Bertaruh Cinta Di Atas Takdir

Bertaruh Cinta Di Atas Takdir
41 Semoga Gemuruh Tak Akan Berubah Jadi Petir


__ADS_3

"Benar, Ra, Davina mencintai Ajunan dari dulu," ungkap Meidina.


"Din, kamu bicara apa, kamu jangan sembarangan!" Davina menatap sengit pada sahabatnya itu. Nyata sekali kalau ia tidak suka dengan ucapan Meidina tentang dirinya.


"Bukan hanya kamu yang bisa melihat dan menilai, Vina. Tapi aku juga," sahut Meidina ke arahnya. "Hanya saja dalam hal ini aku terlambat untuk tau," lanjutnya lagi.


"Tau apa, Din?"


"Tau perasaanmu pada Ra Fattan. Aku terlambat menyadari semuanya." Titik air mata Meidina kembali jatuh saat mengatakan itu semua, setelah cukup lama genangan air itu mengambang pada kedua pelupuk mata.


"Jangan menilai hanya sebelah pihak. Jangan terburu-buru mengambil kesimpulan atas sesuatu yang tidak utuh," ucap Davina tandas.


"Banyak hal Davina. Perlukah aku uraikan satu demi satu? Tentang riyadhoh yang kau lakukan buat Ra Fattan. Tentang peristiwa kamu kecelakaan setelah membaca chat dari Ra Fattan padaku. Dan beberapa hal lain lagi. Yang tak hanya aku saja yang menyadarinya, tapi juga Nabila."


Atas apa yang diuraikan oleh Meidina itu, Davina jadi menatap pada Nabila. calon istri ustad Widad itu tersenyum tipis, karena apa yang diuraikan oleh Meidina itu memang benar adanya.


"Kalaupun memang benar seperti itu, tapi kau tidak bisa langsung menyimpulkannya demikian, Meidina." Davina menatap sepenuh harap. Berharap sang sahabat tak lagi berpikiran demikian tentang perasaannya pada Ra Fattan.


"Iya, jika semua itu aku anggap sebagai satu-satunya bukti, mungkin aku bisa salah, walaupun semua orang pasti berpikir tak mungkin seseorang itu melakukan ibadah berat seperti itu untuk orang lain, kalau bukan karena adanya keterikatan yang dalam secara perasaan. Akan tetapi, setiap orang tidak akan pernah mengadukan hal yang bohong kepada Tuhannya bukan, seberapa pun bejadnya dia," urai Meidina panjang lebar.


"Maksudmu?" Davina bertanya tak mengerti.


"Malam itu, usai membicarakan perihal perjodohan itu, aku hampir tak bisa tidur semalaman. Dan aku tahu kau juga begitu. Sampai Ra Fattan meneleponku. Kau pergi ke musholla sebelum subuh, kau bersujud di sana mengadu. Aku ada di belakangmu saat itu. Dan aku mendengar semua rintihanmu saat itu."


"Apa?!" Davina kaget, jika memang benar Meidina mendengar semua doanya malam itu, maka Davina tak bisa lagi menyembunyikan rahasia hati itu darinya.

__ADS_1


Malam itu memang benar seperti apa yang dikatakan oleh Meidina, ia bangkit keluar dari wisma seraya menghapus air mata. Gadis manis itu berjalan pelan di belakang Meidina yang sedang ditelepon oleh Ra Fattan.


Davina menuju musholla, dan melakukan sholat malam di sana, sekian lama ia duduk bersimpuh di atas sajadah, dengan putaran tasbih di tangan, sedangkan air matanya tidak henti berlinangan. Sampai akhirnya ia mendongak dengan kedua tangan tengadah, "Ya Rabb." Suaranya terdengar lirih mengadu.


Ampunilah aku. Ajarilah aku untuk ikhlas, untuk bisa menerima semua keputusanmu dengan sabar. Sesungguhnya aku ... aku sangat mencintai Ra Fattan. Dan aku ... aku juga sangat menyayangi Meidina.


Maka jadikanlah aku tonggak untuk kebersamaan mereka. Jadikanlah aku pilar untuk kebahagiaan mereka. Meskipun aku akan hancur seperti lilin yang terbakar. Ikhlaskan aku ya Allah. Sabarkan hatiku. Jangan biarkan aku goyah dan berbalik arah dari apa yang telah aku putuskan ini.


Cukuplah engkau bagiku. Selimuti lukaku, hapuskan kesedihanku. Hasbii Rabbii.


Itu, kalimat permohonan sekaligus pengaduan dari lubuk hatinya yang paling dalam, ke hadapan Sang Penentu Kehidupan.


Davina menangis, teringat itu semua.


Meidina menangis saat menceritakan itu semua.


"Dia mencintai, Jennengan, Ra. Dan saya tidak bisa menutup mata dari hal itu semua, betapapun saya menginginkan Jennengan untuk menjadi imam dalam hidup saya ..." Gadis itu menghentikan kalimatnya, karena suaranya yang tercekat, bak tersumbat di rongga dada.


"Demi Allah, Meidina." Davina berkata dengan suara bergetar. "Aku tidak rela jika karena hal itu, kau memutuskan untuk hidup bersama dengan orang lain," lanjutnya lagi seraya menangis.


"Bukan aku yang memutuskan Davina, tapi Takdir. Ini mungkin yang terbaik untukku. Agar aku tidak terus menerus menyakiti siapa pun."


