Bertaruh Cinta Di Atas Takdir

Bertaruh Cinta Di Atas Takdir
62 Maaf Untuk Segala Waktu Dan Peristiwa Yang Aku Tidak Punya Kuasa Di Dalamnya


__ADS_3

Waktu yang berjalan terasa sangat lambat, padahal jarak antara YPPI Al-Hasyimi dengan rumah sakit bunda Fatimah itu tak lebih dari 5 Km saja. Mungkin karena Davina ingin cepat sampai di rumah sakit, ingin segera melihat bagaimana kondisi Meidina Shafa sekarang, hingga rasanya perjalanan terasa sangat lama, kendati pun ditempuh dengan menggunakan mobil xenia.


Atau mungkin karena tak ada bahasa sama sekali selama dalam perjalanan ini, antara Davina dan pemuda yang duduk di sampingnya, mengendalikan kemudi. Dari sejak roda kuda besi hitam itu bergulir dari halaman Al Hasyimi cabang, hinga kini sudah hampir sampai di tempat tujuan, keduanya setia berpeluk keheningan. Sama-sama tak ada yang mau mengakhiri kesunyian yang melanda meski hanya dengan sebentuk basa-basi tiada guna. Baik Kanza Davina dan Rayyan Ali Fattan yang duduk di sampingnya, sama-sama berpuasa kata, dan belum tahu kapan akan tiba waktu berbuka.


Atas permintaan uminya--bu nyai Fitrotin--yang meminta Ra Fattan untuk mengantarkan Davina kembali ke rumah sakit, sebelum beliau bertolak ke Jember usai mengunjungi Davina dan Meidina di Al Hasyimi. Meskipun sama-sama tak ada kata dari keduanya atas perintah lembut bu nyai Fitrotin itu, tapi baik Davina maupun Ra Fattan sama-sama melaksanakan keinginan istri kyai Fadholi yang masih terlihat cantik tersebut.


Selama dalam perjalanan keduanya sama-sama diam, hingga lalu mobil itu berhenti di halaman rumah sakit Bunda Fatimah, Davina pun bersiap turun. "Terima kasih, Ra," ujarnya.


"Davina." Ra Fattan menahan langkah gadis itu dengan panggilannya. Davina pun menatapnya. "Aku mau minta waktumu sebentar, bisa?"


Davina mengangguk dan segera mengurungkan niatnya untuk turun. putra mahkota Darul Ulum itu sejenak menghela napasnya sebelum mulai bicara. "Kau pasti sudah diberi tahu tentang rencana orang tua kita."


Davina menanggapi ucapan itu dengan anggukan.


"kau berhak untuk memutuskan, Davina. Dan apapun yang menjadi keputusanmu, aku menghargai," ujar Ra Fattan dengan tegas. Davina mendongak.


"Maksud Anda, Ra?"


"Kau sudah tau bagaiamana aku, kau tau apa yang terjadi di antara aku dan sahabatmu. Dengan itu kau pasti sudah punya penilaian sendiri, dan kau pasti juga punya keputusannya tersendiri." Ra Fattan berkata demikian sembari menatap tepat pada netra Davina. Gadis manis itu menghela napasnya dan kembali menunduk. Ia paham betul apa yang dimaksud oleh Ra Fattan dengan ucapannya.


"Jadi, Anda meminta saya untuk memutuskan lebih dulu, Ra?"


"Iya."


"Bukannya, sebelum saat ini, Anda sudah memutuskan lebih dulu. Dan saya sudah menerima keputusan itu." Bermaksud menyindirkah Davina dengan ucapannya itu.

__ADS_1


"Iya, sebuah keputusan yang berdasarkan perasaan dalam hati, dan yang aku kira itu yang paling benar, karena hati adalah tempat kebenaran Ilahi. Ternyata, keputusanku adalah hujjah, di mana aku lebih mengedepankan perasaan dalam hatiku, tanpa mencari tau, tuhanku merestuinya atau tidak. jadi aku tidak mungkin lagi tetap berpegang pada keputusanku, yang tidak jauh dari kata salah, juga tidak dekat pada kata benar."


sungguh indah kalimat yang ia gunakan, jika saja tidak dicermati dengan seksama, Davina pasti tidak akan sampai pada kata paham. Untungnya, meski tak memiliki kecerdasan se-mumpuni Meidina, tapi kepekan dan kejelian Davina juga tak bisa diragukan, hingga ia mampu paham makna dari kalimat Ra Fattan yang mengandung makna kiasan yang dalam itu.


Kembali Davina menghela napasnya, terasa kini dirinya berada dalam posisi yng sangat sulit. Meski Ra Fattan adalah calon tunangannya, tapi pemuda itu juga adalah mantan orang terkasih sahabatnya. Meski kini Meidina akan melepas masa lajang bersama orang lain, namun fakta ini tak akan bisa sepenuhnya hilang dari ingatan Davina.


Davina memang punya rasa kasih yang luar biasa pada Ra Fattan, namun ia tentu tak akan begitu saja mengabaikan kisah kasih putra mahkota Darul-Ulum itu dengan Meidina Shafa. Dan hal itu pula yang menjadi maksud ucapan Rayyan ali Fattan terhadapnya.


"Dan sekali lagi atas semua yang sudah terjadi, aku minta maaf padamu, aku sudah sangat tidak menghargai perasaanmu sebagai wanita yang sudah dipilihkan oleh keluargaku. Dalam hal ini, aku bukan hanya merasa bersalah, tapi aku juga telah merasa berdosa." Sekali lagi rangkaian kata Ra Fattan sukses menarik rasa haru dalam diri Davina, kendati demikian gadis itu merasa perlu untuk menegaskan sesuatu.


