Bertaruh Cinta Di Atas Takdir

Bertaruh Cinta Di Atas Takdir
41 Bukan Salah Memahami


__ADS_3

"Saya tidak bisa, un-untuk me-menerima lamaran, Jennengan, Ra." Meski dengan suara terbata-bata, napas terengah karena sesak dalam dada, diserta derai air mata, dan kepala yang tertunduk lunglai tak berdaya.


Rayyan Ali Fattan terpana dengan jawaban itu. Untuk sesaat ia diam. Dan meski menyadari sepenuhnya, kalau dirinya ditolak, tapi ia masih bertanya dengan nada lembut.


"Kenapa? Bukankah kita sudah pernah membicarakan hal ini?"


Ra Fattan memang tidak tahu apa-apa tentang Meidina Shafa. Ia tak tahu apa yang terjadi pada gadis yang namanya selalu ia pinta dalam doa.


Perihal Meidina yang dikhitbah oleh Arafka, atas prakarsa syaikhona, memang masih menjadi berita dalam lingkup yang terbatas. Hanya teman-teman dekat kedua belah pihak saja yang tahu. Selebihnya itu sama-sama menutup mulut, dan tak memberitahukan siapa pun, karena demikian isyarat dari Syaikhona. Jadi wajar jika Ra Fattan tidak tahu hal tersebut.


"Saya ... saya ..." Meidina Shafa nampak tidak tahu harus menjawab apa, atau pun hanya untuk sekedar memberikan alasan saja. Nampak kini di depan semua yang ada di sana, dari air matanya, tatapannya, dan gerak tubuhnya, betapa gadis ayu itu terguncang. Hati dan jiwanya, serta perasaannya yang terdalam hancur tak berarti setelah didera oleh rasa sakit yang seakan ikut meremukkan badan.


Hanya air matanya yang mampu bercerita, mengungkap lara hati yang hampir tak bisa di terjemahkan dengan kata-kata.


Namun, bagi Ra Fattan, Meidina harus tetap membahasakan semuanya. Karena ia tak sampai pada pemahaman yang sempurna dengan hanya melihat rasa sakit yang ditunjukkan oleh gadis ayu itu saja. Harus ada kata, seberapapun singkatnya, yang penting bisa dimengerti maknanya.


"Bicaralah Meidina. Jelaskan apa yang sebenarnya. Insyaallah saya akan mengerti."


Meidina mengangkat wajah, menatap netra indah pemuda tampan di depannya. Selanjutnya ia menarik napasnya kuat, sekedar mengumpulkan keberanian, untuk memberitahukan hal yang sebenarnya.


"Sa-saya, sudah bertunangan, Ra."


"Apa?"


Rayyan Ali Fattan menatap tak percaya, dan sepertinya memang tak ingin percaya. Ditatapnya gadis ayu itu dengan seksama.


"Apa itu benar?" Tanyanya gamang.


"Iya, Ra. Itu benar."

__ADS_1


"Katakan sekali lagi, Meidina. Agar saya yakin bahwa apa yang kamu katakan itu memang benar."


"Ra, saya akan menikah."


Meidina bukannya mengulang jawaban yang sama, yang dipinta oleh Ra Fattan, tapi gadis itu malah menyatakan fakta satu lagi setelahnya.


"Astagfirloh."


Pemuda itu langsung memohon ampun, karena rasa kaget bercampur sakit yang ia rasakan, seakan menembus jantung. Ra Fattan lalu menghapus wajahnya dan tertunduk. Kini, ia baru menyadari, bahwa inilah fakta yang terjadi, tentang hubungan kinasihnya bersama Meidina Shafa, yang rupanya harus selesai sampai di sini. Gadis yang ia harapkan bisa menjadi pendamping hidupnya itu kini telah disunting orang. Cinta kasihnya yang ia harapkan akan menjadi halal itu, ternyata tak mendapatkan restu dari Tuhan. Dalam ia menunduk, rasa sedih, sakit dan kecewa terasa bercampur aduk.


"Jadi ini yang telah kau sembunyikan dariku selama ini?" Ia bertanya dengan nada berat.


"Maafkan saya, Ra."


"Maaf untuk apa?"


"Saya ..." Dan Meidina tidak dapat melanjutkan ucapannya.


"Ya Allah." Desis Meidina dalam hati.


"Jadi selama ini, saya hanya sekedar bermimpi?" Lirih pemuda itu bertanya. Pertanyaan yang diajukan pada dirinya sendiri saja. Dari hal tersebut tergambar jelas, betapa dirinya sangat kecewa.


