesantren itu sama-sama menepi, mencari tempat berlindung diri. Bahkan yang memakai motor juga semakin mempercepat laju motornya atau berhenti dulu untuk sekedar berteduh.


Namun tidak dengan Madina Shafa, gadis ayu itu tetap dengan langkah gontainya, seraya mengapit buku besar dengan kedua tangannya. Sedangkan angin sesekali mengibarkan rumbai-rumbai kerudung pasmina yang dikenakannya. Gerimis yang datang kian pasti. Tapi gadis ayu itu seakan tak peduli. Bahkan seperti tak merasa sama sekali. Langkahnya enggan berhenti. Karena kesadaran dan Pikirannya telah pergi, terenggut dan terampas menyisakan bayang-bayang yang tak pasti.


"Meidina!" Davina berteriak memanggil melihat kemunculan gadis ayu itu di gerbang. Davina segera berlari menghampiri sambil membawa payung.


"Kenapa kamu pulang gak naik becak sih?"


tanya Davina setelah kini mereka berjalan bersama di bawah satu payung.


"Sengaja, aku ingin menikmati sensasinya sepanjang jalan. Asyik juga lho," sahut Madina sambil tersenyum penuh semangat. Berjalan pelan, sendirian, di bawah titik hujan, ternyata cukup mengasyikkan. Demikian pasti maksud Meidina.


"Iya, tapi kalau hujan kayak gini, berteduh dong, tuh kamu jadi basah, Din." Davina menatap sahabatnya itu kawatir. Ia tak ingin gerimis yang ditentang oleh Madina akan membuat gadis ayu itu terganggu kesehatannya.


"Gak papa." Madina mengusap-usap bagian


Kerudungnya yang basah. Juga mengusap titik air yang hinggap di wajah. "Bibi sudah pulang?" tanya nya kemudian. Bibi yang dimaksud oleh Meidina adalah umminya Davina. Tadi pagi beliau berkunjung ke Alhasyimi cabang bersama Nyai Fitrotin, ibundanya Ra Fattan. Mereka datang untuk menjenguk keadaan Davina, setelah mendengar kabar kalau putrinya itu baru kena tabrak.


"Iya, sekitar satu jam yang lalu. Bu nyai titip salam untukmu," tutur Davina. Bukannya menjawab salam, Meidina justru diam setelah mendengar hal itu. Hingga,


"Kok bemgong?" tegur Davina.


"Iya, waalaikumsalam," ucap Meidina seakan baru tersadar untuk menjawab salam dari Bu Nyai Fitrotin, istri Kyai Muhajir.


"Ummi, titip ini untukmu." Davina memberikan sebuah amplop, yang bisa ditebak kalau itu isinya adalah uang.


"Ah, gak usah, Davina." Gadis ayu itu menolak halus. Tapi Davina memaksa. Memang selama ini kedekatan yang terjalin tak hanya sebatas di antara Davina dan Meidina saja, tapi juga kedua orang masing-masing yang sudah seperti saudara. Saling memberi di antara mereka bukan lagi hal baru.

__ADS_1


"Bu Nyai mengatakan kalau beliau akan mendoakan keberhasilanmu dalam lomba prestasi itu," ujar Davina lagi, begitu keduanya telah tiba di depan wisma. Meidina hanya mengangguk, gadis manis itu lalu bergegas ke dalam wisma.


Lomba prestasi antar instansi itu akan di gelar besok di Alhasyimi pusat. Banyak sudah persiapan yang dilakukan oleh Meidina. Bahkan ia baru saja mengikuti pelatihan di sana. Dan pulangnya kehujanan karena gadis itu enggan untuk berteduh.


Semula Meidina merasa sangat bersemangat untuk mengikuti lomba itu, kendati pun tak berharap akan jadi pemenang. Karena ia merasa kemampuannya yang masih sangat minim ketimbang peserta yang lain. Gadis itu hanya bertekad untuk memberikan yang terbaik.


Akan tetapi saat ini, di detik-detik akhir menjelang lomba akan digelar, konsentrasinya jadi terpecah, pikirannya terganggu. Membuatnya tak bisa fokus. Ia hanya memegang buku saja dan membuka-bukanya, tapi tidak dibaca, apalagi dicermati isinya. Lama hal itu berselang, hingga gadis ayu itu meraih ponsel, mengetik beberapa chat, namun didelete. Diketik lagi, lalu dihaous lagi. Terkadang ia sudah rampung mengetik pesan itu dan siap dikirim. Tapi, tidak jadi.


Jika saja dua hari yang lalu Ra Fattan tidak mengatakan kalau ia sedang ada tugas di luar kampus, maka pasti ribuan chat atau ribuan sms sudah dikirimnya sejak tadi. Sejak ia mendengar tentang kabar itu. Kabar yang telah merenggut ketenangan jiwanya. Merampas segala fokus dan konsentrasinya. Lalu mencampakkan gadis itu dalam kegelisahan dan keresahan seperti sekarang.


Dalam ketidaknyamanan jiwanya saat ini, hanya nama Rayyan Ali Fattan yang selalu diingatnya. Bahkan bayangan wajah tampan pemuda itu seakan menari-nari di cermin matanya. Berkali gadis itu menarik napas, untuk menghalau beban rasa yang terlalu berat. Namun ketenangan tak pernah didapat, justru keresahan yang semakin berlipat.


