
"Jadi, yang lebih memberatkan dirimu selama ini adalah pernikahanmu?" Itu pertanyaan dari Nabila.
"Iya. Sudah menjadi kepahaman kita bersama 'kan standar pernikahan yang bahagia itu seperti apa. Bukan hanya karena karena sudah mendapatkan pasangan yang tampan atau pun yang kaya," jawab Meidina.
Memang ke empat bintang pelajar di KM itu, adalah muslimah yang sudah bisa dikata cukup matang di bidang agama. Kebahagiaan bagi mereka, adalah bagi jiwa yang beriman dan bertakwa, sementara keindahan lahiriah dan semacamnya, hanyalah faktor pendukung kebahagiaan saja.
Jadi, meskipun bertunangan dengan Irfan Arafka Wafdan--seorang gitaris melodi Albadar yang sangat tampan dan terkenal--tidaklah membuat Meidina Shafa bahagia. Karena ia belum tahu, apakah calon suaminya itu adalah seseorang yang beriman kepada Tuhan, serta bertakwa dengan benar. Sedangkan di satu sisi ia telah setuju dengan ikatan yang ada di antara mereka. Hal mana membuatnya harus tetap melangkah, meski tanpa keyakinan.
"Tapi dalam waktu yang singkat, saat aku dirawat di sini, Allah telah menunjukkan semuanya kepada kita semua, terutama padaku, tentang siapa dan bagaimana pria yang akan menikahiku. Sebuah kenyataan yang tidak pernah aku duga, dan hal itu membuatku merasa malu kepada tunanganku, aku juga malu kepada diriku sendiri, dan terlebih aku merasa malu kepada Tuhanku."
Meidina Shafa terisak, dan sesaat kalimatnya bagai tersumbat, hingga ia belum bisa bicara untuk beberapa saat. Rupanya, apa yang ia katakan barusan, adalah merupakan tekanan jiwa yang sangat berat terasakan.
Berawal dari Davina yang menyatakan kalau Allah sedang memperkenalkan calon suaminya terhadap Meidina, saat itulah gadis ayu tersebut mulai beranggapan hal yang sama, terlebih saat satu per satu siapa Arafka dan bagaimana pemuda itu, terungkap secara sistematik, tersusun dengan sangat baik, seakan sudah tertulis dalam sebuah notulen, tentang rentetan semua kejadian yang akan berlangsung.
Maka, atas semua hal tersebut, jiwa yang mana, yang akan menafikan kalau dari susunan peristiwa dan kejadian, itu adalah susunan acara yang ditulis oleh Sang Maha pengatur kehidupan.
__ADS_1
Pun dengan Meidina, ia tak punya alasan lagi untuk memungkiri kalau semua ini adalah rencana ilahi Rabbi.
"Selama ini aku menolaknya, untuk menjadi imamku, karena aku merasa sudah lebih baik darinya. Ternyata semuanya salah, semuanya tidak benar. Aku telah berbesar diri untuk sesuatu yang sebenarnya tidak aku miliki. Aku ..." Kembali gadis ayu itu terisak-isak dan tak mampu meneruskan ucapannya. nabila segera merangkulnya seraya mengusap-usap pundaknya, untuk menguatkan gadis ayu itu yang merasakan tekanan jiwa sangat kuat akibat tingkahnya sendiri.
Meidina juga harus berkali-kali mengusap ar matanya. Karena air mata itu seakan air bah yang dituang dan enggan untuk berhenti. "Ternyata, aku bukan apa-apa dibandingkan dia. Mungkin aku telah lebih dulu belajar agama, tapi lebih banyak apa yang telah dia lakukan untuk agamanya dari pada aku. Aku hanya mengetahui dan memahami. tapi dia justru telah menjalani dan memraktekkan dengan benar."
Kembali Meidina terisak-isak kuat. Rupanya hal ini yang menjadi beban jiwanya, yang membuatnya hanya mampu terdiam, dengan air mata yang terus berderaian. Tak ada kata yang mampu ia ucapkan atas beban rasa yang seakan menghimpit badan.
Dan kembali dengan terbata-bata ia berkata "Rupanya, bukan sebarapa lama manusia itu belajar menjadi hamba yang beriman, tapi seberapa banyak yang telah ia lakukan untuk memupuk keimanan. Selama ini aku telah salah menilai. Aku telah salah memutuskan. Semoga Allah mengampuni kesombonganku." Meidina meraup wajah yang sudah membasah. Kembali Nabila merangkulnya dan mengusap-usap punggung tangan gadis itu, untuk menguatkan perasaannya yang sangat jelas sekali kalau saat ini ia merasa terguncang. Davina juga tak bisa menahan isakan bahkan pundaknya sampai terlihat bergetar, begitu pun dengan Zaskia yang harus menyeka air matanya berkali-kali.
