
Kedatangannya diawali dengan salam, yang mendapat jawaban serempak dari mereka yang ada di dalam. Seutas senyum terbit di wajahnya yang sangat tampan. Tatapan ramahnya mengedar ke seluruh ruangan. Tampak biasa, tak ada beban, tak ada kekalutan.
Lain halnya dengan ustad Widad yang malah saling beradu tatap dengan ustadz Fadil. Hal yang sama pula dengan Kanza Davina dan Nabila Alia. Sedangkan Meidina Shafa terlihat menundukkan pandangan. Sementara Nyai Fitrotin dan uminya Davina, sama-sama menatap seksama pada pemuda yang baru datang itu, yng melempar senyuman ramah kepada semuanya.
Sepertinya setiap diri mulai bespekulasi, tentang akan adanya atmosfer ketegangan yang bakal menyelimuti ruang perawatan untuk kaum elit ini. mungkin berupa kecanggungan atau ketidaknyamanan, antara Rayyan Ali Fattan dan Arafka Wafdan, terlepas mereka telah saling tahu atau tidak.
Akan tetapi yang terjadi jauh dari apa yang mereka prediksi. Kedua pemuda itu justru saling menghampiri, saling menatap dengan menyertai senyum, bahkan lalu saling bersalaman dengan sama-sama saling membungkukkan badan. Jelas sekali kalau ada interaksi saling menghormati di antara keduanya. Dan kemudian,
"Sudah lama, Mas Fattan?"
"Belum setengah jam, Mas Rafka."
Keduanya menyapa dengan sama-sama memanggil "mas", kalau Rafka memanggil demikian karena memang usia Ra Fattan lebih di atasnya. Tapi kenapa Ra Fattan juga memanggil mas pada Arafka yang jelas lebih muda darinya. Apa karena Arafka adalah tunangan Meidina Shafa. Demikian pasti pemikiran dalam setiap diri saat melihat interaksi dua orang pemuda tampan ini.
"Aduh, mohon maaf, barusan saya ketiduran di musholla usai sholat ashar," kata Arafka dengan nada yang lebih akrab.
"Iya, mungkin mas Rafka terlalu capek," sahut Rayyan Ali Fattan juga dengan nada yng lebih akrab, tapi tetap menjunjung tinggi kesopanan.
"Benar, semalam hampir gak tidur karena mengerjakan tugas." Pemuda tampan itu mengiyakan.
"Pasti banyak tugas dari kampus."
"Iya, Mas. Karena saya memakai sistem SKS, jadinya payah sendiri," kata Arafka sambil tersenyum.
"Apa sistem SKS itu, Mas Rafka, kalau boleh tau?" tanya ra Fattan yang merasa asing dengan istilah yang disebutkan oleh Arafka barusan.
"Sistem kebut semalam," sahut Arafka. dan kedua pemuda itu pun sama-sama tertawa renyah. Terlihat tawa keduanya ringan tanpa beban, tawa lepas yang jauh dari kepalsuan, bukan pula menyodorkan kepura-puraan di atas rasa tak suka yang terselubung, atau disembunyikan. Hal mana membuat Widad dan Fadil diam-diam saling tatap. Mereka heran dengan keakraban kedua pemuda tampan itu, dalam perbincangan ringan mereka tampak sama-sama tak ada kecanggungan, akrab tapi sopan. Di antara keduanya sepertinya saling menempati posisi yang sama, tak ada satu yang lebih di atas lainnya. Bahkan justru terlihat Rayyan Ali Fattan sangat menghormati Arafka. Dengan hal itu, Davina dan Nabila pun nampak heran, tak terkecuali juga dengan Meidina Shafa.
Mungkinkah itu karena antara keduanya belum saling tahu, adanya hubungan tak kasat mata yang membelit mereka dengan tanpa disengaja. hubungan yang bermuara pada satu nama, Meidina Shafa.
Dan kemudian, "Mas Rafka, beliau ini umi saya, dan ini uminya Kanza Davina." Ra Fattan mengenalkan Nyai Fitrotin dan Hj Mutmainnah pada Arafka.
__ADS_1
Pemuda tampan itu tersenyum ramah kepada keduanya, sambil anggukkan kepala, memberi penghormatan.
"Siapa dia, Nak?" tanya Nyai Fitrotin pada putranya.
"Ummi, beliau ini mas Rafka, tunangannya Meidina Shafa," jawab Ra Fattan menejelaskan.
Dan tak hanya Nyai Fitrotin yang tercengang lalu sama-sama menatap pemuda tampan berwajah bersih, berpostur tinggi tegap, dengan tatap mata yang lurus dan kuat itu, bahkan yang lain juga tercengang, karena ternyata Ra Fattan tahu siapa Arafka. Dan apakah Rafka juga tahu, siapa Rayyan Ali Fattan.
Segera Nyai fitrotin dan uminya Davina melangkah mendekati. "Mohon maaf, Mas kami tidak tahu," kata bu nyai, yang malah ikut-ikutan memanggil mas pada Arafka.