"Maafkan saya, Ra," pinta Meidina untuk yang kesekian kalinya.


"Saya yang harus minta maaf," sahut Ra Fattan cepat. Bahkan di saat Meidina mungkin belum tuntas berucap. Ini bukan kebiasaannya selama ini. Tak pernah ia memangkas ucapan Meidina. Bahkan terburu-buru menjawab pun tidak. Pemuda itu selalu penuh telaten dan sabar tiap kali bicara. Jika kali ini ia bertindak yang di luar kebiasaannya, semua pasti paham apa yang menjadi penyebabnya.


"Saya yang minta maaf, Meidina. Karena rupanya saya yang telah salah dalam memahami semuanya. Salah memahami perasaan kamu sama saya. Salah menganggap kamu satu rasa dengan saya. Saya minta maaf untuk semuanya. Saya salah."


Seperti ini akhirnya, Ra Fattan menganggap kalau Meidina selama ini tidak mencintainya. Dan gadis ayu itu bisa apa, atas penilaian yang salah tersebut.

__ADS_1


Menceritakan hal yang sebenarnya? Meidina tidak akan mampu.


Mengungkap betapa ia sangat cinta? Masihkah ada gunanya ia berbuat seperti itu.


"Oh." Dan akhirnya, Meidina hanya mampu menatap terperangah. Untuk menjelaskan hal yang sebenarnya, ia merasa tak bisa. Tinggallah kini ia harus menahan rasa sebak dalam dada. Dan air mata lara yang tak hentinya mengalir dari kelopak beningnya.


Rayyan Ali Fattan tersenyum, masih sempat memberi senyum. Sebelum kemudian berbalik hendak berlalu . Namun, secara tiba-tiba Kanza Davina memanggilnya. "Ra Fattan." Gadis manis itu menahan langkah pemuda tampan tersebut


"Ajunan bukan salah memahami, Ra. Justru salah jika ajunan berpikir bahwa Meidina tidak pernah mencintai ajunan, Ra."


Hal mana membuat Ra Fattan menatap gadis manis itu dengan seksama, menanti hal apa yang akan diucapkan oleh Davina setelahnya.


"Dia sangat cinta, dia sangat menyayangi Ajunan, Ra. Air matanya itu adalah buktinya. Dia mengambil keputusan setuju untuk menikah, karena dia tahu kalau antara saya dengan ajunan sudah dijodohkan dari dulu."


"Apa?" Dan bukan hanya Ra Fattan saja yang merasa kaget dengan apa yang diungkapkan oleh Davina itu, bahkan juga semuanya, semua yang ikut mendengarnya.


"Kamu bicara apa, Meidina? Semua ucapanmu itu tidak benar," kata Meidina.


"Itu benar, Din. Kamu gak usah mengelak. Aku bisa menilai saat kau tak bisa menolak khitbah itu karena hal apa," jawab Davina dengan tatap mata kokoh menyapu wajah ayu Meidina yang sudah basah oleh air mata. Selanjutnya Davina kembali mengarahkan pembicaraan hanya pada Ra Fattan saja.


"Saya sudah tegaskan pada Meidina, Ra. Bahwa perjodohan itu hanya pembicaraan antara keluarga saja. Sedangkan antara ajunan dengan saya, tidak punya keterikatan rasa apa-apa, dan kita berhak untuk memutuskan perjodohan itu kapan pun. Tapi Meidina gak percaya sama saya," ucap Davina dengan suara bergetar. Tampak jelas rasa bersalah yang mengungkung badan, atas pilihan Meidina untuk menikah, sementara didalamnya tak disertai dengan rasa ingin dan suka.


"Davina itu berkata benar, Meidina." Ra Fattan berkata lembut pada Meidina Shafa.


"Mungkin Davina memang benar dengan ucapannya itu, tapi apa Jenengan tau, kalau Davina itu cinta pada ajunan, Ra."


Hal mana membuat Ra Fattan terhenyak. Ia menatap Meidina lama, dan beralih pada Davina seolah sedang mencari kebenaran dari apa yang dikatakan oleh Meidina itu ke arahnya.


"Apa-apaan kamu Meidina?" sergah Davina dengan cepat.

__ADS_1


"Benar, Ra. Davina mencintai ajunan dari dulu, bahkan mungkin sebelum ikrar perjodohan itu terjadi. Sebelum dia kenal akrab dengan saya."


__ADS_2