Bertaruh Cinta Di Atas Takdir

Bertaruh Cinta Di Atas Takdir
25 Membawa Rasa Cinta Dalam Sebentuk Pinta


__ADS_3

Perjodohan??


Davina mungkin benar dengan apa yang dikatakannya bahwa di matanya dan Ra Fattan, perjodohan itu sudah dianggap tidak ada, kdtika putra Kyai pengasuh Darul Ulum tersebut sudah menjatuhkan pilihan kepada Meidian Shafa.


Tapi, apakah Meidina akan terima begitu saja?


Perjodohan, menurut Meidina ini sudah tak bisa lagi disepelekan. Karena sudah melibatkan dua keluarga, sudah tak bisa lagi disebut sebagai perkara gampang. Karena itulah, prmbicarannya dengan Davina itu, tak mampu melahirkan kedamaian rasa, terbukti sepanjang malam ia tak dapat meraih tidurnya. Jiwanya tercaampak dalam keresahan yang semakin berkepanjangan.


Begitu pun dengan Davina, ia juga merasa tak menemukan kenyamanan. Sepanjang malamnya ia lewati dengan kebingungan dan kekawatiran, hingga sepasang matanya enggan terpejam. Ia tahu, kalau apa yang telah disampaiakannya tadi pada Meidina, tak serta merta akan diterima oleh sahabatnya itu. Padahal, ia benar-benar telah berusaha untuk mengikhlaskan perjodohannya dengan Ra Fattan.


Sepasang sahabat yang tidur berdampingan dalam wisma itu sama-sama tercampak dalam keresahan, terkapar dalam kegelisaha. Namun, satu sama lain sama-sama ingin menyembunyikan. Getar lara yang telah menggerogoti jiwa.


Davina berusaha terlihat lelap meski sebenarnya tidak, agar Meidina tidah tahu kalau ia tidak baik-baik saja. Pun dengan Meidina. Ia juga diam berusaha terlihat tenang, meski sesekali air matanya berlinangan, agar Davina tidak tahu, kalau gadis ayu itu, juga tidak baik-baik saja.


Dan akhirnya Ra Fattan yang mengakhiri sandiwara di antara keduanya. Pemuda itu hadir dalam sambungan telepon pada Meidina Shafa, ketika malam sudah masuk di waktu sepertiga yang akhir.


Davina dan Meidina saling pandang dengan suara dering ponsel itu. Namun, segera Davina membalikkan tubuh setelah melempar senyum pada Meidina, bersikap seakan hendak melanjutkan tidurnya.


Sementara Meidina memilih mengangkat telepon itu di teras wisma. Setelah Meidina menjawab salamnya, Ra Fattan segera bertanya, "Apa yang terjadi, Meidina?"


"Ee, a-apa, Ra?" Setelah sempat terhenyak, Meidina segera berbalik tanya singkat.


"Apa yang sedang terjadi sama kamu?" Ra Fattan mengulang pertanyaannya. Yang membuat Meidina sesaat merasa kebingungan, tidak tahu harus menjawab apa.


"Kenapa, kamu gak jawab?"


"Ee sa-saya gak apa-apa, Ra," sahut Meidina.

__ADS_1


"Kamu pasti tidak jujur," tukas Ra Fattan.


"Kenapa jennengan menduga saya tidak jujur?" tanya Meidina pelan dengan perasaan tak nyaman. Karena kebohongan itu memang tidak membawa ketentraman.


"Karena saya merasa tidak nyaman dengan jawaban kamu. Dan saya juga merasa tidak tenang dari tadi, setiap ingat kamu. Apa yang sebenarnya terjadi, jangan bohong! Saya bisa merasakan kegelisahan kamu."


Kalimat yang diucapkan oleh Ra Fattan itu membuat perasaan Meidina bergetar, air matanya bergetar, dan kemudia jatuh berderaian. Namun, sebisa mungkin gadis itu menahan isakan, agar tak terdengar sampai ke negeri seberang.


Ikatan perasaan yang begitu dalam terhadap Meidina dirasakan oleh Ra Fattan, sampai ia dapat merasakan kalau gadis itu di sana sedang dilanda kegelisahan. Dan Meidina sendiri juga tak akan mampu menyembunyikan kegundahan di depan pemuda tampan itu sekarang. Tapi, haruskah gadis ayu itu jujur memberitahukan hal apa yang menjadi ihwal kegalauan itu datang.