"Gak apa-apa, Bu Nyai, justru saya yang harus minta maaf karena tidak tahu akan kehadiran jennengan dari tadi," sahut Rafka, dari kalimatnya ini terkesan kalau ia sudah terbiasa berinteraksi dengan keluarga Kyai. Sementara hj mutmainnah lebih memilih hanya menatap saja pada pemuda tampan tersebut, dan segera sebuah kepercayaan di dapat dalam hatinya, bahwa pemuda yang berwajah tenang tersebut, punya tanggung jawab yang tinggi, kendati pun usianya masih muda.
Selanjutnya Rafka menyilakan kedua wanita baya itu untuk melanjutkan perbincangannya dengan Meidina. Dan dia pun menghaturkan Ra Fattan untuk duduk, yang di mana lalu diikuti oleh ustad Widad dan ustad Fadil. dari hal tersebut tampak jelas kalau Rafka yang memegang kendalli dalam ruangan itu.
"Kau sudah makan, Nak?" taya uminya Davina pada Meidina yang dijawab oleh gadis ayu itu dengan anggukan kepala. "Makan yang banyak biar cepat sehat," tambah wanita baya itu lagi.
Nyai Fitrotin memegang tangan gadis ayu itu, seraya berkata, "Banyak bersyukur ya, Nak, pada Allah, mas Rafka itu sangat tampan, dan terlihat jelas kalau beliau penuh tanggung jawab. Kau mendapat anugerah yang sangat besar dari Allah, dengan menjadi calon istrinya.
Davina dan Nabila pun saling pandang, tapi mereka cukup setuju dengan ucapan bu nyai fitrotin itu, setelah mereka cukup tahu bagimana Irfan Arafka Wafdan. Saat kemudian kedua wanita baya itu pamit mau ke kamar kecil, tapi mereka menolak untuk menggunakan kamar mandi yang ada di dalam ruangan. Saat itulah, Davina baru mendapat kesempatan untuk bicara pada Meidina Shafa.
"maaf ya, Din. umi tadi dan bu nyai langsung nanya kamu berkali-kali, dan aku gak bisa bohong."
"Gak papa, davina. aku paham."
"Tadi aku udah chat kamu, ngasih tau kalau kami dalam perjalanan kemari," kata Davina lagi.
"Aku belum sempat baca, ponselku tadi jatuh."
"terus?"
"Pecah."
__ADS_1
Saat bu nyai dan uminya datang lagi, tak lama kemudian mereka berpamitan. "Pulang dulu ya, Nak. Banyak-banyak istirahat, biar cepat sehat."
"inggih Bu Nyai matur nuwwun," sahut Meidina.
"Jangan terlalu banyak memikirkan apapun ya, kau dan mas Rafka itu pasti akan hidup bahagia," tambah uminya Davina. Meidina engangguk singkat.
Bu nyai Fitroti menggandeng tangan Davina untuk keluar dari ruangan, setelah lebih dulu pamitan pada Arafka. "Nyuwwun pamit, Mas Rafka," tuturnya dengan sopan.
"Inggih, Bu Nyai terima kasih kehadirannya," jawab Rafka.
"Saya juga pmit, Mas. Nitip nak Meidina, saya sudah anggap dia seperti anak saya sendiri." Uminya Davina masih sempat mengucapkan kalimat itu.
Arafka mengangguk seraya berkata, "Iya, insyaAllah."
setelah kedua wanita baya itu keluar, Ra Fattan berkata pada Arafka. "Mohon ijin." Sedangkan tangannya memberi isyarat pada hospital bed tempat Meidina Shafa berbaring.
"Silakan!"
Rayyan Ali fattan pun mendekati ranjang pasien itu, dan dalam jarak beberapa langkah ia berhenti. Ditatapnya wajah ayu Meidina yang kini nampak layu itu dengan lembut, dan kata-katanya pun mengalir dengan lirih. "Cepat sehat kembali. InsyAllah semuanya akan segera baik-baik saja."
Meidina mengangguk dan lalu menunduk. Meski sangat singkat, ucapan Ra Fattan itu terasa sangat mengena di hatinya.
Iya, Ra. Semoga semuanya akan baik-baik saja, jenengan, saya, dan Davina, semoga kita semua akan segera bak-baik saja. Batin Meidina bergolak, sedangkan sepasang matanya menjadi berkaca-kaca. Untunglah hanya Nabila yang melihat itu semua, karena yang lain sama-sama memerhatikan Ra Fattan yang melangkah mendekati Arafka.
"Saya mohon pamit, Mas. Semoga beliau segera sehat kembali," ujar Ra Fattan seraya memberi isyarat pada Meidina Shafa.
"Iya terima kasih, Mas Fattan. Doa Mas Fattan pasti sangat berharga baginya," sahut arafka.
Ada makna yang tersirat di balik ucapan Arafka itu, di sana seakan ia ingin mengatakan kalau Ra Fattan itu sangat berharga bagi seorang Meidina, maka secara otomatis doa pemuda itu juga sangat berarti baginya.
Apakah itu berarti, Rafka tahu siapa Ra Fattan bagi Meidina Shafa?
__ADS_1