Bertaruh Cinta Di Atas Takdir

Bertaruh Cinta Di Atas Takdir
80 Isyarat Dari Sang Maha Penentu


__ADS_3

Seperti yang dikatakan oleh rayyan ali Fattan barusan, bahwa tadi siang ia sowan ke kediaman kyai Mushtofa Tamimi. Dan di sana tengah ada dua orang alumni Alhasyimi yang juga tengah sowan pada beliau. Saat itu perbincangan mereka berkisar tentang kuliah umum dan lomba prestasi yang baru selesai diadakan beberapa hari yang lalu. Hingga tiba pada topik peraih juara pertama lomba prestasi yang disabet oleh siswi kulliyatul muallimin Alhasyimi cabang.


Baik dua orang alumni, maupun kyai Mustofa Tamimi sama-sama mencetuskan pujian untuk Meidina Shafa, sang juara pertama. Bagaimana tidak, KM itu adalah jenjang pendidikan untuk calon tenaga pengajar madrasah diniyyah, dari mulai tingkat ibtidaiyyah, stanawiyyah, sampai 'aliyah pesantren. Notabenenya para siswi di sana, tidak punya bekal pendidikan formal yang cukup tinggi.


Sedangkan kriteria lomba prestasi itu sendiri, adalah dari berbagai aspek pendidikan, baik formal mau pun non formal. Dan ternyata pemenangnya adalah dari siswi Km, bukankah itu menandakan kalau sang juara tersebut punya kecerdasan dan pengetahuan yang luar biasa.


Mendengar nama Meidina disebut-sebut dengan selaksa pujian dan sanjungan, Ra Fattan tak urung merasa sangat bangga juga. Walau pada akhirnya, ia harus menghela napas berat, pasalnya baru kemarin dia dapat kabar, kalau Gadis yang sedianya hendak ia pinang untuk menjadi calon istri itu sudah lebih duldu disunting orang. Dan kegalauan hati akibat fakta itu, telah membawa langkahnya menuju kediaman kyai Musthofa Tamimi. Siapa sangka, di sana malah bertemu dengan alumni yang sedang membahas tentang Meidina Shafa.


Saat itulah kemudian dengan spontan, kyai Mustofa Tamimi mengatakan, "Meidina Shafa itu adalah cikal bakal mantunya Syaikhona. Ia telah bertunangan dengan putra bungsu beliau, adiknya Mas Izzat."


'"putra bungsu syaikhona?" sontak kedua alumni itu kaget bertanya, termasuk Ra Fattan juga. Pasalnya selama ini mereka tahu kalau Mas Izzat itu adalah putra kedua syaikhona yang sekaligus putra bungsunya. dan ternyata kyai Mushtofa Tamimi mengungkap fakta baru, kalau Mas Izzat itu punya seorang adik.


"Iya, namanya Mas Rafka," sahut kyai yang berperan sebagai ketua pengurus pesantren Alhasyimi itu. dan setelah memberi keterangan yang singkat tersebut, kyai Mushtofa Tamimi segera mengalihkan pembicaraan pada topik yang lain, yang itu artinya beliau sudah tidak berkenan untuk membicarakan hal itu lebih lanjut.

__ADS_1


Sedangkan bagi Ra Fattan, semua itu adalah merupakan jawaban. Jawaban dari pertanyannya sejak kemarin, tentang siapa calon suami Meidina Shafa, siapa laki-laki yang telah berhasil mengajak wanita--yang sepengetahuannya begitu teguh dan gigih dalam urusan hati itu-- dalam sebuah ikrar menuju ke akad nikah.


Dan ternyata ini adalah jawabannya. Lelaki itu adalah putra bungsu Syaikhona. Dan tak dinyana kalau putra bungsu kyai pengasuh Alhasyimi itu adalah orang yang juga telah dikenalnya sebagai pemuda yang memang begitu banyak memiliki pesona. Yaitu Irfan Arafka Wafdan.


"Saat itu saya memang mencaritahu siapa tunangannya Meidina Shafa." Ra Fattan mengakui dengan jujur. Ia bahkan kembali mendongak menatap pemuda tampan yang ada di hadapannya itu. Tampak di mata Rafka kalau dalam pandangan itu menyiratkan sesuatu.


{Perlu kami tegaskan lagi, kalau dalam bab ini, dan beberapa bab sebelumnya, adalah kisah flash back. Kisah pertemuan Ra Fattan dengan Arafka itu terjadi sebelum Meidina masuk ke rumah sakit. Dan kisah pertemuan keduanya itu diceritakan oleh Rafka pada Meidina Shafa dan yang lain, saat ini. Saat mereka masih ada di rumah sakit}


Sampai pada bagian itu, Rafka sejenak menghentikan ceritanya, dan lalu menatap pada Meidina Shafa. "Saat itulah saya mengerti, bahwa ada hal yang istimewa di antara kamu dengan Ra Fattan."


