
Meidina masih belum bisa bernapas lega, belum bisa mengembalikan jiwa dan perasaannya pada kondisi baik-baik saja, setelah mendengar ucapan singkat dari Ra Fattan baru saja padanya, tiba-tiba saja, uminya Davina kembali memasuki ruangan itu seorang diri, dan langsung menghampirinya, seperti ada sesuatu yang tertinggal dalam ruangan rawat ini.
"Nduk, bibi lupa, ada satu hal penting yang ingin bibi bicarakan sama kamu," ucapnya segera.
"Ada hal apa, Bi?"
"Begini, Nduk. Keluarga kyai Muhajir berencana untuk meresmikan pertunangan Davina dengan Ra Fattan."
Meidina Shafa nampak menghela napas mendengarnya, dan tatapannya pun jadi berubah sendu, bak bunga yang layu terkulai jatuh dari tangkainya. Nabila hanya bisa menunduk melihat semua itu.
"Keluarga kami sudah setuju, Nduk. Rencananya akan dilaksanakan minggu depan, dua hari setelah acara pernikahanmu. tapi, waktu bibi menyampaikan ini pada Davina, dia tidak mengatakan setuju, juga tidak menolak. Dia hanya diam saja. Bibi minta tolong padamu, tanyakan padanya, apa sebenarnya yang dia inginkan. Kalau kamu yang nanya, pasti dia mau jawab." uminya Davina menatap penuh harap pada sahabat putrinya itu.
Awalnya Meidina merasa sangat berat untuk langsung menjawab, bukan karena tidak ingin membantu, tapi karena dia sadar bicara pada Davina mengenai hal itu, tidaklah sesederhana apa yang dipinta oleh Hj Mutmainnah. Meidina tahu kenapa Davina hanya diam saja saat ditanya perihal rencana peresmian pertunangan itu. Dan di sini, Meidina tidak perlu bertanya apa sebenarnya yang sahabatnya itu mau. Meidina lah kunci dari semuanya. Oleh karena itu kenapa dia tak mampu untuk segera menjawabnya.
"Iya, Bibi saya akan bicara kepadanya."
"Terima kasih ya, Nak. Terima kasih banyak. Kalau begitu bibi pulang dulu." Karena begitu senangnya, uminya Davina sampai mencium kening sahabat putrinya itu. Ia lalu segera keluar untuk meneruskan perjalanan yang sempat tertunda.
******
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Nabila, dan seperti pertanyaan yang pertama, kali ini Meidina juga tak memberi jawaban apa-apa. Jangankan menjawab, merespon saja, tidak. Gadis ayu itu tetap diam dengan posisi menyandar seperti semula, sedangkan pikirannya, hati dan jiwanya sedang berkelana. Mungkin ia tengah menyusuri bangunan impian yang pernah dirajut bersama Ra Fattan, yang kini telah hancur, dan hanya menyisakan puing-puing berserakan.
Titik bening jatuh menggelinding, sambut menyambut tiada henti, seakan kelopak matanya adalah wadah penadah air hujan yang kini sudah tak mampu menampung lagi, hingga jatuh berderaian melintasi kedua belahan pipinya yang masih terlihat pucat.
"Meidina."
Kembali Nabila mencoba peruntungannya untuk menarik gadis itu pada kondisi kesadaran sempurna. Bagaimana pun melihat pada kedalaman jiwa yang terluka, hingga menyisih dari orang-orang sekitarnya, seperti yang dilakukan oleh Meidina saat ini, adalah bukan tempatnya. Di samping itu akan menjadi penghambat pemulihan kesehatannya, juga saat ini ada hati yang harus dijaga.
Akan tetapi, Meidina telah pergi. Pergi menyendiri bersama lara dalam hati. Terlalu dahsyat rupanya, berita yang dibawa oleh uminya Davina. Berita tentang pertunangan Kanza Davina dengan pemuda yang ia harap akan menjadi kekasih halalnya. Hingga kini ia terdiam seribu bahasa. Bahkan abai pada hal apa saja.
Nabila menoleh pada ustadz Widad yang terlihat menggeleng, memberi isyarat agar gadis itu tak mengusik Meidina dulu. Dan Nabila balik memberi isyarat pada Arafka yang terlihat memerhatikan Meidina Shafa
dengan seksama. Sofwil Widad dan Ustadz Fadil saling pandang, untuk sesaat mereka tidak tahu harus berbuat apa.
__ADS_1
Namun justru Arafka yang segera terbangun dari keterdiaman yang telah menyulap suasana menjadi hening itu dengan segera berkata, "Kita sholat Maghrib bersama-sama, Mas."
"Ee." Widad masih sejenak terhenyak, dan tak segera bisa menjawab. "Iya, mari," jawabnya, setelah terlewat beberapa jenak.
"Dik, jaga Meidina dulu ya," kata Ustadz tampan itu lagi pada Nabila.
"Gak apa-apa, mbak Nabila ikut sholat bersama-sama juga," kata Arafka.
"Lalu, siapa yang menemani Meidina, Dek?"
"Saat ini dia butuh sendiri." Pemuda tampan segera bangkit dari duduknya.
"Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya?" Lanjut Nabila, di wajahnya memang tergambar sebuah kekawatiran.
"Allah, pasti akan menjaganya," sahut Rafka mantap. Dan pemuda tampan itu segera mendahului yang lain keluar dari kamar. Nabila masih sempat menatap ustad Widad meminta persetujuan. Terlihat calon suaminya itu mengangguk. Ia setuju dengan pendapat Rafka, bahwa saat ini Meidina Shafa masih butuh sendiri saja. Maka mereka semua pun keluar dari ruang rawat itu bersama-sama, untuk menunaikan panggilan sholat Maghrib secara berjamaah.