"Tapi, Anda tidak akan memilih hidup bersama wanita hanya karena rasa bersalah 'kan Ra Fattan?"


Pertanyaan telak dari Davina itu cukup membuat Ra Fattan merasa terhenyak. namun pemuda itu segera tersenyum dan langsung berkata, "bukan hanya aku saja, kau pun pasti tidak mu jika aku memilih bersamamu hanya karena rasa bersalah."


"tentu saja," sahut davina cepat. dan setelah itu, suasana kembali hening, keduanya kembali diam dalam kebisuan, mungkin karena sama-sama memberikan kesempatan pada hati untuk saling mengerti dan memahami, akan apa sebenarnya yang di-ingini.


"Silakan, Ra!" Davina pun menjawab dengan tak kalah santun. Karena dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia sangat menghargai pemuda tampan itu.


"Aku menyetujui apa yang menjadi rencana orang tua kita." Ra Fattan berkata demikian seraya menatap terarah pada Kanza Davina, seakan hedak menyatakan bahwa ia menyertai sepenuh kesungguhan dalam keputusannya. "Aku setuju bukan karena untuk menebus rasa bersalah kepadamu, atau pun kepada orang tuaku, melainkan karena aku husnudzon pada kehendak Allah, barang kali inilah hal yang lebih diridhoinya untukku," tambahnya dengan penuh kemantapan.


"Bagaimana jika tidak, Ra? bagaimana jika ini bukan yang terbaik untuk kita?" tanya Davina cepat.


"Maka dengan petunjuk Allah, cepat atau lambat kita akan mengetahuinya, Davina," jawabnya mantap.


"Lalu bagaimana dengan perasaan, Anda saat ini?" Davina merasa sangat perlu untuk menanyakan hal ini. Meskipun secara pribadi ia belum memutuskan apa-apa tentang semuanya.

__ADS_1


Ra Fattan tersenyum, ia seperti sangat paham kemana arah tujuan pembicaraan Davina. "Kalau saat ini aku mengatakan, bahwa aku sudah melupakan Meidina, kau pasti juga tidak akan percaya. Dalam hatiku memang masih ada rasa, yang juga tidak bisa ku ukur seberapa besar dan seberapa dalamnya. tapi, aku sadar, aku paham, bahwa semua itu kini sudah tidak mungkin lagi. bukan hanya karena dia akan segera menikah, tapi dalam waktu yang sangat singkat ini aku sudah tahu satu hal, atau lebih tepatnya, Allah telah memberitahukan padaku banyak hal ..." Ra Fattan memangkas sendiri ucapannya terkait hal apa yang telah ia dapatkan dalam sebentuk pemahaman yang membuatnya lebih 'arif' lagi dalam memaknai setiap kejadian.


Dan memang tidak semua yang kita tahu itu bisa kita beritahukan, bisa kita bicarakan dengan orang lain, karena jika itu sebuah anugerah, maka oang yang tidak suka padamu, tidak akan percaya hal itu, dan orang yang menyukaimu, tidak memerlukan itu. Ditambah lagi bahwa masing-masing orang itu punya jalannya tersendiri dalam memperoleh petunjuk dan mendekat kepada tuhannya. Maka sangat tepatlah ketika kemudian Ra Fattan mengatakan kepada Davina, "Semoga kau pun mendapat petunjuk kebenaran di dasar hatimu."


"Amin ya Rabb," sambut Davina. "Terima kasih, Ra, karena jenengan telah percaya kepada saya untuk mengetahui semua ini sekarang. Tapi, mohon maaf, Ra, untuk saat ini saya belum dapat memutuskan apa-apa." Gadis manis itu menunduk.


"Aku juga minta padamu untuk tidak terburu-buru, Davina. Sampai kau mendapaatkan kemantapan yang sebenarnya di dalam hatimu. Dan apapun nanti yang menjadi keputusanmu, aku sangat menghargai itu."


"Terima kasih, Ra."


"Tak perlu berterima kasih, sebaliknya aku benar-benar minta maaf untuk segala waktu dan peristiwa yang aku tidak punya kuasa di dalamnya," ucap Ra Fattan sekali lagi.


"Jika Anda benar-benar merasa bersalah, sesungguhnya saya sudah memaafkan, Anda Ra," sahut Davina seraya memberikan senyuman yang tulus.


"Terima kasih, Davina. Jaga Meidina baik-baik ya, dan terutama jaga kesehatanmu juga."


Davina mengangguk, setelah mengucap salam gadis manis itu segera keluar dari mobil, ia sempat tersenyum sebelum menutup pintu mobil itu rapat.


"Mbak Davina," sapa ning Zaskia yang juga baru turun dari mobil dengan diantar oleh supir dan Azmi Khalidi.


"Ee, Ning Zaskia." Davina sedikit kaget menyadari keberadaan putri kyai Fadholi itu.


"Mbak Davina baru nyampek juga? diantar siapa?"


Ditanya demikian, Davina tak segera bisa menjawab, membuat Zaskia menatap pada mobil hitam yang membawa Davina itu. Mobil yang sudah kembali melaju meninggalkan tempat parkir. Dari kaca samping yang terbuka, memerlihatkan seorang pemuda tampan yang duduk di belakang kemudi, yang sempat melempar senyum ke arah mereka semua.

__ADS_1


"Ra Fattan," gumam Zaskia.


__ADS_2