Memang pada saat abahnya memerintahkan untuk menemui Ra Fattan, Arafka tak sempat punya pemikiran apapun. Meski syaikhona menyuruhnya untuk mengomunikasikan perihal pertunangannya dengan Meidina Shafa pada putra kyai Muhajir itu. Walaupun tak dipungkiri, dalam hatinya terus muncul tanda tanya, tentang apa kaitannya semua ini dengan Ra Fatan. Tapi, Rafka membiasakan diri untuk tak berpraduga yang tak berdasar, atau pun menebak-nebak seolah ini dan itu, yang hanya mengarah pada syakwa sangka yang jauh dari kebenaran. Ia hanya memilih segera menjalankan, tanpa perlu memperpanjang pemikiran. Dan apapun nanti yang akan terjadi di depan, ia percaya semua itu sudah diatur dengan sedemikian rupa oleh Sang Maha Rahman.


Saat itu terlihat, setelah apa yang diucapkan oleh Arafka barusan, atmosfer ketegangan terasa menyelimuti ruangan, mereka sama-sama bertanya, kiranya apakah yang akan terjadi selanjutnya. Beda dengan ustadz fadil dan ustadz Widad yang segera merasa paham atas sikap Ra Fattan tadi sore yang datang menjenguk ke rumah sakit. Baik Rafka maupun Ra Fattan sama-sama menunjukkan sikap saling menghormati, rupanya karena mereka telah saling tahu.

__ADS_1


Tapi apa yang terjadi setelahnya, dalam perbincangan kedua pemuda itu. kenapa kemudian, mereka sama-sama memilih untuk saling menghargai antara tunangan, dan mantan calon tunangan Meidina Shafa itu.


"Jika Ra Fattan terlihat sangat terkejut setelah mengetahui siapa saya, maka sebenarnya, saya pun sama terkejutnya," ujar Arafka disertai dengan helaan napas cukup berat. "Dalam penilaian saya, beliau adalah seorang yang sangat istimewa. dan bila dibandingkan dengan saya. Saya tidak ada apa-apanya. Jujur, keberadaan mas Fattan itu, cukup memukul mental saya," lanjutnya lagi, yang membuat beberapa dari mereka terlihat menahan napas, kecuali Meidina. Gadis itu malah terlihat menahan isak. Bagimana tidak, dia lah yang selama ini terbiasa membandingkan keduanya. Membandingkan antara Rafka dan Ra Fattan. Dan hasilnya adalah seperti yang diucapkan oleh pemuda tampan itu barusan, kalau Rafka selalu berada di tempat yang menanggung kekalahan.


Begitu penilaian Meidina dari dulu, bahkan sampai kemarin. Entah bagaimana dengan hari ini, atau tepatnya malam ini, di mana telah banyak yang terungkap tentang irfan Arafka Wafdan, sang calon suami. Hanya dalam waktu sehari semalam, Meidina diberitahu siapa dan bagaimana sosok pria yang akan menikahinya. Maka Siapa di balik semua ini. Skenario dari siapa yang membuat semuanya menjadi semudah ini. Apakah pertanyaan ini masih perlu dijawab?


Pun dengan maksud dari skenario itu sendiri, apakah masih perlu dijabarkan lagi. Seperti itulah jika Tuhan sudah menghendaki sesuatu, tidak pernah ada kata sulit baginya. Dan tak akan pernah ada waktu yang se-sempit apapun bisa membatasi kinerjanya.


Maka bagaimana dengan Meidina, mampukah ia memahami, bahwa semua ini adalah isyarat dari Sang Maha Penentu. Isyarat bahwa memang Allah yang memberi restu, untuk dirinya dan Arafka bersatu. Mungkin gadis itu juga sudah mengerti, dan mungkin juga tidak. Tentangnya, masih dipenuhi tanda tanya, Karena tak sedikit pun gadis itu menyuarakan apa yang dia rasa. yang ada ia hanya memerlihatkan air matanya saja. air mata yang dimaknai dengan beragam oleh semua yang melihatnya.


Akan tetapi dari beberapa penilaian yang lain, mereka justru merasa kagum pada Rafka, yang dengan jujur mengakui apa yang dirasakan tanpa rasa malu atau pun gengsi. Beberapa orang yang lain pasti akan lebih memilih untuk merahasiakan hal ini. kalau bukan karena dia berniat untuk bersungguh-sungguh dengan jalan yang dipilih dengan sepenuh hati, tanpa menyisakan sedikitpun. sehingga ia singkirkan segenap ganjalan yang akan membuat tidak nyaman langkahnya nanti.


"Fakta tentang Ra Fattan itu menjadi ujian yang kesekian kalinya untuk saya," ujar pemuda tampan itu lagi.

__ADS_1


Dan kemudian Arafka memutuskan untuk kembali lanjut bercerita, mesipun karena ceritanya itu, air mata Meidina sudah rata memenuhi wajahnya. Karena memang cerita pertemuannya dengan Ra Fattan belum tuntas, dan Meidina harus tahu pada semuanya.


__ADS_2