
"Azmi bercerita padaku tentang perasaannya kepadamu, dulu, sekitar satu tahun yang lalu."
"Haah?!" Kembali Zaskia menampakkan reaksi kagetnya.
"Ke-kenapa dia cerita sama kakak, Kalian kan tidak akrab. Tidak saling mengenal dekat."
"Karena aku saudaramu. Dia minta saranku, atas perasaannya padamu itu, mau dilupakan, atau dilanjutkan," jawab Ali, menuturkan apa yang dikatakan Azmi dulu.
"Kakak memarahinya?" tukas Zaskia.
"Untuk apa? Dia punya perasaan seperti itu, bukan dia yang minta. Tapi, Allah yang memberikannya. Kalau aku memarahinya, berarti aku marah pada keputusan Allah," tandas Ali seraya menatap lekat adiknya itu.
"Lalu? Kakak jawab apa?"
"Ikhlashkan kepada Allah. Dia paham, dan menjalani itu. Hampir satu tahun kemudian aku tanyakan bagaimana perasaannya kepadamu. Dia jawab, masih tersimpan dalam hatinya, dan dia berserah kepada Allah, akan bagaimana nanti dengan rasa yang dia punya," tutur Ali Fadhlan yang disimak oleh Zaskia dengan seksama.
"Aku percaya dengan ketulusannya. Aku percaya dia bersungguh-sungguh. Aku lalu menyampaikannya pada aba," lanjut pemuda itu lagi.
"Menyampaikan pada aba?" Dan denyut jantung Zaskia terasa berdetak lebih kuat dari biasanya, mendengar penuturan kakaknya itu.
"Iya." Ali memberi jawaban singkat saja, seakan tak mau bercerita apa yang menjadi jawaban kyai Fadholi atas pemberitahuannya. Padahal Zaskia sangat penasaran, mau bertanya, malu terasakan.
"Ingin tahu jawaban aba?" Tebak Ali Fadhlan demi dilihatnya raut wajah sang adik.
"Iya kak." Zaskia tersenyum. Rasanya sangat berterima kasih mendapat tawaran demikian.
"Sekarang ini jawabannya."
"Maksudnya, Kak?" tanya Zaskia tak paham.
"Saat aku memberitahukan, Aba tidak berkata apa-apa. Tapi mungkin beliau sowan pada syaikhona dan menceritakan semuanya. Beliau lalu berkirim salam pada aba melalui Azmi langsung. Itu adalah sebuah isyarat yang dipahami oleh aba," urai Ali Fadhlan yang membuat wajah Zaskia nampak pucat.
"Ja-jadi." Zaskia menjadi gugup.
"Jadi untuk selanjutnya, kamu pasti paham, Dek. Ini bukan mata pelajaran di KM، atau STAI. Jadi aku gak bisa ngasih materi. Harus dipelajari sendiri dengan hati."
Dua menit berlalu sejak kalimat terakhir dari kakaknya itu, hingga saat ini Zaskia masih diam membisu. Terpaku, dalam rasa yang campur aduk menjadi satu. Mungkin juga merasa terharu, dan berbagai rasa yang lain, yang tak cukup waktu untuk dijabarkan satu per satu.
"Bingung? Minta petunjuk, Dek. Itu yang paling tepat yang harus dilakukan oleh seorang hamba, yang ingin selalu mendapatkan ridho-Nya."
Zaskia mengangguk atas saran dari kakaknya itu.
Dan tadi pagi, saat Meidina mendapatkan visit dari dokter, Zaskia pamit untuk membeli beberapa makanan ringan di sebuah mini market yang berseberangan dengan rumah sakit itu. Azmi sigap mengantarkan. Dalam perjalanan itu lah, Zaskia berinisiatip untuk menanyakan pada Azmi langsung, tapi ia merasa bingung harus dari mana memulai pembicaraan. Hingga,
"Ada yang sedang dipikir, Ning?"
__ADS_1
Azmi bertanya lebih dulu, mana kala dilihatnya Zaskia beberapa kali termangu.
"Tidak ada, Mas. Eh ada." Dan Zaskia merutuki dirinya karena gugup saat memberikan jawaban dan itu membuatnya hilang fokus.
"Sepertinya hal yang sangat menyita perhatian ya, Ning," ujar Azmi sambil tersenyum.
"Lumayan." Zaskia menghela napasnya. Dan, "Mas Azmi dulu pernah bicara pada kak Ali, perihal ... perasaan?" Akhirnya Zaskia pun mendapatkan kalimat yang tepat sebagai pertanyaan.
Azmi sejenak terlihat berpikir, mungkin sekedar memahami kemana arah pembicaraan Zaskia. Dan setelah ia paham, pemuda tampan itu segera menjawab tanpa perlu bertanya lebih lanjut. "Iya."
"Kenapa cerita pada Kak Ali?"
"Saya bingung waktu itu, Ning. Hampir tak bisa membendung rasa yang menurut saya sangat besar. Sudah berusaha untuk dipasrahkan, tapi mungkin kadar kepasrahan saya belum total, jadinya saya belum merasa tenang." Ada kesan merendah dari ucapan Azmi barusan. Zaskia menunduk, ia ingin Azmi menuntaskan ceritanya, tanpa ia harus bertanya.
