
"Ning Adin." suara yang memanggilnya itu sudah sangat ia kenal, itu suara Mas Rafka. karenanya, Meidina sontak menoleh, setelah sempat kaget dan terpana. Meidina meniadi lebih kaget lagi karena ternyata Arafka tak sendiri, tapi juga bersama dengan yang lain. Yang Tak ketinggalan satu orang pun, mereka semua sudah ada di dalam ruangan.
Meidina jadi perlahan berdiri, padahal rasanya seluruh kekuatan dicabut dari tubuh diri. Setiap ruas sendi seakan tak berfungsi, aliran darah juga terasa berhenti. Tubuhnya seakan orang mati. Karena apa yang terjadi?
Arafka melabuhkan tatapan yang maknanya tak bisa dimengerti. Tatap mata yang lembut dan penuh arti. Tapi sebuah arti yang tak bisa dipahami.
"Seharusnya, kamu juga memberitahukan semua itu kepada saya, Ning. Bukan hanya kepada teman-temanmu saja."
"Ee a--apa, Mas?" Meidina menjadi gugup, dan memang sudah selayaknya begitu. Meski ia tahu apa maksud ucapan Rafka tersebut, tapi ia masih bertanya, dengan tujuan ingin lebih memastikan saja.
"Semua yang kamu katakan pada teman-temanmu, saya juga ingin mendengarnya secara langsung, Ning," kata Arafka. Karena memang pemuda itu sudah mendengar semuanya. Semua apa yang dicetuskan oleh Meidina Shafa di depan tiga orang temannya.
Mendengar hal itu, kepala Meidina langsung terkulai tertunduk, bagai kehilangan daya. "Sa-saya ..." Hanya satu kata yang terucap. Satu kata yang tak memberi makna jelas, terucap pun dengan terbata, dan hampir tak bisa didengar telinga.
Sedangkan Rafka, ia masih enggan untuk mengalihkan pandangan. Mengabaikan bahayanya menatap wanita yang belum halal untuknya terlalu lama. Ia hanya ingin memandangi wajah itu, yang insyaallah tiga hari lagi, sebaris namanya akan dirangkai bersama nama sang wali dalam ijab qabul. Wajah ayu nan teduh, yang semakin menampakkan pesonanya saat dipandang. Tujuannya adalah untuk melazimkan rasa syukur kepada Sang Maha Rahman.
Karena jika setengah jam yang lalu ia punya harapan untuk benar-benar bisa menjadi yang halal memandang wajah itu. Harapan yang juga ia sampaikan pada Meidina Shafa. Kini, harapan itu selangkah lagi akan menjadi nyata. Dengan pernyataan tulus Meidina di depan kawan-kawannya, yang sudah merasa yakin dan mantap, untuk mengakhiri masa lajang dengan menyandang status sebagai istri Irfan Arafka Wafdan.
Subhanallah. Bukankah Allah Maha Pemurah. Puji syukur itu menggema dalam jiwa Rafka seraya memindai wajah ayu Meidina Shafa.
Lalu bagaimana dengan gadis itu sendiri? Tatap mata Arafka seakan menelanjangi perasaannya. Debar gemetar menjalar dalam dada. Denyut berdetak bak pacuan kuda di pemompa darahnya. Hingga kepala berbalut hijab itu tak mampu terdongak, bahkan juga saat sebuah kalimat terucap, "Saya minta maaf, Mas."
"Apanya yang harus dimaafkan, Ning? Ini memang sudah jalannya dari Allah."
Rafka benar, dalam setiap sesuatu itu ada jalannya tersendiri, ada prosesnya masing-masing, Yang tidak sama antara satu dengan yang lain. Dan seperti itulah proses yang harus dilalui oleh Meidina Shafa dan Arafka untuk bisa bersama. Proses yang sejatinya sudah diatur sedemikian rupa oleh Sang Pembuat Cerita. Maka dalam hal ini, adakah yang salah?
__ADS_1
Tidak ada.
Karena sejatinya, semua hanya sedang menjalankan perannya saja. Jika tidak sama antara satu dengan yang lain, itu adalah bagian dari jalan cerita, alur kisah yang sudah ditentukan oleh Sang Pencipta. Maka ketidaksamaan dalam proses hendaknya jangan dijadikan bahan perbandingan, karena pada setiap masing-masing sudah berlaku ketetapan dan ketentuan.
Bahkan ada yang mengatakan kalau hidup itu adalah sebuah perjalanan, bukan perbandingan. Maka jangan pernah bandingkan prosesmu dengan orang lain. Karena kita hidup di bumi yang sama, namun dengan takdir yang berbeda.
