
"Kenapa kau tidak pernah bercerita padaku, Vina, bahwa sebenarnya ..." Meidina memangkas ucapannya sendiri untuk sekedar mengatur napas. Dari hal ini dapat dilihat dengan jelas, kalau hal apa yang akan disampaikan setelah ini adalah hal yang sangat membuatnya merasa sesak. "Bahwa sebenarnya antara kau dan Ra Fattan itu sudah dijodohkan dari dulu?" lanjut Meidina tanpa melepas tatap dari wajah manis sang sahabat.
"Apa?!" Davina kaget, benar-benar kaget. Ia menatap Meidina seolah tak percaya.
"Siapa yang bilang begitu? Ada-ada saja," ucap Davina diselingi tawa seraya mengibaskan tangannya. Seolah menyatakan kalau apa yang dikatakan oleh Meidina ini hanya lelucon saja yang jauh dari kebenaran.
"Jangan bohong, Davina. Umi kamu sendiri yang mengatakan semua itu padaku," tandas Meidina dengan tatapan dalam. Kanza Davina langsung terdiam. Dan kemudian menggeleng pelan. "Tak mungkin bibi membuat cerita bohong padaku 'kan?" tambah Meidina dengan suara yang semakin tenggelam.
"Kapan umi bilang begitu, Meidina?"
"Tadi."
Seperti yang disebutkan di awal, kalau tadi pagi, Hj Mutmainnah--uminya Davina datang ke Al-Hasyimi cabang bersama bu nyai Fitrotin untuk menjenguk Davina. Notabene siswi KM yang saat ini tinggal di wisma yang ada di studio alam Al-Badar, adalah santri Alhasyimi-cabang. Mereka hanya sementara ditempatkan di sana, karena gedung wisma siswi KM sedang direnovvasi. Jadi ketika ada orang tua atau wali ingin mengunjungi putrinya, mereka tetap menuju ke Alhasyimi cabang. Maka putra-putri mereka yang ada di wisma studio alam yang akan datang menemui mereka di sana.
Meidina tadi juga sempat menemui uminya Davina dan bu nyai Fitrotin, namun hanya sekejap saja. Karena gadis itu ada pelatihan di Al-Hasyimi pusat. Jarak antara Alhasyimi cabang dan pusat sekitar 1 setengah km. Dan dalam jarak yang cukup jauh bila ditempuh dengan jalan kaki itu, ada moda transportasi becak motor yang siap mengantar para santri dengan tarif yang sangat murah sekali.
Jenis Transportasi ini bukan milik pesantren, tapi milik masyarakat umum yang merupakan tetangga dekat pesantren. Kyai pengasuh memberi mereka ijin untuk beroperasi di area pesantren, dengan syarat ikut menjaga peraturan pesantren dan segenap santri.
Dan juga pengemudi becak motor itu tidak boleh berusia di bawah 40 tahun.
Sedangkan lokasi Studio alam Al-Badar sendiri, berada di tengah-tengah antara Alhasyimi pusat dan cabang.
Dalam kunjungannya tadi pagi, terlihat Nyai Fitrotin sangat perhatian pada Davina. Bahkan beliau juga ikut megoleskan obat luka pada luka-luka Davina di bagian lengannya yang sudah mulai mengering. Semua itu tak luput dari perhatian Meidina sendiri dan Hj Mutmainnah.
"Alhamdulillah, Vina. Berkat doamu juga, Fattan sudah dinyatakan lulus, sebentar lagi dia diwisuda," kata Bu Nyai Fitrotin.
__ADS_1
"Iya, Bu Nyai. Alhamdulillah," sambut Davina dengan senyum.
Pahamlah kini Meidina, bahwa memang benar, Bu Nyai Fitrotin lah yang telah mengabari Davina perihal ujian Ra Fattan beberapa waktu lalu. Hal mana membuat Davina melakukan riyadhoh untuk keberhasilan pemuda tampan itu.
Dengan perasaan yang mulai tak enak, Meidina bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari gedung yang biasa menjadi tempat pertemuan santri dengan orang tuanya itu. Ternyata uminya Davina mengikuti langkah gadis ayu tersebut. Jadilah mereka kini duduk berdua di atas bangku kayu dengan aneka obrolan ringan seputar kegiatan sehari-hari Meidina dan Davina di Alhasyimi.
"Bibi, Bu Nyai sangat perhatian ya, sama Davina," ujar Madina beberapa saat kemudian, di anatara obrolan, dalam hati ia merasa cemburu melihat perhatian Nyai Fitrotin pada Davina, serta luapan kerinduan beliau yang ditampakkan pada gadis manis itu. Padahal keduanya sama-sama mengajar di Darul-Ulum dan sama-sama lama tak bertemu dengan Bu Nyai. Tapi, sikap Nyai Fitrotin terlihat "lebih" pada Davina, ketimbang Meidina. Sedangkan saat ini Meidina yang sedang menjalin kasih dengan Ra Fattan. Yang bisa dikata, kalau dia adalah cikal bakal menantu bu Nyai, yang seharusnya mendapatkan perhatian lebih. Tapi beliau justru memberikannya pada Davina.