Di musholla rumah sakit itu, hampir satu jam kemudian. Nabila, ustad Widad dan ustadz Fadil sudah selesai makan bersama, dari menu cukup istimewa yang dipesankan oleh Rafka untuk mereka semua, usai sholat Maghrib tadi. Tapi Arafka sendiri tidak ikut makan, ia memilih tiduran saja di musholla dengan alasan sangat penat. Dan saat ketiganya kembali ke musholla, dilihatnya pemuda itu masih berbaring seperti posisi semula.
"Dek Rafka tidur ya?" tanya Fadil pelan.
"Apa tak sebaiknya kita kembali ke ruang rawat. Sudah cukup lama kita tinggalkan Meidina sendirian," usul Fadil. Dan dalam hal ini ia juga mewakili Widad dan Nabila.
"Dia sudah tidur sekarang, Mas," sahut Rafka dengan jawaban pasti.
"Dek Rafka sudah menjenguknya?" tanya Nabila.
Arafka menggeleng singkat.
"Lalu dari mana smean bisa memastikan, kalau dia sekarang sudah tidur?" lanjut gadis itu.
Arafka meraih Iphone canggih yang tergeletak di sampingnya itu, ia memilih sebuah aplikasi, dan lalu memerlihatkan pada Nabila dan yang lain.
Pada layar ponsel canggih itu, terlihat jelas Mdidina Shafa yang tetap berbaring menyandar pada kepala hospital bed yang ditinggikan. Tubuhnya nampak tenang, sepasang matanya terpejam. Tak ada lagi air mata di wajahnya. Terlihat napasnya yang teratur, sesekali ia membuat gerakan miring ke sebelah kanan, lalu tubuh itu kembali tenang.
__ADS_1
"Jadi betul kalau dek Rafka memasang kamera di ruangan itu?" tanya Nabila dengan terlonjak, setelah apa yang dilihatnya barusan.
Rafka hanya tersenyum. Setidaknya, gambar Meidina yang sedang tidur di ponselnya itu, adalah jawaban bagi pertanyaan Nabila.
"Maaf, Dek, kalau boleh tahu, kenapa Dek Rafka sampai membuat monitor pribadi seperti ini?" tanya ustadz Fadil pelan, setelah ia sampai pada satu pemahaman.
"Karena saya tidak akan bisa menjaganya selama dua puluh empat jam. Sedangkan saya yang memutuskan untuk dia dirawat di sini," sahut Rafka.
"Jadi, ini semua adalah untuk Meidina?"
Jawaban dari pertanyaan Widad ini sebenarnya sudah jelas. Hanya saja pemuda itu ingin lebih memastikan dengan bertanya demikian.
"Iya."
"Sampai sebegitunya, kau merasa bertanggung jawab terhadap tunanganmu, Dek?"
"Bukankah dalam melakukan sesuatu, kita gak boleh setengah-setengah, kalau memang 'iya' harus benar-benar iya. Dan kalau memang 'tidak' harus benar-benar tidak. Tidak boleh berada di antara keduanya. Karena dengan itu, hanya kerugian-lah yang akan kita dapat. Itu 'kan inti dari pengajian umum syaikhona dua minggu yang lalu, Mas?"
Retorika Arafka itu memang tidak perlu dijawab. Yang ada Widad dan Fadil merasa tertohok, karena mungkin keduanya sudah lupa dengan inti pengajian umum yang diberikan Syaikhona tiap dua minggu sekali itu.
Sedangkan Arafka, masih dengan sangat jelas mengingatnya, bahkan juga mempraktekkannya.
"Tapi, apa untuk semua hal ini, kau sudah memperhitungkan semuanya dengan matang, Dek? Maksudnya begini, terkadang bila sudah menyangkut orang lain, kendati kita berniat baik, tak semuanya niat baik itu, bisa diterima." Ustadz Widad mengatakan hal itu dengan hati-hati, agar supaya tak membuat Arafka tidak enak hati.
Sedangkan maksud ucapannya adalah perihal Meidina, bagaimana jika gadis itu tidak dapat melihat ketulusan Arafka, karena hatinya masih terjerat pada Rayyan ali Fattan.
"Saya paham maksud, Mas Widad." Di luar dugaan ternyata Arafka dapat memahami semuanya dengan cepat. Mendengar hal itu, Widad dan Fadil jadi sama-sama menahan napas.
"Saya tahu, banyak hal yang berada di luar batas jangkauan kita. Dan untuk hal seperti itu, saya mencoba berpasrah. Ini bukan tentang apa yang bisa saya dapatkan, tapi ini tentang apa yang bisa saya lakukan," lanjut pemuda tampan itu, yang lagi-lagi cara pandangnya ini membuat yang lain terpukau.
"Saya kagum sekali padamu, Dek. Terus terang saya jadi malu, saya kalah beberapa langkah darimu." Ustadz Fadil menepuk-nepuk pundak Arafka sambil tersenyum haru.
"Benar," timpal Widad. "Kau memraktekkan semua yang kau tau dengan benar, sedangkan kami mungkin hanya separuh dari itu."
__ADS_1
"Mas Fadil dan Mas Widad itu ustadz saya, yang mengajari saya. Mana ada murid yang bisa melampaui gurunya," sahut Arafka penuh merendah.
Sedangkan Nabila Alia terlihat mengerjapkan kedua matanya yang sudah berkaca-kaca, ia sangat merasa terharu akan pribadi baik seorang Arafka. Dan di dalam hati ia berkata, "Meidina, rugi bila kau tidak bisa menerima pemuda sebaik ini."