"Justru saya sangat berterima kasih dengan semua kepercayaanmu kepada saya, Ning. Saya akan menjaganya, dan menjalankannya selamanya, Insyaallah."
Meidina menunduk dengan sepasang mata berkaca. Rasa haru dan bahagia seakan mengetuk-ngetuk dinding jiwanya. Terlebih saat Arafka kembali berkata.
"Mohon bantuannya ya, Ning."
"Bantuan apa, Mas?" Tanya Meidina tak mengerti.
"Bantuan darimu untuk saya melaksanakan tugas dan kewajiban saya dengan baik. Karena Sehebat apapun seorang pria, dia tidak akan bisa menjadi imam yang baik, kalau tidak mendapat dukungan dari makmumnya. Apalagi saya yang masih sangat banyak kekurangan ini."
"Ning, lain kali jangan menagis di depan saya lagi, ya," pinta Arafka. Yang membuat Meidina segera mendongakkan wajah menatap raut tampan calon suaminya itu.
"Maaf, Mas. Kalau sudah bikin pemandangan yang tidak enak dilihat," kata Meidina dengan perasaan yang tidak nyaman.
"Bukan tentang itu, Ning," kata Rafka cepat.
"Lalu?"
"Jika tadi, atau pun semalam, melihat kamu menangis di depan saya. Saya hanya tidak bisa menahan diri untuk tidak menghapus air matamu. Tapi sekarang, melihatmu menangis di depan saya begini, saya kawatir tidak akan bisa menahan diri untuk memelukmu."
__ADS_1
Mendengar kalimat itu, Meidina langsung menunduk dengan semburat rona merah yang menghias di kedua belahan pipinya yang masih pucat. Ada sebaris senyum juga yang semakin menyeminari rona merah itu. Hal mana membuat netra Arafka enggan berselingkuh pada lain arah.
"Ciyee, Mas Rafka." Hanya Nizam yang berani bersuara, atas kesaksiannya pada dua insan yang sedang memantapkan niat untuk bersama. Sedangkan yang lain, yang juga sama-sama menempati posisi sebagai saksi mata, mereka hanya bisa saling tatap antara satu dengan yang lainnya. Saling senyum, karena saling merasa adanya getar bahagia di rongga dada.
"Jiwa jomblo saya meronta, Mas," tambah Nizam sambil tergelak. Di lain tempat, Azmi mencuri tatap pada Zaskia, yang di saat yang sama, juga tengah mencuri pandang kepadanya. Mereka saling mengulum senyum, sebelum Zaskia terlihat menunduk lebih dulu.
"Mohon maaf, Mas semuanya. Saya tak bermaksud merayu calon istri saya di depan smean semua. Karena saya, meskipun mantan playboys, tapi kalau urusan merayu, saya bukan ahlinya. Di sini saya hanya mencoba jujur pada apa yang saya rasa," kata Rafka sambil tersenyum.
"Silakan dilanjut, Mas Rafka. Kisahnya jennengan sama ning Meidina itu sangat menginspirasi sekali," ujar ustadz Fadil.
"Betul, banyak sekali pelajaran yang bisa kami ambil," timpal ustad Widad.
"Jadi pemicu semangat juga untuk segera menghalalkan calon istri," tambah Nizam.
"Amiin ya, Mas, untuk semuanya." Arafka menyematkan kata pengharapan akan adanya kabul dari Sang Pemilik Kehidupan. Agar semunya menjadi indah dan berkah untuk mereka semua.
"Ning Meidina, boleh saya tanya sesuatu?" tanya Fadil pada Meidina Shafa.
"Silakan, Ustadz!"
"Benar, Ning merasa tidak perlu untuk menanyakan perasaan mas Rafka kepadamu?"
"Iya, karena saya yakin, beliau penuh tanggung jawab, dan bisa memenuhi apa yang sudah menjadi keharusan," jawab Meidina dengan mantap.
"Baiklah, jika kamu merasa tidak perlu mempertanyakan perasaan saya, maka saya juga tidak akan menanyakan perasaanmu pada saya. Mari kita jalani semuanya sesuai dengan hati, dan dengan sepenuh hati," kata Arafka pada Meidina Shafa. Yang disegera diangguki setuju oleh gadis itu. Setuju dan patuh.
__ADS_1
"Tapi saya merasa yakin, kalau Mas Rafka itu cinta padamu, Ning Meidina," kata ustadz Fadil.