Uminya Davina tersenyum dengan pertanyaan dari Meidina ini. Dan ia berkata sambil menatap ke arah Nyai Fitrotin dan Davina. "Nyai Fitrotin kangen
mungkin sama calon menantunya."
"Ee maksud Bibi?" tanya Meidina pelan dengan perasaan berdebar.
"Davina itu kan sudah dijodohkan dengan Ra Fattan dari dulu," jawab uminya Davina itu.
Melihat kekagetan di wajah ayu sahabat putrinya itu, Hj Mutmainnah jadi heran dan segera bertanya. "Apa kamu tidak tahu hal ini, Meidina? Memangnya Davina tidak pernah cerita?"
Meidina Shafa hanya mampu menggeleng-geleng, dan tak mampu berkata-kata. Sepasang matanya langsung berkaca-kaca. Tapi, gadis itu menahan diri sebisa mungkin agar tak menangis di depan uminya Davina.
Beda dengan saat ini, ketika ia mengakhiri ceritanya, air mata bening itu sudah jatuh di wajahnya kala ia terdongak menatap Kanza Davina.
"Hal itu benar atau tidak, Davina?" tanyanya dengan suara pelan karena menahan isakan.
Davina diam, ia bahkan lalu mengalihkan pandangan.
__ADS_1
"Aku yakin untuk saat ini kau tidak akan tega untuk membohongiku, setelah cukup banyak rahasia yang kau sembunyikan," kata Meidina lagi dengan suara bergetar.
Davina merasa tertohok dengan ucapan itu. Dan rasa bersalah pun menyeruak.
"Aku tidak menyembunyikan apa-apa, Meidina. Iya, aku akui, memang pernah ada pembicaraan tentang perjodohan itu. Tapi, itu dulu," tutur Davina dengan suara serak.
Meidina Shafa diam, ia hanya menatap saja pada Davina, menanti apa yang akan dikatakan oleh gadis itu selanjutnya. Karena ia tahu masih ada banyak hal di balik ucapannya itu, utamanya tentang
Perjodohan Davina dengan Ra Fattan.
Kanza Davina adalah putri tunggal keluarga kaya yang cukup terpandang di desanya. Ayah Davina--haji Thohir-seorang yang terkenal dermawan, rajin ber-infak, gemar bersedekah. Ia tak segan-segan untuk mengeluarkan harta kekayaannya untuk syiar islam dan fasilitas umum. Dan di antara kiprah sosialnya yang lain adalah menjadi donatur tetap untuk pembangunan pesantren Darul-Ulum dari sejak awal berdirinya sampai sekarang.
Dan juga diketahui kalau ternyata haji Thohir itu teman kyai Muhajir sejak dari pesantren dulu. Sedangkan Nyai Fitrotin dan hj Mutmainnah, masih memiliki hubungan kekerabatan. Mungkin karena didasari hal tersebut, serta beberapa alasan yang lain tentunya, membuat kedua keluarga memutuskan untuk menjodohkan putra-putri mereka. Yaitu Davina dan Ra Fattan.
Saat itu Ra Fattan masih duduk di bangku kelas tiga Madrasah Aliyah. Pemuda yang dikenal patuh itu tak serta merta menerima ataupun menolak perjodohan tersebut. Ia mengambil keputusan bijak dengan meminta tangguh sampai ia menuntaskan pendidikan S2 dulu, barulah setelah itu ia akan memberi keputusan. Dan tak ada yang merasa keberatan dengan keputusan Rayyan Ali Fattan ini, begitu juga dengan Kanza Davina.
Selama itu pula, bahkan hingga kini tak pernah ada pembicaraan pribadi antara Davina dengan Ra Fattan, kaitan dengan masalah perjodohan. Begitu pula dengan keluarga masing-masing, hingga kesepakatan di antara dua keluarga itu tak diketahui oleh orang lain, kecuali kerabat dekat saja. Karena itu Davina merasa tak perlu untuk memberitahukan perihal perjodohan yang dianggapnya belum Qoth'i itu pada Meidina Shafa, sahabatnya.
Qoth'i itu bermakna pasti, lengkap dan mutlak.
"Aku jujur, Din. Itulah yang terjadi," ujar Davina, seraya menatap sahabatnya itu dalam-dalam.
"Dan kini, Ra Fattan masih belum meraih gelar magisternya, tapi dia sudah menentukan pilihannya sama kamu. Bagiku ini sudah sangat jelas dan gamblang. Aku dan Ra Fattan punya hak yang sama untuk meneruskan atau memutuskan perjodohan itu. Di antara kami juga tak punya keterikatan perasaan sama sekali, maka secara tidak langsung kesepakatan perjodohan itu sudah tidak ada lagi di mata kami," urai Davina dengan nada pasti.
"Sesederhana itu?" Lirih Meidina dengan tatapan menerawang.
__ADS_1
"Tak ada yang akan mempertanyakan keputusan kami, Meidina."
Davina lalu meraih tangan sahabatnya itu seraya berkata, "jangan berprasangka apa pun. Cinta kasihmu dan Ra Fattan tidak layak dipisahkan oleh hal apa pun." Gadis manis itu lalu merangkul sahabatnya dengan air mata jatuh. Sebagaimana Meidina Shafa yang juga meneteskan air mata.