Begitu memang faktanya, Rafka tak goyah dengan niat dan keputusannya, meski dia tau kalau ada satu nama di hati gadis itu, yang entah sampai kapan akan terhapus dan terganti. Ia tetap berbuat baik tanpa harapkan balasan. Baginya, cukup Allah saja sebagai tempatnya bersandar, dan tempat menggantungkan semua harapan.
"Alhamdulillah." masih bisa didengar ucapan Nabila dan zaskia, sedangkan Davina hanya menggemakan kalam syukur daam hatinya saja, karena gadis manis itu masih tak bisa untuk menetralisir perasaannya, dari tangisan yang merangkul jiwanya dalam haru yang tak bisa dijabarkan dengan kata.
"Dan aku merasa tak perlu lagi untuk bertanya, apakah dia akan mencintaiku dan menyayangiku, karena aku yakin dengan keimanan dan ketakwaannya, dia tak akan mengabaikan tanggung jawab terhadap wanita yang bersamanya."
__ADS_1
Memang benarlah seperti apa yang diuraikan oleh Meidina barusan, ketika semalam Rafka mengatakan bahwa cinta itu adalah tanggung jawab. Sebenarnya hanya tiga kriteria saja yang dibutuhkan oleh wanita dari pria yang akan mendampinginya. Beriman, bertakwa dan bertanggung jawab. Karena hanya seorang lelaki yang beriman dan bertakwa kepada Allah, yang akan bertanggung jawab terhadap dirinya dan istrinya. Tanggung jawab untuk mencintai, menghormati dan membawa sang istri pada jalan yang diridhoi oleh ilahi.
"Ini isi hatiku sekarang, dan ini pula yang ingin aku beritahukan kepada kalian, karena kalian itu temanku sekaligus saudaraku. Dan aku harap kalian bisa mengambil pelajaran dari apa yang telah aku alami ini."
"Meidina." dengan serta merta, Davina menghambur memeluk sahabatnya itu sambil menangis terisak. "Maafkan aku, Din," pintanya di antara isakan.
"Apanya yang harus dimaafkan, Vina. Justru kau harus berjanji padaku, untuk mengambil keputusan yang tetap tentang Ra fattan, yang sesuai dengan hatimu. Jangan sampai melakukan kesalahan yang sama, seperti apa yang telah aku lakukan."
"Iya." davina mengangguk seraya menatap Meidina lekat, dan kembali ia merangkul sahabatnya yang ayu itu. "Maafkan aku ya, Din," ujarnya lagi. "Aku telah menilaimu begitu rapuh tentang Ra Fattan, ternyata kau justru sedang mencari kebenaran dalam keputusanmu. maafkan aku ya." Davina kembali bertetes air mata. Untuk sesaat masih tak bisa berkata-kata.
"Tapi aku bahagia dengan apa yang telah kau temukan, aku turut merasa senang dan ..." Tiba-tiba saja Davina memangkas ucapannya dengan seketika, dan tak hanya itu saja, gadis manis itupun perlahan melepaskan pelukannya dari Meidina. Karena dilihatnya Rafka sudah berada dalam ruangan itu. Ia berdiri dalam jarak sekitar tiga merer di belakang Meidina. Dan pemuda tampan itu tak sendiri, tapi juga bersama dengan yang lain. Ada ustadz Widad dan ustadz Fadil, serta Azmi dan Nizam. Entah sejak kapan mereka semua sudah ada di dalam ruangan itu. Apakah sejak lama, atau baru saja? karena awalnya mereka hanya berempat saja dalam ruang perawatan Meidina itu, sedangkan para kaum Adam, mereka berbincang di luar ruangan.
Zaskia dan nabila yang juga melihat pada mereka, jadi bertanya-tanya dalam hati, apakah mereka semua, dan terutama Arafka mendengar apa yang diucapkan oleh Meidina Shafa?
Sedangkan Meidina Shafa sendiri tampaknya belum menyadari kedatangan mereka semua itu, karena ia tetap dengan posisi semula, duduk tertunduk seraya menyeka air mata. Hingga,
__ADS_1
"Ning Adin."