"Tapi, kau menyakiti dirimu sendiri," sergah Davina dengan cepat.


"Aku yakin, Allah pasti tak akan membiarkan hal itu untuk terus terjadi," ucap Meidina dengan tatapan lurus, mengimbangi sejumput harap dalam hatinya, bahwa semuanya akan kembali baik-baik saja.

__ADS_1


"Meidina, Davina." Ra Fattan yang dari semula tak mengatakan apapun, kecuali hanya menatap pada kedua gadis di depannya itu secara bergantian, kini mulai angkat bicara.


"Saya minta maaf pada kalian. Saya yang salah, saya yang telah membawa kalian pada situasi seperti ini." Ia sampai pada keputusan ini setelah diamnya cukup lama, dan hanya menyimak serta memerhatikan saja. Bahwa segala situasi sulit yang kini dialami oleh kedua orang sahabat ini, adalah karena dirinya. Adalah dia yang membawanya. Kini, dalam hatinya, dipenuhi dengan rasa bersalah. Dan sebuah keputusan ia dapatkan dengan segera. Keputusan yang ia buat dengan mengabaikan rasa sakit, rasa kecewa akan harap yang kandas sebelum terjawab.


"Meidina, seperti yang sudah sering saya katakan kepadamu, bahwa insyaallah, saya akan selalu mengerti tentang kamu, saya menghargai keputusanmu, apapun itu. Jika hal itu bisa bikin kamu bahagia. Saya ikhlas."


Meidina Shafa terdongak menatapnya, keduanya masih saling tatap untuk beberapa saat. Seperti sama-sama ingin menjajaki rasa hati masing-masing atas keputusan yang telah dibuat. Atau sama-sama ingin menuntaskan perasaan di akhir kisah yang harus tercerai, dalam sesaat.


Sejurus kemudian, pemuda itu berpaling pada Davina. "Davina, kamu begitu tulus. Allah sangat menghargai orang yang tulus sepertimu. Tapi aku, justru telah membuat kesalahan fatal terhadapmu. Dalam hal ini, aku tak hanya bisa disebut bersalah, tapi aku juga telah berdosa kepadamu. Aku hanya berharap, semoga Allah memberikanku kesempatan untuk mempertanggung jawabkan kesalahanku ini padamu, Davina." Pemuda tampan itu menuntaskan ucapannya dengan helaan napas berat.


Saat berikutnya, ia kembali menatap dua orang gadis yang ada di depannya itu secara bergantian.


"Sekali lagi, saya minta maaf pada kalian berdua. Assalamualaikum."


Ra Fattan mengakhiri seluruh ucapannya dengan salam. Dan tanpa menunggu jawaban, pemuda itu segera berbalik badan dan melangkah pergi.


Rayyan Ali Fattan, engkau pemuda yang begitu santun. Tak satu pun yang ada di tempat itu, mampu menebak apa yang tengah engkau rasakan sekarang. Karena tak sedikitpun kau memperlihatkan ekspresi yang berlebihan, di wajahmu yang indah dan tampan. Di atas apapun saat ini yang tengah kau rasakan, kau tetap mengalirkan kata-kata ramah. Kata-kata yang lembut dan indah. Menandakan betapa engkau sangat berbudi luhur.


Hal itulah kira-kira yang terbersit dalam setiap pikiran. Ketika sama-sama memandangi kepergian Rayyan Ali Fattan. Langkahnya terlihat sangat pasti dan tak menoleh lagi ke belakang.


Kanza Davina menatap kepergiannya dengan hati yang bergemuruh, bak langit yang menampung hujan dalam pekatnya mendung. Semoga saja gemuruh itu tak akan berubah jadi petir yang menyambar. Sebab untuk hati yang terluka, hal apa pun bisa. Apalagi di posisi seorang Kanza Davina yang saat ini tidak tahu, atau mungkin belum tahu, untuk memposisikan dirinya dimana. Semuanya terasa menyakitkan bagi Davina. Saat perasaannya pada Ra Fattan, hanya ia simpan sendirian, ia sering merasa sakit. Dan kini setelah rasa itu diketahui oleh empunya, ia juga tetap merasa sakit.


Tak bisakah mencinta saja, tanpa ada yang terluka dengan rasa cinta yang dipunya. Tak bisakah setiap cinta itu datang bersama dengan takdirnya. Bukankah cinta itu adalah keniscayaan. Ia datang, ia ada karena sudah ditakdirkan keberadaannya. Tapi kenapa dalam banyak kisah, cinta harus bertaruh di atas takdir. Takdir yang tak bersamaan dengan rasa cinta. Atau cinta yang datang tak disertai dengan takdirnya.


Meidina Shafa, Kanza Davina, dan Zaskia Ariva yang tahu bagaimana rasanya. Ketika cinta harus bertaruh di atas takdir.

__ADS_1


"Davina, aku kembali ke wisma lebih dulu." Meidina mengatakan hal itu seraya mengusap air mata, dan mengayun langkah mendahului Davina. Sedangkan gadis manis itu sendiri hanya bisa menunduk dengan hati pilu, tatkala Zaskia dan Nabila mengusap lembut pundaknya, memberikan sebentuk dukungan semangat, atas semua yang telah terjadi kepadanya.


__ADS_2