"Jangan membuat saya hawatir, Meidina. Bicaralah!"


"Saya, saya rindu kepada jennengan, Ra," kata Meidina Shafa. Ia sengaja memilih kalimat itu, sengaja mewakilkan keresahannya pada rasa rindu. Dan memang ucapan Meidina itu yang mematikan pertanyaan dari Rayyan Ali Fattan, serta menumbnagkan kecurigaannya.


"Beberapa hari ini, jennengan tidak telepon, tidak kirim chat, saya merasa kehiangan, Ra," ungkap Meidina dengan suara bergetar.


Pamit kan, kalau masih ada tugas di luar kampus."


"Iya saya tahu," sahut Meidina.


"Saya minta maaf," kata Ra Fattan lagi. "Kamu gak pernah lepas dari doa saya, Meidina. Namamu selalu saya bawa dalam tiap sujud saya," lanjut pemuda itu.


Meidina ingin menjerit saja rasanya, mendengar itu semua. Air matanya semakin tumpah, dan tak bisa dibendung lagi. Segenap komponen dalam jiwanya berteriak meminta pada Sang Ilahi. "Ya Allah, jangan pisahkan kami!"


"Kok kamu malah tambah nangis," ujar Ra Fattan dengan rasa kawatir. Karena isak tangis Meidina yang terdengar jelas di pendengarannya.


"Sa-saya ... saya ..." hanya kata dengan terbata-bata itu yang keluar dari mulut Davina, ia seakan tak mampu untuk melawan rasa yang seakan mencabik sukma. Antara tak ingin kehilangan, tapi juga tak mampu untuk memertahankan. Tanpa Meidina tahu, kalau di dalam wisma Davina juga menangis tanpa suara. Gadis itu menelungkupkan wajah ke atas bantal agar isak tangisnya tiada yang mendengar.

__ADS_1


"Meidina, kalau kamu gak berhenti menangis begini, saya terbang besok ke Alhasyimi, ya," kata Ra Fattan. Meidina langsung kaget mendengarnya.


"Gak, Ra. Saya gak apa-apa," ujar gadis itu.


"Gak tahan saya mendengar tangisanmu, Meidina," lanjut Ra Fattan.


"Saya sudah gak papa, Ra. Sungguh." Meidina berusaha meyakinkan. Bagaimana pun ia tak ingin menyusahkan Ra Fattan, jika sampai pemuda itu datang ke Alhasyimi, sedangkan ia saat ini ia sedang ada di Mesir, bukan jarak yang dapat ditrmpuh dengan mudah kalau tidak memiliki jutaan rupiah. Belum lagi harus mengurus perizinan, tentu hal itu akan sangat merepotkan buat Ra Fattan. Meidina tentu tak ingin hal itu terjadi.


Akan tetapi bagi Ra Fattan sendiri, ia rela untuk menebus air mata Meidina dengan cara apapun.


"A-apa tugas jennengan sudah sudah selesai, Ra?" Meidina segera mengalihkan pertanyaan.


"Iya, sudah."


"Alhamdulillah."


"Baik-baik ya di sana, Meidina. Apalagi kamu akan menghadapi lomba, di sana butuh konsentrasi yang extra." Ra Fattan berujar lembut. Dan memang selalu kelembutan itulah yang ia tampakkan pada Meidina selama ini. Selama mereka sepakat saling membawa rasa cinta menjadi sebentuk pinta, ke hadirat Sang Maha Cinta.


"Doakan saya, Ra," pinta Meidina sepenuh hati.


"Insyaallah, saya akan selalu berdoa untukmu. Sepertiga malam dulu ya," ajak Ra Fattan. Sebuah Cara yang lembut mengajak Meidina shalat tahajud.


"Iya, Ra."


Dan pemuda tampan itu pun mengakhiri sambungan dengan ucapan salam.


Meidina terduduk jatuh di lantai teras wisma, sekedar mengulang kembali pembicaraan yang terjadi antara Ra Fattan dan dirinya. Niat hati ingin mengadukan segala resah yang melanda, juga menanyakan kebenaran atas cerita perjodohan yang ada, tapi gadis ayu itu malah tak mampu. Tak mampu untuk melukai ikatan mereka dengan hal-hal yang akan menorehkan luka. Sedang gadis itu sendiri terluka.

__ADS_1


Entah bagaimana kelanjutan cerita ini akhirnya, antara Ra Fattan dengan Meidina. Juga antara Ra Fattan dan Davina


__ADS_2