Bertaruh Cinta Di Atas Takdir

Bertaruh Cinta Di Atas Takdir
92 Akad


__ADS_3

Mengenakan baju berwarna putih bersih dengan aksen bordir berbentuk kipas di bagian bahu kiri. Berkopyah putih yang terpasang rapi menutupi bagian atas kepala dan rambutnya yang hitam dan halus sekali. Duduk bersila dengan tenang dengan tatapan lurus ke depan, sesekali bibirnya menyunggingkan senyuman, kala bertemu pandang pada setiap undangan yang turut hadir untuk memberikan doa restu pernikahan.


Hari ini, menielang akad nikahnya akan dilangsungkan, kyai mengumumkan secara resmi kalau Irfan Arafka Wafdan adalah putra kandungnya sendiri di hadapan semua kalangan. Maka akad nikah yang akan dilangsungkan oleh pemuda itu sebentar lagi, menjadi pusat perhatian segenap santri, alumni, dan simpatisan Alhasyimi.


Udara terasa sejuk di siang ini, sesekali angin semilir bertiup kian menyumbangkan kesejukan kondisi. Gema pembacaan kalam ilahi, yang diteruskan dengan shalawat nabi, kian menambah syahdu dalam sanubari. Semua jiwa, semua hati merasakan damai dan turut berbahagia untuk dua hati, dua nama, dua jiwa, dua raga, yang akan menjadi satu dalam ikatan sakinah.


Detik berikutnya, proses ijab kabul pun dilangsungkan dengan khidmat. Arafka memilih rangkaian kalimat berbahasa arab dalam prosesi akad. Dengan lancar dan tepat, pemuda itu melafadzkan kata kabul dalam satu tarikan napas.


Qabiltu nikahahaa, watazwiijahaa bil mahril madzkuuri, haalan.


Singkat, cepat, tepat. Dan bersambut dengan kata shah yang segera didapat. Akan tetapi, singkat dan cepatnya kalimat ijab kabul itu, berbanding terbalik dengan tanggung jawab yang harus dijalankan setelah label halal didapatkan. Bahkan perjalanan itu sangat panjang dan lama, dan tak berakhir kendati pun tutup usia.


Sangat terasa beratnya beban tanggung jawab yang harus ia emban kala punggung tangannya dicium oleh Meidina Shafa, yang kini telah shah berstatus sebagai istri nya. Sangat terasakan beban yang harus ia tanggung di pundaknya, kala tapak tangannya menyentuh ubun-ubun Meidina yang tertutup hijab itu sembari melafadzkan doa.


Karenanya, dalam suka cita yang ia rasa di hari yang penuh bahagia ini, tak lupa dan tak lalai ia terus meminta kekuatan pada ilahi, agar diberi kekuatan dan kemampuan untuk menunaikan semua tanggung jawab ini dengan cara yang benar dan diridhoi.


Senyumnya terkembang indah saat genggamab tangannya bertaut dengan tangan sang istri. Terasa bagai dialiri air nan sejuk dari mata air pegunungan, menyejukkan, menghidupkan. Tasbih keduanya pun bergema dalam jiwa siring tatap mata yang beradu dihias senyuman bahagia.


Arafka membimbing sang istri tercinta untuk sungkem pada kedua orang tua masing-masing secara bergantian, sebelum akhirnya mereka duduk berdampingan di kursi pengantin yang memang sudah disediakan.


Meidina menundukkan wajahnya, selalu dari sejak awal ia duduk, kalau pun wajah itu terdongak, gadis ayu tersebut menundukkan pandangannya. Pasalnya, semua pandangan mata telah tertuju pada mereka, dengan tatap ikut merasa haru dan bahagia, juga tatapan yang terseling doa kebaikan untuk mereka berdua.


Rasanya bagai mimpi, dan ingin mengingkari, kalau pria muda tampan yang duduk di sampingnya kini, sudah bergelar suami. Padahal dulu ....


🌺🌺🌺🌺


Detik-detik berlalu dalam hening, membuat Madina semakin fokus pada buku-buku pelajaran. Sebagai bekalnya untuk mengikuti lomba prestasi beberapa hari mendatang. Tiba-tiba saja dari arah puntu terdengar suara ketukan.


"Iya, masuk," kata gadis itu.


Dan terlihat pintu dibuka dari luar. Seraut wajah tampan kini memenuhi pandangan.


"Assalamualaikum," sapanya ramah.

__ADS_1


"Waalaikumsalam," jawab Madina.


Sejenak Arafka masih diam setelah mengucap salam. Dan Madina juga masih diam, seusai menjawab salam. Keduanya hanya sejenak saling memandang, lalu sama-sama dengan cepat membuang pandangan.


"Mbak Davina sudah tidur?" tanya Arafka kemudian.


"Iya, dia baru saja tidur."


"Tolong berikan ini kepadanya." Arafka maju beberapa langkah, dan menyerahkan sebuah bingkisan berbentuk persegi panjang.