"Saya pikir, saya butuh seseorang untuk saya bisa bercerita, menumpahkan rasa yang hampir tak bisa saya tahan. Seorang yang amanah, yang bisa mengarahkan dan menegur jika saya salah. Hati saya mengatakan bahwa itu adalah Mas Ali Fadhlan, kakakmu. Dan alhamdulillah, beliau memberikan saya saran yang menenangkan jiwa saya. Dari sejak itulah, saya belajar pasrah tentang rasa cinta. Belajar berserah pada apa yang menjadi Kehendak-Nya." Azmi mengatakan itu semua seraya menundukkan pandangannya. Seakan sedang menengok kembali suasana hatinya pada saat itu, saat yang sudah terlewat satu tahun yang lalu.
"Maaf, Ning. Jika cara saya dulu telah membuatmu kurang nyaman," kata Azmi kemudian dengan nada lembut.
"Gak papa, Mas. Saya justru jadi lebih tau banyak hal. Dan terima kasih untuk perasaan yang sudah Mas Azmi jaga selama ini," ucap Zaskia dengan tulus.
Azmi tersenyum, meski ucapan itu tak menunjukkan makna yang signifikan, tapi pemuda itu merasa sangat lega, seakan ada kabar bahagia yang sedang menantinya di depan. Dan benar saja, saat keduanya kembali ke rumah sakit, atas prakarsa dari Irfan Arafka Wafdan, Azmi pun mendapatkan kepastian dari Zaskia. Hal mana membuat pemuda itu langsung bertasbih di kedalaman jiwanya.
Zaskia pun mengakhiri ceritanya.
🌺🌺🌺🌺🌺
"Selamat ya, Ning. Kau mendapatkan pemuda yang betul-betul mencintaimu karena Allah." Nabila memeluk sahabatnya itu dengan rasa bahagia yang memuncak dalam dada.
"Insyaallah amin. Terima kasih, ya Mbak." Zaskia juga balik memeluknya.
"Kalian dapat apa? Kok tidak membagikannya pada kami?" Davina mendekati mereka dan duduk di depan keduanya. Awalnya Davina terlihat menemani Meidina yang sedang melihat live show Albadar di ponsel milik Nizam.
"Kasih ucapan selamat dan hadiah juga untuk calon pengantin," kata Nabila seraya memberi isyarat pada Zaskia.
"Kapan? Dalam waktu dekat?" Davina juga terlihat sangat antusias.
"InsyaAllah."
"Belum pasti juga, Mbak. Kan belum menyampaikan pada aba," kata Zaskia cepat.
"Tapi aku yakin kok, dalam waktu dekat," celetuk Nabila.
"Aminn," sambut Davina.
"Mbak Davina kapan?" Tanya Zaskia cepat.
__ADS_1
"Apanya, Ning?"
"Menyusul Ning Adin?" Nabila dan Zaskia bertanya bersamaan.
"Calonnya saja belum ada," sahut Nabila.
"Ada. Tapi dianggap tidak ada," kata Nabila.
"Bukan begitu." Dan terlihat Davina langsung menghela napasnya berat.
"Segera kasih jawaban, jangan digantung. Ra Fattan menunggu keputusanmu." Nabila menepuk pundak gadis manis itu. Ia paham kalau sebenarnya, Davina bukan tidak mau untuk menjalani bersama Ra Fattan, namun karena pemuda itu pernah punya ikatan hati dengan Meidina dan belum ada pembicaraan secara pribadi dengan sahabatnya itu terkait hal tersebut, membuat Davina masih merasa ragu untuk memutuskan.
Karena hal tersebut, segera suasana menjadi hening. Keheningan yang dipecahkan oleh suara pertanyaan dari ustadz Fadil pada Meidina.
"Sudah sehat, Ning? Kok sudah minta pulang?"
"Iya, Ustadz," sahut gadis ayu itu sambil senyum.
"Alhamdulillah. Sehat terus ya, jangan sakit lagi."
"InsyaAllah, Ustadz . Terima kasih."
Ustadz Widad juga terlihat memasuki ruangan bersama Rafka. Pemuda tampan itu langsung berkata pada Meidina.
"Ning Adin."
"Dhalem, Mas," jawab Meidina dengan bahasa santun. Terlihat Rafka tersenyum dengan hal itu.
"Pesannya ummi, pulang dari sini langsung ke dhelem ya, tidak boleh ke wisma."
"Baik," jawab Meidina patuh. "Jadi bisa pulang sekarang, Mas?" Tanyanya lagi.
"Iya, saya sudah sampaikan salamnya ke dokter, dan dokternya setuju, tapi janji harus ditepati katanya."
"Iya," jawab Meidina sambil menahan senyum. Bisa juga pemuda tampan itu bercanda dengan ucapannya. Sedangkan yang lain, yang tak paham maksudnya hanya bisa saling lirik saja.
Tak lama kemudian dua orang perawat cantik memasuki ruangan. "Permisi ya, kami mau melepaskan infusnya pasien dulu."
Atas hal itu, semuanya pun berdiri menyisih, kecuali Arafka yang berdiri cukup dekat dari hospital bed Meidina. Pemuda itu memerhatikan dengan seksama kinerja dua perawat tersebut yang membuka slang infus di pergelangan tangan Meidina.
Saat kemudian terlihat Meidina mengaduh lirih, karena merasa nyeri.
"Suster pelan-pelan!" Rafka langsung memperingatkan petugas itu, yang segera menanggulangi rasa perih di tangan Meidina dengan mengolesi cairan obat dan kemudian dibalut kapas.
"Masih perih, Ning?" tanya Rafka.
__ADS_1
"Tidak lagi," jawab Meidina sambil menggeleng.
Setelah menyelesaikan tugasnya dua orang perawat itu pun keluar. Tak lama Arafka juga ikut keluar Karena mendapatkan telepon, diikuti pula oleh yang lain, yang kembali memutuskan untuk menunggu di depan kamar saja.