"Ra, jika saja jenengan merasakan keresahan hati saya, kegalauan yang tak berujung seperti ini," keluhnya dengan sepasang mata berkaca-kaca. Dan perlahan butiran kristal bening itupun menggelinding.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Ra. Mengapa jennengan tidak jujur kepada saya," batinnya lagi, kala tangis kian tak bisa berhenti.


Rayyan Ali Fattan.


Lirih bibirnya menyebut satu nama itu, dan jatuh air matanya bersamaan dengan itu. Kembali ia hanyut dalam risau yang menggelayut. Maka bagaimana isi buku-buku pelajaran itu sampai di kepalanya, jika di sana hanya ada Rayyan Ali Fattan saja. Bagaimana ia akan fokus pada pelatihan materi soal ujian yang akan dihadapinya dalam lomba, jika dalam setiap komponen jiwanya, dari mulai molekul ..... sampai ....hanya menggemakan nama Ra Fattan saja. Meidina benar-benar tak bisa bangkit untuk kembali baik-baik saja. Meski kemudian sebuah alunan lagu merampas lamunannya.


Lantunan lagu dari album Al-Badar memenuhi ruang dengarnya. Cukup merampas segala lara yang dalam sekian waktu telah memaku jiwanya. Lagu cinta berbahasa arab yang merupakan kumpulan lagu-lagu hits Al-Badar itu diputar di aula. Biasa seperti itu tiap hari jumat, yang merupakan hari libur pesantren dari semua kegiatan.


Meidina nampak terlena mendengarkan lagunya. Lagu yang pada waktu harlah Al-Hasyimi kemarin disenandungkan oleh


Azmi Khalidi dan hanya diiringi satu alat musik, gitar melody oleh Irfan Arafka Wafdan. Sungguh kolaborasi yang apik. Yang disambut dengan antusias oleh seluruh pecinta Al-Badar, baik dari kalangan santri Al-Hasyimi ataupun bukan. Bahkan jerit histeris sesekali membahana, mengiring duet apik dua orang tampan personil grup shalawat pesantren itu.


Davina heran melihat Meidina yang terdiam dan terpukau mendengarkan lagu tersebut. "Hei." Ia menepuk pundak sahabatnya yang ayu itu dengan lembut. "Apa yang menarik perhatianmu dari lagu itu?" tanyanya. Karena belum pernah ia melihat Meidina sampai seterlena ini saat mendengarkan lagu-lagu shalawat dari Al-Badar.

__ADS_1


Meidina menggeleng lalu menunduk.


"Azmi Khalidi, atau Irfan Arafka Wafdan?" Davina bertanya lebih lanjut.


"Bukan keduanya," sahut Meidina Shafa. Dan jemarinya terangkat ke wajah untuk mengusap air mata yang telah menghiasi wajah ayunya.


"Din." Davina jadi terkejut begitu dilihatnya kalau gadis ayu itu sedang menangis. "Kenapa kau menangis Meidina, bukan karena lagu itu 'kan?"


Meidina Shafa hanya menggeleng seraya menghapus air matanya lagi. Davina memerhatikan semua itu dengan seksama.


"Aku tau, kalau ada yang lain darimu. Kau nampak lesu bukan karena kelelahan. Tapi aku tak menyangka, kalau masalahnya seserius ini. Ada apa, Meidina?" tanya Davina lembut. Setahu Davina, sahabatnya itu tak akan sampai menitikkan air mata, kalau bukan untuk sesuatu yang teramat membebani jiwanya.


Ditanya demikian,Meidina Shafa masih diam. Ia hanya menatap sahabatnya itu seolah sedang berpikir, apakah mau bercerita atau tidak.


"Apa ini soal Ra Fattan? Ada apa dengan beliau?" tebak Davina pelan. Begitu dilihatnya Meidina masih diam.


"Ini bukan soal Ra Fattan, Vina. Tapi tentang kita," sahut Meidina.


"Kita?" Davina nampak heran.


"Iya, tentang kau dan aku," tegas Meidina.


"Apa maksudnya, Din? Ada apa dengan kita, tentang kita?" tanya Davina tak mengerti. Ia merasa tak ada masalah di antara mereka berdua. Mereka selalu baik-baik saja, saling mendukung, saling mengerti. Selalu ada di antara satu sama lain, saat membutuhkan. Bagi Davina tak ada persahabatan yang indah, selain di antata mereka berdua. Ikatan yang terjalin bukan karena hubungan darah. Tapi rasa ukhuwah di atas rangkaian keimanan dan kesadaran sebagai sesama hamba Allah. Jadilah keduanya saling menghargai di antara satu sama lainnya.


Dalam persahabatan mereka tak akan pernah ada masalah. Kalau pun ada di antara satu sama lain, akan saling mengalah. Demikian tegas Davina dalam hati.


"Kenapa kau tidak pernah bercerita padaku, Vina, bahwa sebenarnya ..." Meidina memangkas ucapannya sendiri untuk sekedar mengatur napas. Dari hal ini dapat dilihat dengan jelas, kalau hal apa yang akan disampaikan setelah ini adalah hal yang sangat membuatnya merasa sesak. "Bahwa sebenarnya antara kau dan Ra Fattan itu sudah dijodohkan dari dulu?"

__ADS_1


__ADS_2