"Ini apa?" tanya Madina setelah bingkisan itu kini berpindah tangan.


"Ponsel."


"Untuk Davina?"


"Iya, ponselnya hancur saat tabrakan. Tapi sim cardnya masih utuh, dan sudah saya letakkan dalam dus book ponsel itu."


"Terima kasih sebelumnya," ucap pemuda tampan itu, dan kemudian ia memutar tumitnya untuk segera keluar lagi. Namun, baru beberapa langkah, ia nampak berbalik badan dan menatap Madina.


"Sendirian?"


"Iya."


"Maaf ya, gara-gara saya, jadi merepotkan banyak orang," ucapnya canggung.


"Gak apa-apa, sudah kewajiban saya untuk menemani Davina," sahut Madina.


Arafka mengangguk dan kembali teruskan langkah. Sebelum tiba di pintu, ia sempat berkata, "sebaiknya, pintunya dikunci." Dan pemuda itu segera menghilang di balik pintu tanpa menunggu jawaban Madina. Gadis ayu itu pun kembali melanjutkan aktivitasnya yang sempat terjeda. Namun tak lupa untuk mengunci pintu ruangan lebih dulu, mengikuti saran dari Arafka.


Tak terasa waktu sudah masuk jam 00, saat Madina mulai terserang kantuk. Gadis ayu itupun memutuskan untuk tidur. Namun ia masih keluar ruangan untuk membuang beberapa bungkus camilan pada tempat sampah yang tersedia di depan.


Terlihat ada seseorang yang duduk di kursi depan ruangan. Ia menelungkupkan wajahnya ke atas meja. Ada tablet pintar yang dibiarkan terbengkalai di dekatnya, dan sebuah kunci motor yang juga tergeletak tak jauh darinya.

__ADS_1


Madina maju dua langkah, dan memanggilnya. "Dik." Panggilan singkat itu tak mendapatkan respon apa-apa.


"Dik Rafka." Madina mengulangi panggilannya. Akan tetapi tubuh jangkung dan gagah itu tak menunjukkan reaksi apa-apa. Pahamlah kini Madina kalau pemuda itu pasti sedang berkelana ke alam mimpi.


Dengan terpaksa dan rasa tak nyaman juga, Madina menepuk pundak Arafka yang mengenakan kemeja lengan pendek itu sekali, seraya memanggil namanya. "Dik Rafka."


Barulah tubuh itu bergerak, dan terdongak. Madina shafa mundur dua langkah. Arafka menatap kaget ke arahnya.


"Jangan tidur di sini, Dik," kata Madina.


"Oh Ya Allah." Arafka mengusap wajahnya. Ia baru sadar kalau telah ketiduran di kursi. Sebenarnya niatnya tadi, usai menyerahkan ponsel itu, ia akan segera pergi dari rumah sakit dan menemui pengasuh besar Al-Hasyimi, terkait masalah yang sedang menimpanya. Besok adalah waktu yang ditentukan oleh kyai Fadholi untuknya mengajukan bukti. Dan sampai saat ini, pemuda itu belum mendapatkan bukti apa-apa.


Niatnya ingin menyampaikan semuanya pada Syaikhona. Dan berserah atas apa yang bakal ia terima nantinya.


Akan tetapi Arafka merasa tidak enak hati untuk pergi dari rumah sakit, setelah melihat Madina sendirian menjaga Davina. Ia merasa tak tega untuk pergi dari sana. Pemuda itu pun duduk di kursi depan ruangan sambil membuka tablet pintarnya. Namun, baru sesaat, rasa kantuk sudah menyerang, setelah dua malam ini ia hampir tak bisa memejamkan mata, karena berat beban pikir yang melanda. Akhirnya ia pun terlelap jua dengan posisi kepala menelungkup ke atas meja.


"Dik Rafka pulang saja. Ini sudah jam 12," kata Madina.


"Tapi, gak papa, Mbak sendirian di sini?" tanya Arafka dengan tatapan kawatir.


"Gak apa-apa," sahut Madina sambil menampilkan senyum, untuk meyakinkan.


Arafka mengangguk, segera ia raih tablet dan kunci motornya. Dan sebelum pemuda itu melangkah. "Apa mbak Davina jadi pulang besok ke Al-Hasyimi?"


"Iya, kata perawat tadi sekitar jam 10 pagi, setelah pemeriksaan dokter."


"Iya besok saya akan datang." Karena memang sesuai ksepakatan awal, semua biaya perawatan Davina ditanggung sepenuhnya oleh Arafka.


🌺🌺🌺🌺


Itu sepenggal ingatan Meidina pada peristiwa yang terjadi dulu, saat Davina dirawat akibat kena tabrak.


Saat itu, Meidina memanggil Rafka "adik" dan pemuda tampan itu, memanggi Medina "Mbak" tak pernah terpikir sama sekali dari dulu, jika mereka akan duduk berdua berdampingan dan halal pula. Sungguh bagai mimpi rasanya.

__ADS_1


__ADS_2